
...Karena aku tahu yang kamu butuhkan saat ini hanya sebuah pelukan...
...—Arsen Megantara—...
Setelah Bianca pulang, Arsen memilih duduk di depan kaca menghadap persis ke arah pemandangan ibukota yang tampak ramai di malam hari, ditemani secangkir cokelat panas di atas meja. Akhir-akhir ini Arsen dipusingkan dengan berkas mata kuliah mahasiswanya, alhasil ia tidak ada waktu untuk istirahat atau bahkan mencari bukti keburukan Bara kepada Bianca. Selagi ia masih bisa mencari bukti itu sendiri, dirinya tidak akan meminta bantuan Alex.
Teringat pesan dari Bara untuk Bianca, Arsen menyambar benda pipih yang tergeletak di atas meja. Senyumnya mengembang, ia mencari kontak di ponselnya. Ibu jarinya menggulir mencari nomor milik Karin, iya Mamanya. Wanita paruh baya itu yang bisa menghalangi Bianca melihat pertandingan si kampret Bara.
“Halo, Ma,” sapa Arsen begitu panggilan tersambung.
“Kenapa, Sen, telepon malam-malam?” tanya Karin diseberang.
“Mama beberapa hari yang lalu nerror Arsen, katanya mau ketemu sama Bianca, ‘kan?” tanya Arsen lalu menyeruput cokelat panasnya.
“Iya, Mama kangen sama camen.”
Kedua alis Arsen bertaut bingung. “Camen?”
“Iya, Camen. Calon Menantu,” ujar Karin seraya terkikik. “Bianca ‘kan calon menantu Mama.”
Tanpa sadar Arsen tersenyum samar, ia merasakan gelenyar aneh di perut ketika Mamanya mengatakan jika Bianca ‘camen’. Ia tidak bisa membayangkan jika Bianca menjadi istrinya, pasti.... Arsen menggeleng, kenapa pikirannya mendadak melantur kemana-mana. Ia tidak mungkin menikahi mahasiswinya sendiri, terutama Bianca.
“Besok tanggal merah, Ma. Kayaknya Bianca ada waktu longgar.” Arsen bisa merasakan jika Mamanya itu sedang tersenyum senang saat ini.
“Wah, bagus dong. Mama mau ajarin dia bikin cheesecake, cake kesukaan kamu. Kalau dia udah jadi istri kamu, Mama nggak perlu rutin tiap minggu buatin kamu cheesecake. Biar Bianca yang buatin,” cerocos Karin panjang lebar.
Arsen yang tadinya sedang menyeruput minumannya kini tersedak. “Uhuk ... masih lama, Ma. Mama udah mikir kesana aja.”
Karin menghela napas. "Apa salahnya belajar jadi istri yang baik sejak sekarang?"
Arsen mendengkus pasrah, malas berdebat. "Iya, terserah Mama aja."
***
Drrtt ... drrtt ... drrtt....
Bianca yang sedang bergelung di bawah selimut, kini memaksa membuka mata. Ia mengerjap beberapa kali lalu menatap ke arah jam di meja belajar, keningnya mengerut. Pasalnya jam masih menunjukkan pukul sembilan, tapi kenapa Abel sudah meneleponnya?
Bianca meraih ponsel, kemudian menggeser ikon hijau tanpa melihat caller ID. "Halo, Bel," sapanya malas.
"Halo," balas suara diseberang.
Bianca kontan mendudukkan diri, ia menjauhkan ponsel guna melihat caller ID di layar. Matanya membelalak terkejut, perasaannya mendadak tidak enak. Tidak sampai disitu rasa terkejutnya, si galak kembali mengejutkannya.
"Aku di depan gerbang indekos kamu," kata Arsen di seberang.
Bianca dengan cepat beranjak dari tempat tidurnya, ia melangkah mendekati jendela. Mulutnya langsung terbuka lebar, disana Arsen berdiri dengan kaos polo hitam pas badan serta celana chino panjang. Penampilan lelaki itu tampak lebih muda dan santai. Dan yang membuat Bianca bertambah jengkel, ketika melihat Arsen tersenyum tanpa dosa seraya melambaikan tangan dengan tidak tahu malunya.
__ADS_1
"Back to earth, Bianca. Jangan tatap aku kayak gitu, tutup mulut kamu."
Suara Arsen membuyarkannya, Bianca langsung mengatupkan mulut. "Kamu ngapain kesini? Bukannya aku libur kerja."
"Aku jemput kamu," balas Arsen di seberang.
"Kemana? Aku mau pergi nonton battle of campus," tolak Bianca.
"Mandi setelah itu ikut aku, nggak ada bantahan," tegas Arsen seraya menatap tajam Bianca yang berada di jendela lantai atas.
"Aku nggak bis—"
"Mama minta aku jemput kamu, Mama pengin ketemu kamu, Bianca," potong Arsen sembari menatap Bianca penuh permohonan.
Bianca jelas tidak bisa menolak. Selain karena Karin itu mantan bosnya di Queen Bakery, Bianca sudah sepakat dengan Arsen untuk menjadi pacar pura-pura lelaki itu.
"Oke, aku mandi dulu." Bianca mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia melangkah ogah-ogahan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Arsen tersenyum puas ketika melihat Bianca menghilang di balik jendela, sudah dirinya duga Bianca tidak akan menolak jika bersangkutan dengan Mamanya. Akhirnya ia berhasil menggagalkan pertemuan Bianca dengan Bara. Arsen menyenderkan tubuhnya di mobil seraya memainkan ponsel selagi menunggu mahasiswi bandelnya bersiap.
Tidak membutuhkan waktu lama, Bianca sudah siap dengan setelan kasual. Ia menyambar slingbag, kemudian bergegas menuruni tangga ke lantai bawah. Bianca bersyukur, Rian dan Rana pulang kampung setidaknya kedua kakak tingkatnya itu tidak tahu jika si iblis Arsen menjemputnya di depan gerbang indekos.
"Ayo," kata Bianca begitu berada dihadapan Arsen.
Arsen tersenyum, ia berjalan memutar berniat membukakan pintu mobil untuk Bianca. Sedangkan perempuan itu lagi-lagi melongo takjub, tumben sekali dosennya itu murah senyum. Biasanya wajah lelaki itu datar tanpa ekspresi.
"Sampai kapan kamu berdiri disana? Masuk," titah Arsen. Bianca mengangguk, ia menurut kemudian masuk ke dalam range rover hitam milik si galak.
***
Mobil Arsen berhenti di depan gerbang tinggi menjulang, pria paruh baya dengan setelan seragam khas satpam buru-buru membuka gerbang. Bianca menatap sekitar begitu mobil si galak memasuki pelataran rumah, masih sama seperti terakhir kali dirinya kesini. Patung air mancur masih berada di tengah halaman, tanaman bunga di taman samping halaman masih tetap indah. Rumah bergaya Mediterania itu tampak kokoh dan megah.
Hingga Bianca tidak menyadari jika range rover Arsen sudah terparkir di garasi rumah. Sama seperti tadi, si galak membukakan pintu untuknya. Bianca keluar dari mobil, sebelum berjalan ke teras rumah ia menarik ujung kaos Arsen. Sudah tiga kali kesini, namun Bianca tetap saja gugup.
"Arsen," panggil Bianca. Lelaki itu menghentikan langkah kemudian menoleh ke belakang.
"Kamu yakin Bu Karin yang minta aku kesini? Ini bukan akal-akalan kamu bawa aku kesini karena mau liat battle of campus 'kan," lanjut Bianca.
Arsen menghela napas, ia menatap manik mata almond Bianca lurus-lurus. "Aku serius, Mama pengin ketemu kamu dari jauh hari. Aku aja baru tahu kalau kamu mau liat pertandingan Bara." Bianca menyipitkan mata curiga, namun tak urung memercayai Arsen.
"Ayo, masuk. Mama udah nunggu di dalam," ajak Arsen seraya menggenggam erat tangan Bianca.
Arsen membawa Bianca masuk ke dalam rumah, disana Karin sudah menyambut kedatangan keduanya dengan senyum lebar. "Calon menantu, Mama. Lama kita nggak ketemu, padahal Mama udah minta Arsen berkali-kali bawa kamu kesini, tapi dia bilang kamu lagi sibuk," terang Karin, wanita paruh baya itu menggandeng Bianca kemudian membawanya ke dapur.
"Akhirnya hari ini kita ketemu lagi, Mama kangen banget sama kamu, Bi. Mama minta tolong Arsen buat jemput kamu," lanjut Karin, sedangkan Bianca tersenyum canggung. Ia menatap punggung Arsen yang berjalan menjauh ke lantai atas, ternyata lelaki itu tidak berbohong.
Sesampai di dapur Bianca melihat bahan-bahan cake sudah siap di atas pantry, ia tidak menyangka jika Karin sudah mempersiapkannya lebih dulu.
"Oh iya, Mama mau ajarin kamu buat cheesecake favorit Arsen," ujar Karin, lalu mengelus puncak kepala Bianca dengan sayang. "Nanti kalau kamu sudah menikah sama Arsen, kamu bisa buatin dia cheesecake favoritnya."
__ADS_1
Melihat binar bahagia di manik mata Karin membuat Bianca merasa bersalah, ia dan Arsen sudah membohongi wanita itu. Dan Karin terlihat berharap banyak dengan hubungan ini.
"Jadi, menurut kamu Arsen orangnya gimana?" tanya Karin sembari fokus dengan adonannya.
Bianca tersenyum, sekelebat bayangannya saat bersama dengan si galak memenuhi pikirannya. "Baik kok, Ma. Tapi agak nyebelin," balas Bianca jujur. Karin terkekeh, perempuan disampingnya ini selalu blak-blakan.
Cheesecake buatan keduanya sudah jadi, aromanya menguar memenuhi dapur. Bianca menatap puas ke arah cake buatannya dengan Karin. Setelah memindahkan ke piring, ia meletakkan cheesecake itu di meja teras belakang.
"Bi, kamu panggil Arsen, gih. Kayaknya dia lagi di kamar," ujar Karin meminta tolong, Bianca manggut-manggut. Ketika perempuan itu berbalik, tubuhnya menabrak dada bidang Arsen. Jika tangan lelaki itu tidak menahannya, ia pasti sudah terjungkal ke belakang.
Arsen melirik ke arah meja lalu tersenyum, ia mencium puncak kepala Bianca seraya mengacak rambut perempuan itu pelan. "Good job, kamu berhasil buat cheesecake favoritku." Bianca mendelik, ia masih terlalu terkejut dengan tindakan Arsen beberapa detik yang lalu. Hingga sentuhan di bahu menyadarkannya.
"Kalian manis banget, Mama jadi ingat masa muda dulu," celetuk Karin, tangannya mengusap bahu Bianca lembut.
Ketiganya menghabiskan waktu bersama, mengobrol santai sembari menikmati cheesecake serta kebun bunga tulip milik Karin yang tampak segar. Hingga suara deringan ponsel menginterupsi kegiatan mereka. Karin merogoh saku celananya, ia membaca pesan masuk di layar ponsel.
"Mama tinggal dulu, ya. Kalian quality time berdua. Mama mau antar berkas Papa ke kantor," jelas Karin lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Bianca mempercepat makannya, sesekali melirik ke arah arloji di tangan kiri. Masih ada waktu untuk menonton Bara, pikirnya. Ia sudah berjanji dengan lelaki itu, dirinya tidak mungkin ingkar.
"Kalau makan jangan cepat-cepat, nanti kamu tersedak," ucap Arsen memperingatkan, namun Bianca tidak mengindahkannya.
"Kamu mau pergi lihat battle of campus?" tanya Arsen sinis.
Bianca mengangguk. "Aku udah janji sama Bara."
Arsen mendengkus. "Bi, aku udah bilang jangan dekati—"
Bianca menatap Arsen tajam. "Kamu nggak berhak larang aku sebelum kamu punya bukti keburukan Bara." Selanjutnya ia berdiri sembari menenteng piring bekas cake lalu berjalan ke arah dapur meninggalkan Arsen seorang diri di teras belakang.
Arsen menatap kepergian Bianca dengan raut tidak terbaca. Ia menunduk dalam, kenapa sulit sekali meyakinkan perempuan itu. Arsen merutuki dirinya yang selalu sibuk dengan berkas mahasiswa sampai tidak sempat mencari tahu motif Bara.
Prang!
Arsen tersentak, badannya kontan menegang. Ia bergegas mencari sumber suara, di rumah ini hanya ada dirinya dan Bianca. Pikirannya berkecamuk, khawatir terjadi sesuatu dengan perempuan itu.
"Bi," panggil Arsen. Ia melangkah mendekati Bianca yang berdiri dengan bahu bergetar hebat. Rasa khawatir semakin melingkupinya.
"Bianca," panggil Arsen sekali lagi, tangannya berusaha meraih tangan Bianca, namun perempuan itu berjalan menjauh memunggunginya.
"Jangan mendekat," larang Bianca dengan suara parau. Ia enggan menatap Arsen dengan wajah penuh tangis, cukup sekali lelaki itu memergokinya menangis di taman kampus. Bianca tidak ingin terlihat lemah di depan siapa pun, termasuk Arsen. Bianca tidak suka dikasihani.
Alih-alih menjauh, Arsen justru semakin maju mendekat. Ia menarik paksa tangan Bianca, membawa perempuan itu ke dalam dekapannya yang hangat.
"Berhenti bersikap sok kuat," bisik Arsen pelan sembari mengelus punggung mungil nan rapuh Bianca, "nangis aja, Bi. Nangis bukan berarti kamu lemah."
Perlahan tapi pasti Bianca melingkarkan tangannya ke pinggang Arsen, ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang lelaki itu. Bianca kembali menangis, kali ini lebih keras, menumpahkan kesedihannya yang mendalam.
Arsen diam, ia tidak berhenti membisikkan kata-kata menenangkan. Dirinya tidak berusaha untuk bertanya 'kenapa', walaupun jauh di lubuk hatinya ia penasaran dengan penyebab perempuan itu menangis. Untuk saat ini, lebih baik ia diam membiarkan Bianca melepas tangis. Karena Arsen tahu yang dibutuhkan mahasiswi bandelnya sekarang itu hanya sebuah pelukan.
__ADS_1