
Bianca mengabsen bahan masakan yang sudah dirinya masukkan ke dalam troli, meneliti satu per satu barangkali ada yang kurang. "Kayaknya udah semua," katanya setelah selesai mengecek.
Keduanya saat ini sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan dekat dengan apartemen Arsen, cukup jalan dua menit sudah sampai saking dekatnya.
Arsen ikut melihat ke arah troli, seperti ada yang kurang. Ah, iya kopi. "Kopi hitam di apartemen udah habis kayaknya."
"Aku ambil dulu, kamu disini aja," perintah Bianca lalu berjalan meninggalkan Arsen.
Arsen menatap kepergian Bianca lalu menggeleng, baru kali ini ada yang memerintah dirinya selain Karin dan keluarganya yang lain. Ia menunggu Bianca sambil memainkan ponselnya, sudah hampir sepuluh menit tetapi mahasiswi bandelnya itu belum menunjukkan batang hidung. Rasa panik tiba-tiba menjalari hatinya.
Tangan kiri Arsen mendorong troli sedangkan tangannya yang lain memegang ponsel, ia mencoba menghubungi Bianca namun tidak diangkat. Ia mendengkus kasar, kenapa perempuan itu selalu menguji kesabarannya. Ia menyapukan pandangan ke seluruh penjuru, diikuti langkahnya yang cepat.
Gotcha.
Arsen menghembuskan napas lega kala mendapati Bianca berada di dekat rak kopi kemasan. Perempuan itu melompat kecil berusaha menggapai kopi kemasan yang berada di rak paling atas, namun tidak berhasil. Ia terkekeh lalu berjalan mendekat, tangannya terangkat mengambil kopi kemasan itu.
"Makannya tumbuh itu ke atas jangan ke samping," bisik Arsen mengejek.
Dosen Kampret!, umpat Bianca sebal. Dosen galaknya itu tidak pernah absen mengeluarkan kata-kata pedas.
"Ini udah tinggi ke atas, kamunya aja yang ketinggian," ucap Bianca sedikit sewot, lalu berjalan mendahului Arsen. Namun tangannya langsung di cekal si galak.
"Jalannya jangan jauh-jauh, nanti kamu hilang," ujar Arsen sembari menggenggam tangan Bianca.
"Bilang aja mau modus," dengus Bianca.
"Aku kalau mau modus pilih-pilih, Bi," ketus Arsen. "Kalau nggak gini nanti kamu hilang, aku yang repot. Kamu kan pendek, susah nyarinya kalau hilang."
Asem!
Keduanya berjalan ke arah kasir, Bianca masih memasang raut masam. Ia kesal maksimal dengan si galak, mulut cabenya itu minta di lakban.
Arsen mengeluarkan dompet ketika gilirannya membayar, ia menyodorkan beberapa lembar uang ke arah mbak-mbak kasir. Setelah selesai ia menoleh ke arah Bianca, "bawa semua barang belanjaannya."
Bianca melongo, ia ingin menyumpah serapahi Arsen tetapi hanya tertahan di tenggorokan. Lagi pula mana berani dirinya mengumpati si galak, nilainya yang jadi taruhan kalau sampai terjadi.
__ADS_1
Bianca menenteng satu kantung keresek besar di belakang Arsen, lelaki itu sudah jalan jauh di depan. Sial, kenapa dosennya itu tidak berhenti menyiksanya.
Bianca menghentikan langkahnya kala melihat beberapa orang berkumpul ramai-ramai, karena penasaran ia melangkah mendekat. Disana ada panggung kecil dengan dekorasi full pink, matanya beralih menatap tulisan besar yang tercetak di poster besar. 'Valentine Day'.
Mulut Bianca membentuk huruf 'O'. Pantas saja hari ini sangat ramai di tambah lagi banyak diskon cokelat, ternyata hari ini valentine day. Karena sejak zigot sudah menjomblo, ia tidak pernah ingat tanggal valentine day.
"Ayo, pulang. Aku cari daritadi kamu malah disini," kata Arsen kesal.
"Sebentar aku mau lihat ini dulu, Sen," tolak Bianca halus, matanya menatap penuh minat ke arah panggung kecil di depan.
"Karena memperingati hari Valentine, kami mengadakan lomba untuk pasangan," ucap MC di depan. "Bagi yang menang masing-masing mendapat uang dua juta."
"Bagi yang mau ikut silahkan maju ke depan," imbuh MC perempuan itu.
"Wah, lumayan," sahut Bianca mulai tertarik, ia menatap lelaki disampingnya. "Sen.... "
Mengerti arti tatapan Bianca, Arsen mendelik lalu menggeleng. "Nggak," tolaknya tegas.
Bianca cemberut, ia menyerahkan kantung keresek besar di tangannya ke arah Arsen. "Tolong bawa dulu," ucap Bianca kepada dosennya.
"Mau cari cowok, aku mau ikutan lomba itu. Lumayan hadiahnya bisa aku kirim ke Ibu di kampung," jawab Bianca.
Arsen berdecak, kalau sudah begini mana mungkin ia menolak. "Nggak perlu cari cowok. Ayo, maju ke depan."
Bianca mengerjapkan matanya, kemudian senyuman lebar terukir di bibir tipisnya. "Kamu mau ikut lomba itu?"
"Ayo maju sebelum aku berubah pikiran," balas Arsen ketus. Bianca tersenyum senang.
Di panggung kecil itu sudah ada tiga pasangan salah satunya Bianca dan Arsen. Ketiga pasangan itu mendengarkan intruksi dari MC, lomba kali ini merias wajah pacar perempuan.
"Ini ada timernya, selama sepuluh menit harus udah selesai. Siap?" tanya MC perempuan, disambut anggukan tiga pasangan itu. "Oke, mulai!"
Arsen menatap alat make up di depannya dengan raut bingung, Demi Tuhan dirinya tidak tahu menahu tentang make up. Tapi entah kenapa melihat wajah senang dan senyuman hangat Bianca membuatnya ingin memenangkan perlombaan ini.
Arsen mulai merias wajah Bianca, sejenak ia terpaku dengan wajah cantik perempuan itu. Melihat waktu yang terus berjalan, ia kembali melanjutkan merias. Detik terakhir ia mengoles bibir Bianca dengan lipstick berwarna nude.
__ADS_1
"Selesai," kata MC.
Setelah vote terkumpul, MC kembali mengumumkan pemenang lomba. "Pemenang lomba ini pasangan Arsen Bianca."
Bianca memekik senang, ia spontan memeluk si galak. "Kita menang," ucapnya girang. Sedangkan Arsen mematung, ia terkejut dengan tindakan spontan mahasiswinya.
Menyadari tindakannya, Bianca segera melepas pelukan. "Maaf," kata Bianca merasa bersalah. Bodoh... bodoh... bodoh, rutuk Bianca dalam hati. Ini sudah dua kali ia melakukan tindakan bodoh di depan si galak.
Setelah menerima hadiah, keduanya berjalan kembali ke apartemen. Karena tindakan spontan Bianca, suasana berubah canggung. "Eum, Arsen. Makasih udah mau ikut lomba," celetuk Bianca memecah kesunyian. "Uangnya kita bagi dua."
"Sama-sama. Kamu nggak perlu bagi dua, uangnya buat kamu aja," balas Arsen.
"Makasih," kata Bianca lagi saking senangnya.
"Dari pada kamu bilang makasih terus, lebih baik kamu masak makanan yang enak setelah ini. Aku lapar," ujar Arsen tanpa menatap perempuan di sampingnya.
Bianca tersenyum lebar, "siap, Bos."
Arsen menyunggingkan senyum tipis. Melihat raut bahagia Bianca, perasaan hangat menelusup di hatinya.
***
Arsen keluar dari kamar mandi, tubuhnya terasa segar. Ia mengeringkan rambut dengan handuk lalu berjalan keluar kamar. Aroma masakan menyambutnya, ia berjalan menghampiri Bianca yang sedang memasak di dapur.
"Udah selesai?" tanya Arsen, ia mendudukkan tubuhnya di kursi dekat pantry.
Bianca menoleh, kemudian mengangguk. "Ini udah selesai," jawabnya.
Keduanya duduk di ruang makan, Arsen menatap hasil masakan Bianca yang membuat cacing di perutnya demo.
"Ayo, dimakan," ajak Bianca.
Arsen bergeming, "kamu coba dulu sebagai antisipasi kalau misal itu ada racunnya."
What the—
__ADS_1
Baru saja ia akur dengan si galak, tetapi sekarang lelaki itu kembali memancing kemarahannya. Kalau misal dirinya ingin meracuni Arsen, pasti sudah sedari dulu ia lakukan. Mengingat sikap menyebalkan dosennya itu membuatnya mengelus dada.