
Bianca mengetuk-ketukkan kakinya tidak sabar, lift yang membawanya ke lantai enam terasa lambat. Ia menggigit bibir panik, pasti dosen galaknya yang satu itu sudah bersiap-siap menyemburnya dengan api kemarahan.
Ting!
Bianca melangkah keluar, ia berjalan dengan cepat menyusuri koridor lantai enam lalu berhenti di salah satu ruangan. Tangannya sudah siap membuka handle pintu, bibirnya komat-kamit merapalkan doa. Setelah siap, perlahan ia mengetuk pintu tiga kali lalu membukanya.
Disana Arsen berdiri dengan tangan terlipat di dada, mata lasernya menatap Bianca seolah akan menguliti perempuan itu hidup-hidup. "Bianca Almeera Anatasya," panggilnya dengan suara berat dan dalam.
Duh, siaga lima!
Bianca tersentak di tempatnya, bulu kuduknya sontak berdiri mendengar suara bariton Arsen yang sedang memanggilnya. Aura lelaki itu sangat berbeda, kali ini terasa lebih horror.
"Kamu masih ingat kuliah?" tanya Arsen tajam.
Kalem, Bi, batinya menenangkan. Kalem, nggak boleh ngegas.
Namun lain di mulut lain di hati, mulutnya itu tidak bisa di ajak kompromi. "Kalau nggak ingat saya nggak mungkin ada disini, Pak," balas Bianca, detik selanjutnya ia merutuki mulut sialannya.
Rasanya darah Arsen naik ke ubun-ubun, ia memejamkan mata sebentar guna menahan amarah yang siap meledak. Dosa apa dirinya memiliki mahasiswi bandelnya tidak tertolong seperti Bianca. "Jam berapa sekarang?" tanyanya.
Bianca mengernyit, namun tetap menjawab, "jam sembilan, Pak. Bapak kan ada jam, kenapa tanya ke saya?"
Arsen menggeram ia memijat pelipisnya, "kamu telat hampir satu jam, saya tidak bisa mentolerir keterlambatan kamu. Jadi, keluar kamu dari kelas saya sekarang, Bianca."
Bianca menelan saliva, napasnya tercekat. "Lho, Pak. Saya punya alasan kenapa saya terlambat," ucap Bianca panik.
"Apa perkataan saya kurang jelas? Pintu ada disana kamu bisa keluar," titah Arsen masih menatap tajam mahasiswinya.
"Pak, saya tadi nyelametin orang yang di keroyok. Karena saya baik hati, saya bantu dia. Makannya—"
"Bianca Almeera Anatasya, keluar dari kelas saya sekarang," tegas Arsen. "Saya tidak butuh alibi kamu. Nanti selesai kelas kamu datang ke ruangan saya."
Bibir Bianca mencebik, ia berbalik keluar dari kelas Arsen. Disepanjang koridor lantai enam sampai lobby ia tidak berhenti mendumel, pantas saja dosennya itu menjomblo, sifat galak dan kejamnya itu tidak ada obat.
__ADS_1
***
Kantin fakultas ekonomi pagi menjelang siang ini tampak ramai, Bianca masuk ke dalam lalu memesan makanan. Ia menyapukan pandangannya, kursi disekitarnya penuh. Apes, tadi ia terkena semburan maut Arsen. Sekarang ia tidak dapat tempat duduk.
"Bianca!"
Bianca terkejut, ia tidak asing dengan suara ini. Ia mencari-cari seseorang yang memanggilnya, hingga matanya tertumbuk pada laki-laki dengan kemeja flannel biru dongker tersenyum sembari melambaikan tangan ke arahnya.
Lho, itu kan....
Bianca berjalan mendekat ke arah lelaki itu, sembari membawa jus alpukat dan sepiring chicken cordon bleu di kedua tangannya. Kedua alisnya menyatu, "lo anak FEB juga?" tanyanya langsung begitu berada di depan lelaki itu.
Bukannya menjawab lelaki itu tersenyum simpul membuat Bianca menahan napasnya tanpa sadar. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan, batinnya. Wajah lelaki itu tidak sekacau tadi pagi, walau luka lebam di wajahnya masih belum hilang sepenuhnya. Bianca baru menyadari jika lelaki itu cukup tampan, meski masih lebih tampan dosen iblisnya itu. Ia menggeleng, kenapa tiba-tiba dirinya memikirkan si galak.
"Duduk sini, Bi," ujar lelaki itu seraya menepuk kursi di sampingnya yang masih kosong. Bianca menurut, ia meletakkan pesanannya di meja lalu duduk di sebelah lelaki itu.
"Jadi lo anak FEB?" tanya Bianca lagi, "tapi gue kok nggak pernah lihat lo, ya."
Lelaki itu menggeleng, "gue anak gedung sebelah."
"Yep, gue anak Fisip. Oh iya, kita tadi belum kenalan. Gue Bara," kata Bara sembari mengulurkan tangan kanannya.
Bianca tersenyum, lalu membalas uluran tangan Bara. "Salam kenal, Bar," balasnya. "Oh iya, lo kok disini?"
"Gue lagi pengin aja makan disini," jawab Bara. "Lo kok udah keluar kelas. Cepet banget."
Wajah Bianca kembali mendung, "gue kena amuk Pak Arsen, gara-gara telat masuk kelas."
"Maaf ya, gara-gara nolongin gue lo jadi kena semprot Pak Arsen," ujar Bara merasa bersalah.
Bianca dengan cepat menggeleng, "ini bukan salah lo, Bar. Ini salah gue karena dari awal emang udah kesiangan."
"Tapi gue tetap ikut andil bikin lo telat," ucap Bara keukeuh, "gini aja, lo besok malam ada acara nggak?"
__ADS_1
"Hah?" Bianca tampak berpikir, "nggak ada kayaknya. Kenapa?"
Bara menyeruput minumannya, kemudian menyeletuk, "jalan yuk, gue tahu tempat makan enak. Sebagai permintaan maaf karena bikin lo telat."
Bianca menggeleng tanda tidak setuju. "Nggak perlu, Bar. Ini bukan salah lo."
"Gue nggak mau tahu, Lo harus ikut gue," kata Bara keras kepala.
Sifat keras kepala Bara mengingatkan Bianca dengan si galak, kedua lelaki itu memiliki sifat yang sama. Bedanya Arsen memiliki aura gelap dan galak, sedangkan lelaki di sampingnya ini memiliki aura hangat dan bersahabat.
Andai saja si galak memiliki aura itu, pasti ketampanan Arsen berlipat ganda. Rasa bencinya akan luntur seketika. Nah, kan. Lagi-lagi ia memikirkan si iblis Arsen. Sepertinya otaknya sudah tercemar.
Hukuman dari Arsen yang tadinya terasa berat, setelah bertemu Bara menjadi ringan. Lelaki itu cukup menghiburnya. Dan kebetulan ia dan Bara memiliki kesukaan yang sama, film thriller.
***
Arsen memeriksa berkas di ruangannya, namun sedari tadi ia tidak bisa fokus. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas, kelasnya berakhir satu jam yang lalu tetapi mahasiswi bandelnya itu tidak menampakkan batang hidungnya.
Arsen melirik ke arah benda pipih yang tidak jauh darinya, dengan ragu ia mengirim pesan kepada Bianca.
Arsen : Bianca, ke ruangan saya sekarang.
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tidak ada tanda-tanda Bianca membalas pesannya.
Arsen berdiri dari duduknya, lalu menyambar jas di gantungan. Mahasiswi bandelnya itu mulai berani kepadanya, awas aja, batinnya dongkol.
Arsen berjalan ke arah parkiran, namun sebelum itu ia ingin membeli kopi di kantin fakultas ekonomi. Langkahnya terhenti kala matanya menangkap sosok yang di carinya beberapa menit yang lalu sedang mengobrol seru dengan Bara. Siapa yang tidak mengenal salah satu mahasiswa dengan track record yang buruk. Bagus sekali, ia menunggu satu jam di ruangan, perempuan itu justru asyik berduaan dengan laki-laki.
__ADS_1
Tangannya mengepal, entah kenapa perasaannya tidak tenang. Arsen merasa terganggu dengan pemandangan di depannya, dirinya jadi tidak napsu minum kopi. Ia pun berbalik pergi dengan perasaan bingung sekaligus kesal secara bersamaan.
Arsen masuk ke dalam mobilnya, ia termenung. Kenapa perasaannya tidak tenang? Dirinya meraup wajahnya dengan kasar.