
Ketika dua orang yang mengantar Gono menutup pintu besar dan mematikan semua lampu yang yang ada di dalam rumah super angker itu, rasanya Hana jadi sesak napas dibuatnya.
Dalam kondisi gelap gulita di sebuah tempat berkumpulnya para hantu. Gono hanya seorang diri di dalam. Dia saja yang tidur di dalam kamar, kalau lampu dimatikan, takutnya setengah mati.
Dalam satu atau dua menit, Hana berharap ada teriakan ketakutan minta tolong dari Gono. Ini akan membuatnya lega dan tidak stres berkepanjangan. Tak usah silau dengan uang 2 juta
"Maafkan aku Gon, yang telah menjerumuskanmu," kata Hana dalam hati. Dia sudah tidak mempedulikan janji Gono yang ingin mentraktir ikan bakar di Tunjungan di acara ulang tahunnya. Semua itu jadi tidak penting baginya.
"Gon, berteriaklah ketakutan, berteriaklah minta tolong, agar lega hatiku," bibir Hana bergetar hebat. Matanya tak lepas dari rumah super angker yang terlihat makin tambah angker kalau semua lampu dimatikan seperti itu.
Hana menatap laki-laki yang terkulai lemas di depannya.
"Mbak temannya peserta yang tadi baru masuk?" tanya lelaki lunglai itu.
Hana mengangguk.
"Sebaiknya segera keluar saja temannya Mbak. Lebih cepat lebih baik. Ngeri pokoknya di dalam itu. Aku saja hanya mampu bertahan 5 menit saja. Lupakan hadiah 2 juta itu. Risikonya sangat berat" kata lelaki yang baru saja gagal menaklukkan hantu-hantu di rumah super angker angker itu.
Penjelasan yang membuat hati Hana makin kecut dan jerih.
Hana makin terteror. Lelaki itu masih berwajah pucat. Ketakutan masih tergambar jelas di wajahnya. Lantas dua orang temannya mengajak pulang.
"Gon, Gon keluarlah dari rumah itu. Jangan siksa diriku dengan sesal berkepanjangan," keluh Hana.
Harusnya dia sudah pulang dan tidur di rumah. Tapi malah tertahan di sini. Hana makin berkeringat dingin. Kalau terjadi apa apa pada Gono, dialah yang pertama kali akan jadi tumpuan kesalahan.
Gono digiring ke ruang eksekusi. Dia harus bisa bermain sandiwara. Harus bisa memerankan gelagak ragu ragu dan gelagak takut. Dia harus mampu memperlihatkan gelisah. Pasrah pada nasib yang mungkin bisa memihaknya.
"Berhenti sebentar," pinta Pak Hendro. Dia tertarik dengan korban yang satu ini. Dia ingin mempermainkannya. Tiga orang berhenti sejenak.
"Kuberi bonus 500 ribu setiap kali kau kuat bertahan setengah jam. Tapi bonus itu hilang kalau kau tidak kuat sampai 4 jam," dia memberikan tantangan. Dia sangat percaya bahwa bonus itu akan hangus. Hehehe, peserta terakhir malam ini culun sekali. Berani berani takut, takut takut berani. Unik pokoknya.
Dia berhitung. Sudah tiga minggu sayembara berlangsung, tak ada yang bisa bertahan lebih dari setengah jam. Semuanya rontok di tengah jalan. Tak ada yang kuat diteror hantu. Juragan mebel tersohor itu paling senang melihat orang ketakutan. Tiga minggu ini dia benar benar bisa terhibur. Bisa menjadi hiburan tersendiri. Uangnya pun utuh tak tersentuh.
__ADS_1
Melihat aGono yang terligat bengong, Pak Hendro angkat bicara lagi.
"Kau paham kan?" Pak Hendro menegaskan. Tak ada tampang pemberani di wajah pemuda khas dusun itu. Hanya wajah memelas dan pantas dikasihani. Ini paling enak dijadikan permainan. Hantu di rumah super angker juga sangat gemas.
"Jadi saya bisa menerima 6 juta total semuanya?" Gono minta kepastian dan mukavdibuat bloon. Sebagai pancingan agar juragan itu manrap melepaskan bonusnya.
Pak Hendro tersenyum. Memberi kabahagiaan semu pada pemuda lugu ini apa salahnya. Paling tidak dia punya harapan. Orang hidup memang harus punya harapan. Setipis apapun.
"Tapi itu cuma mimpi siang bolong, segera bawa masuk ke sana" perintah sang bos. Anak muda itu paling akan menjadi korban berikutnya. 20 menit lagi, paling lama, akan keluar dengan wajah pucat, napas tersengal sengal tak beraturan dan ngompol di celana karena tak bisa menahan takutnya. Teror hantunya tidak main main tapi bisa memainkan ketakutan korbannya. Dia memang ingin mempermalukan pemuda dusun itu. Lumayan sebagai obat kantuk.
Dalam hati Gono bersorak gembira. Sandiwaranya berhasil dengan gilang gemilang. Mendapat uang dua juta saja, dia girang tak terukur. Ini malah ditambah bonus empat juta. Hidup di kota kok begini mudah cari uang. Ini membuatnya makin krasan.
Setengah menyeret, dua orang membawa senter itu, membawa Gono ke ruang eksekusi.
"Kalau kamu takut dan ragu lebih baik mundur saja. Mumpung belum masuk ke rumah super angker itu," kata lelaki berbadan kekar dan mengenakan ikat kepala. Mencoba menggertak Gono. Tarikannya jadi berat. Anak muda ini sepertinya sudah ketakutan. Bosnya akan mendapat mainan yang diinginkan..
Mereka berjalan dan makin dekat rumah super angker itu. Gono pura pura cemas.
"Agak takut sedikit, tapi saya butuh uang dua juta. Apalagi ada bonus 500 ribu per setengah. Ya sudah saya batal saja," ujar Gono.
"Maksud saya membatalkan ketakutan saya," goda Gono.
Dua orang yang membawa Gono makin bertambah gemas. Mereka membawa masuk Gono dan menempatkan di ruang paling angker. Mereka menguncinya dari luar dan segera mematikan semua lampu. Hingga suasana jadi gelap gulita. Untung mereka membawa senter. Mereka sempat melihat kepala yang sangat besar masuk ke ruang Gono tadi dimasukkan. Mereka buru buru harus meninggalkan rumah ini. Mereka sendiri sebenarnya juga penakut. Tapi demi tugas negara harus dilaksanakan. Lumayan, pekerjaan cuma ngantar seperti ini dianggap lembur. Bos mereka memang dermawan meski wataknya sedikit antik.
Mereka merasakan bahwa
hantu hantu di sini marah besar. Karena sudah hampir berminggu minggu mereka diusik.
"Nikmatilah istana hantu ini anak muda," kata dua orang itu yang lari terbirit birit keluar dari tempat eksekusi.
Gono yang ada di dalam yang luas, sebelum dimatikan lampunya tadi sempat melihat ruang yang seluas ruang kuliahnya. Belum sempat mengambil napas, lampu yang tadi mati, mendadak hidup dan mati. Para hantu mulai mengajak bermain. Ada hantu yang iseng memainkan sakelar lampu. Mungkin ini sebagai ucapan selamat datang padanya. Kursi yang ada di ruang ini meluncur ke sana ke mari di tengsh hiruk pikuk lampu yang byar pet byar pet. Asyik sekali melihat atraksi para hantu. Tiba tiba ada hantu tanpa kepala menjewer telinganya dari belakang. Kurang ajar sekali dia. Gono tersinggung berat. Ini di luar aturan. Mereka boleh menakuti tapi jangan lebih dari itu.
Spontan tendangan kungfu Gono menghajar dadanya.
__ADS_1
"Boleh adakan atraksi tapi, tapi jangan sekali sekali menyentuh tubuhku. Apalagi menjewer. ini namanya kekerasan. Belum kenal simbokku Sampyuh ya," gertak Gono garang. Simboknya seakan merasuki tubuhnya.
Para hantu jerih juga. Tak ada yang berani menyentuh tubuhnya lagi. Tak ada yang berani kurang ajar dan macam macam pada Gono. Dilihatnya pocong yangbeterbangan seperti superman. Ah , suatu saat bisa dibuat film laga dengan judul SuperCong.
"Boleh terbang sesukamu, tapi kalau menabrak aku, aku juga akan menghajarmu juga," ancam Gono galak. Dia memang keturunan perempuan galak. Dalam kondisi kepepet galaknya bisa muncul tanpa dinyana nyana. Pocong terbang dengan sopan. Kadang tersenyum penuh keramahan.
"Permisi Om, numpang lewat," ucapnya.
" Nah sopan brgitu kan bagus. Bisa untuk contoh hantu hantu yang lain," puji Gono.
Tercium bau busuk di ruangan ini. Ah, kalau ini sudah terlatih hidungnya. Biasanya mencium srintil wedus atau sengak kencing sapi. Apa sih yang ditakutkan dari semua ini. Sedetik kemudian tercium bau harum sekali.
"Nah begini, harum begini kan enak dinikmati hidung," puji Gono.
Di sini hantunya lumayan komplet. Kalau mereka mau Gono berencana mengajak mereka untuk bergabung di tempat kosnya. Daripada di sini malah dilecehkan oleh tuan rumah. Disuruh ganggu orang tiap malam. Kasihan. Lama lama mereka capek juga. Mereka bisa stres. Mereka kerja overwork.
Lama lama Gono ngantuk dan bosan. Di kosnya, ini kan jadi pemandangan harian.
"Aku mau tidur saja. Tapi kalian boleh beratraksi sesuka kalian. Biar kalian dianggap kerja," perintah Gono. Sudah mulai mengantuk berat.
Gono tidak tahu berapa kama tidur karena tiba tiba dia mnddengar punru digedor gedor."
Mengganggu orang tidur saja. Pasukan hantu sudah tak nampak batang hidungnya.
Gono dibawa dua orang keluar dari kamar itu.
"Selamat, kamu memang hebat," pak Hendro menyerahkan hadiah plus bonusnys. Heran juga, empat jam diteror hantu kok santai saja
"Rumah ini dikontrakkan tidak?" Tanya Gono pada Pak Hendro pemilik rumah yang katanya super angker itu.
Pemilik rumah yang tadi jumawa terdiam. Dia merasa malu sendiri. Semula dia memang meremehkan. Tak tahunya perhitungannya meleset jauh.
"Kalau ada yang berani silakan, asal bukan dirimu, kuberi harga murah sekali dan bayarnya belakang saja. Kasihan orang tang mengontrak kalau terus menerus diteror hantu. " katanya. Anak muda ini terlalu bandel untuk bisa dijinakkan hantu hantu yang ada di rumah tingkatnya.
__ADS_1
Gono tersenyum. Rumah ini cocok untuk bapak. Selama masa gencatan senjata dengan simbok. Semoga harganya murah meriah. Hantu hantu di sini, tak perlu diusir. Kasihan mereka. Mereka bisa membantu bapak di sini agar tidak kesepian. Tapi hantu hantu perempuan biarlah ikut dirinya. Bapak kalau ada hantu cantik, watak mbagusinya kerap kumat.
"Gon, kamu masih hidupkan?" Hana dengan mata merah menyambutnya.