Halo, Pak Dosen!

Halo, Pak Dosen!
Chapter 12 | Penasaran


__ADS_3

Bianca sudah memikirkannya matang-matang, ia akan menerima tawaran Arsen. Dirinya sudah tidak mempunyai pilihan lain, Ibunya butuh biaya pengobatan dan ia juga tidak ingin cuti kuliah. Untung saja Abel tidak ada kelas hari ini, ia tidak perlu sibuk mencari alibi agar sahabatnya itu tidak curiga.


Bianca dengan mantap melangkah ke ruangan Arsen, sesuai janji dirinya menemui lelaki itu jam dua belas. Langkah kakinya berhenti di depan pintu bercat cokelat gelap, tangannya terayun mengetuk pintu.


Tok ... tok ... tok....


"Masuk." Mendengar suara bariton Arsen, Bianca kontan masuk ke dalam.


"Duduk," titah Arsen tanpa menatap perempuan di depannya, ia sibuk dengan berkas dan laptop.


"Pak, kalau Bapak sibuk saya...."


Belum sempat Bianca menyelesaikan perkataannya, Arsen langsung memotong, "kasih waktu saya sepuluh menit." Ia tidak mungkin membatalkan janji dengan mahasiswi bandelnya, semalam ia sulit tidur karena penasaran dengan apa yang akan perempuan itu bicarakan.


Tidak sampai sepuluh menit Arsen selesai merekap nilai mahasiswanya, ia menutup laptop dan membereskan beberapa berkas di atas meja. "Ayo."


"Ha? Kemana, Pak?" tanya Bianca.


"Kita bicara di luar saja, sekalian makan siang," balas Arsen, lelaki itu memasukkan ponsel dan dompet ke dalam saku celana lalu bangkit dari duduknya.


Bianca ikut beranjak, ia membuntuti dosen galaknya itu dari belakang. Disepanjang jalan ke arah parkiran, banyak pasang mata menatap lelaki didepannya memuja. Ia berdecak, dirinya heran banyak yang menyukai Arsen.


Padahal laki-laki itu galaknya minta ampun, tapi masih banyak yang suka. Jangan lupakan sifat Geer serta narsis Arsen, di balik sikap dingin lelaki itu, sebenarnya dosennya itu juga cerewet. Sayangnya kekurangan si galak tertutup karena wajah tampannya.


Tiba-tiba Arsen menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang. "Kamu kenapa jalan di belakang saya?"


Bianca tidak ingin terlibat skandal di kampus. Jika ia berjalan sejajar dengan Arsen bisa tamat riwayatnya, apalagi fans lelaki itu tidak bisa dibilang sedikit. Ia hanya ingin hidup tenang selama di kampus. Lagi pula bukannya biasanya Arsen tidak masalah jika ia berjalan di belakang, kenapa sekarang mendadak mempermasalahkannya. "Nggak apa-apa, Pak," jawabnya seraya meringis.


Arsen berdecak, ia berjalan mendekati Bianca lalu menarik tangan perempuan itu agar berjalan disampingnya. "Jangan jalan dibelakang saya, kamu bukan pembantu saya," bisiknya pelan.


Bianca mendelik melihat tangannya berada di dalam genggaman Arsen, ia bisa merasakan atmosfir disekitarnya memanas karena banyak pasang mata menatapnya sinis.


Gawat!


"Pak Arsen...," panggil Bianca pelan.


"Hm."

__ADS_1


"Tangan saya, Pak," kata Bianca hati-hati.


Arsen kontan menoleh lalu melepaskan genggamannya. Ia berdeham salah tingkah, "maaf."


***


Selama di mobil Arsen, Bianca sibuk dengan pikirannya. Ia berusaha meyakinkan dirinya jika apa yang ia lakukan benar, yang terpenting kesehatan Ibunya dan kuliahnya tidak terancam, walaupun ia harus berhubungan dengan dosen galak macam Arsen.


Mobil Arsen berhenti didepan restoran seafood, keduanya turun lalu masuk ke dalam. Arsen mengambil tempat duduk di tengah ruangan.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Arsen seraya menyodorkan buku menu. "Saya traktir."


Jika mendengar kata 'traktir' Bianca pasti langsung gerak cepat, namun untuk saat ini mendadak ia tidak napsu makan. "Saya pesan jus melon saja, Pak."


Arsen manggut-manggut, "mbak, pesan udang bakarnya satu sama jus melon-nya dua."


Sembari menunggu pesanan, Arsen menatap Bianca dengan tangan terlipat di dada. "Jadi? Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanyanya penasaran.


Bianca menghembuskan napas panjang, tangannya meremas ujung kemejanya gugup. "Apa tawaran Bapak beberapa hari yang lalu masih berlaku?"


Arsen mengerjap kemudian detik selanjutnya tersenyum lebar. "Masih," jawabnya.


Bahu Arsen terasa ringan, beban yang berhari-hari ada di bahunya hilang entah kemana. Akhirnya ia bisa menghentikan Mamanya. Senyum masih terpatri di bibirnya, ia tidak bisa menyembunyikan rasa lega.


"Tapi saya punya syarat," lanjut Bianca, ia mengambil kertas di tasnya lalu meletakkan di meja. Kedua alis Arsen bertaut bingung tak urung ia membaca kertas itu.


*Persyaratan :


*Tidak ada kontak fisik


* Pacar pura-pura hanya berlaku di luar kampus


* Tidak ikut campur urusan pihak A begitupun pihak B


Arsen mengangguk, ia setuju dengan persyaratan yang Bianca ajukan. Tapi untuk kontak fisik.... "Saya tidak setuju dengan persyaratan nomor satu. Kalau tidak ada kontak fisik, nanti keluarga saya tidak ada yang percaya jika kamu pacar saya."


"Oke, ada kontak fisik. Tapi sewajarnya," putus Bianca final.

__ADS_1


"Sebagai imbalan, kamu minta apa?" tanya Arsen sembari menyeruput jus melon-nya yang baru datang.


"Saya minta di gaji tiga puluh juta per bulan," kata Bianca enggan menatap lelaki di depannya.


"Uhuk ... uhuk...." Arsen tersedak saking terkejutnya mendengar jawaban Bianca. Setelah batuknya reda, ia menyeringai. Dirinya tidak menyangka jika perempuan itu sama dengan perempuan yang lain. Bianca berusaha memerasnya, ternyata mahasiswinya itu cukup licik.


Bianca menunduk, "saya ... tidak ada pilihan lain, Pak."


"Saya membutuhkan uang untuk biaya kuliah saya semester ini dan biaya pengobatan Ibu saya," lanjut Bianca masih tidak berani menatap dosennya.


Arsen terhenyak, ia salah menilai Bianca. Ternyata perempuan itu berbeda dengan perempuan lain. Ia jadi penasaran dengan kehidupan mahasiswinya.


Tidak kunjung mendapat respon dari si galak, Bianca mendadak panik. "Maaf, Pak. Kalau permintaan saya berlebihan. Kalau Bapak keberatan saya tidak—"


Arsen segera menyela, "oke, saya terima."


Bianca yang semula masih menunduk kini wajahnya kontan mendongak menatap lelaki di depannya dengan mata membola tidak percaya. "Bapak serius?" tanyanya terkejut.


Arsen mengangguk santai seolah nilai uang tiga puluh juta bukan apa-apa. "Iya, saya serius," balasnya.


Bianca spontan menggenggam kedua tangan Arsen yang berada di atas meja, matanya berbinar. "Makasih, Pak Arsen."


Menyadari jika sedari tadi Arsen menatap ke arah meja, Bianca ikut menunduk. Pipinya merona tanpa bisa dicegah, ia langsung menarik tangannya yang menggenggam tangan Arsen.


Bianca bodoh, rutuk Bianca dalam hati. Saking senangnya ia sampai melakukan hal bodoh. Suasana mendadak awkward, ia membuka mulutnya kemudian mengatupkannya kembali. Ia takut salah bicara.


"Minggu depan ulang tahun Mama saya," ucap Arsen setelah hening cukup lama. "Kamu harus ikut menemani saya sekalian saya mengenalkan kamu sebagai pacar saya."


Bianca mengangguk, "siap, Pak." Ia melirik jam di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan nyaris jam setengah satu siang.


Gawat!


"Pak, saya harus pergi sekarang. Saya harus kerja part time," pamit Bianca.


Satu hal lagi yang Arsen temukan dari Bianca, perempuan itu ternyata mandiri. "Oh, ya udah kalau gitu. Hati-hati," katanya. Bianca beranjak dari kursi lalu berlalu keluar restoran.


Arsen menatap kepergian Bianca, ia masih penasaran dengan kehidupan perempuan itu.Tangan kanannya merogoh saku celana mencari ponsel. Setelah menemukan apa yang dirinya cari, kedua ibu jarinya dengan gesit mencari kontak milik orang kepercayaan keluarganya.

__ADS_1


"Halo, Lex," sapa Arsen kepada Alex diseberang. "Saya minta tolong kamu cari data tentang Bianca Almeera Anatasya."


__ADS_2