
“Lo mau kemana? Kok buru-buru?” tanya Abel tatkala tatapannya jatuh ke arah Bianca yang sedang buru-buru memasukkan alat tulis ke dalam tas.
“Gue mau ke kantor bagian administrasi keuangan,” jawab Bianca, ia meletakkan tas di bahunya bersiap pergi keluar kelas.
Mata kuliah terakhirnya hari ini sudah selesai, maka dari itu ia ingin pergi ke kantor bagian administrasi keuangan. Pasalnya besok hari terakhir untuk melunasi biaya semester ini, dan dirinya belum memiliki uang yang cukup. Rencananya ia ingin meminta keringanan kepada pihak kampus.
“Oh, lo mau bayar biaya semester?” tanya Abel. “Gue tunggu di kantin fakultas ekonomi, ya.”
Bianca mengangguk kaku, ia berbohong. Dirinya belum menceritakan perihal masalahnya, ia tidak ingin merepotkan Abel. Mengingat perempuan itu banyak membantunya. “Eum ... Bel, setelah ke kantor bagian administrasi keuangan, gue langsung ke Queen Bakery,” tolaknya halus.
Abel tersenyum tipis, “Oh ya udah kalau gitu.” Ia menatap kepergian sahabatnya yang semakin menjauh, entah kenapa dirinya merasa ada yang Bianca sembunyikan darinya.
***
Sudah Bianca duga, pihak kampus pasti menolak permintaannya. Ia keluar dari gedung itu dengan wajah tertunduk lesu, apa yang harus dirinya lakukan sekarang?
Bianca duduk di kursi taman kampus, ia menatap arloji di pergelangan tangannya. Kurang satu jam lagi ia harus pergi ke Queen Bakery, dirinya masih ada waktu untuk istirahat sebentar. Matanya terpejam, namun pikirannya berkelana.
Ia meraup wajahnya kasar, tidak mungkin dirinya mendapatkan uang dalam kurun waktu tidak sampai satu hari. Rasanya tubuh serta pikirannya lelah, tanpa sadar air mata mengalir membasahi pipi.
***
“Apa masih ada yang ditanyakan?” tanya Arsen, ia menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Hening, tidak ada yang membuka suara. “Baik, saya harap kalian semua sudah paham. Kalau begitu saya akhiri mata kuliah hari ini, permisi.”
Arsen berjalan ke arah ruangannya, ada banyak yang harus dirinya lakukan hari ini. Dua jam setelah ini ia harus mengajar mata kuliah mahasiswa semester dua, pulang dari kampus dirinya harus merekap nilai mahasiswanya dan membuat soal ujian karena sebentar lagi pergantian semester.
Langkah Arsen terhenti kala matanya menangkap sosok yang dikenalnya, perlahan ia mendekat. Semakin dekat, ia yakin jika perempuan itu Bianca. Namun ada yang aneh dan tidak biasa, mahasiswi bandelnya itu ... menangis? Arsen bisa mendengar dengan jelas suara isakan pelan memenuhi gendang telinganya.
Apa yang terjadi dengan Bianca? Arsen menggeleng, itu bukan urusannya. Ia memilih berbalik menjauh dari perempuan itu, namun baru lima langkah dirinya kembali mendekati Bianca. Persetan dengan rasa gengsinya, entah kenapa ia tidak suka melihat mahasiswi bengalnya itu menangis.
__ADS_1
Arsen kembali menghampiri Bianca, ia merogoh saku celana kainnya. Lalu menyodorkan saputangan maroonnya, “Ini.”
Arsen mendengkus melihat Bianca yang malah melongo dan mengabaikan sapu tangan darinya. “Ambil,” titahnya gemas karena perempuan itu tidak kunjung menerima saputangannya.
“Itu apa, Pak?” tanya Bianca masih tidak percaya dengan tingkah dosennya yang tiba-tiba menyodorkan saputangan ke arahnya. Tumben sekali, si galak baik kepadanya.
Arsen berdecak, disaat seperti ini perempuan itu masih saja memancing amarahnya. Bodoh, batinnya sebal. “Kamu nggak lihat, ini saputangan,” terang Arsen gondok.
“Maksud saya, itu ... buat saya?” tanya Bianca menatap sapu tangan maroon di tangan Arsen.
Masih tanya? Batin Arsen dongkol setengah mati, otak lemot mahasiswi bandelnya itu kumat sepertinya. “Disini hanya ada saya dan kamu, jelas ini buat kamu.” Detik selanjutnya matanya memicing curiga. “Kamu daritadi tanya hal yang tidak perlu di jawab. Apa jangan-jangan kamu ingin mengkode saya agar hapus air mata kamu?”
Bianca mendelik, apa-apaan dosennya itu. Sifat narsis dan geernya mulai kambuh, ia mengambil sapu tangan di tangan dosennya. “Terima kasih, Pak. Tapi saya tidak mengkode Pak Arsen, Bapak kebanyakan nonton sinetron,” ucapnya sedikit ketus.
Arsen menggeram, melihat mata sembab dan hidung merah perempuan itu dirinya mengurungkan diri untuk mengomel.
“Kamu—”
Arsen membuka mulutnya, detik selanjutnya ia mengatupkan mulutnya kembali. Ia menatap kepergian Bianca dalam diam, namun kepalanya tidak berhenti penasaran penyebab perempuan itu menangis.
Drrtt ... drrtt ... Mama is calling....
Arsen menghembuskan napas panjang melihat caller ID di layar ponsel, dirinya dari kemarin mengabaikan panggilan telepon Mamanya. Huft ... apa lagi yang Mamanya rencanakan. Ia menggeser ikon berwarna hijau.
“Halo, Ma.”
***
Disini lah Arsen sekarang, di kediaman Megantara. Setelah selesai mengajar kelas terakhir, ia langsung tancap gas pulang ke rumah. Bos besar alias Mamanya itu memintanya pulang, setelah perdebatan alot dirinya mengalah untuk pulang.
__ADS_1
“Kamu apain Amanda?” tanya Karin sembari menatap tajam putra bungsunya.
Zafran-Papa Arsen- mengerutkan kening, “siapa Amanda, Ma?”
“Anaknya Zefa, Pa. Jadi Mama niatnya mau jodohin Arsen sama Amanda. Tapi kemarin si Zefa bilang mau batalin perjodohan ini, pasti ini gara-gara anak kamu, Pa. Padahal Mama udah wanti-wanti Arsen buat bersikap baik, tapi lihat sekarang, pihak Amanda batalin perjodohan,” terang Karin mash menatap tajam Arsen.
“Ma, Arsen nggak kasarin atau apa-apain Amanda,” kata Arsen membela diri, “ya ... mungkin emang belum ada kecocokan antara Arsen sama Amanda.”
“Mama kan juga pernah bilang kasih kesempatan Arsen buat pilih calon sendiri batasnya sampai ulangtahun Mama. Jadi biarin Arsen usaha cari sendiri,” lanjut Arsen.
Karin mendesah pelan, “Mama khawatir kalau kamu nanti kayak Martin yang nggak nikah-nikah karena sibuk sama pekerjaan.”
“Oh, iya. Mama punya pegawai baru, dia baik, cantik, pekerja keras, terus dia ....”
Arsen menatap Karin lelah, “Ma, please....”
“Oke, tapi kalau kamu belum bawa calon kehadapan Mama waktu acara ulangtahun nanti, kamu harus terima wanita pilihan Mama,” putus Karin final.
Arsen tersenyum, syukurlah ia berhasil membujuk Mamanya. “Siap bu Bos. Kalau gitu Arsen ke kamar, Ma, Pa.”
Sesampai di kamar, Arsen melonggarkan dasi. Ia duduk di tepian ranjang, ingatannya kembali berputar ke kejadian beberapa jam yang lalu. Wajah sembab Bianca memenuhi pikirannya, ia mengacak rambutnya. Kenapa ia memikirkan perempuan itu, mau Bianca nangis atau senang atau apapun itu bukan urusannya. Daripada memikirkan perempuan itu masih ada banyak yang harus dirinya pikirkan.
Arsen beranjak dari duduknya, lebih baik dirinya mandi. Agar pikirannya kembali jernih, belum sempat membuka pintu kamar mandi suara getaran ponsel di atas nakas menginterupsinya. Ia berjalan mengambil benda pipih itu dengan malas, siapa yang mengirim pesan larut malam seperti ini. Matanya terbelalak terkejut mendapati pesan dari perempuan yang sedang memenuhi pikirannya.
Cewek Lemot : Pak, apa Bapak ada waktu besok? Ada yang ingin saya bicarakan.
Arsen : Saya bisa jam dua belas siang.
Cewek Lemot : Iya, Pak. Makasih waktunya.
__ADS_1
Arsen menatap layar ponselnya, ia penasaran apa yang akan Bianca bicarakan.