Halo, Pak Dosen!

Halo, Pak Dosen!
Chapter 8 | Pacar?!


__ADS_3

"Saya tutup mata kuliah hari ini, permisi."


Arsen melenggang keluar ruangan, ini adalah kelas terakhir yang dirinya ajar hari ini. Di sepanjang koridor beberapa mahasiswi menyapannya. Ia hanya mengangguk singkat tanpa senyum, dirinya harus mempertahankan image karena ia tidak ingin mahasiswa atau mahasiswinya bersikap seenaknya mengingat ia dosen termuda di kampus.


Drrtt ... drrtt ... Mama is calling ....


Melihat caller ID di layar ponsel perasaannya tidak enak. Arsen memilih duduk di depan fakultas ilmu sosial, lalu menjawab telepon dari sang Mama.


"Halo, Ma," sapa Arsen, ia menatap langit sore dengan ponsel di tangan kanan.


"Kamu dimana sekarang?" tanya Karin to the point.


"Arsen masih di kampus, baru selesai ngajar kelas terakhir. Kenapa, Ma?" tanya Arsen balik.


"Oh, Mama kira kamu udah balik ke apartemen. Kamu udah ketemu Amanda? Dia disana, kan?"


Arsen menghembuskan napas panjang, rasa lelahnya terasa berkali-kali lipat mengetahui jika wanita yang Mamanya jodohkan menemui dirinya di kampus. Biasanya wanita yang Karin jodohkan akan mundur teratur jika sudah dirinya tolak. Ia juga sudah menolak Amanda saat dirinya mengantar wanita itu pulang. Tetapi bukannya mundur, Amanda justru lebih agresif datang ke kampusnya.


Arsen memijat pangkal hidungnya, mendadak kepalanya pening. "Mama kenapa suruh dia kesini?"


"Mama nggak minta dia, tapi Amanda sendiri yang punya inisiatif nemuin kamu. Bukannya bagus kalau kamu dekat sama dia."


"Itu nggak bagus sama sekali, Ma. Arsen nggak suka sama dia," kata Arsen kesal.


"Kamu jangan nggak suka dulu. Kamu kan belum kenal dia dekat, buka hati kamu, Sen."


Arsen berdecak sebal, "Ma, tapi—"


"Mama nggak mau tahu, kamu harus temui dia. Pasti dia udah sampai, coba kamu cari. Jangan bersikap kasar sama dia, Mama nggak pernah ngajarin kamu kayak gitu."


Tut... tut... tut....


Arsen mendesah, mau tidak mau ia harus menemui Amanda. Dirinya juga harus menegaskan kalau perjodohan ini tidak bisa di lanjutkan. Setelah ini ia juga harus mencari pacar pura-pura, agar Karin berhenti menjodohkan dirinya. Ia bangkit dari tempat duduk lalu melangkah ke arah ruangannya.


***


Cklek.

__ADS_1


Benar dugaannya, Amanda berada di ruangannya. Perempuan itu duduk di sofa pojok ruangan sedang asyik dengan ponsel. Arsen berjalan masuk, ia membereskan berkas tugas mahasiswanya. Pergerakan laki-laki itu mengundang tatapan Amanda.


Amanda berdiri lalu mendekati Arsen, ia memasang senyum terbaiknya. "Sore, Kak Arsen," sapanya.


"Hm," balas Arsen singkat tanpa menatap perempuan itu.


"Maaf, Kak. Amanda nggak bilang mau kesini," ujar Amanda. Ia mendengkus, karena Arsen mengabaikannya. Laki-laki itu justru meninggalkannya keluar dari ruangan, ia mengelus dada.


Sabar, sebentar lagi ia pasti mendapatkan hati Arsen, batinnya.


Amanda berjalan mengikuti Arsen yang sudah jauh di depan. "Tunggu, Kak."


Amanda menghentikan langkahnya seiring dengan langkah Arsen yang terhenti di depan mobil range rover hitam.


"Kak—"


"Masuk," titah Arsen dengan nada dingin. Amanda diam, ia menuruti perintah laki-laki itu masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalan tidak ada yang membuka obrolan, keduanya terdiam. Amanda ingin membuka topik, namun enggan kala melihat wajah dingin Arsen di balik kemudi. Tak berselang lama, range rover hitam itu berhenti di depan Kafe Baper, Kafe milik sahabat Arsen.


Keduanya turun dari mobil, Arsen langsung masuk ke dalam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Amanda menatap kepergian lelaki itu dengan jengkel, kalau bukan karena pewaris Megantara, ia pasti tidak ingin berhubungan dengan lelaki dingin seperti Arsen. Ia melangkah masuk menyusul lelaki itu dengan langkah berat.


"Jadi? Kenapa menemui saya? Apa obrolan kita dua hari yang lalu belum jelas?" tanya Arsen sedikit kesal.


Amanda tersenyum. "Jelas, Kak. Tapi Amanda nggak nyerah untuk dapatin hati Kak Arsen. Amanda suka sama Kakak."


Arsen tertawa, Suka? Hah, yang benar saja. Kebanyakan perempuan hanya mengincar hartanya, termasuk perempuan di depannya, Amanda. Gerak-gerik Amanda sangat kentara, sekali lihat saja ia sudah tahu motif perempuan itu.


"Saya harap kamu menyerah. Saya tidak menyukai kamu dan perjodohan ini," tegas Arsen.


"Kenapa?" tanya Amanda, ia berusaha memojokkan Arsen.


"Karena saya sudah ada calon," jawab Arsen dingin, tidak ada pilihan lain. Kalau tidak begini, Amanda tidak akan mundur.


Amanda menyeringai, "Kakak nggak bisa bohong, aku tau kalau Kakak masih single."


Arsen mendengus keras. Keras kepala, perempuan di depannya sangat keras kepala. Ia memikirkan jawaban yang tepat, seraya menatap ke sekeliling. Hingga mata elangnya berhenti menatap ke arah perempuan yang berjalan memasuki Kafe.

__ADS_1


***


Setelah melamar kerja kemarin, Bianca langsung bisa bekerja. Sepulang kuliah ia langsung pergi ke Queen Bakery. Disana ia bertemu dengan teman baru, seperti Vivi, Kak Flo, Kak Cia dan Kak Dea. Jangan lupakan bosnya, Bu Karin, wanita paruh baya berparas cantik dengan senyuman hangat. Hal itu membuat Bianca merasa nyaman di awal bekerja.


Hari ini Bakery ramai seperti biasa, Bianca dan yang lain sedikit kualahan. Namun mereka bisa mengatasi semuanya, Bianca sibuk melayani pembeli. Kakinya berjalan kesana kemari mengantar pesanan.


Jam menunjukkan pukul empat sore, Bianca membantu Vivi menutup Bakery. Hari ini memang tutup lebih awal.


"Hah, capek juga, ya," ujar Bianca sembari menghela napas panjang.


Dea tersenyum, "ini masih mending, Bi. Dulu sebelum ada lo kita keteteran. Untung sekarang ada lo, kita nggak terlalu keteteran."


Karin muncul di balik pintu, wanita itu berjalan mendekat dengan senyum simpul. "Kerja bagus hari ini. Kalian bisa pulang," ujarnya lalu berjalan keluar dapur.


Bianca mengirim pesan kepada Abel, sahabatnya ingin mengajaknya bertemu di Kafe Baper setelah kerja. Katanya Kafe itu tempatnya cozy. Setelah selesai mengirim pesan, ia membereskan barangnya.


"Bi, habis ini kemana? Kok buru-buru?" tanya Cia penasaran.


"Ini Kak ada janjian sama teman," balas Bianca dengan cengiran di bibirnya.


"Temen apa temen?" goda Flo dengan senyum usil.


"Temen, Kak. Ya, udah Bianca duluan." Bianca melambaikan tangan lalu berjalan keluar.


***


Bianca masuk ke dalam Kafe yang tidak terlalu ramai, ia langsung menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru Kafe mencari keberadaan sahabatnya. Namun nihil, ia tidak menemukan perempuan itu.


Bianca berjalan masuk mencari tempat duduk, namun tangannya di tarik kuat. Suara yang familiar menyapanya, namun kali ini tidak biasa. "Sayang, kamu disini?"


Mata Bianca membelalak terkejut. Ia ingin membuka mulutnya protes namun lelaki itu mendelik tajam, seolah menyiratkan agar dirinya diam. Ia mengikuti langkah Arsen yang menariknya ke sudut Kafe. Ya, lelaki itu si galak. Ia menatap punggung dosennya dengan tatapan sebal, apa maksud si galak memanggilnya sayang.


"Saya serius dengan perkataan saya." Arsen menarik pinggang Bianca agar lebih dekat dengannya. "Ini pacar saya. Jadi saya harap kamu mundur, karena saya tahu kamu perempuan berpendidikan. Kamu tidak mungkin merusak hubungan orang, kan?"


Amanda menatap Arsen tidak percaya, ia tidak menyangka jika lelaki itu memiliki kekasih. Dengan dengusan kasar, Amanda bangkit dari duduknya lalu berbalik pergi.


Di sisi lain, Bianca bergeming. Ia masih berusaha mencerna ucapan Arsen. Begitu sadar dengan ucapan si galak matanya membola, ia menatap ke arah Arsen terkejut.

__ADS_1


Apa?! Pacar?!


__ADS_2