Halo, Pak Dosen!

Halo, Pak Dosen!
Chapter 16


__ADS_3

Bianca mengerjapkan matanya, ia tidur sangat nyenyak malam ini. Dirinya menoleh ke kanan dan ke kiri, tempat ini terasa asing baginya. Sekelebat kejadian kemarin melintas di kepalanya, ia baru ingat sekarang. Ia ada di kediaman Megantara.


Matanya mencari ponsel, Bianca lupa kemarin belum menghubungi Rian. Pasti Kakak tingkat yang sudah ia anggap sebagai saudara laki-lakinya itu panik. Dan benar saja, begitu ponselnya menyala ia disambut puluhan notifikasi dari Rian.


34 missed call 10 Chat


Bang Rian : Bi, lo dimana sekarang?


Bang Rian : Bi, jangan buat gue khawatir.


Bang Rian : Bi, gue serius. Lo dimana sekarang? Gue jemput.


Bang Rian : Bi, angkat telepon gue


Bang Rian : BIANCA ALMEERA ANATASYA!


Sisa chat-nya yang lain kurang lebih sama. Bianca menghela napas panjang, ia merasa bersalah tidak mengabari Rian. Semalam ia tidak membuka ponsel sama sekali, dirinya mengurung dibalik selimut karena bayangan masa lalu kembali menghantuinya. Ibu jarinya dengan lincah menari diatas keypad ponsel.


Bianca : Maaf kemarin nggak ngabarin Bang Rian. Gue nginap di rumah teman 🙏🏼


Bianca melihat jam di atas nakas, matanya membola mendapati jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Ia ada kelas jam delapan, dirinya harus pergi ke indekos lebih dahulu untuk berganti pakaian sebelum ke kampus. Belum lagi jarak antara kampus dan indekosnya tidak bisa dibilang dekat.


Bianca beranjak dari tempat tidur dan berlari ke arah kamar mandi. Matanya berbinar melihat kamar mandi seluas kamar indekosnya atau mungkin lebih luas ini, katakanlah Bianca norak. Ia baru kali ini melihat kamar mandi semewah ini.


Ah, kenapa dirinya jadi gagal fokus. Bianca masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tidak membutuhkan waktu lama, ia selesai lalu mengenakan bathrobe yang sudah disediakan di rak sedang pojok ruangan. Sembari bersenandung, ia berjalan keluar kamar mandi.


"Kamu ngapain disini?!" pekik Bianca tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya kala melihat Arsen duduk di tepi ranjang dengan setelan baju tidur hitam sedang menatapnya dengan tangan bersidekap.


Arsen yang menatap perempuan didepannya intens. Rambut panjang Bianca yang di ikat messy bun membuat leher putih jenjang milik perempuan itu terlihat jelas, lalu turun kebawah.


Glek!


Arsen menelan ludah susah payah, entah kenapa pikirannya jadi kemana-mana. Apa lagi aroma lavender terasa menusuk Indra penciumannya. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, enggan menatap Bianca. Pikirannya saat ini sedang tercemar, ia tidak bisa lama-lama disini. Ia berdeham, "kamu pakai baju punya Kak Deana aja, setelah ini kita langsung pergi ke kampus. Jadi nggak perlu ke indekos kamu."


Setelah mengatakan itu, Arsen bangkit dari duduknya. Ia buru-buru keluar dari kamar tamu, dirinya takut kelepasan. Namun ketika ia berada di ambang pintu, suara Bianca menginterupsi langkahnya.


"Makasih, Ar ... sen," kata Bianca lirih. Arsen hanya mengangguk singkat, lalu keluar dari kamar terkutuk itu.


***


"Stop," titah Bianca mendadak, membuat Arsen sontak menginjak pedal rem. Detik itu juga suara klakson kendaraan bersahutan tidak terima. Laki-laki itu berdecak lalu keluar dari mobil untuk meminta maaf, Untung saja tidak ada yang terluka karenanya.


"Bi, kalau mau berhenti jangan mendadak bilangnya. Untung aja orang-orang tadi nggak ada yang kenapa-kenapa," omel Arsen.


Bianca meringis, "maaf, Sen."


"Kenapa kamu mau berhenti disini? Ada yang ketinggalan?" tanya Arsen dengan kening berkerut samar.


Bianca menggeleng. "Aku mau turun disini," ucapnya, membuat sebelah alis lelaki disampingnya terangkat.

__ADS_1


"Kenapa?"


Bianca mendengkus, "karena aku nggak mau terlibat skandal di kampus sama dosenku sendiri. Kalau ada yang tahu aku berangkat ke kampus sama kamu, pasti kehidupan kampusku nggak bakalan tenang."


Arsen manggut-manggut mengerti, "tapi aku nggak bisa turunin perempuan di tengah jalan."


Bianca menatap lelaki di sampingnya kesal, "kamu nggak tahu gimana ganasnya fans kamu di kampus, Arsen."


Tanpa sadar sudut bibir Arsen perlahan tertarik ke atas, mendengar Bianca memanggil namanya tanpa ragu. Baru kali ini dan entah kenapa ada gelenyar aneh saat mendengar Bianca memanggilnya.


Arsen melajukan mobilnya, "nanti biar aku yang tanggung jawab kalau mereka macam-macam sama kamu. Rasanya nggak etis aku turunin perempuan di tengah jalan."


Bianca melipat kedua tangan di dada, selalu seperti itu. Dosennya selalu seenaknya sendiri. Ia menatap keluar kaca mobil dalam diam.


Mobil milik Arsen berhenti di parkiran dosen, Bianca hendak keluar dari mobil. Tetapi tangannya di tahan oleh lelaki di sampingnya, "Jangan lupa nanti selesai kelas langsung ke ruanganku," ujar Arsen mengingatkan.


Bianca mengangguk lalu keluar dari mobil dengan mengendap-endap, memastikan tidak ada yang melihatnya. Ia bernapas lega ketika berhasil masuk gedung fakultas ekonomi tanpa tertangkap basah.


"Bi, sini!" Bianca menghampiri Abel lalu duduk disebelah sahabatnya.


"Lo kemarin kemana? Bang Rian telepon gue berkali-kali," tanya Abel tanpa ba-bi-bu begitu Bianca duduk disampingnya.


Bianca menggigit bibirnya, "gue kemarin ... nginep di rumahnya Kak Flo, dia teman satu kerjaan di Queen Bakery."


"Gue kemarin panik banget, gue pikir Lo kenapa-kenapa. Lain kali kabarin gue atau Bang' Rian, lo disini ngerantau sendirian. Gue nggak mau Lo kenapa-kenapa," terang Abel.


Bianca tersenyum, ia bersyukur tinggal di ibu kota yang keras ini dirinya memiliki Abel dan Bang Rian. Dan ia merasa bersalah dengan mereka karena semenjak mengenal Arsen ia banyak sekali berbohong kepada dua orang itu.


***


Bianca menatap laptop di depannya, jari-jarinya menari-menari diatas keyboard. Sedangkan Abel mencari referensi tambahan di buku yang baru saja mereka pinjam dari perpustakaan kampus.


"Bi," panggil Abel heboh, "itu bukannya Marsha."


Bianca mengalihkan pandangannya ke arah yang dimaksud Abel sekilas, lalu kembali fokus ke laptopnya. "Terus kalau dia Marsha kenapa?" tanya Bianca lempeng.


"Dia ngapain di daerah sini ya? Bukannya jarak fakultas ilmu budaya sama fakultas kita jauh," kata Abel penasaran.


Bianca mengedikkan bahu, tanda ia tidak tahu dan tidak mau tahu. "Ketemu Agam kali," jawabnya acuh.


Abel menoleh ke arah sahabatnya, ia menatap Bianca heran. "Lo kok biasa aja? Lo udah move on dari Agam?" tanyanya sembari menyeruput es tehnya.


Bianca berhenti mengetik, ia menatap Abel. "Emang udah, Bel. Buang-buang waktu kalau gue gagal move on dari pacar orang, kayak nggak ada laki-laki lain aja," balas Bianca.


Obrolan Bianca dan Abel terhenti ketika seseorang mengambil tempat duduk di depan keduanya. Perempuan cantik berambut panjang bergelombang itu menatap Bianca dengan penuh rasa bersalah. Ya, perempuan itu Marsha.


Hening.


"Bi, gue minta maaf udah ngerebut Agam dari lo," kata Marsha memecah keheningan di meja itu. "Maaf gue baru nemuin kalian sekarang, gue belum siap."

__ADS_1


"Gue maafin," balas Bianca. Sejauh ini ia sadar bahwa sebenernya ini bukan sepenuhnya salah Marsha, karena perempuan itu juga tidak bisa mengatur perasaannya mau suka kepada siapa. Bianca juga bisa melihat ketulusan dari Marsha.


Tanpa Bianca dan Abel duga, Marsha menangis. Abel yang semula kesal dengan perempuan itu, sekarang ia tahu kenapa sahabatnya memaafkan Marsha. Dirinya melihat ketulusan di mata Marsha.


"Makasih, Bi," kata Marsha tulus. Bianca hanya mengangguk.


Drrtt ... drrtt ....


Bianca merogoh saku celananya kala merasakan getaran ponselnya. Melihat notifikasi pesan dari Arsen membuatnya tanpa sadar mendengkus kesal.


Si Galak : Ke ruangan saya sekarang.


"Ck...," decak Bianca kesal membaca pesan dari Arsen yang otoriter.


"Kenapa, Bi?" tanya Abel.


"Nggak apa-apa, gue harus pergi sekarang," pamit Bianca kepada dua sahabatnya. "Bel, sebagian gue kerjain di indekos. Nanti gue kirim filenya via Whatsapp."


"Sip, hati-hati," kata Abel.


"Hati-hati, Bi," ucap Marsha. Bianca mengangkat ibu jarinya lalu berjalan keluar kantin.


Bianca berjalan tergesa-gesa ke arah ruangan Arsen, ia tidak berhenti mengumpat menyebutkan nama hewan di seluruh kebun binatang saking kesalnya. Sesampai di depan pintu cokelat gelap ruangan Arsen, ia menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang melihatnya.


Tanganya terayun akan mengetuk pintu, namun ia urungkan karena pintu didepannya tiba-tiba terbuka. "Ayo, ikut saya," titah Arsen.


Bianca berjalan disebelah Arsen dalam diam, walau begitu ia menciptakan jarak cukup jauh agar mahasiswa di kampusnya tidak ada yang curiga. Sesampai di parkiran, Bianca celingukan. Setelah dirasa aman ia langsung masuk ke dalam mobil Arsen.


"Pak Arsen," panggil Bianca.


"Di luar kampus jangan panggil Pak."


Bianca menarik napas lalu menghembuskannya dengan kasar. "Oke, Arsen. Kita mau kemana?"


"Ke Apartemenku," balas Arsen singkat. Sedangkan Bianca melongo.


"Kamu ngapain bawa aku kesana?!" tanya Bianca panik. "Jangan-jangan...."


Pletak!


Tangan kiri Arsen yang bebas mendarat di kepala Bianca, "nggak usah mikir macam-macam. Mana mungkin aku tertarik sama kamu."


"Terus kenapa kesana?" tanya Bianca masih kepo.


Arsen ternyum tipis, "mau kasih kamu pekerjaan." Melihat senyum tipis itu perasaan Bianca mendadak tidak enak.


Arsen memarkirkan mobilnya di basement, lalu keluar dari mobilnya diikuti Bianca. Ia menggenggam tangan mahasiswinya lalu membawa perempuan itu menaiki lift ke lantai delapan belas dimana unit apartemennya berada.


Arsen dan Bianca berjalan menyusuri lorong apartemen, hingga langkah kaki keduanya berhenti di depan unit apartemen milik Arsen. Lelaki itu membuka pintu Apartemennya, lalu membawa Bianca masuk ke dalam.

__ADS_1


Di dalam Bianca di sambut beberapa kaleng bir berceceran dan kotak pizza tergeletak mengenaskan di atas meja. Apartemen milik dosennya itu berantakan seperti habis terkena angin topan. Bianca terkejut, tidak menyangka dosennya yang terlihat rapi itu ternyata memiliki sisi berantakan. Belum sampai disitu rasa terkejutnya, Arsen kembali mengejutkannya.


"Mulai sekarang kamu jadi asisten rumah tangga disini," celetuk Arsen dengan senyum iblisnya. Bianca melongo, jadi ini pekerjaan yang dosennya maksud.


__ADS_2