
Di taman belakang kediaman Megantara sudah disulap sedemikian rupa, acara ulang tahun Karin dirayakan kecil-kecilan seperti makan malam bersama keluarga. Sudah lama keluarga Megantara tidak berkumpul dengan lengkap karena sibuk dengan urusannya masing-masing.
"Oma ... Oma," panggil gadis kecil berusia lima tahun sembari berlari ke arah Karin.
Karin tersenyum hangat, ia memeluk cucu pertamanya tidak lain dan tidak bukan merupakan anak dari Rendra dan Deana. "Kenapa, sayang?" Ia menggendong Zee, "ah, cucu Oma udah besar."
"Uncle Arsen, dimana Oma? Zee kangen Uncle Arsen," tanya Zee dengan raut sedih. Dari dulu ia memang sangat dekat dengan Arsen, dan karena kepindahan Rendra ke Bandung membuat Zee merindukan Pamannya yang satu itu.
"Uncle Arsen lagi jemput princess-nya," terang Karin sembari mengelus puncak kepala cucunya gemas.
Alis Zee menyatu, "princess?" Detik selanjutnya matanya berbinar, ia teringat film Disney yang kemarin dirinya tonton. "Uncle Arsen punya princess?"
"Iya, Uncle Arsen punya princess," jawab Karin, mendengar suara deru mobil didepan, ia melangkah menghampiri pintu utama dengan Zee masih digendongannya. "Nah itu suara mobil Uncle Arsen." Karin membuka pintu utama tidak sabar, ia penasaran dengan calon menantunya. Siapa gerangan yang bisa menaklukan hati putra bungsunya itu?
"Bianca?!"
Betapa terkejutnya Karin mendapati pegawai barunya berada di depan rumah, netranya mengerjap beberapa kali memastikan apa yang dirinya lihat itu benar Bianca.
"Bu ... Karin?" Tidak berbeda jauh dengan Karin, Bianca juga sama terkejutnya.
Arsen menatap kedua perempuan berbeda generasi dengan dahi berkerut samar, "Mama tahu Bianca? Kalian ... saling kenal?" beonya.
Bukannya menjawab, Karin dengan semangat bertanya balik, "ini kekasih kamu?"
Arsen mengangguk sembari merangkul perempuan disampingnya, "iya, Ma. Ini kekasih Arsen."
"Uncle Arsen," pekik Zee, kedua tangannya terulur meminta digendong Arsen.
"Wah, ada Zee." Arsen mengambil alih Zee dari gendongan Karin. "Zee kangen sama Uncle, ya?"
Zee menganggukkan kepala, Arsen yang gemas mencubit pelan pipi gembul keponakannya. "Zee kangen sama Uncle Arsen," ucap gadis kecil itu sembari mengalungkan tangannya di leher Arsen.
"Ayo, masuk. Yang lainnya udah nunggu di taman belakang," ajak Karin. Wanita paruh baya itu langsung menggamit lengan Bianca dengan senyuman cerah. "Tante nggak nyangka lho Bi, ternyata kamu calonnya si Arsen."
Karin membawa perempuan itu masuk ke dalam, sedangkan Bianca menoleh ke arah Arsen yang tertinggal di belakang. Melihat anggukan dosennya, ia kembali menatap Karin yang berjalan disebelahnya. Sesekali ia menimpali ucapan wanita paruh baya itu.
Makan malam berjalan lancar, Zee langsung memonopoli Bianca agar main bersamanya di ruang tengah. Hal itu tidak luput dari pandangan Arsen, ia tidak menyangka jika perempuan bandel seperti Bianca bisa dekat dengan keponakannya. Pasalnya Zee itu susah didekati, namun dalam waktu singkat gadis itu sudah menempel dengan Bianca.
"Sen." Arsen yang sedang fokus menatap Bianca kini beralih menatap sang Mama. "Kamu kapan halalin Bianca? Liat tuh, Zee yang susah dekat sama orang baru udah lengket sama Bianca."
Zafran yang biasanya diam, kini angkat bicara. "Jangan lama-lama, Sen, pacarannya. Setelah kamu menikah dengan Bianca, kamu handle perusahaan keluarga. Papa pengin istirahat ngehabisin masa tua sama Mama."
"Iya, jangan lama-lama. Takutnya ntar kebobolan," celetuk Rendra ikut-ikutan.
Arsen mendengkus, ketika ia belum punya calon Mamanya itu heboh mencarikannya calon. Sedangkan ia sudah memiliki calon, sekarang Mamanya heboh lagi memintanya segera menikahi Bianca. Nanti setelah menikah, apa lagi? Pasti Mamanya ingin memiliki cucu. Eh, tunggu. Memangnya ia akan menikahi Bianca? Mana mungkin ia menikahi perempuan bandel dan lemot macam Bianca.
"Pasti Arsen akan menikah, tapi nggak secepat ini. Lagi pula Bianca masih kuliah, Arsen nggak mau dia gagal fokus sama pendidikannya," alibi Arsen. Ia beranjak dari duduknya, lebih baik ia kabur daripada mendapat ceramah dari bos besar. "Arsen ke Bianca sama Zee dulu."
Bianca menyisir rambut brunette milik Zee, gadis itu merebahkan diri di pangkuannya. Zee merengek memintanya untuk menceritakan dongeng, ia pun menuruti permintaan Zee. Bagaimana bisa ia menolak keinginan gadis manis itu.
Ditengah-tengah cerita snow white, Zee menyeletuk, "kata Oma, aunty Bi itu Princess-nya Uncle Arsen, ya?"
__ADS_1
Bianca kontan menghentikan ceritanya, ia diam menatap Zee. Bingung akan menjawab apa. Tiba-tiba seseorang memeluknya dari samping, dan meletakkan kepala di bahunya. Bianca hapal wangi parfum ini, ia menoleh mendapati Arsen yang sedang menatapnya. Jaraknya hanya terpaut beberapa inchi, membuat Bianca menahan napas.
"Iya, Aunty Bi ini princess-nya Uncle Arsen," balas Arsen mengabaikan tatapan tajam Bianca.
Zee kontan mendudukkan tubuhnya, mata bulatnya berkilat penuh minat. "Berarti Uncle Arsen prince-nya Aunty Bi?" Arsen mengangguk menanggapi.
"Zee pengin punya Prince, biar Zee bisa jadi princess kayak Aunty Bi," lanjut Zee.
"Zee masih kecil belum boleh punya Prince nanti kalau udah besar baru boleh punya Prince," terang Arsen.
Bianca yang sudah tidak tahan dengan jaraknya dan Arsen, ia berbisik jengkel, "Bapak sampai kapan mengambil kesempatan dalam kesempitan?"
"Aku udah bilang jangan panggil Pak, dan jangan terlalu formal," bisik Arsen balik. "aku nggak ambil kesempatan dalam kesempitan, tapi Mama sama yang lain lagi liatin kita." Bianca mencuri lirik ke arah taman belakang, benar saja keluarga Arsen sedang menatap ke arahnya.
"Santai aja, jangan terlalu grogi malah nanti ketahuan," bisik Arsen lagi.
Arsen Kampret, santai gundulmu, maki Bianca dalam hati. Bagaimana dirinya bisa santai, dengan jarak sedekat ini membuat oksigen disekitarnya terkikis.
"Zee, udah malam. Ayo, tidur sama Mama." Deana muncul, mengajak Zee untuk tidur. Namun gadis itu menolak. "Zee nggak mau tidur, Zee mau main sama Aunty Bi," rengeknya.
Bianca tersenyum, "besok main lagi sama Aunty, tapi Zee tidur dulu."
Zee mengerjapkan matanya, "Aunty janji?"
Bianca mengangguk, "janji."
Zee pun ikut Deana ke kamar untuk tidur. Arsen langsung melepaskan pelukannya, detik itu juga Bianca bernapas lega.
"Ayo, aku antar pulang," ajak Arsen. Sebelum Mamanya itu datang untuk menginterogasi Bianca, ia harus mengantar perempuan itu pulang.
"Tapi Tante...."
"Jangan panggil Tante, mulai sekarang panggil Mama. Pokoknya Mama nggak mau tahu kamu harus nginap disini malam ini," kata Karin otoriter. "Bahaya bawa mobil tengah malam."
Sekarang Bianca tahu sifat otoriter dan keras kepala Arsen berasal dari siapa, dosennya itu duplikat dari Karin. Percuma ia menolak, wanita paruh baya itu pasti akan tetap memaksanya. Dirinya hanya mengangguk menanggapi perkataan Karin.
"Jadi, kalian nggak mau cerita sama Mama nih gimana kalian bisa ketemu?" tanya Karin antusias.
"Itu...." Belum sempat Bianca melanjutkan ucapannya, Arsen langsung memotong. "Bianca ngejar-ngejar Arsen di kampus, ya, kan, sayang?"
Hah?! Ngejar-ngejar?! Amit-amit, batin Bianca dongkol. Ia bisa melihat delikan mata Arsen mengarah kearahnya seolah mengkode agar mengatakan 'iya'.
Bianca tersenyum tipis, "i-iya, Ma."
"Mama kok bisa kenal sama Bianca?" tanya Arsen penasaran.
Karin tersenyum lebar, "Bianca itu pegawai baru Mama yang mau Mama kenalin ke kamu. Eh ternyata kamu malah udah taken duluan sama dia. Syukurlah, berarti Bianca bisa jadi menantu Mama."
Gawat, jika Arsen membiarkan Bianca bekerja di bakery Mamanya cepat atau lambat pasti sandiwaranya dengan Bianca akan cepat ketahuan. "Lho, sayang kamu kok nggak bilang kalau kerja part time di Queen Bakery," ucap Arsen sembari mengelus puncak kepala Bianca. "Mulai sekarang jangan kerja part time lagi, kalau ada apa-apa kamu bisa minta ke aku."
Bianca yang mendengar itu mendelik, apa-apaan si galak itu. Kalau ia tidak kerja part time bagaimana ia bisa melunasi biaya indekos sekaligus biaya hidupnya di Jakarta. Ia membuka mulutnya ingin protes, namun ia kembali mengatupkan mulutnya. Lebih baik ia bicara empat mata dengan Arsen nanti.
__ADS_1
Karin manggut-manggut setuju, "Iya, Bi. Sebentar lagi kamu kan jadi bagian dari keluarga kami, jadi jangan sungkan."
"Kalian kapan mau lanjut ke pelaminan?" desak Karin entah untuk keberapa kalinya.
Bianca diam, pikirannya berkelana ke kejadian silam. Kejadian yang sangat pahit, membuatnya benci dengan yang namanya pernikahan. Tangannya bergetar, seiring dengan bayangan masa lalu semakin menamparnya berkali-kali. Arsen yang menyadari itu, langsung angkat bicara.
"Ma, Arsen kan udah bilang jangan bahas itu dulu," ucap Arsen. "Bianca harus fokus kuliah dulu."
Karin merasa bersalah telah mendesak anak bungsunya dan juga Bianca namun ia hanya takut jika Arsen jadi perjaka tua. "Maafin Mama, bukannya mau desak kalian. Mama cuma...."
"Arsen ngerti kok kalau maksud Mama tanya itu untuk kebaikan aku sama Bianca," sela Arsen. "Ya udah Ma, Arsen antar Bianca ke kamar tamu." Ia menggengam tangan perempuan disebelahnya.
Bianca yang sedang menatap kosong meja didepannya kontan menoleh ke arah Arsen ketika tangannya di genggam laki-laki itu. Dengan cepat ia menguasai dirinya, raut dinginnya berganti dengan senyum tipis.
"Ayo, aku antar ke kamar tamu," ajak Arsen, Bianca mengangguk.
"Ma, Bianca permisi," ujar Bianca dengan senyuman tipis lalu berjalan beriringan dengan Arsen.
Sesampai didepan kamar tamu, Arsen menatap Bianca dalam. "Kamu tadi kenapa? Tangan kamu...."
Bianca menatap tajam ke arah Arsen, "kamu nggak perlu tahu, kita udah sepakat untuk nggak mencampuri urusan masing-masing."
Arsen menghela napas panjang, jujur ia sedikit khawatir saat melihat perubahan raut Bianca dan tangan perempuan itu yang gemetar. Catat, ia hanya sedikit khawatir.
"Ya, udah kalau gitu kamu istirahat. Aku permisi," pamit Arsen, ia melangkah ke arah kamarnya. Tetapi baru beberapa langkah Bianca memanggil, ia menghentikan langkahnya lalu menatap Bianca dengan alis bertaut.
"Maksud kamu tadi apa minta aku berhenti kerja di Queen Bakery? Kalau aku nggak kerja part time disana gimana aku bisa bayar biaya indekos sama biaya bertahan hidup disini?" tanya Bianca berapi-api.
"Kamu nggak perlu khawatir, besok setelah selesai kelas datang ke ruanganku," kata Arsen lalu meninggalkan Bianca yang mendumel di belakang.
"Dasar dosen rese," dumel Bianca kesal. Kali ini apa lagi yang dosennya itu rencanakan kepadanya.
--------------------------------------------------
Terima kasih yang udah ngikutin cerita ini sampai sini 💛💛 Untuk visual Arsen dan Bianca aku punya dua jadi kaliam bisa pilih salah satu.
Arsen
1) Rafael Miller
2) Oh Sehun
*Bianca
1) Dasha Taran
__ADS_1
2) Dilraba Dilmurat