HALUSINASI COWOK KARISMATIK

HALUSINASI COWOK KARISMATIK
Bab 1 Kos Murah


__ADS_3

Kos Murah


"Cari kos yang murah untuk bisa bertahan hidup," pesan Bapak dengan muka serius. Kegembiraan bisa kuliah sedikit terganjal.


"Kalau bisa cari yang gratis," tambahnya lagi.


Hari ini mencari barang gratis, jelas hil yang mustahal. Namun aku tidak berani membantah bapak. Yang penting aku bisa kuliah di perguruan tinggi ternama.


"Kamu ingin cari kos murah?" bapak menawarkan solusi.


Aku mengangguk.


" Cari kos yang paling angker. Kamu harus bisa ndableg kalau ada gangguan," kata bapak dengan nada tinggi. Bapak memang galak tapi baik hati. Bapak yang hanya petani kecil tentu berharap sekali hidupku harus lebih mapan.


Bapak membekali uang sangat minim.


"Bawa beras 20 kg dan ikan asin. Yang penting kamu tidak mati kelaparan" kata bapak tegas.


Aku meninggalkan desa Jombik, dengan tatapan bapak dan ibu yang tidak tega. Kehidupan baru sebagai mahasiswa mesti kutempuh.


Aku memegang teguh ucapan bapak untuk mencari kos paling angker. Setelah pontang panting mencari, akhirnya ketemu juga kos idaman. Rumahnya besar. Sepertinya habis dibangun. Rumah yang memencil. Tak ada tetangga di kanan kiri. Di kanan, kiri dan belakang seperti makam yang luas. Ini pasti kos idaman bapak.


Ada lelaki tua nampak menyapu. Begitu aku mendekat, dia tersenyum padaku.


" Mau mencari tempat kos," sapanya ramah.


Aku mengangguk.


"Cobalah tinggal di sini dulu, kalau kuat bertahan satu bulan, kamu boleh tinggal gratis selama setahun," janjinya. Sepertinya bisa menangkap dengan jeli wajahku yang menggambarkan orang susah. Tak tega menarik bayaran di muka.


Aku hampir saja bersorak. Kalau tidak malu dengan bapak itu.


"Tinggal di sini harus kuat mental. Ada yang baru semalam, besoknya langsung pamitan," jelasnya lagi. Bapak itu seperti menerorku. Dia tidak tahu aku telah diberi aji aji ndableg oleh bapak.


Hampir sore dan lelaki pemilik itu menyerahkan kunci padaku. Ternyata dia tidak tidur di sini.


"Aku sendiri tidak berani tidur sendirian di sini kalau malam," dia berkara jujur. " Semoga keberanianmu, membuat tempat ini jadi ramai," harapnya. Dia pergi dengan naik motor. Doa bapak terkabul. Aku dapat kos gratis. Selama setahun Bro. Nggak main main. Sudah hampir petang kerika aku membuka rumah besar itu.


Begitu aku masuk, hidungku mencium bau harum sekali. Sambutan yang menyenangkan. Bertahun tahun hidup di desa Jombik, hidungku sudah bosan mencium bau pipis dan kotoran sapi. Lumayan bisa berhemat. Bapak memang hebat. Nasihatnya cespleng. Paling tidak aku tidak perlu membeli pengharum ruangan.


Aku mengecek seluruh kamar. Semuanya ada lima kamar. Ada juga dapur untuk memasak. Kubuka kulkas. Isinya lengkap. Ada juga magic jar.


Perutku jadi lapar. Segera menanak nasi. Nanti makan berlauk ikan asin dan sambal. Sungguh sedap. Sambil menunggu nasi masak, aku menggoreng ikan asin. Mendadak ada pocong mendekatiku. Lumayan ada teman malam ini.


"Mau ikan asin, aku suapi ya" tawarku padanya. Mencoba bersikap ramah. Dia tidak menjawab, malah ngeloyor pergi. Busyet, baru jadi pocong saja sombongnya minta ampun.


Malam pertama tidur di kos baru, tengah malam tubuhku terasa dingin. Ternyata aku sudah pindah tidur di dekat nisan. Aku segera bangkit dan berjalan ke rumah kos. Aku pindah kamar yang lain. Enaknya bisa memilih kamar sesukaku. Tidur dengan nyenyak. Tengah malam aku dipindah di bawah pohon mangga. Aku kasihan pada hantu yang menggotong tubuhku. Dia tentu capek. Aku kambali ke kos. Pindah ke kamar ketiga. Ada manusia tanpa kepala duduk di kamar tamu. Kapan dia datang, aku tak memergokinya.


"Sorry aku tak bisa menemanimu. Aku ngantuk berat," ucapku mohon maaf.

__ADS_1


Aku garuk garuk kepala. Kalau tak punya kepala mana bisa mendengarku. Lumayan, ternyata ada pocong dan manusia tanpa kepala yang akan jadi temanku. Semoga dia tidak sesombong pocong.


Aku merasa cocok sekali dengan rumah ini. Apalagi setahun gratis.Besok aku akan mengabarkan kabar gembira pada bapak. Biar bapak tidak kepikiran,


Aku harus menghubungi sebelum dia pergi ke sawah.


"Piye Le? Sudah dapat tempat kos kan? Krasan tho?" Suara bapak dari seberang sana. Ada nada penasaran terselip.


"Sudah Pak. Krasan banget Pak," jawabku mantap. Ternyata baru aku tinggal sehari bapak sudah merasa kehilangan. Padahal kalau di rumah galaknya tidak ketulungan.


"Sebulan bayarnya berapa? Ingat pesan bapak jangan cari kos yang mahal mahal," dia mengingatkan lagi.


"Nggak bayar Pak? Seperti harapan bapak tempo hari."


"Tenane?" Jangan bercanda kamu Le?"


Bapakku memang sedikit aneh. Berharap anaknya dapat kos gratis, begitu dapat malah terkejut dan tak percaya.


"Betul. Ini masih uji coba. Kalau aku kuat bertahan sebulan malah digratiskan setahun," jelasku.


"Wah pinter tenan kowe Le. Anak bapak tenan iki. Kalau bisa gratis sampai 4 tahun. Sampai kamu lulus," suara bapak bergetar saking gembiranya.


Wah bapakku, sudah diberi gratisan setahun masih juga ingin lebih.


"Jumlah hantunya berapa di rumah kosmu itu?"


"Cuma segitu. Jelas kurang.bkurang serem."


"Kan baru semalam Pak. Semoga rumah ini punya stok hantu yang lengkap. Masak rumah sebesar ini hantunya hanya dua. Ehh, pak rumah kosku selalu berbau harum dimana mana," laporku.


"Heh kamu sudah lupa pesan bapak. Berapa duit kau habiskan untuk membelinana pengharum ruangan." Kata bapak. Kalau berhadapan langsung. Mata bapak tentu melotot mau keluar. Pasti marah besar.


"Tenang Pak. Ruangan harum itu sudah satu paket dengan rumah angker ini," jelasku.


"0h begitu. Bagus kalau gitu. Wes bapakmu mau ke sawah dulu."


Telepon dimatikan.


Kurasa aku memang tidak salah memilih kos. Sudah kuduga hantunya lebih dari satu. Mereka ramah ramah. Ada gundul pringis yang selalu meringis. Ada suster ngesot yang tersenyum penuh persahabatan. Aku sendiri heran. Orang orang yang dulu pernah kok di sini mengapa tidak kerasan? Fasilitas lengkap sekali. Hantunya ramah dan baik hati. Aku menduga mereka tentu menyesal telah berpindah dari sini.


Malam hari ketika aku tengah belajar. Datang suster ngesot membawakan kopi. Aku buru buru menerima kopi itu. Dia jalan saja susah, mengapa repot repot membuatkan kopi untukku.


"Aku bisa buat sendiri kok Sus," ucapku.


" Nggak apa apa. Daripada nggak punya kerjaan," jawabnya.


"Mengapa tidak berdinas di rumah sakit?" Tanyaku. Setahuku habitat suster ngesot di rumah sakit.


"Sudah dua tahun ini aku pensiun," ucapnya pendek.

__ADS_1


Aku kembali membaca materi kuliah. Kulihat suster ngesot pergi menjauh dariku. Mungkin dia tak mau mengganggu belajarku. Ah, kalau sudah bekerja dan punya banyak uang. Aku akan membantu suster ngesot operasi biar dia bisa berjalan normal kembali.


Cerbung


Hujan deras menggigilkan badan. Hujan deras membuat Rehan teman kuliahku yang main ke tempat kosku, enggan pulang. Hujan memang membuat orang enggan beranjak dari rumah. Begitu pun yang dirasakan oleh sahabatku.


Jenuh juga semenjak tadi hanya main hp saja. Hampir satu jam dia menunggu tapi hasilnya nihil. Hujan terap tercurah dari langit. Kulihat matanya merah, tanda sudah capek dan ingin segera tidur.


Rehan memang memiliki postur tubuh yang bagus. Dia jago karate. Menurut ceritanya, dia pernah mendapat medali perak di PON.


"Gon, malam ini aku boleh nggak tidur di sini," pintanya. "Aku tadi lupa membawa jas hujan," kilahnya.


Sebagai sahabat aku menerima dengan tangan terbuka. Lumayan untuk mengisi kamar yang kosong. Meski ganya kos, aku sepertinya memiliki kuasa. Rumah ini serasa rumahku sendiri. Kalau bapak suatu saat datang ke mari tentu akan senang sekali.


"Ya tentu boleh banget. Masih ada empat kamar yang kosong. Kamu pilih sesukamu. Mau yang pinggir, tengah atau mau tidur bersamaku," aku mengajaknya bercanda. Tapi dia menerima lain.


"Aku masih waras ya Gon. Apa kita berdua mau main anggar bareng," Rehan ternyata tidak bisa diajak guyon. Orang yang memiliki selera humor yang rendah memang bicaranya harus yang serius serius saja.


"Eh, sebulan kamu bayar berapa untuk rumah segede ini?" tanyanya.


"Satu juta," jawabku berbohong. Maksudku biar tidak punya pikiran macam macam. Kalau aku bilang gratis, tentu dia curiga. Pasti ada apa apa dengan rumah ini.


Akhirnya, Rehan memilih kamar di tengah.


Karena Rehan tidur, aku meneruskan tugas kuliah yang belum selesai. Tengah asyik berkonsentrasi dengan tugas kuliah. Mendadak Rehan keluar dari kamar dan berteriak ketakutan. Wajahnya kulihat sangat pucat.


"Gon, ada kepala besar sekali jatuh dari atap. Kepala itu sekarang ada di lantai. Aku mau pulang saja. Kapok," dia terbata bata.


"Masih hujan, kamu kan nggak bawa jas hujan," sergahku.


"Nggak apa apa. Lebih baik kehujanan daripada mati berdiri di rumah ini," dia keluar dengan tergesa gesa. Terus menghidupkan sepeda motornya dan hujan deras diterabasnya dengan kecepatan tinggi. Kulihat ada helm tergeletak. Begitu gugupnya dia sampai lupa mengenakan helm. Semoga dia tidak bertemu polisi.


Aku heran sama Rehan. Hanya lihat kepala sudah ketakutan setengah mati. Apa yang dilakukan kepala. Paling juga hanya bisa menggigit. Dia jago karate pula. Mengapa dia tidak punya nyali untuk menghadapinya.


Aku segera ke kamar yang dipakai Rehan tadi. Kulihat kepala yang jatuh dari atas meringis kesakitan.


"Masih sakit?" tanyaku padanya. Kepala utu hanya nyengir. Rehan mestinya menolong bukan malah meninggalkannya begitu saja. Berapa egoisnya dia.


"Semoga saja kepalamu tidak gegar otak," ucapku.


"Ini hanya sedikit pusing," keluhnya. Kuangkat kepala itu dan kutaruh di kasur.


"Istirahat di sini saja, semoga besok sudah tidak pusing," harapku.


Aku kembali kamar utama. Mau meneruskan mengerjakan tugas yang tadi sudah aku rencanakan. Tapi aku sudah tidak mood. Aku bersendawa. Masih ada aroma ayam goreng yang meruap. Tadi sore ada orang meninggal dan aku mendapat bagian satu porsi dari bapak bapak penggali kubur. Ah, enaknya kos dekat kuburan. Kuakui bapakku memang jenius untuk strategi penghematan.


"Oahem suk ruwah ngemplok tahu bacem." Aku ngantuk sekali. Besok pagi saja meneruskan kerjakan tugas.


Aku masuk kamarku. Rumah yang damai. Hati makin tenang dan senyap mendengarkan alunan klenengan yang beradal dari ruang utama. . Bisa untuk pengantar tidur. Aku juga masih sempat mendengar bunyi hujan di atas genting. Kalau tidak diusir aku tidak akan pindah dari rumah ini

__ADS_1


__ADS_2