Halo, Pak Dosen!

Halo, Pak Dosen!
Chapter 34


__ADS_3


Hembusan napas panas menyapu lehernya, Bianca membawa Arsen masuk ke dalam. Berat tubuh yang kontras antara keduanya membuat perempuan itu sedikit kesusahan memapah dosennya. Apalagi tubuh Arsen yang jangkung membuat pergerakan Bianca terbatas karena tingginya hanya sebatas dada lelaki itu.


Bianca membaringkan tubuh lemah lelaki itu di single bed kamar tamu dimana dirinya tidur selama seminggu terakhir disini, ia tidak berani membawa Arsen ke kamar berpintu hitam karena sejak awal dosennya itu melarangnya.


Bianca menatap lekat wajah pucat Arsen dalam diam, tangannya terangkat mengusap lembut kening si galak yang dipenuhi keringat dingin. Panas, begitu tangannya menyentuh kening Arsen.


Bianca spontan beranjak dari ranjang dan berlalu keluar mengambil sebaskom air hangat dan kain lembut, perasaan bersalah kini menyelimutinya. Arsen pasti sangat lelah, setelah menemaninya di Surabaya lelaki itu langsung flight ke Bali karena mendapat panggilan mendesak dari Zafran. Seharusnya ia menolak paksa ketika Arsen mengikutinya ke kampung halaman, pasti lelaki itu tidak akan sakit seperti ini. Bianca mulai menyalahkan dirinya sendiri.


Bianca berjalan tergesa menghampiri Arsen yang masih terbaring lemah di ranjang, ia mengambil tempat duduk di sisi ranjang kemudian meletakkan baskom berisi air hangat itu di atas nakas. Perlahan ia mulai mengompres kening Arsen, selagi menunggu Bianca kembali beranjak. Ia ingin membuat sup ayam untuk Arsen, namun tangan hangat menahannya.


“Jangan pergi,” bisik Arsen masih dengan memejamkan mata.


“Aku mau masak sebentar,” kata Bianca ikut berbisik.


Arsen menggeleng lemah, lelaki itu berusaha membuka matanya yang terasa berat. “Jangan pergi, aku nggak mau sendiri,” pinta Arsen pelan.


Bianca menghela napas panjang, ia baru menyadari jika dosennya itu sangat manja ketika sedang sakit. Disepanjang siang hingga larut malam, Bianca tidak beranjak dari tempatnya. Ia menjaga Arsen, mengompres kening lelaki itu hingga suhu tinggi dosennya sedikit reda. Melihat Arsen yang terlelap dengan wajah yang tidak sepucat tadi rasa lega menghampirinya.


***


Arsen mengerjapkan mata, perlahan kelopak matanya terbuka. Kepalanya tidak seberat tadi, ia menyentuh kain lembut di kening. Perlahan sudut bibirnya terangkat kala mengingat jika sepanjang siang hingga sekarang mahasiswi bandelnya itu merawatnya.


Arsen mendudukkan diri, kepalanya ia sandarkan di kepala ranjang. Matanya terpaku menatap Bianca yang menelungkupkan kepala dilipatan tangan, ia mengelus lembut puncak kepala perempuan itu.


Bianca menengadah ketika merasakan elusan di puncak kepalanya, ia menatap Arsen yang saat ini juga sedang menatapnya. "Udah bangun daritadi?"


Arsen menggeleng. "Barusan."


Kruyuk!


Bianca tidak bisa menyembunyikan raut gelinya, ia kontan tertawa terbahak mendengar bunyi dari perut Arsen menandakan jika lelaki itu sedang merasa lapar. Apa lagi melihat wajah si galak yang memerah sampai telinga, membuatnya tidak bisa menghentikan tawa. Arsen yang sudah kepalang malu kini membuang muka, enggan menatap wajah mahasiswi bandelnya.

__ADS_1


"Aku baru tahu kalau muka kamu bisa merah gitu," ujar Bianca seraya terkekeh geli.


"Udah sana bikin makan malam," usir Arsen ketus, ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih merona malu.


"Tadi aja minta aku buat disini—"


"Bi...," sela Arsen, ia melirik kesal ke arah Bianca.


Perempuan itu mengerucutkan bibirnya sebal. "Iya-iya," ucap Bianca lalu berjalan keluar.


Arsen kembali merebahkan diri, ia menutupi mukanya dengan selimut. Dirinya tidak berhenti merutuk dalam hati, perutnya itu tidak bisa diajak kompromi. Dasar memalukan, batinnya.


Kilas bayangan Bianca tertawa beberapa menit yang lalu tiba-tiba memenuhi pikirannya, seulas senyum tipis terbit di bibir. Baru kali ini, Arsen bisa melihat Bianca tertawa lepas tanpa beban. Seolah kesedihan di Surabaya waktu itu hanya angin lalu. Perasaannya mendadak tenang.


Arsen tidak memungkiri selama di Bali dirinya sedikit memikirkan Bianca. Apa lagi sebelum pergi dirinya sempat bertengkar kecil dengan perempuan itu. Melihat Bianca yang terlihat baik-baik saja setelah satu minggu tidak bertemu, sedikit banyak meringankan pundaknya.


Bianca mulai berkutat dengan bahan masakan, bibirnya tidak berhenti menyunggingkan senyuman lebar. Melihat keadaan Arsen dan mendengar suara ketus lelaki itu menandakan jika kondisi Arsen membaik. Dosen galaknya itu sudah kembali.


"Astaga naga!" Bianca berjingkat kecil ketika mendengar celetukan di balik punggungnya. Aroma khas lelaki itu menguar memenuhi indera penciumannya.


"Bi, jari kamu," kata Arsen sembari menarik tangan kanan Bianca, jari telunjuk perempuan itu berdarah. "Hati-hati, Bi, kalau lagi masak."


Bianca memutar bola matanya sebal. "Aku udah hati-hati, tapi kamu tiba-tiba muncul. Siapa yang nggak kaget. Ini berdarah juga karena kamu ya—"


"Shht ... diam. Kamu kalau ngoceh udah kayak petasan banting, Bi," dengus Arsen seraya menuntun Bianca agar duduk di kursi ruang makan.


"Bentar, itu masakanku nanti gosong," kata Bianca berusaha melepas cekalan Arsen.


"Duduk," titah lelaki itu, "ini lebih penting. Luka kamu harus diobati."


Bianca diam menurut, malas berdebat. Ia memandang Arsen yang fokus mengobati lukanya, lalu menempelkan plester disana. Entah kenapa, jantungnya itu berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Nah, kalau gini kan aman," ucap Arsen tersenyum puas melihat jari telunjuk Bianca yang sudah terbungkus plester di ujungnya.

__ADS_1


"Ya udah kamu tunggu disini, aku mau lanjut masak," kata Bianca.


Bianca bangkit dari duduk lalu berjalan cepat kembali ke dapur. Dirinya khawatir Arsen bisa mendengar degupan jantungnya yang sudah jumpalitan di dalam. Ia menyentuh dadanya begitu berada di dapur, dirinya jadi teringat perkataan Abel tadi siang saat di kampus.


“Lo mulai suka sama si galak, ‘kan?”


Tidak, tidak mungkin, batin Bianca. Ia menggeleng lalu menepuk pipinya berkali-kali. Lebih baik dirinya fokus memasak dari pada memikirkan hal yang tidak penting.


Setelah kepergian Bianca, Arsen melangkah ke arah ruang tengah. Badannya terasa ringan, hawa panas yang mengerubungi tubuhnya beberapa jam yang lalu kini hilang entah kemana. Berkat Bianca yang merawatnya, panas di tubuhnya menurun.


Arsen duduk di sofa ruang tengah. Sembari menunggu makanan buatan Bianca, ia menyalakan televisi. Ibu jarinya menekan tombol remote berkali-kali, mencari channel televisi yang cocok untuknya. Namun dirinya tidak kunjung menemukan channel yang pas, ia kembali mematikan televisi.


Arsen menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, manik matanya menangkap paper bag di atas meja. Alisnya bertaut bingung, tangannya terulur mengambil benda yang mencuri perhatiannya. Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia membuka paper bag di tangan. Matanya membeliak begitu melihat jam tangan branded keluaran terbaru.


"Bi!" panggil Arsen, matanya tidak lepas memandangi jam mahal dihadapannya.


Bianca yang sedang menuang sup ayam buatannya ke dalam mangkuk menyahut, "sebentar."


Bianca berjalan ke ruang makan dengan nampan berisi sup ayam dan air putih, namun dirinya tidak mendapati si galak disana. Ia melanjutkan langkahnya ke ruang tengah, melihat Arsen memangku paper bag dari Fara membuat perasaan kesalnya kembali membuncah.


Bianca meletakkan nampan di atas meja. "Ini makan malamnya udah jadi."


"Bi, ini paper bag-nya dari siapa?" tanya Arsen, dengan raut penasaran yang kentara.


"Dari fans kamu," jawab Bianca ketus lalu berbalik pergi ke kamar tamu.


Arsen mengerutkan kening. "Fans? Siapa?"


Selesai mengemasi pakaiannya dan beberapa bukunya, Bianca melangkah menghampiri Arsen dengan raut sebal. "Kondisi kamu udah baik, 'kan? Kalau gitu aku pulang," ucapnya begitu berada dihadapan Arsen.


"Tung—" Belum sempat Arsen melanjutkan perkataannya, Bianca menghilang di balik pintu.


Keningnya berkerut semakin dalam, kenapa tiba-tiba Bianca terlihat marah. Apa ia sudah melakukan sesuatu yang salah? Dirinya 'kan hanya bertanya tentang masalah paper bag, dan siapa pula itu fansnya?

__ADS_1


__ADS_2