
Bianca menguap, ia melirik jam di atas nakas samping tempat tidur. Jam masih menunjukkan pukul tujuh, ia masih sempat membuat sarapan pagi ini. Bianca memerhatikan sekitar, kamar tamu di apartemen lelaki itu sangat berantakan. Beberapa kertas tugasnya berhamburan di atas meja, beberapa lainnya di lantai. Ya, dirinya sudah ada satu minggu menginap di apartemen si galak.
Arsen, lelaki itu sedang pergi keluar kota untuk membantu Zafran mengurus resort baru di Bali yang sedang bermasalah. Arsen meminta dirinya untuk menjaga apartemen sampai lelaki itu pulang.
Semenjak kepulangan dari Surabaya beberapa hari yang lalu, Bianca belum bertemu dengan Arsen. Ia bahkan belum saling mengobrol, kecuali pesan singkat yang lelaki itu kirim agar dirinya menjaga apartemen. Jujur Bianca merasa bersalah dengan Arsen, karena terbawa emosi kala melarang lelaki itu untuk menjaganya. Ia bahkan belum berterima kasih dengan Arsen padahal lelaki itu sudah menemani sekaligus mengurusnya selama di Surabaya.
Bianca menghela napas panjang, ia menyambar ponsel di atas nakas. Ibu jarinya menggulir mencari kontak milik Arsen, begitu menemukannya ia memandang foto profil lelaki itu yang sedang tersenyum. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik, detik selanjutnya ia menggeleng lalu menepuk kedua pipinya keras-keras.
“Stop, Bi!” Kenapa ia jadi memikirkan si iblis Arsen, ia dengan cepat beranjak dari single bed. Dirinya harus mandi sekarang, agar otaknya itu jernih dari jangkauan virus Arsen.
***
Pagi ini kelas diisi oleh Fara salah satu dosen muda di fakulas ekonomi dan bisnis, Bianca yang biasanya sangat fokus dengan mata kuliah milik Fara kini pikirannya melalang buana. Entah kenapa dirinya tidak bisa konsentrasi hingga kelas usai. Abel yang melihat gelagat aneh sahabatnya mengernyit heran, beberapa hari terakhir ini Bianca tampak lesu dan linglung.
“Bi, lo kenapa, sih? Akhir-akhir ini lo kacau banget,” tanya Abel, ia menyeruput lemon teanya. Keduanya saat ini duduk manis di kantin fakultas ekonomi seperti biasa.
Bianca menggeleng, dirinya juga tidak tahu kenapa. “Gue nggak tahu.”
“Apa karena nyokap lo masih sakit?” tanya Abel, lagi-lagi Bianca menggeleng. Kondisi Ibunya sudah membaik, dua hari yang lalu ia menelepon Bu Dya menanyakan kondisi Dewi.
“Apa karena Pak Arsen absen seminggu?” tanya Abel dengan mata memicing, lalu senyuman menggoda terbit di bibirnya. “Lo kangen sama Pak Arsen, ya?”
Hatinya mencelos, tidak mungkin dirinya merindukan Arsen. Bianca menggeleng dengan cepat. “Nggak lah, kenapa juga gue harus kangen sama dosen galak kayak dia,” elaknya lalu membuang muka enggan menatap sahabatnya.
__ADS_1
Abel tertawa, siapa pun yang melihat Bianca pasti tahu jika perempuan itu sedang berbohong. Sahabatnya itu sangat transparan, sangat mudah untuk ditebak. Ia melipat tangan di dada lalu mencondongkan wajahnya ke arah Bianca kemudian berbisik pelan. “Lo mulai suka sama si galak, ‘kan?”
Bianca mendelik, kepalanya kontan menoleh ke arah Abel. “Nggak. Apaan sih lo, Bel. Sampai kapan pun gue nggak bakalan suka sama si galak.”
Moodnya yang buruk kali ini terasa berkali-kali lipat lebih buruk karena pertanyaan aneh sahabatnya, mana mungkin dirinya menyukai lelaki galak macam Arsen. Lagi pula dilihat dari sisi mana pun ia dan Arsen tidak akan pernah akur.
“Gue cabut duluan,” ujar Bianca lalu beranjak keluar dari kantin fakultas ekonomi dengan langkah cepat.
“Sampai kapan lo bohongin perasaan lo sendiri, Bi,” kata Abel pelan. Matanya tidak lepas menatap kepergian Bianca yang keluar dari kantin, senyumnya mengembang. Lihat saja, sampai kapan sahabatnya itu terus mengelak dengan perasaannya sendiri.
Bianca berjalan keluar kampus, namun langkahnya terhenti ketika mendengar panggilan seseorang. Ia berbalik, dirinya mendapati wanita cantik dengan setelan modis. Fara melangkah menghampirinya dengan anggun, tidak lupa senyuman lembut terpatri di bibirnya.
“Bianca,” panggil Fara.
“Iya, Bu,” balas Bianca, matanya menyorot bingung ketika wanita cantik itu menyodorkan paper bag. “Ini apa, Bu?”
Seakan paham dengan alibi yang si galak buat, Bianca mengangguk. “Iya, saya saudara jauhnya Pak Arsen.”
Fara tersenyum senang, pipinya merona. “Ini ada bingkisan untuk Arsen, saya titip ke kamu tolong kasih bingkisan ini buat Arsen.”
Bianca menaikkan sebelah alisnya tak urung menerima bingkisan pemberian Fara. “Iya, nanti saya berikan ke Pak Arsen.”
“Makasih, ya, Bi,” ucap Fara seraya menepuk pelan bahunya.
Bianca mengangguk kaku. “Iya, Bu. Kalau gitu saya permisi.” Ia berbalik pergi, namun baru beberapa langkah ia berhenti kala Fara mencekal tangannya.
__ADS_1
“Bi, saya boleh minta tolong lagi.”
Bianca mendengkus. Apa lagi sekarang, batinnya dongkol. Kalau Fara bukan dosennya pasti ia sudah menyumpah serapahi wanita itu saking kesalnya. Ia mengangguk berusaha sopan. “Minta tolong apa lagi, ya, Bu?”
Fara menggenggam tangan kiri Bianca yang bebas, pipinya sontak merona. “Karena kamu saudara jauhnya Arsen, apa kamu bisa bantu saya dekat dengan Arsen?”
Bianca melongo sejadi-jadinya, entah kenapa dadanya terasa nyeri seperti ada godam mendarat tepat disana. Ia menatap nanar ke arah wanita di depannya yang sedang menatapnya penuh harap.
“Kamu mau bantu saya, ‘kan?” desak Fara.
***
Bianca memasukkan kode akses apartemen Arsen, lalu masuk ke dalam. Ia meletakkan bingkisan dari Fara di atas meja, kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa empuk. Bianca menghela napas panjang, ia menatap langit-langit ruang tengah. Tangan kanannya terangkat menyentuh dada kirinya yang sempat terasa nyeri, ada apa dengan jantungnya? Apa jangan-jangan ia terkena penyakit jantung?
Bianca melarikan pandanganya ke arah bingkisan yang beberapa menit yang lalu Fara serahkan, ia menatap jengkel ke arah bingkisan di atas meja. Rasanya Bianca ingin sekali membuang paper bag itu. Teringat Fara meminta tolong kepadanya untuk menjadi mak comblang membuat dirinya semakin jengkel. Kalau mau dekatin Arsen kenapa harus minta tolong kepadanya. Dasar menyusahkan, batinnya dongkol. Dan bodohnya ia mengiyakan perkataan Fara. Memikirkan itu kembali membuat dadanya nyeri.
Ditengah kekesalannya Bianca dikejutkan dengan suara bel apartemen Arsen, keningnya mengerut. Siapa gerangan yang datang siang-siang seperti ini? Tidak mungkin Arsen, lelaki itu akan pulang Kamis besok. Bianca beranjak dari sofa, ia berjalan ke arah pintu utama.
Bianca membuka pintu apartemen dengan penuh keraguan, ia membelalakkan mata begitu pintu terbuka. Di depannya ada lelaki yang seminggu terakhir memenuhi kepalanya.
"Arsen," gumam Bianca. Ia menatap lekat Arsen yang berdiri menjulang di depan, tubuh lelaki itu tampak lemah. Wajah kejam yang biasa Arsen ditunjukkan kini tampak pucat.
"Bi...."
Bruk!
__ADS_1
Tubuh besar Arsen menimpa tubuh mungil Bianca. Perempuan itu panik, ia mengguncangkan tubuh Arsen. Namun tidak ada sahutan, lelaki itu pingsan.
"Arsen," panggil Bianca lagi. Rasa takut nan khawatir menghinggapinya menjadi satu.