
Bianca menatap lelaki di depannya kesal, apa-apaan dosen setan itu. Ia menghembuskan napas kasar, kemudian angkat bicara setelah satu menit hening.
"Pak," panggilnya, Arsen hanya berdeham. Alih-alih menatapnya, lelaki itu justru sibuk dengan ponsel. Hal tersebut membuatnya semakin kesal kuadrat.
"Saya nggak mau pacaran dengan, Bapak," kata Bianca masih dengan tatapan tajam.
Arsen memasukkan benda pipih itu ke dalam saku, kemudian balik menatap mahasiswi bandelnya. "Kamu kira saya juga mau punya kekasih seperti kamu," ketus Arsen.
Bianca menggeram, "tapi tadi—"
Arsen dengan cepat menyela, "besok temui saya di ruangan saya setelah kelas kamu selesai, kita bahas disana."
Tanpa menunggu balasan dari Bianca, Arsen melangkah keluar Kafe mengacuhkan perempuan yang sedari tadi memanggilnya.
'"Mentang-mentang Dosen main seenaknya aja, dasar setan," umpat Bianca mengungkapkan unek-uneknya.
......
Disini Bianca sekarang, ia berada di ruangan Arsen. Namun lelaki yang ditemuinya tidak ada di tempat, sepertinya masih ada kelas. Ia menatap ruangan milik si galak, dari satu sudut ke sudut lainnya. Luas, mungkin karena tidak banyak barang disini. Ada satu barang yang membuatnya penasaran, bingkai foto yang tergeletak tertutup di atas meja kerja.
Bianca menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan jika tidak ada tanda-tanda si galak akan muncul. Dirasa aman, tangannya terulur membalik bingkai hitam berukuran sedang.
"Siapa yang mengizinkan kamu menyentuh barang saya?"
Suara bariton dengan nada dingin yang kental menyapa Bianca sebelum tangannya membalik bingkai foto itu secara sempurna. Badannya mendadak kaku, tatapan tajam Arsen terasa menusuk.
"Eh, P-Pak Arsen," sapa Bianca seraya dengan cepat menarik tangan kanannya.
Arsen berjalan ke arah kursi kebesarannya. Ia meletakkan buku di meja lalu mengamankan bingkai foto itu ke dalam laci meja kerja.
"Masalah yang kemarin gimana, Pak?" cicit Bianca sembari menunduk enggan menatap dosennya.
Arsen berdeham, "ehem. Saya minta maaf sudah membawa kamu ke dalam masalah saya." Bianca diam namun kepalanya mengangguk.
__ADS_1
"Mama saya bersikeras meminta saya segera menikah...," jeda beberapa saat, Bianca bisa melihat gurat lelah di wajah lelaki di depannya. "Entah sudah keberapa kalinya beliau menjodohkan saya dengan anak teman beliau, termasuk wanita kemarin," lanjut Arsen.
Bianca menahan tawa ketika mendengar ucapan Arsen, dan lelaki itu menyadari ekspresinya. "Kamu kenapa? Ada yang lucu?" tanya Arsen dengan mata memicing.
Bianca berdeham menyamarkan suara tawanya yang akan meledak. "Bapak sebegitu nggak lakunya ya sampai dijodoh-jodohin?"
Bukan Bianca namanya jika tidak membuat Arsen darah tinggi karena tingkah atau perkataan menyebalkan. "Tidak mungkin saya tidak laku. Saya hanya belum menemukan yang cocok." Bianca mendengkus mendengar jawaban narsis dosennya
"Saya ingin buat penawaran dengan kamu," kata Arsen tegas, kali ini wajahnya bertambah serius.
Bianca menaikkan sebelah alisnya, entah kenapa firasatnya mendadak tidak enak. Apa lagi yang dosennya rencanakan. "Penawaran?" tanyanya dengan kening berkerut.
Arsen mengangguk, "iya, penawaran. Jadi kamu mau menjadi pacar pura-pura saya?"
Arsen bisa melihat raut terkejut serta keruh milik Bianca, ia dengan cepat menambahkan, "tenang saja, nanti saya kasih kamu gaji."
Bianca tidak mengerti dengan jalan pikiran Arsen Megantara, dan kenapa harus dia? Kenapa laki-laki itu tidak memilih perempuan yang lebih cantik darinya untuk di jadikan pacar pura-pura?
Mata Bianca menyipit, "Kenapa harus saya?"
"Kenapa Bapak bisa seyakin itu kalau saya tidak akan menyukai atau mencintai Bapak?" cecar Bianca lagi.
Kali ini Arsen menyeringai dan sialnya itu membuatnya semakin tampan di mata Bianca. "Simple, karena kamu tidak suka atau benci saya."
Untuk kesekian kalinya Bianca terkejut sekaligus tertohok. Bagaimana bisa Arsen menyadarinya? Apa rasa tidak suka atau bencinya sangat kentara?
Bianca meringis, "saya tidak membenci Bapak. Hanya sedikit tidak suka."
Arsen terkekeh, "itu sama saja, Bianca. Jadi gimana?"
Bianca dengan tegas menolak, ia tidak ingin berurusan dengan si galak. Berurusan di kampus sudah sangat merepotkan apalagi di luar kampus, big no!!
"Maaf, Pak Arsen. Tapi saya tidak bisa menerima tawaran dari Bapak," tolak Bianca, ia berdiri dari kursinya. "Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Saya permisi."
__ADS_1
"Tunggu," cegah Arsen. "Saya akan kasih yang kamu mau," bujuknya.
Bianca keuhkeuh menolak tawaran Arsen, perempuan itu menggeleng. "Saya benar-benar tidak bisa, Pak. Saya Permisi."
Arsen menatap kepergian Bianca, hingga tubuh mungil perempuan itu hilang di balik pintu. Ia membuang napas kasar, menurutnya hanya Bianca yang bisa membantunya. Kalau perempuan itu menolak, ia tidak tahu ingin meminta tolong ke siapa lagi.
Bianca berjalan menghampiri Abel yang sudah menunggunya di parkiran. Ia tidak menceritakan kejadian kemarin kepada sahabatnya perihal Arsen, dirinya tidak ingin Abel salah paham. Dan ia belum berniat ingin menceritakan kejadian barusan.
"Kenapa muka lo kusut banget? Perasaan di kelasnya si galak lo nggak ngelakuin hal yang salah, kenapa si galak panggil lo ke ruangannya?" tanya Abel beruntun begitu Bianca berada di hadapannya.
"Hah? Ya ... gitu, marah-marah nggak jelas. Biasa, si galak kan selalu sensi kalau sama gue," alibi Bianca, "udah, yuk. Gue nebeng ke Queen Bakery, keburu telat." Di sepanjang perjalanan Bianca tidak berhenti memikirkan penawaran Arsen.
***
Sepulang dari Queen Bakery, Bianca membersihkan dirinya lalu mempelajari materi kuliahnya. Sunyi, hanya ada suara gesekan pensil dan kertas yang saling beradu. Hingga suara deringan ponsel memecah keheningan malam. Bianca membaca caller ID di ponselnya tanpa aba-aba langsung menggeser ikon hijau.
"Halo, Bu Dya," sapa Bianca kepada wanita paruh baya, tetangga yang menjaga Ibunya di kampung.
"Halo, nduk. Kondisi Ibu semakin parah, dokter nyarankan buat cuci darah. Tapi biayanya ...."
"Nggak apa-apa, Bu Dya. Nanti biar Bianca yang tanggung biaya cuci darahnya Ibu, beberapa hari lagi nanti Bianca transfer uangnya," potong Bianca.
"Oalah, yo wis. Nanti Ibu bilang ke dokternya."
"Iya, Bu Dya. Makasih udah jaga Ibu."
Tut ... Tut....
Badan Bianca mendadak lemas, ia menyandarkan punggungnya di kepala kursi. Kepalanya menengadah, matanya tertutup. Keadaan Ibunya semakin parah, di tambah lagi biaya pengobatan Ibunya semakin besar. Sebentar lagi dirinya juga harus membayar biaya kuliahnya. Apa yang harus ia lakukan?
Tiba-tiba Bianca teringat penawaran Arsen siang tadi, apa sebaiknya ia menerima tawaran lelaki itu?
Tidak ... tidak!
__ADS_1
Bianca tidak akan menerima penawaran lelaki itu. Ia meraup wajahnya kasar, kepalanya mendadak pening karena pikirannya menumpuk. Ya Tuhan, apa yang harus dirinya lakukan, batinnya putus asa.