
Bianca membuka gerbang indekosnya, badannya terasa letih. Seharian ini sibuk dengan tugas kampus di tambah lagi menghadap si iblis Arsen sepulang kuliah membuat fisik serta emosinya naik dan turun, tetapi lebih banyak naiknya. Ini masih hari pertama ia bekerja sebagai asisten rumah tangga lelaki itu, ia tidak bisa membayangkan hari berikutnya akan seperti apa.
"Baru pulang, Bi?" sapa Rana yang sedang duduk santai di kursi teras.
Bianca tersenyum sekilas, "iya, Kak."
Setelah berbasa-basi busuk, ia langsung kabur ke kamarnya. Ia ingin segera mandi lalu bergelung di atas kasur, sebelum Arsen menyiksanya lagi besok. Dosennya itu benar-benar rese, entah punya dendam kesumat apa lelaki itu kepadanya. Arsen memang galak ke semua mahasiswa, tapi giliran kepadanya sifat galak nan kejam bertambah berkali-kali lipat.
Selesai membersihkan diri, Bianca duduk di tepi ranjang berniat tidur. Namun suara getaran ponsel menginterupsinya, ia menyalakan benda pipih itu. Dengusan langsung keluar begitu membaca pesan chat dari Abel, sahabatnya.
Abel : Tugas dari Bu Ratih udah kelar apa belum?
Hancur sudah rencananya untuk tidur lebih awal. Alih-alih tidur lebih awal, dirinya harus menyelesaikan tugas kelompoknya dengan Abel yang belum selesai siang tadi.
Bianca beranjak dari kasur, ia menyalakan laptop mulai mengerjakan tugas. Matanya menelusuri buku tebal di sampingnya, lalu beralih ke arah layar laptop. Jari-jarinya bergerak lincah menekan keyboard, kalau bukan karena deadline sialan itu ia pasti sudah bisa tidur nyenyak. Sayangnya Bu Ratih dosen yang sebelas dua belas dengan Arsen itu hobi sekali menyiksa mahasiswanya.
Klik!
Bianca menekan tombol enter, file yang dirinya kerjakan selesai ia kirim ke Abel via WhatsApp. Untuk masalah mengirim file ke surel milik Bu Ratih itu menjadi urusan sahabatnya. Ia menyenderkan kepala di kursi.
"Akhirnya selesaj juga," ucapnya diiringi hembusan napas lega.
Drrtt... drrtt... Ibu is calling....
Bianca mengernyit ketika melihat layar ponselnya, "Ibu?" Tanpa ba-bi-bu ia langsung menerima panggilan wanita paruh baya itu.
"Halo, Bi," sapa wanita yang Bianca sayangi dari seberang.
Ini kelemahan Bianca, ia selalu menangis jika sang Ibu meneleponnya. Rasa rindunya langsung membuncah, air matanya mendadak turun membasahi pipi. "Halo, Bu. Ibu apa kabar? Bianca udah transfer biaya untuk cuci darah."
Setelah Bianca menyetujui menjadi pacar pura-pura si galak, lelaki itu langsung memberi cek sesuai perjanjian. Tanpa berpikir panjang, ia langsung transfer uang itu ke rekening Ibunya.
"Keadaan Ibu udah membaik," balas Dewi, Ibu Bianca. "Maaf, Bi. Ibu selalu nyusahin kamu, sayang. Seharusnya Ibu kerja biayain kamu kuliah bukannya menambah beban kamu seperti ini."
Bianca kontan menggeleng, "nggak, Ibu nggak pernah nyusahin Bianca." Ia menggigit bibir berusaha agar tidak terisak. "Ibu fokus sama kesehatan Ibu aja."
Terdengar helaan napas diseberang. "Kamu jaga diri disana, jangan neko-neko."
"Iya, Bu." Teringat akan sesuatu, Bianca kembali menyahut, "Bu, orang itu nggak datang ke rumah, 'kan?"
"Nggak kok, dia udah nggak pernah ke rumah. Kamu nggak usah khawatir, Ibu disini nggak sendirian. Ya udah, Ibu tutup teleponnya, kamu besok harus kuliah. Baik-baik disana, ya, Bi."
__ADS_1
Bianca tersenyum simpul, "Iya, Bu. Ibu juga cepat sembuh."
Tut...tut...tut....
Bianca meletakkan ponsel di atas nakas lalu merebahkan dirinya di tempat tidur. Matanya menerawang jauh, ia merindukan Ibunya. Ia menghela napas panjang, dirinya harus cepat lulus dan kerja. Lalu membawa Ibunya tinggal disini, agar orang itu tidak datang lagi.
Bianca melirik jam yang berada di meja belajar, matanya kontan membola. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, besok pagi ia ada kelas dengan si Galak. Bisa gawat kalau sampai ia terlambat. Ia pun memejamkan matanya berusaha untuk tidur.
***
Bianca menyambar tasnya lalu berjalan menuruni tangga dengan panik, dirinya kesiangan. Membayangkan wajah murka si iblis Arsen membuatnya bergidik ngeri, demi Tuhan ia masih ingin hidup.
"Bi, kok buru-buru?" tanya Rian yang sedang mencuci si gatot -motor matic kesayangan Rian- di halaman depan.
"Gue kesiangan, Bang," balas Bianca sembari mengenakan sneakersnya. "Gue duluan, ya, Bang."
Bianca berlari keluar gang, lalu berjalan cepat ke arah halte yang berada tidak jauh dari sana. Tetapi saat ia melewati gang kecil sebelah mini market, dirinya mendengar suara rintihan dan bentakan seseorang, karena penasaran ia menghentikan langkah.
Di dalam gang kecil itu, ada pengeroyokan. Bianca yang melihat itu kedua tangannya mengepal, ia tidak suka yang namanya penindasan atau pengeroyokan. Baginya itu tindakan pengecut dan amat sangat memalukan.
Bianca ingin menolong lelaki itu, namun dirinya juga harus buru-buru ke kampus. Ia melihat arloji di pergelangan tangan kirinya, kurang sepuluh menit lagi. Persetan dengan Arsen, lelaki yang sedang dipukuli itu membutuhkan pertolongannya. Mana tega ia membiarkan lelaki itu mati karena di keroyok.
"Bukan urusan lo, mendingan lo pergi dari sini," ucap lelaki berambut cepak.
Bianca menaikkan sebelah alisnya, "ini jadi urusan gue. Lo semua hampir bunuh dia."
Lelaki berkaos hitam itu berjalan mendekati Bianca dengan wajah garang. "Lo cari mati?! Nggak usah berlagak pahlawan. Mendingan lo cabut dari sini sebelum gue hajar," ujarnya.
Bianca tersenyum sinis, ia tidak merasa ciut dengan ancaman yang mereka lontarkan. "Gue bakalan pergi kalau lo lepasin dia," balas Bianca santai.
"Apa? Lepasin dia?" tanya lelaki gondrong itu sembari tertawa sumbang. Ia mendekati Bianca lalu menyentuh dagu perempuan itu. "Gue sebenarnya nggak mau ngotorin tangan buat mukul cewek. Tapi lo daritadi buat kita emosi, gue kasih waktu tiga detik pergi dari sini."
Bianca menepis tangan lelaki berambut gondrong yang menyentuh dagunya, alih-alih pergi ia justru menendang tulang kering lalu menonjok kuat wajah lelaki itu hingga jatuh tersungkur.
"Gue nggak akan biarin cowok kayak kalian ngelakuin hal sepengecut ini," kata Bianca lalu menghajar kedua lelaki lainnya.
Bianca menangkis serangan lelaki berkaos hitam, lalu membanting tubuh kurus lelaki itu hingga tergeletak tidak berdaya. Tidak berbeda jauh dengan lelaki berambut cepak, ia menghajarnya sampai lelaki itu terduduk lemas dengan darah di kepala.
Bianca tersenyum puas, ia beralih menatap lelaki yang duduk tidak jauh darinya. Wajah lelaki itu dipenuhi luka akibat pengeroyokan, ia berjalan mendekat lalu mengulurkan tangannya.
"Makasih," ucap lelaki itu. Bianca hanya tersenyum lalu mengangguk, ia mengeluarkan tissue basah dari tasnya untuk membersihkan luka di sudut bibir lelaki itu yang robek.
__ADS_1
Lelaki itu meringis pelan kala Bianca membersihkan luka di dahi, pipi serta sudut bibirnya. "Sekali lagi gue makasih, lo udah nyelametin gue," ucap lelaki itu sekali lagi.
Bianca mengangguk, "santuy. Mereka kenapa tiba-tiba keroyok lo?"
Lelaki itu tersenyum, "ceritanya panjang."
Bianca manggut-manggut, ia melihat arloji di tangan kirinya lagi. Dirinya langsung kelabakan, "gue harus pergi. Maaf gue cuma punya tissue basah buat bersihin luka lo."
"Kalau gitu gue duluan, ya," lanjut Bianca, ia berjalan cepat keluar dari gang kecil itu.
Tetapi langkahnya terhenti ketika tangan kanannya di cekal seseorang, ia menoleh mendapati lelaki tadi menahan pergelangan tangannya. "Kenapa?" tanya Bianca bingung.
"Lo mau kemana?" tanya lelaki itu.
"Gue mau ke kampus," balas Bianca. Melihat raut lelaki itu yang masih bingung ia memperjelas. "Gue mau ke Universitas Jingga."
Lelaki itu tersenyum menampakkan deretan giginya yang rapi, "ayo gue antar. Lagian gue juga mau kesana."
Eh! Jadi lelaki itu satu kampus dengannya, pikir Bianca. Tapi ia tidak pernah melihat lelaki itu sebelumnya. "Nggak usah, gue mau naik busway aja," tolak Bianca halus.
Lelaki itu menarik tangan Bianca lalu membawa Bianca ke motor sport hitam yang terparkir di depan gang kecil. "Gue antar sekalian aja, sebagai ucapan terima kasih karena udah nolongin gue," ucap lelaki itu lalu menyodorkan helm putih kepada Bianca.
Bianca menerima helm putih itu lalu mengenakannya. Kemudian ia duduk di atas jok motor. "Lo di fakultas apa?" tanya lelaki itu.
"Fakultas ekonomi dan bisnis," jawab Bianca.
Lelaki itu mengangguk, "Oke, pegangan." Bianca menurut ia memegang kedua bahu lelaki itu, detik selanjutnya motor sport hitam itu melaju cepat.
***
Motor sport hitam itu berhenti tepat di gedung FEB. Bianca langsung turun dan menyerahkan helm putih kepada lelaki itu, "makasih, ya."
"Gue juga makasih," balas lelaki itu.
"Ya udah kalau gitu, gue masuk," pamit Bianca, ia berbalik masuk ke dalam gedung fakultasnya.
"Tunggu," panggil lelaki itu, membuat langkah Bianca terhenti. "Nama lo siapa?"
Bianca mengernyit, tak urung membalas pertanyaan lelaki itu. "Bianca."
Lelaki itu tersenyum, "semoga kita ketemu lagi, Bianca."
__ADS_1