
Matahari menelusup masuk ke celah gorden kamar Bianca, membuat perempuan itu sukses mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Bianca melirik ke arah jam di atas nakas, melihat jika jam menunjukkan pukul delapan, ia berinisiatif untuk tidur kembali. Namun ada yang mengganjal di hatinya, tapi apa?
Oh tidak! Si galak memintanya untuk datang ke rumah pria itu untuk mengumpulkan makalah. Mata Bianca yang awalnya menyipit, kini terbuka lebar. Bahkan perempuan itu kini mendudukkan tubuhnya. Ia berlari ke arah kamar mandi dengan secepat kilat. Hanya membutuhkan waktu lima menit, Bianca selesai membersihkan dirinya. Ia meraih kaos putih polos dan kemeja flannel untuk membungkus tubuh rampingnya. Tidak lupa sneakernya melekat sempurna di kakinya.
Bianca menatap pantulan dirinya di depan cermin, kemudian berdecak kala melihat kantung matanya yang sangat hitam. Akibat lembur karena makalah sialan itu, kantung matanya menjadi seperti ini. Bianca memasukkan makalahnya yang tergeletak di atas meja belajar ke dalam tas, lalu berjalan cepat keluar kamar.
Suara langkah kakinya yang berisik kala menuruni tangga, membuat beberapa orang yang sedang berada di ruang santai menatap ke arahnya dengan kening berkerut.
"Mau kemana lo, Bi? Pagi - pagi gini udah rapi aja," tanya Rana, perempuan tomboy jurusan teknik sipil.
Bianca terengah - engah, efek jarang bahkan tidak pernah olahraga membuatnya mudah lelah. Padahal ia hanya berjalan cepat menuruni tangga. Bianca menatap perempuan jangkung dan berbahu lebar yang berada tidak jauh darinya.
"Biasa, si Galak," jawab Bianca sembari mengibaskan tangan.
Hanya balasan singkat itu, Rana tahu penyebabnya. Siapa yang tidak tahu seorang Arsen Megantara, dosen berwajah penipu. Wajah tampan tetapi bermulut pedas bin kejam. Belum sempat Rana buka suara, Bianca berlari keluar dari indekos. Hal itu membuat Rana dan anak indekos yang lain geleng-geleng kepala.
Bianca melihat alamat yang tertera di roomchatnya dengan dosen galaknya, lalu menoleh ke kanan mencari angkutan umum yang lewat. Namun nihil, tidak ada tanda-tanda angkutan umum yang lewat. Bianca berdecak sebal, masa iya dirinya harus naik so-jek. Uangnya menipis, tidak mungkin ia pesan so-jek. Tapi masalahnya jika ia tidak naik so-jek, pasti si setan akan mengamuk.
Tidak ada pilihan lain, dengan berat hati Bianca memesan so-jek. Tidak membutuhkan waktu lama, so-jek pesanannya datang. Bianca memakai helm pemberian Bapak-Bapak so-jek lalu duduk di jok motor belakang.
Bianca menggigit bibirnya, kebiasaannya ketika panik. Ia menatap bangunan tinggi yang dirinya lewati sesekali melihat jam di pergelangan tangan kirinya, kurang delapan menit lagi.
"Pak, bisa lebih cepat sedikit? Saya takut kena omelan si Galak, Pak," ucap Bianca dengan gurat kepanikan yang kentara.
"Sabar, ya, Neng. Ini saya berusaha ngebut."
Drrtt... drrtt....
Bianca merogoh saku celananya ketika merasakan getaran pada benda pipih kesayangannya itu. Ia menyalakan ponselnya, matanya membola mendapati Caller ID yang menampakkan nama 'Pak Galak'.
__ADS_1
Gawat, siaga satu ini mah.
"Halo, Pak."
"Halo, kurang lima menit. Kamu tahu kan kalau saya benci keterlambatan?" balas pria di seberang.
Duh, mulai ngamuk.
"Iya, Pak. Ini sa—" Belum sempat Bianca membalas ucapan si Galak, Arsen sudah lebih dulu mematikan sambungan telepon. Dasar dosen lucknut.
Sabar, Bianca mengelus dada berusaha sabar menghadapi si galak bin perfeksionis macam Arsen Megantara. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, kemudian mengedarkan pandangannya. Alisnya bertaut, "Pak kita nggak salah alamat, kan?"
"Nggak, Mbak. Ini sesuai alamatnya."
Bianca manggut-manggut, ternyata apa yang teman-temannya bicarakan itu benar. Melihat perumahan elite ini, Bianca tahu jika seorang Arsen bukan pria sembarangan.
Motor matic yang di naiki Bianca berhenti tepat di depan gerbang tinggi menjulang, ia segera turun lalu melepaskan helm. Setelah membayar so-jek, Bianca berjalan cepat mendekati gerbang tinggi itu.
"Cari Pak Arsen, Pak," balas Bianca dengan senyuman lima jari.
"Oh, Den Arsen. Masuk, neng." Pak Satpam itu membukakan Bianca gerbang. Perempuan itu berterima kasih lalu melanjutkan langkahnya mendekati teras rumah Arsen.
Bianca melongo melihat halaman serta rumah besar milik dosen galaknya, ia tidak berhenti untuk berdecak kagum. Rumah besar itu bergaya mediterania, dan halaman yang luas itu mungkin cukup untuk di jadikan lapangan saking luasnya. Mungkin jika di bandingkan dengan rumahnya di kampung, rumah miliknya itu tidak ada setengah dari halaman rumah Arsen.
"Ehem, kamu ngapain masih disana?" Suara bariton terdengar di telinganya, Bianca tersentak. Matanya kontan mencari sumber suara, kemudian ia meringis mendapati Arsen yang sedang duduk di taman dekat teras rumah.
Perlahan Bianca menghampiri Arsen yang sedang membaca buku di tangan kanannya. Ia mengambil tempat duduk di seberang pria itu, namun belum sempat dirinya duduk Arsen menyeletuk, "kamu terlambat empat menit."
Sial!
__ADS_1
Tangan Bianca sangat gatal ingin menampar bibir Arsen sekarang, tetapi itu hanya angan-angannya saja. Tidak mungkin dirinya menampar bibir dosennya sendiri, bisa gawat urusannya jika itu sampai terjadi.
"Udah puas liatin bibir saya? Saya tidak menyangka perempuan seperti kamu mesum," kata Arsen dengan raut menyebalkan.
Bianca mendelikkan matanya, "saya tidak mesum. Bapak jangan asal bicara, ya."
Arsen menaikkan sebelah alisnya. "Bukan salah saya berpikir seperti itu, karena saya melihat sendiri jika sedari tadi kamu memperhatikan bibir saya."
Bianca mendengus keras, benar ia memang sedari tadi menatap bibir milik Arsen. Itu karena dirinya ingin sekali menamparnya bukan karena konteks lain. "Pokoknya saya tidak mesum," dengus Bianca.
Bianca mengeluarkan makalah dari tas ranselnya, kemudian ia meletakkannya di atas meja taman. "Hukuman saya sudah selesai, Pak. Kalau begitu saya permisi," pamit Bianca, ia bangkit dari duduknya. Ketika dirinya akan melangkahkan kaki meninggalkan dosennya, suara Arsen menginterupsinya.
"Siapa yang suruh kamu pulang?" tanya suara berat itu.
Tangan Bianca kontan mengepal, sekarang apa lagi astaga. Exhale... inhale..., sabar Bianca. Ia berusaha mengatur emosinya yang siap meledak.
"Makalah saya kan sudah selesai, Pak," balas Bianca berusaha sabar, tidak lupa ia tersenyum tipis.
"Duduk," titah Arsen tidak terbantahkan, membuat Bianca mau tidak mau menuruti dosennya dengan sedikit kesal.
"Kamu terlambat empat menit, dan saya belum beri kamu hukuman," lanjut Arsen dengan mata menyorot tajam ke arah Bianca.
Bianca mengumpat dalam hati, ia kesal luar biasa. Sekarang hukumannya apa lagi?
"Bantu saya mengoreksi kuis milik adik tingkat kamu," ucap Arsen. Bianca menghembuskan napas lega, ia kira makalah lagi.
"Mana, Pak, kertas kuisnya?" tanya Bianca, ia mencuri pandang ke arah arloji di tangan kirinya. Masih jam setengah sepuluh, pasti setengah jam lagi selesai. Ia hanya perlu mengkoreksi lalu mencari lowongan pekerjaan untuk part time-nya.
"Ini." Arsen menepuk tumpukkan kertas yang berada di atas meja taman. Bianca membelalakkan matanya kala menangkap tumpukan kertas yang tinggi, sejak kapan ada tumpukkan kertas kuis disana?
__ADS_1
Badan Bianca terkulai lemas, kapan dosen galaknya itu berhenti menyiksanya?