
"Lebih baik aku kerja di Queen Bakery," kata Bianca, cukup sudah ia menjadi pacar pura-pura Arsen masa iya dirinya juga menjadi asisten rumah tangga apartemen milik lelaki itu.
Bianca melangkah keluar dari apartemen si galak, namun langkahnya terhenti karena tangan Arsen menahan lengannya. "Kamu mau kemana?" tanya dosennya.
"Mau balik kerja di Queen Bakery," balas Bianca acuh.
"Dan menggagalkan sandiwara kita?" tanya Arsen lagi. "Kalau kamu kembali kerja di bakery milik Mama, resikonya sandiwara kita ini cepat terbongkar."
Benar juga, pikir Bianca.
"Kamu butuh uang untuk biaya indekos sama biaya hidup, 'kan? Masalah biaya nanti biar aku yang urus, yang terpenting sandiwara kita jangan sampai bocor, " terang Arsen. "Gimana?"
Bianca mendengkus kasar, tidak ada pilihan lain selain menyetujui ucapan lelaki itu. "Oke," putusnya final.
Bianca berjalan ke ruang tengah kemudian berdecak. "Aku baru tahu kalau ternyata dosen yang jadi idola kampus punya sisi berantakan," sindirnya.
Nah, kan. Belum apa-apa mahasiswi bandelnya itu sudah membuatnya naik darah. "Asisten rumah tangga yang biasa bersihin apartemen cuti pulang kampung. Dan akhir-akhir ini aku lagi sibuk sama bahan ujian semester, jadi nggak sempat bersih-bersih," terang Arsen, lelaki itu melepaskan jas lalu menggantungnya di gantungan pojok ruangan.
"Kamu bersihin semua ruangan kecuali ruangan berpintu hitam itu, jangan sekali-kali kamu masuk kesana, aku mau lanjut koreksi kuis mahasiswa. Kalau ada apa-apa kamu bisa ke ruang kerjaku yang disana," ucap Arsen entah kenapa terdengar dingin di telinga Bianca.
Setelah kepergian si galak, ia menatap pintu bercat hitam yang di maksud Arsen. Rasa penasaran menelusup di hatinya, sebenarnya ada apa di dalam sana? Ia melangkah mendekati ruangan itu, tangannya ingin menyentuh kenop pintu. Kemudian ia urungkan ketika wajah serta suara dingin Arsen melintas dipikirannya, detik selanjutnya ia bergidik ngeri.
Ah, tidak. Ia tidak ingin berurusan lebih jauh dengan si galak. Lebih baik sekarang ia segera membersihkan apartemen Arsen lalu pulang.
Bianca mulai mengumpulkan kaleng bir yang berserakan lalu membuangnya di tempat sampah, tidak lupa box pizza yang tergeletak mengenaskan ia buang. Dirinya mulai mengepel lantai sembari bersenandung.
Arsen yang sedang fokus dengan berkas di meja kerjanya tersenyum tipis mendengar suara Bianca yang sedikit sumbang. Lucu, pikirnya. Menyadari apa yang baru saja ia pikirkan, Arsen menggeleng kuat. Dirinya kembali menyibukkan diri, berusaha mengabaikan mahasiswi bengalnya yang akhir-akhir ini masuk ke dalam pikirannya tanpa permisi.
***
Bianca berkacak pinggang disusul senyuman puas terpatri di bibirnya, ruang tengah Arsen tampak bersih sekarang. Kakinya melangkah ke arah dapur dosennya, matanya mengerjap beberapa kali lalu melotot. Rasanya ia ingin melambaikan tangan ke arah kamera saking tidak kuatnya.
__ADS_1
Oke ini sedikit lebay, tapi melihat tumpukan piring kotor dan box makanan tepat saji memenuhi meja dapur membuatnya mengernyit jijik. Entah dari kapan piring kotor itu bersarang disana, tetapi yang pasti bau tidak sedap menusuk hidungnya.
Bianca membuka kabinet atas, disana penuh dengan mie instant. Ia berdecak, kemudian lanjut membuka kulkas. Penuh dengan air es dan beberapa kaleng bir, ia menggeleng tidak habis pikir. Jadi semengenaskan ini apartemen pria lajang, pantas saja Karin bersikeras menjodohkan Arsen. Mungkin karena dosen galaknya itu tidak terurus.
Bianca menggulung lengan kemejanya, lalu mengenakan celemek hitam yang tergantung di sebelah kulkas. Ia mulai membersihkan dapur dalam diam. Setelah lima belas menit berlalu, ia menyunggingkan senyum. Akhirnya selesai juga, pikirnya.
Kruyuk!
Perut Bianca dengan tidak tahu malunya berbunyi, ia lapar. Setengah hari membersihkan apartemen milik lelaki itu cukup menguras energinya. Sekalian ia ingin memasak makanan untuk si galak, jangan berpikir macam-macam ia hanya sedikit tidak tega dengan lelaki itu. Pasalnya sejak pulang dari kampus Arsen belum makan sama sekali.
Bianca membuka kabinet atas milik Arsen, lalu berdecak. Tidak mungkin ia memasak mie instan, melibat box makanan cepat saji di meja dapur dan ruang tengah, dosennya itu pasti beberapa hari terakhir hidup tidak sehat.
Bianca berjalan ke ruang kerja Arsen, ia mengetuk pintu itu namun tidak ada sahutan sama sekali, alisnya bertaut bingung. Perlahan ia memutar kenop pintu lalu membukanya, disana ia melihat si galak tertidur dengan kepala di atas meja. Bahkan kacamata masih bertengger di hidung mancung lelaki itu.
Bianca melangkah mendekat, ia berdiri menatap Arsen lurus. Tangannya perlahan terangkat melepas kacamata milik dosennya lalu ia letakkan di atas meja. Ia kembali menatap lurus wajah tidur lelaki itu, raut garang dan tegas yang biasa si galak tunjukkan kini tampak lebih lunak. Arsen versi tidur tampak lebih polos dan tentu saja tampan. Alis dan bulu mata tebal di tambah lagi hidung yang mancung bak perosotan, serta rahang yang kokoh menambah ketegasan lelaki itu.
"Jangan tatap aku seolah kamu pengin makan aku, Bi," ucap Arsen, ia membuka matanya. "Hapus air liur kamu." Ia menunjuk dagu Bianca dengan senyuman menyebalkan.
Bianca kontan menyentuh dagunya memastikan ucapan lelaki itu. Sial, umpatnya dalam hati begitu sadar jika ia dikerjai si galak. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itu yang Bianca rasakan sekarang. Sudah tertangkap basah memerhatikan Arsen, sekarang lelaki itu juga mengerjainya.
Melihat Bianca yang tertipu, ia terbahak. Wajah merona malu milik perempuan itu tampak menggemaskan. Entah kenapa menggoda perempuan itu terasa menyenangkan.
"Jadi, kenapa kamu kesini?" tanya Arsen begitu tawanya reda.
"Seluruh ruangan udah aku bersihin kecuali ruangan yang kamu larang, sekarang aku mau masak. Tapi di dapur cuma ada mie instan, aku butuh bahan makanan," kata Bianca dalam satu kali tarikan napas.
Arsen mengerutkan dahi, "Tunggu, kamu mau masak?" Bianca mengangguk.
"Nggak perlu masak, aku nggak yakin masakan kamu itu aman. Lebih baik pesan aja atau cari makanan di luar," lanjut Arsen.
Bianca melotot tidak terima, "maksud kamu aku berniat ngeracunin kamu, gitu? Ngapain juga aku ngeracunin kamu, kurang kerjaan. Dari pada delivery order atau makan di luar, mendingan masak sendiri biar hemat."
__ADS_1
Arsen menghela napas panjang, ia menyerah. Berdebat dengan Bianca tidak akan ada habisnya. "Oke kita belanja bahan masakan. Tunggu, aku ganti baju dulu," kata Arsen, ia beranjak dari kursi lalu melangkah keluar ruangan.
"Arsen," panggil Bianca dengan tangan bersidekap.
Langkah Arsen terhenti, ia menoleh ke belakang dimana perempuan itu berada. "Apa?"
"Apa yang Bu Karin bilang waktu itu benar," ucap Bianca.
Arsen mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti. "Maksud kamu?" beonya.
"Kamu butuh istri untuk ngurus kamu," balas Bianca.
Arsen menyipitkan matanya, "kenapa tiba-tiba ngomong gitu?"
"Ya, liat kamu yang setiap hari makan makanan instan yang nggak sehat terus apartemen yang berantakan, itu nunjukin kalau kamu nggak keurus," terang Bianca menyampaikan unek-uneknya.
Sudut bibir Arsen terangkat, "sejak kapan kamu peduli sama aku?"
Bianca mendelik. "Siapa yang peduli sama kamu?! Aku cuma setuju sama ucapan Bu Karin," ujar perempuan itu berang.
"Oh, ya?" tanya Arsen lagi. "Aku nggak butuh istri untuk sekarang. Lagi pula ada kamu."
Deg!
Jantung Bianca mendadak bergemuruh. "Emang kalau ada aku kenapa?"
"Ya, kan kamu pembantu aku sekarang, Bi. Jadi sekarang kamu yang urus aku," balas Arsen tanpa dosa.
Kampret!
Bianca yang mendengar itu mendengus sebal, rasanya ia ingin sekali membuang dosennya ke kutub utara saking kesalnya.
__ADS_1