HALUSINASI COWOK KARISMATIK

HALUSINASI COWOK KARISMATIK
Bab 15


__ADS_3

Ada bapak suasana jadi kaku. Hana juga kikuk. Mau pindah tempat, takut menyinggung perasaan. Tidak pindah tempat, kok rasanya tengah berada di ruang ujian. Bapak saja yang terlihat rileks. Karena ada yang membayari makan. Tapi bapak tentu ada uang.


Berani mengajak perempuan berparas manis itu, tentu bapak tak mungkin berkantong kosong. Sekarang bapak kerja apa ya? Jadi prasangka selama ini salah besar. Dalam benaknya akan menggelandang di kota ini. Tak tahunya bapak berpenampilan modis dengan mengenakan kaos warna biru dengan gambar hati.


Bapak juga mengenakan jaket kulit hitam dengan bagian dada terbuka. Kaos dan jaket itu barang baru. Dia hapal sekali kaos kaos yang dipunyai bapak. Kebanyakan kaos kampanye pilpres atau pilihan lurah di desanya. Bapak juga menggunakan parfum. Sejak kapan bapak mengenal parfum? Biasanya dalam bahasa simbok, bapak berbau prengus.


Tentu simbok juga akan pangling dengan penampilan bapak seperti ini. Bapak keren sekali. Telah mengalami kemajuan yang pesat sekali. Atau bisa jadi bapak telah melupakan simbok. Melupakan masa lalunya bersama kambing, kerbau dan sapinya.


Pelayan datang membawa secarik kertas dan sederet menu di kertad yang dilaminating.


"Kamu tulis saja pesanan kita Han," pinta Gono. Kasihan Hana yang membayangkan serba indah, tak tahunya jadi begini. Kehadiran bapak di sini memang telah memporakporandakan semuanya.


Hana menyerahkan kertas kecil yang sudah ditulisi.


"Eh Gon, kenalkan ini teman bapak. Namanya Hangi," kata bapak polos. Perempuan bernama Hangi itu mengulurkan tangan dan Gono menyambut uluran tangan itu.


Mbok, simbok, bapak tidak usah dicari, dia sudah bahagia sekali di sini, jerit hati Gono. Pesanan bapak datang.


"Aku duluan ya Gon," kata bapak berbasa basi pada Gono. Bapak menyodorkan piring dan mengambilkan nasi beserta ayam goreng bumbu pedas untuk Hangi. Padahal dengan simbok bapak tidak seperti itu.


Ketika bapak mau mengambil nasi untuk dirinya sendiri, terdengar lecutan pecut keras sekali seperti bunyi mercon ukuran besar. Tangan bapak yang tengah memegang entong plastik spontan gemetaran. Bapak langsung membatalkan gerakan tangannya.


"Gon, aku pergi dulu ya," kata bapak berpamitan. Tangannya menarik Hangi yang bingung dengan sikap Pangat. Mereka pergi lewat jalan belakang.


Hana bingung dengan bapaknya Gono. Mendengar lecutan pecut begitu gemetar dan ketakutan. Semua begitu cepat terjadi.


"Mengapa bapakmu tergesa gesa pergi. Padahal pesanan belum disentuh sama sekali," ujar Hana heran dan bingung.


"Sebentar lagi, kamu akan tahu sendiri Han." jawab Gono.***


Dada Sampyuh terasa terbakar oleh ledakan emosi. Napasnya bersembulan tidak teratur. Perjumpaan tak sengaja yang membuatnya tak mampu menata hatinya terlebih dahulu. Dia tadi sebenarnya hanya memenuhi permintaan pak Lurah Jombik, yang nitip ikan bakar. Tak tahunya lelaki yang dirindukan selama ini .


Dia sebenarnya ingin mengajak suaminya pulang ke desa Jombik. Memboncengkannya karena suaminya tak prigel naik moge. Dia sudah mencoba melupakan kesalahan suaminya tempo hari. Manusia memang tempat lupa dan khilaf. Masa lalu itu biarlah ditenggelamkan waktu. Sampyuh sadar akan itu.


Apalagi dia juga mellihat Gono anak lelakinya ada di sana. Apakah mereka telah kencan sebelumnya? Enak enakan makan di sini, sementara dirinya kesepian sendirian di rumah. Gono juga keterlaluan mengapa selalu menjawab tidak tahu akan keberadaan bapaknya?

__ADS_1


Perempuan yang ada di samping Pangat suaminya itulah yang membuatnya tak bisa menguasai diri lagi. Mbagusi Pangat kumat lagi. Sejak keluar desa Jombik dan menengok Gono anaknya, suaminya makin sulit dikendalikan.


Cambuknya langsung meledak di udara. Membuat kaget seluruh pengunjung rumah makan ini. Dua orang keamanan warung makan itu segera mendekat, mereka ingin menenangkan Sampyuh. Tapi melihat perempuan yang matanya merah mencorong berselimut dendam itu, mereka jerih juga.ere Ledakan cambuk itu bukan dilakukan perempuan sembarangan.


"Taaarrr," ledakan cambuk merobek udara lagi. Dua keamanan segera menyingkir. Telinga mereka berdenging sakit sekali. Hari gini masih tersisa perempuan pendekar. Salah seorang keamanan itu teringat cerita silat "Api di Bukit Menoreh" yang tokohnya bersenjata pecut: Kiai Gringsing dan Agung Sedayu.


"Bapakmu endi Gon?" murka Sampyuh bertanya.


"Tadi bilang mau keluar sebentar," Gono berusaha menutupi.


"Keluar sebentar atau melarikan diri?" hardik simbok.


Gono tak berani berkomentar lagi. Kalau sudah murka seperti itu, jangankan manusia, genderuwo pun pergi menyingkir.


Hana juga gemetaran. Simboknya Gono begitu ngedap ngedapi. Terus pergi begitu saja. Mungkin mencari Pak Pangat. Semoga bapaknya Gono selamat.


Sampyuh segera menyimpan pecutnya. Geraman emosinya masih kuat terdengar. Namun dia masih bisa mendinginkan hati. Di tempat umum seperti ini tak baik mengumbar emosi.


Hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Dia terus menyusuri jalan setapak di belakang rumah makan ini. Moge pak lurah biar di tempat parkiran: aman. Kalau yang nekad mencuri, dia akan memberi pelajaran yang akan diingat dan dirasakan seumur hidup: biar tahu apa itu penyesalan.


Di kota terlalu banyak perempuan cantik, penyakit suaminya yang mbagusi gampang sekali kambuh. Tinggal nunggu waktu. Biarlah dia kembali ke habitat lama; bergaul dengan tletong sapi sapi dan srintil kambing. Dia lebih jauh berbahagia, manakala Pangat bau prengus kambing daripada bau harum semerbak seperti malam ini. Keharuman yang hanya mengundang kebencian dan kecemburuan yang berurat akar.


Karena sering melewati jalan jalan sepi, Sampyuh jadi hapal, jalan ini menuju terminal. Masuk akal juga kalau suaminya lewat jalan ini. Naik bus yangvtersedia 24 jam memang menjadi pilihan.


"Pangat, Pangat, pulanglah, jadilah Pangat yang dulu yang kurindu," Sampyuh berkata dalam hati.


Menyesal juga mengapa dirinya melecutkan cemetinya. Kalau dibujuk halus, mungkin jalan ceritanya bakal lain. Ah, sudahlah. Pahit kehidupan harus ditelannyanya agar mentalnya makin matang.


Ketika berjalan makin cepat, dibantu oleh cahaya rembulan yang tengah purnama. Rembulan nampak bulat bening menantang di langit lembut malam.


Terdengar orang yang kesakitan. Seperti tengah dihajar beramai ramai. Suara kesakitan itu jelas jelas milik Pangat suaminya. Ketika makin mendekat, benar dugaannya. Empat orang menghajar suaminya. Tendangan dan pukulan beruntun menghajar bertubi tubi. Empat orang bertampang preman kalau dibiarkan bisa membuat suaminya cedera berat bahkan bisa sampai meninggal.


Kalau soal mbagusi, suaminya memsng jagonya. Tapi urusan preman rewel. Biarlah ini menjadi bagiannya.


Tega larane ora tega patine.

__ADS_1


"Pak e Gono, mundurlah," Sampyuh langsung mengadang mereka.


Pangat mungkin telah menyakiti hatinya, tapi melihat suaminya yang mukanya bonyok seperti maling sepeda yang dihajar massa, hati Sampyuh tidak bisa menerima. Cintanya tak terkikis sampai malam ini, meski sakit itu sampai menusuk tulang rusuknya. Mereka berempat memang harus dibuat lebih sakit dari Pangat suaminya.


Kota ini memang tidak aman. Apalagi malam hari. Tempatnya sangat memberi ruang untuk orang berbuat jahat. Mereka para preman tengah mencari makan. Tapi salah sasaran. Penampilan suaminya yang keren dan kece mungkin jadi pemicu semua ini. Coba saja Pangat berkaos sisa kampanye tahun lalu yang sudah buluk dan bau prengus, mereka tak bakal melirik sedikitpun. Malah bisa jadi tidak tega.


Penampilan suaminya yang mbagusi malam ini membuat mereka mengira Pangat banyak uang. Menjadi sasaran empuk mereka. kalau dia tidak bisa menyusul kemari, dia tidak tahu nasib Pangat berikutnya. Mungkin sudah tidak bisa bertemu lagi. Bisa jadi suaminya yang sudah teler dan tak berdaya dibuang begitu saja di kali yang ada di dekat sini oleh preman yang bengis itu.


Sampyuh mengambil napas lega. Empat orang cecunguk ini dibiarkan ngoceh sekenanya. Sebelum mulut mereka disumpal oleh pecut di tangan. Namun dia sudah berjanji jangan sampai membunuh mereka.


"Ada perempuan keluyuran malam-malam. Sayurnya sudah dipanasi belum?" ejek salah seorang dari mereka. Dia kecewa perempuan ini telah memenggal kenikmatannya menyiksa orang. Dia paling bahagia melihat darah dan orang yang kesakitan.


"Kita pergi saja, daripada menghadapi emak-emak kayak gini Paling juga menghiba dan minta belas kasihan agar suaminya tidak dihajar," mereka makin menjadi jadi.


"Kasih uang makan saja, biar kami segera pergi," kata yang lain.


"Tak punya uang. Aku hanya ingin membawa suamiku pulang. Tapi sebelum pulang, aku ingin melihat kalian berjalan dengan merangkat rangkak," kata Sampyuh menggertak. Hatinya masih belum menerima melihat suaminya yang teraniaya.


Tentu saja ucapan Sampyuh membuat mata mereka terbelalak dan selebihnya ...


Mereka berempat langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman Sampyuh itu. Sampai salah seorang preman yang perutnya gendut karena kebanyak minum bir itu berguncang-guncang.


Sampyuh mengeluarkan pecut dari balik punggungnya.


Tawa mereka makin bergelak-gelak.


"DIkira kami kerbau hah?" kata preman yang lengangnya bergambar naga itu.


"Jangankan pecut, clurit saja tidak bisa melukai kulitku!" gertak lelaki bertato naga. DIa melempar clurit ke arah temannya dan meminta temannya untuk membacok tangannya. Tangan itu disabet dlurit, dan lelaki itu hanya tersenyum saja. Clurit dibacokkan sekuat tenaga ke punggung, lagi-lagi laki-laki itu tidak merasakan apa-apa.


"Bagaimana?" lelaki bertato naga pamer kekuatannya.


Sampyuh mendelik.


"Kalau dalam, lima menit, aku tidak mampu membuatmu lumpuh dan malu, aku yang kalah," tantang sampyuh dengan sangat beraninya.

__ADS_1


__ADS_2