Halo, Pak Dosen!

Halo, Pak Dosen!
Chapter 25


__ADS_3

Arsen menghela napas panjang. “Kalau aku bilang Bara bukan orang yang baik, apa kamu percaya?”


Bianca diam, ia menatap keluar kaca. Dirinya memikirkan perkataan Arsen, kejadian demi kejadian saat bersama Bara kembali berputar di kepala. Bara bukan orang baik? Selama dua hari ini lelaki yang baru dikenalnya itu selalu baik dengannya, ia tidak pernah melihat tindakan buruk Bara.


“Bukan orang baik?” ulang Bianca dengan kernyitan di kening.


Arsen mengangguk. Tenggorokannya terasa kering, ia menyerobot minuman Bianca yang berada diatas meja lalu meneguknya hingga tandas. Bianca yang melihat itu membelalak terkejut. “Itu minumanku...,” ucapnya menggantung.


Arsen menaikkan sebelah alisnya. “Maaf aku haus, kamu mau pesan lagi? Biar aku yang bayar,” tawarnya tanpa dosa.


Bianca masih melongo ditempat, bukan itu masalahnya. Arsen meminum minumannya, secara tidak langsung ia sudah berciuman dengan lelaki itu. Rasa panas langsung menjalar ke pipi, kemudian Bianca menggeleng kaku.


Arsen panik ketika melihat wajah mahasiswinya yang memerah sampai telinga. “Kamu nggak apa-apa, Bi? Wajah kamu merah,” katanya, kedua tangannya menangkup pipi Bianca lalu beralih ke kening perempuan itu.


“Nggak panas,” gumam Arsen.


Dasar nggak peka! Dumel Bianca dalam hati. Ia menyingkirkan pelan kedua tangan Arsen yang masih di pipinya lalu berdeham. “Ehem ..., aku nggak apa-apa,” jawabnya ketus.


Arsen manggut-manggut. “Oh, okay.”


Hening.


“Aku nggak percaya kalau Bara bukan orang baik, selama dua hari ini dia baik sama aku,” kata Bianca setelah hening cukup lama.


Arsen tersenyum tipis, seperti yang sudah dirinya duga, Bianca tidak memercayainya. “Kamu belum kenal Bara lebih dekat, kamu belum tahu dia lebih jauh.”


Bianca memandang ke arah dosennya dengan tatapan tidak suka. “Aku memang belum tahu dia lebih jauh, tapi aku yakin dia orang baik. Kalau misal dia buruk seperti apa yang kamu omongin, emang kamu punya buktinya?” tantang Bianca.


Arsen tersenyum tenang seolah tidak terpengaruh tekanan dari mahasiswinya. “Aku memang belum punya buktinya, tapi aku berani tanggung jawab sama ucapanku. Bara nggak sebaik yang kamu kira,” balasnya.


Bianca mengangguk. “Aku tunggu buktinya,” katanya final.


***


“Dasar Pak Reno PHP! Tahu gitu gue tadi balik tidur,” gerutu Abel, setelah puas mengomel, ia meneguk kembali minumannya.


Pagi ini Cafetaria kampus tidak seramai biasanya, pegunjung bisa dihitung dengan jari termasuk Abel dan Bianca yang sedang duduk di pojok ruangan. Setelah mendapat kabar jika dosen berumur setengah abad-Reno-tidak masuk, kedua perempuan itu langsung berjalan ke Cafetaria kampus dengan wajah muram.

__ADS_1


“Sumpah ya, Bi. Gue kesal banget sama Pak Reno, hobi banget nge-prank mahasiswanya,” omel Abel entah sudah keberapa kalinya. Menyadari jika tidak ada tanggapan dari sahabatnya, ia menoleh ke arah Bianca yang berada disampingnya.


Abel menepuk bahu Bianca pelan. “Woy, Bi. Lo dengarin gue nggak, sih?”


“Hah? Gimana-gimana?” Bianca tersentak dari lamunannya.


Sepulang dari Kafe Baper Bianca tidak bisa berhenti memikirkan perkataan Arsen, hingga sekarang. Melihat raut Arsen saat memintanya menjauhi Bara, ia bisa melihat kesungguhan di manik hitam tajam milik dosennya. Apa perkataan si galak itu benar? Tapi jika Bara bukan orang baik, pasti dari awal lelaki itu sudah bersikap buruk terhadapnya.


Abel mendengkus ketika menyadari jika sedari tadi sahabatnya menghiraukannya. “Lo daritadi nggak dengarin gue?”


Bianca meringis. “Maaf, Bel.”


Tunggu, kenapa ia tidak bertanya dengan Abel? Melihat banyak mahasiswa yang mengenali Bara kemarin, pasti lelaki itu cukup popular. Dan sahabatnya itu tidak mungkin tidak kenal dengan Bara, mengingat Abel masuk grup lambe turah kampus.


“Bel,” panggil Bianca.


“Hm.”


“Lo ... kenal Bara?”


Abel yang tadinya sedang mengambek, kini langsung menatap sahabatnya dengan penuh minat. Menangkap sinyal cogan kampus, ia mendadak bersemangat. “Maksud lo Bara Adiatmadja?” tanyanya heboh.


“Wait ... gue nyimpan semua foto cogan kampus di galeri,” kata Abel antusias, ia mengeluarkan ponsel lalu men-scroll galeri foto. Begitu menemukan foto yang dirinya cari, ia menyodorkan ponselnya ke arah Bianca, “ini, 'kan orangnya?"


Bianca mengambil benda pipih itu dari tangan sahabatnya, ia menatap lekat foto lelaki di layar ponsel. "Iya, cowok ini," sahut Bianca.


Abel mendekatkan wajahnya ke arah sahabatnya dengan mata menyipit curiga. "Tumben lo tanya tentang cogan kampus, lo kenal sama Bara?"


Bianca menjauhkan wajah sahabatnya, kemudian mengangguk. "Kenal tapi belum bisa dibilang kenal banget, sih."


Abel mendelik, perempuan itu mendadak heboh. "Serius? Lo kenal sama Bara Adiatmadja?!"


Bianca menghela napas panjang, ia mulai menceritakan pertemuan demi pertemuannya dengan Bara. Minus saat lelaki itu mengajaknya ke Kafe Baper. Sedangkan Abel diam menyimak dengan mata berbinar cerah.


"Gila, lo kok nggak ngenalin dia ke gue, sih!" celetuk Abel.


"Emang dia sepopular itu, ya?" tanya Bianca dengan tampang polos.

__ADS_1


Abel membelalak. "Jadi selama lo kenal dia, lo nggak tahu kalau dia salah satu dari jejeran cogan kampus?" Bianca menggeleng.


Abel menatap sahabatnya tidak habis pikir. " Lo tuh kemana aja sih, Bi. Padahal dia popular banget, dia pemain inti tim basket kampus. Selain ganteng, prestasinya dia banyak banget."


Bianca manggut-manggut, pantas saja banyak yang mengenal lelaki itu. "Eum ..., dia nggak pernah terlibat masalah atau skandal atau apa gitu?"


Abel menggeleng. "Dia nggak pernah dapat masalah. Bara itu cowok baik-baik, Bi. Dia boyfriend material. Udah berprestasi, baik, ganteng, anaknya konglomerat, sempurna lah pokoknya."


Anak baik-baik, ya? Tapi kenapa Arsen bilang jika Bara bukan lelaki baik-baik?


"Bianca!" panggil seseorang dengan suara bass membangunkannya dari lamunan.


Abel menyikut lengan sahabatnya. "Bi, Bara. Dia kesini, Bi," bisiknya.


Bianca menatap lelaki dengan balutan kaos berwarna abu serta rambut sedikit acak-acakan berjalan menghampirinya. Panjang umur sekali. Tanpa aba-aba Bara mendudukkan diri di kursi depan Bianca.


"Hey," sapa Bara dengan senyum seribu Watt, "maaf kemarin nggak bisa antar lo pulang."


Abel kontan menatap sahabatnya terkejut. "Lo utang penjelasan sama gue, Bi," bisiknya.


Bianca melirik Abel sekilas kemudian beralih menatap Bara dengan senyuman tipis. "Nggak apa-apa, Bar."


Menyadari jika ada orang lain, Bara menatap perempuan disamping Bianca. "Hey, kenalin gue Bara," ucapnya memperkenalkan diri.


Abel gelagapan, baru kali ini ia bisa mengobrol dengan Bara. "A-ah iya, gue Abel."


"Selasa depan nonton gue tanding basket, ya, Bi," kata Bara. "Tenang aja, pertandingannya waktu tanggal merah kok. Jadi lo bisa bebas nonton, nggak perlu mikirin kerja part time."


Bianca tidak tahu tanggal merah libur kerja atau tidak, ia tidak tahu jalan pikiran bayi besar alias dosen sekaligus bosnya itu. Mungkin nanti ia akan menanyakannya kepada Arsen. "Gue usahain ikut, Bar."


"Good," balas Bara lalu beralih ke arah Abel. "Lo juga ikut nonton ya, Abel." Bara tersenyum empat jari, menampilkan gigi putihnya.


Abel hanya tersenyum, lidahnya kelu. Badannya mendadak kaku, tangannya mendadak ikut dingin. Sepeninggal lelaki itu, Abel menghembuskan napas kasar. Ia bahkan tidak menyadari jika sedari tadi dirinya menahan napas.


"Gila, ya, Bi. Efek ngobrol sama cogan bikin badan panas dingin aja. Pesonanya Bara nggak ada obat," celetuk Abel sembari menyengir menatap punggung lebar Bara yang semakin hilang dari pandangan. Sedangkan Bianca memutar bola matanya jengah.


Bonus Pic Bara Adiatmadja

__ADS_1



__ADS_2