HALUSINASI COWOK KARISMATIK

HALUSINASI COWOK KARISMATIK
Bab 5 Pasang strategi


__ADS_3

Gono menatap aneh wajah bapaknya. Bapak tipenya jenis manusia optimis dan percaya diri. Sekarang seperti orang menderita dan ketakutan. Ketegaran bapak rontok.


"Aku sebenarnya kangen bapakmu Gon," kata bapak mengabarkan hatinya yang tengah berantakan.


"Kangen siapa?" tanya Gono memancing.


"Ya Mbokmu, siapa lagi?" mata bapak melotot, memperlihatkan sisa sisa keangkeran yang masih bersemayam..


"Kukira kangen sama Hantu Modis!"


"Husshh...aja cengengesan kowe!" kata bapak dengan nada tidak senang.


"Mengapa bapak tidak pulang saja untuk menuntaskan rindu yang menderu deru itu?"


Mata bapak menerawang jauh. " Aku bisa dikabruk Mbokmu," ucap bapak memberi alasan.


Bapak yang tegar, bapak yang kuat, sekarang begitu powerless. Gono sebenarnya ingin bapak segera pulang. Hidup bersama bapak sungguh boros. Apa gunanya bapak membawakan dia beras dan ikan asin kalau makan selalu di warung.


Apalagi bapak sekarang bapak tahu dirinya punya penghasilan sendiri dengan memberi les bahasa Inggris anak anak SMP. Di samping penghasilannya yang lebih besar yaitu menjinakkan para hantu iseng. Koleksi hantunya di rumah ini makin banyak. Hidup sederhana dan irit ternyata hanya sebatas teori bapak. Teori itu untuk bapaknya bukan untuk anaknya. Tapi tak mengapa, bapak terlalu lama hidup dalam kekurangan. Sesekali hidup bahagia, apa salahnya?


"Aku punya firasat buruk. Mbokmu akan nyusul ke mari," tak disangka bapak akan ketakutan seperti ini.


Gono jadi tidak tega.


"Aku mau pindah dari sini." Kata bapak tidak main main.


Gono terperanjat. Ini kota. Bukan di desanya. Tidak semua orang kenal bapak. Apa apa serba bayar. Bahkan kencing di terminal saja mesti keluar uang. Kalau kos ini gratis, adalah keajaiban dunia ke delapan.


"Bapak mau pindah kemana?" Ada sebersit kecemasan. Kalau bapak mau kontrak rumah.Jelas tak ada duit untuk itu. Mau cari rumah angker? Tidak setiap rumah angker itu gratis. Urusan bapak ternyata jadi berkepanjangan seperti ini. Bapak mestinya bersikap gentle dengan berani menghadapi keganasan Mboke.


Yang jelas Gono tidak mau bapaknya jadi gelandangan di kota ini


Insting bapak memang benar benar tajam. Satu jam setelah bapak pergi dari rumah kos, simbok datang dengan naik motoe gede. Gono tahu itu motor pinjaman dari pak lurah desa Jombik. Lurah yang baik hati. Selalu menolong warganya yang terdesak kepentingan. Salah satunya dengan meminjamkan motor itu. Motor itu memang khusus untuk dipinjam warga.


Berjaket hitam, berkaca mata dan memakai celana jins yang ketat, penampilan simbok sungguh keren dan sangar. Tapi wajah simbok sungguh tidak bersahabat. Wajah marah simbok jelas sekali terpancar.


"Bapakmu ke mari nggak Gon?" tanya Simbok penuh selidik begitu turun dari motor dan melepas kaca mata hitamnya.

__ADS_1


Tentu saja atas nama perdamaian dunia dan kesejahteraan umum, Gono tidak berani berkata jujur. Dia tidak cari penyakit. Dia harus cari obat untuk sakit hati simbok. Menyelamatkan bapak sekaligus meredam emosi simbok.


"Ada masalah apa Mbok, kok mencari bapak sampai jauh jauh ke mari?" Gono bermain sandiwara.


"Cah cilik nggak perlu ngerti," Simbok menutup diri.


"Bapak sama sekali tidak mampir kemari," kata Gono sambil mempersilakan simbok masuk rumah.


Simbok mengembang kempiskan hidung.


"Kamu jangan dusta Gon. Aku mambu prenguse bapakmu," kata simbok sadis sekali.


Gono harus memantapkan hati.


"Nggak ada bapak. Simbok saja yang kangen jadi serasa mencium keberadaan bapak," Gono masih berusaha menenangkan simboknya.


Wajah simbok sudah kehilangan kesimbokannya. Menatap Gono dalam dalam


"Yo wes, saiki endi habtu hantumu sing jare bapakmu sangar. Bariskan di depanku," ancam simbok.


"Aja semugih kowe Gon. Kayak biro travel sampai berani miknikkan mereka!" suara simbok menggelegar. Menggetarkan seisi rumah kos ini


Tidak sampai sore simbok mengunjungi kosnya. Bapak dan simbok sama saja. Kalau datang ke mari selalu bawa beras dan ikan asin. Seperti zaman perang gerilya saja. Sayang mereka memang sayang orang tua tempo doeloe.


Kalau simbok masih di rumah ini, ketenangan tak mungkin bisa diraihnya. Dia hapal sekali, simbok sudah nekad, aksinya seperti banteng ketaton.


Terus terang, dalam hati Gono sudah dipenuhi kegelisahan yang hebat. Andai simbok sampai menginap, buyar sudah segalanya. Rumah ini jadi ajang pembantaian; killing of field.


Mereka para hantu sudah diwanti wanti jangan menginap kalau piknik ke Tawangmangu. Jujur saja, dia akan kesepian kalau para hantu menginap. Kesepian jauh menakutkan. Rumah yang tidak ada hantunya, entahlah mengapa jadi jauh lebih angker. Sekarang nasihatnya bisa jadi bumerang.


Kalau simbok menginap, hantu modis tentu akan hancur lebur dihajar simbok. Dia tak mau ada pembunuhan di rumah ini. Tak mau dirinya tersangkut urusan polisi. Apalagi pelakunya simboknya sendiri. Tak tega simbok masuk penjara.


Kepulangan simbok sore itu disambutnya dengan suka cita. Membuatnya bisa bernapas sedikit lega.


"Pesan simbok Le, awasi kalau hantu modis mau macam macam. Telpon simbok kalau kau tak bisa mengatasi sendiri. Dalam tiga jam aku sudsh sampai di sini," jelas simbok.


Gono hanya mengangguk.

__ADS_1


"Begitu juga kalau bapakmu mampir, biarkan saja. Lalu diam diam telpon aku. Biar kuboncengkan pulang. Dunianya itu sawah dan lumpur. Kotoran sapu dan kambing. Bukan gincu dan glowing. Kamu harus membantu simbok agar bapakmu bisa segera kembali ke jalan yang lurus." Simbok memberi nasihat sekaligus minta bantuan pada Gono.


Urusan orang tua ternyata jauh lebih ruwet dibandingkan urusan kuliah.


Simbok sudah menghidupkan motor gede. Knalpotnya bunyinya menggelegar hebat. Simbok mengenakan helm dan kaca mata hitam. Tubuh simbok yang tinggi besar makin terlihat gagah dan macho. Sedetik kemudian simbok sudah menghilang bersama motor besarnya.


Gono baru bisa bernapas lega.


Sebuah mini bus berhenti. Para hantu baru saja pulang piknik.


"Mas Gon, aku bawakan kaos bagus dari Tawangmangu," kata hantu wewe. Kalau dia pakai kaos ketat, oke juga. Bosan ligat dia pakai daster lusuh.


"Pisang manis Mas Gon," ucap hantu rambut panjang nampak cantik dengan rambut yang ditata rapi.


Apalagi pakai celana jeans.


Oleh oleh yang bertumpuk tumpuk.


"Mas Gon, aku belikan sepatu sport. Bisa untuk jogging," hantu modis tersenyum manis sekali. Untung simbok sudah pulang


Ada dendam merasuk dalam jiwa suster. Semenjak meninggalkan rumah kos itu, dia berharap Gono mencarinya. Hingga dia bisa sedikit jual mahal. Lha ini, Gono kok anteng anteng saja. Mau dijual mahal gimana? Yang dijual saja tidak ada. Hati Gono sudah berpaling. Dia bisa saja sudah berpaling hati. Dia berburuk sangka. Suster tahu dirinya memang punya kekurangan.


Namun kesetiaan pada Gono tak ada yang menandingi. Dia masih banyak berharap Gono tidak bertepuk sebelah tangan. Duri dalam daging itu harus disingkirkan, mesti dienyahkan. Siapa lagi kalau bukan hantu modis. Perempuan kemayu dan melankolis itu memang harus dikalahkan.


Pergi dari rumah kos itu sudah tersusun rapi di benak suster. Dia ingin tampil sempurna. Tak lagi dipandang sebelah mata. Satu satunya jalan dengan cara operasi. Dia sudah melakukan penggalangan dana. Sahabatnya suster suster sahabatnya tidak terima kalau harga dirinya dilecehkan.


Penggalangan dana PEDULI SUSTER. Dalam satu bulan sudah terkumpul ratusan juta. Yang lebih menguntungkan dirinya adalah dia merupakan mantan suster, jadi biaya operasi lebih miring. Dia juga berterima kasih pada dokter yang memiliki kepeduliaan yang membanggakan.


Malam sebelum operasi suster tersenyum senyum sendiri. Ke depan tidak ada lagi suster ngesot,vtapi yang hadir adalah suster cantik mempesona.


"Tunggulah penampilanku yang terkini Gon," dendam suster seperti api yang membakar daun kering.


Sakit hatinya hanya hanya bisa tuntas tersembuhkan dengan menyingkirkan hantu modis.


Musuh dalam selimut itu memang sudah saatnya untuk disingkirkan. Suster mengambil kaca dan tersenyum senyum sendiri. Dia membayangkan berjalan dangat anggun seperti jalannya peragawati di atas catwalk.


"Gono memang harga mati," kata suster mantap sekali.

__ADS_1


__ADS_2