Halo, Pak Dosen!

Halo, Pak Dosen!
Chapter 23


__ADS_3

And forget about the stupid little things,


Like the way it felt to fall asleep next to you,


And the memories I never can escape,


Cause I’m not fine at all.


Lagu amnesia dari Five Second of Summer mengalun indah di telinga Bianca, kepalanya mengangguk-angguk membuat rambut sepinggangnya ikut bergoyang. Bianca mengikuti irama musik dari headset yang dirinya kenakan, ia melangkah ringan menyusuri gang indekosnya. Tidak seperti pagi kemarin, pagi ini ia lebih santai tidak terburu-buru.


Bianca berbelok kiri ke arah halte, ia tidak menyadari jika ada orang yang mengikuti langkahnya dari belakang. Hingga tepukan pelan di bahu menyentaknya, ia kontan berbalik. Alisnya bertaut bingung mendapati Bara berada dihadapannya dengan senyum lebar menampakkan gigi putihnya yang rapi.


“Hey,” sapa lelaki itu.


“Hey,” balas Bianca, “lo kok disini?”


Bara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “emang salah ya kalau gue disini? Ini kan tempat umum, Bi.”


Bianca mengangguk, benar juga. “Oh ... ya udah kalau gitu, gue duluan Bar. Gue ada kelas pagi hari ini.” Ia tersenyum sekilas kemudian melanjutkan jalannya ke arah halte di depan.


Bara menarik pelan jemari Bianca, membuat sang empu kembali menoleh bingung. “Gue juga mau ke kampus. Ayo ikut gue, sekalian berangkat bareng,” ajaknya mulai melancarkan aksi pendekatan. “Lumayan hemat ongkos akhir bulan, Bi. Gimana?”


Bianca menggeleng, ia sudah cukup merepotkan Bara kemarin. “Nggak usah, Bar. Kemarin lo udah antar gue ke apartemen *****, gue nggak mau ngerepotin lo,” tolak Bianca halus.


Bara terkekeh, “gue nggak merasa direpotin. Ayo, berangkat sama gue, keburu telat kalau naik busway. Ntar kena usir Pak Arsen lagi kayak kemarin.”


Bianca meringis, ia jadi membayangkan kejadian kemarin ketika Arsen mengusirnya dari kelas. “Oke, gue sama lo,” kata Bianca mengiyakan ajakan Bara.


“Tunggu disini, gue ambil motor di depan mini market,” titah Bara lalu berlari kecil ke arah mini market.


Bianca menatap kepergian Bara dengan senyum tipis, lelaki itu sangat baik kepadanya. Tetapi kenapa lelaki itu dikeroyok kemarin? Ia jadi penasaran penyebab Bara babak belur. Tidak mungkin tiga orang kemarin mengeroyok Bara tanpa sebab.


Bianca menggeleng. Ah, tapi kenapa dirinya jadi memikirkan itu. Tidak sepantasnya ia penasaran dengan urusan orang lain, terlebih urusan Bara, lelaki yang baru dirinya kenal. Lamunannya terhenti ketika motor sport hitam ada dihadapannya.


Bara menyerahkan helm putih kepada Bianca kemudian mengedikkan dagunya ke jok motor belakang, mengisyaratkan agar Bianca duduk disana. Perempuan itu menurut. “Pegangan,” titah Bara setelah itu melajukan motornya membelah ibukota yang cukup padat.


Setelah memarkirkan motor di parkiran khusus mahasiswa, Bara dan Bianca berjalan beriringan ke arah gedung FEB yang berada tidak jauh darisana. Tidak sedikit mahasiswi ataupun mahasiswa yang menyapa Bara, hal itu membuat Bianca heran. Terlalu sibuk dengan kerja part time membuatnya tidak update, ternyata lelaki disampingnya cukup popular.


Langkah keduanya terhenti di depan gedung FEB, Bianca tersenyum. “Makasih, Bar. Lo udah antar gue ke kampus,” ucapnya.


“Sama-sama, semangat kuliahnya,” kata Bara, tangan kanannya terangkat mengusap puncak kepala Bianca dengan pelan, “oh iya jangan lupa nanti malam kita jalan.”

__ADS_1


Bianca membuka mulutnya ingin menjawab perkataan Bara, namun ia kembali mengatupkan mulutnya kala mendengar suara bariton yang sangat dirinya hapal di luar kepala. “Pagi-pagi udah pacaran, lebih baik tidak usah ikut kelas sekalian,” celetuk Arsen yang tiba-tiba muncul entah darimana, raut wajah lelaki itu tampak mendung.


Bianca menggeram, ia kira kemarin dosennya sedikit insyaf karena sudah meminta maaf kepadanya. Tapi sifat galak lelaki itu kambuh lagi. “Saya—"


Arsen masuk ke dalam gedung tanpa menunggu Bianca menyelesaikan ucapannya. Parasaannya mendadak kalut, melihat tangan Bara yang bertengger manis di puncak kepala Bianca membuatnya gelisah. Sudah sejauh mana hubungan mahasiswi bandelnya itu dengan Bara? Tidak, ia tidak cemburu, sebagai dosen dirinya hanya tidak ingin mahasiswinya sakit hati karena Bara.


“Gue masuk ya, keburu Pak Arsen ngamuk,” pamit Bianca lalu melesat masuk menyusul Arsen.


***


Brak!


Arsen menggebrak meja, ia menatap seluruh mahasiswanya dengan tajam. Hingga netranya menangkap perempuan mungil yang sedari tadi membuatnya gelisah. “Kamu, Bianca,” ucapnya seraya menunjuk Bianca yang berada di baris belakang. “Mengapa pengawasan diperlukan di dalam SIA?”


Bianca menegang, otaknya mendadak blank. Teman sakelasnya termasuk Abel menatapnya iba. “Pak, tapi materinya belum diterangkan.”


Arsen memijat pelipisnya, “Apa kamu tidak belajar di rumah?” tanya Arsen sinis. “Kalian tidak ada yang tahu jawabannya?”


Hening.


“Jangan jadikan ‘materi belum diterangkan’ sebagai alasan kalian tidak bisa, itu semua karena kalian malas belajar. Kalian sudah besar, jangan manja minta disuapin materi terus-terusan,” terang Arsen.


“Mahal-mahal kuliah jangan buat main-main. Apa lagi pacaran, itu dapat mengganggu kosentrasi kuliah,” sindirnya seraya mencuri pandang ke arah Bianca.


Arsen merapikan buku serta laptopnya, “pertemuan selanjutnya kita kuis, persiapkan diri kalian. Saya tutup mata kuliah hari ini, permisi.” Ia melangkah keluar ruangan. Anak satu kelas langsung menghela napas lega ketika si galak sudah keluar dari kelas.


“Gila, Pak Arsen hari ini kesambet setan mana sampai ngamuk-ngamuk gitu,” ujar Salma seraya menggelengkan kepala.


“Lagi ribut kali sama ceweknya makanya uring-uringan,” sahut Abel ikut-ikutan.


Bianca diam tidak ikut nimbrung teman-temannya, ia teringat tatapan tajam Arsen dan perkataan lelaki itu yang seolah sedang menyindirnya karena masalah tadi pagi. Padahal ia dan Bara tidak pacaran.


Apa jangan-jangan Arsen cemburu? Tidak mungkin mengingat kemarin lelaki itu murka karena pertanyaan laknatnya. Bianca berdecak, mungkin benar apa yang Salma katakan, dosennya itu lagi kesambet setan karena banyak dosa.


Bianca membereskan peralatan tulis di meja, tiba-tiba suara getaran ponsel menginterupsinya. Ia menyalakan benda pipih itu, melihat nama pengirim pesan di notifikasi tanpa ba-bi-bu ia langsung membukanya.


Si Galak : Saya ada urusan, jadi selesai kelas kamu langsung ke apartemen. Jangan lupa masak untuk makan malam juga.


Bianca berdecih, detik selanjutnya seulas senyum menghiasi wajahnya. Jika Arsen memiliki urusan di luar otomatis ia tidak perlu bertemu lelaki itu di apartemen, setidaknya ia memiliki waktu bebas.


“Menyadari Bianca yang akan pergi, Abel angkat suara, “lo mau kemana, Bi?”

__ADS_1


“Waktunya gue kerja part time, Bel.” Bianca menyampirkan tasnya di bahu, “gue duluan, ya.”


***


Membersihkan kamar mandi sudah, membersihkan kamar dan ruang tengah sudah, membersihkan dapur dan ruang kerja Arsen sudah. Bianca menjatuhkan dirinya di sofa, ia mengelap keringat yang membasahi keningnya.


Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, sebentar lagi ia pergi bersama Bara. Ia juga sudah bilang kepada lelaki itu untuk menjemputnya di halte tidak jauh dari apartemen ini.


Bianca beranjak lalu melangkah ke dapur, ia mulai berjibaku dengan bahan masakan dan peralatan dapur. Tidak membutuhkan waktu lama, makanan buatannya jadi. Ia memindahkan makanan buatannya ke ruang makan.


“Astaga!” pekik Bianca terkejut melihat Arsen sudah duduk manis di ruang makan. “Kamu sejak kapan disini?”


Arsen meletakkan ponselnya di meja, ia beralih memandang Bianca. “Barusan,” balasnya singkat.


Keduanya melahap makanannya dalam diam, Arsen sibuk dengan pikirannya sendiri begitu juga dengan Bianca. “Bi,” panggil lelaki itu memecah keheningan.


Bianca kontan mendongak, “apa?”


“Sejauh mana hubungan kamu sama Bara?” Pertanyaan yang sedari tadi pagi mengusik benaknya kini lolos.


Bianca menaikkan sebelah alisnya, “aku sama Bara nggak pacaran.”


Arsen manggut-manggut, “oke. Tapi sejauh mana?”


Bianca mengernyit tidak suka, “kenapa kamu tanya tentang itu? Kita udah sepakat untuk nggak mencampuri urusan masing-masing.” Bianca membereskan piring dan gelasnya lalu beranjak meninggalkan Arsen yang diam membisu ke dapur.


Arsen diam, ia tidak mungkin mengatakan jika ia sedikit khawatir dengan perempuan itu. Dan ia tidak mungkin memberitahu track record Bara tanpa bukti kepada Bianca.


Drrtt ... drrtt....


Arsen melirik ponsel Bianca yang tergeletak di atas meja makan, benda pipih itu menyala menampakkan notifikasi pesan dari Bara. Rasa penasaran Arsen membuncah, ia melirik ke dapur memastikan jika Bianca masih sibuk mencuci piring.


Setelah dirasa aman, Arsen menyalakan ponsel Bianca. Ia membaca pesan dari Bara lewat gelembung notifikasi, dirinya tidak membuka roomchat perempuan itu dengan Bara.


Bara : Gue udah di halte dekat apartemen.


Jadi mereka janjian? tanya Arsen dalam hati, ternyata hubungan mahasiswi bandelnya itu lumayan dekat dengan Bara. Pikirannya berkecamuk, ia kembali meletakkan benda pipih itu di atas meja.


“Semuanya udah bersih,” ujar Bianca, ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lalu menyampirkan tas di bahu. “Kalau gitu aku pamit pulang.” Setelah mengatakan itu, ia berbalik pergi.


“Tunggu,” cegah Arsen. Bianca menghentikan langkahnya, ia berbalik menghadap si galak dengan alis menyatu bingung.

__ADS_1


“Jangan dekat-dekat sama Bara,” tegas Arsen.


“Udah berapa kali aku ingatin kamu, kita udah sepakat untuk nggak mencampuri urusan masing-masing. Aku dekat dengan siapa pun bukan urusan kamu, Arsen,” kata Bianca tajam lalu menghilang di balik pintu.


__ADS_2