HALUSINASI COWOK KARISMATIK

HALUSINASI COWOK KARISMATIK
Bab 13


__ADS_3

Gono tidak menyangka Hana masih juga menungguinya. Dia mengira Hana sudah pulang karena rumahnya dekat dengan lokasi sayembara uji nyali. Berjalan kaki pun tidak begitu melelahkan. Namun itu tidak dilakukan oleh Hana. Dia memang jenbis manusia yang setia. Dalam suka dan duka tetap bersama.


"Selamat ya Gon," ucapnya.


"Terima kasih. Kukira sudah pulang kamu Han," kata Gono melihat wajah Hana yang menyisakan sisa sisa kecemasan.


"Nggak sampai hati aku melihatmu dibawa dua orang masuk ke rumah super angker itu. Apalagi aku tadi bertemu orang yang sebelum kamu. Dia menyerah tidak kuat. Dia cerita macam-macam dan ini menjadi teror buatku," kata Hana.


"Cerita dia terlalu berlebihan, buktinya aku tidak diapa-apakan oleh hantu hantu itu. Malah kutinggal tidur dan tahu tahu dibangunkan dapat 6 juta Han. Kalau ada acara seperti ini, aku diberi tahu lagi ya," kata Gono renyah sekali. Dia jadi ketagihan iukut acara semacam ini. Baru sekali ini


Hana bersungut. Empat jam lamanya dia seperti berada di medan perang. Dag dig dug terus tiap menit. Dia tadi menyangka Gono pingsan di dalam rumah super angker itu. Karena gengsi dia nekat bertahan entah dengan ketakutan yang hebat menjeratnya.


"Han, nanti sore kita jadi makan ikan bakar di Tempuran ya," Gono mengulang janjinya. Kali ini Hana bisa tersenyum lepas.


"Kamu mennjemput aku di rumah ya Gon," pinta Hana. Sekarang tubuhnya terasa capek sekali dan ingin sekali tidur. Untung kuliahnya agak siang jadi bisa agak bisa beristirahat.


Hana tidak tahu ada sosok yang begitu geram ketika dia meminta Gono untuk menjemput ke rumahnya untuk pergi ke Tempuran.


"Aku tidak terima dengan semua ini. Aku harus bertindak," katanya penuh nada amarah yang meluap.


Di kamar tidurnya itu Hana ingin mengistirahatkan tubuhnya. Semalam tidak tidur sama sekali dan masih dibebani kecemasan dan ketakutan benar-benar telah menguras emosi dan staminanya. Untunglah tidak terjadi sesuatu yang buruk pada sahabatnya itu.

__ADS_1


Malah Gono beruntung karena mendapat hadiah 6 juta atas buah kenekatannya itu. Uang yang lumayan banyak untuk ukuran anak kuliah. Acara makan ikan bakar di Tempuran tak lagi terancam batal.


Hana bisa bernapas lega. Meski dia tidak mengalami sendiri masuk dalam rumah super angker itu, rasanya dia juga merasakan ketakutan yang amat sangat. Lewat di depan rumah itu saja, meski siang hari, dia tidak berani menoleh, apalagi harus masuk ke dalamnya.


Amit amit, biarlah Gono seorang yang mengalaminya. Dia tadi belum sempat bertanya pada Gono mengapa dia bisa bertahan selama itu; berjam-jam dalam teror hantu yang berkepanjangan.


Kantuk luar biasa dirasakan oleh Hana dan dia tidak bisa menguasai diri lagi untuk menjemput tidurnya.


Sebuah ketukan di pintu membuat Hana terkejut dan tentu saja dia menyambutnya dengan gembira. Dia memang menanti Gono. Dia datang tepat waktu. Makan ikan bakar dari hasil bertarung melawan ketakutan berhadapan dengan hantu. Tak apalah namanya kemenangan memang harus disyukuri. Heran juga, Gono terbuat dari apa, sampai hantu pun tak mampu membuatnya tumbang dalam ketakutan.


Denganm langkah ringan Hana, segera membuka pintu. Berharap sekali Gono berdiri di depan pintu rumahnya dengan membawa kado istimewa buat dirinya. Apalagi Gono saat ini tengah banyak uang. Amboi alangkah terbang rasanya kalau ada perhatian khusus Gono untuknya.


Pandangannya langsung berkunang-kunang. Dia ingin kembali kamarnya saja. Tapi perempuann berwajah penuh darah itu sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Darah segar itu menetes-netes. Mengapa dia bisa berada di sini. Mengapa dia diganggunya.


Mestinya yang diganggu adalah Gono. Karena dia yang mendapat hadiah dan dia pula yang ikut sayembara uji nyali. Hantu muka penuh darah ini tentu salah alamat. Mengapa yang diserang malah dirinya. Gon, datanglah. Usirlah hantu yang menjijikkan ini, batin Hana menjerit. Menghadapi satu hantu saja, sudah begitu menakutkan. Bagaimana dengan Gono yang masuk ke sarang hantu?


Hana tidak jadi ke kamarnya. Dia ingin memanggil ayah dan ibunya. Dia berlari menuju kamar orang tuanya. Lagi-lagi hantu mengerikan itu sudah berada di depan pintu. Mengapa dia bisa ada di mana-mana. Udara dalam rumahnya jadi berbau amis sekali.


Hana ingin keluar rumah lewat pintu belakang saja. Dia mau cari selamat. Dia segera bergegas lari sambil menutup hidungnya kuat-kuat.


Begitu dia membuka pintu belakang, sosok perempuan bermuka darah sudah mengadang di tengah pintu. Hana menutupnya kembali dengan keras. Rasanya dia kok seperti ikut sayembara uji nyali seperti yang dilakukan Gono.

__ADS_1


Sebuah ketukan pintu terdengar jelas dan Hana geragapan bangun dari tidurnya, mimpinya begitu mengerikan. Dia melihat jam dinding. Pukul 9, jam segini ayah baru pulang. Ada lembur di pabrik. Namun Hana masih ragu-ragu untuk segera bangkit dari ranjang. Ketakutan itu masih menjadi miliknya. Belum pernah dia mendapat mimpi seburuk ini. Rasanya tadi bukan mimpi tapi kejadian yang sebenarnya. Terdengar ketukan di pun lagi. Kali ini dengan intensitas dan ketukan yang lebih kuat. Seperti sudah tidak sabar untuk segera dibukakan.


Hana kali ini agak yakin yang mengetuk pintu itu adalah ayahnya. dari cara mengetuknya dan jeda dari tiap ketukan. Sekalipun demikian dia masih belum bisa menghilangkan sisa sisa ketakutan yang masih bergumpal di hatinya.


Sebelum membuka pintu, dia mengintip dulu siapa yang ada di luar dari balik gorden. Benar sekali yang ada di balik pintu itu adalah ayahnya.


Begitu dibuka, wajah ayah lelah yang menumpuk terlihat sekali.


"Kamu tidak kuliah Han?" tanya ayah penuh selidik.


"Nanti jam sepuluh," seru Hana. Dia ingin bercerita mimpi mengerikan itu namun segera dibatalkan sendiri. Paling ayah juga cuek. Mimpi bagi ayah tidak ada maknanya sama sekali. Mimpi baik atau buruk sama saja. Sekadar dianggap sebagai bunga tidur saja.


Hana segera mempersiapkan diri. Ada ayah di rumah ini tentu cukup memberinya ketenangan. Mengapa gara-gara mimpi itu dia jadi begitu penakut dan was-was. Seperti ketika dia mau ke kamar mandi. Jangan jangan perem,puan berwajah penuh darah itu muncul di dalam kamar mandi. Ah, mengapa mimpi bisa meneror hatinya. Mimpi ya mimpi tidak usah dimasukkan dalam hati.


Hana segera mengambil handuk dan membuka kamar mandi. Begitu dia membuka kamar mandi, hatinya langsung melompat.


Ada perempuan berwajah penuh darah berdiri di depan cermin kamar mandi. Persis dengan perempuan yang menerornya dalam mimpi. Mengapa mimpi bisa bersambung dengan alam nyata? Mengapa perempuan itu bisa berada di kamar mandinya?


Gono, Gono, kamu yang menerima hadiahnya, aku yang harus menderita karena didatangi hantu berwajah penuh darah itu. Hana langsung berkeringat dingin


Hana menutup pintu kamar mandinya kembali. Dia akan mengajak ayahnya untuk mengusir hantu menyeramkan itu. Semoga ayahnya mempunyai nyali besar seperti Gono.

__ADS_1


__ADS_2