
Hana segera memburu ke kamar ayahnya. Ayahnya yang mau berangkat tidur, terkejut begitu tahu Hana anaknya masuk. Gerangan apa yang terjadi pada anak perempuannya itu.
"Ada hantu di kamar mandi," lapor Hana. Rumah ini yang biasanya aman dan sejahtera jadi berubah tidak nyaman. Kok bisa hantu-hantu di rumah super angker itu pindah ke mari.Padahal di sini bukan habitatnya. Apakah mereka mengikutinya sampai ke rumah ini?
"Hantu?" tanya ayah heran. Wajahnya langsung memucat.
"Ya, cepat ayah usir. Kalau urusan hantu, jangan melibatkan aku," kata ayahnya. Hana baru tahu kalau ayahnya memang tipe lelaki yang takut sama hantu. Pernah Hana malam-malam memergoki ayahnya diantar ibu ke kamar mandi, karena ada tetangga belakang rumah yang meninggal dunia. Pada siapa lagi dia harus meminta tolong.
Ketukan di pintu. Semoga Gono yang datang. Kalau temannnya yang satu ini, memang pawangnya hantu. Eh, kok ada manusia yang sama sekali tidak gigrik bertemu hantu. Ternyata ada manfaatnya juga. Hantu seperti dianggap rezeki. Memang terbukti Gono bisa mendapatkan rezeki dari kehadiran hantu hantu itu. Hanya saja, efeknya negatifnya dia yang terkena. Ora mangan nangka kok kena pulute. Asem tenan iki.
"Gon, kamu bisa tolong aku ya," pinta Hana begitu dia membuka pintu kamar depan.
"Minta tolong apa? Tugas kuliah? Rasanya kamu jauh lebih pintar dari aku."
"Bukan itu. Kalau itu masih bisa dipikir. Mengusir hantu yang ada di kamar mandi. Ada hantu bermuka penuh darah mendiami kamar mandiku," ucapnya serius sekali.
"Mengapa tidak diajak mandi sekalian.Mungkin dia belum mandi jadi ingin membersihkan diri," Gono dengan ringan berkelakar. Hana memang tipe cewek yang serius. Susah untuk diajak guyon.
"Aku serius Gon," gertak Hana. Sambil memasang muka cemberut bercampur takut. Dia harus cepat cepat mandi karena tidak ingin terlambat kuliah. Mata kuliah speaking 1, dosennya agak bosenin. Pak Maryoto, dosen yang bahasa Jawanya sangat medok dan bahasa Inggrisnya ketularan medoknya.
Gono yang melihat ayahnya Hana yang tiba tiba muncul di belakang, tak berani lagi cengengesan.
"Dik, tolong bisa mengusir hantu di kamar mandi itu kan?" pinta ayahnya Hana.
"Ya pak, mungkin saya bisa," kata Gono merendah.Mereka bertiga berjalan ke kamar mandi.
Gono pun membuka pintu kamar mandi dan tak menemukan apapun di dalamnya kecuali harum pewangi yang menebar.
"Tidak ada siapa-siapa," kata Gono.
Hana heran sendiri. Tadi dia begitu yakin kalau hantu itu berdiri di muka cermin kamar mandi dengan muka yang berdarah-darah. Mengapa dia tidak menampakkan diri lagi. Apaakh dia tidak berani berhadapan dengan Gono? Nyali hantu perempuan berwajah penuh darah itu tidak tegar juga.
Hana ingin segera mandi. Tapi kalau mendadak hantu itu muncul lagi ketika dia mandi, kan sangat riskan sekali. Tak mungkin Gono menungguinya mandi di dalam.
__ADS_1
Hana mandi dengan perasaan was was. Kalau hantu menyeramkan itu muncul dia harus siap menyambar handuk, berteriak kencang dan keluar setelah membuka pintu kamar mandi. Dia tadi berpesan pada ayah dan Gono untuk tidak jauh jauh dari kamar mandi. Aura Gono memang hebat. Dia pantas memenangkan sayembara di rumah super angker itu. Tak ada perlawanan. Hantu berdarah itu tak lagi bertingkah. Hana segera mandi dengan dahsyat. Lebih cepat dari biasanya. Hari ini ulang tahun Gono mau memberi hadiah apa ya?
***
"Gon,. Gon, begitu gampangnya engkau melupakan diriku. Betapa perhatian sungguh engkau pada perempuan bernama Hana itu," sosok itu meratap. Dia merasa ditelikung Gono. Kalau tidak dengan melihat dengan mata kepala sendiri, sulit dia untuk mempercayainya. Dia tak mungkn memantau Gono terus-menerus. Kau boleh melukai hatiku, tapi aku tak tinggal diam.Hidup Hana akan jadi taruhan. Aku akan menerornya tanpa henti. Aku akan menerornya sepanjang waktu. Sampai dia meninggalkan dirimu. Kau tak bisa meremehkan diriku begitu saja. Kau akan menyesal meninggalkan diriku Gon. Sosok itu begitu berduka. Dendam itu membara kuat di pancaran matanya.
***
Pangat jadi meminjam sepeda motor pak camat.
"Mau kemana kamu Ngat?"
"Jalan-jalan sore," seru Pangat.
"Kamu hapal jalan-jalan di kota ini?"
"Ya, nggak, tapi kau yakin tak bakal tersesat. Orang sudah powel seperti aku kok masih bisa tersesat?"
"Jangan sombong begitu. Tapi kalau kamu bingung jalan pulang. Tinggal hubungi aku posisimu di mana, nanti aku jemput," janji pak camat.
Pak camat memang baik hati. Sebelum Pangat pergi, masih memberi uang beberapa lembar warna merah.
"Ini untuk sekadar beli bensin dan kopi," kata pak camat.
sahabat yang terlampau baik hati. Padahal dua hari lalu dia sudah dikasih uang pak camat.
Sahabat yang begitu memanjakannya.
Malam ini Pangat ingin mengajak Hangi untuk menikmati malam minggu. Hidup kok hanya menyapu daun daun kering di pelataran rumah. Sesekali menikmati malam minggu seperti anak-anak muda yang sering dilihatnya lewat depan rumah pak camat.
Setelah hampir satu satu setengah jam berputar-putar naik motor, Pangat memutuskan untuk makan. Perutnya sudah terlilit lapar hebat. Sudah lama tidak naik motor membuat tangannya gampang pegal. Namun hatinya terlanjur bahagia jadi tidak begitu dirasakan.
"Kita makan dulu ya Hangi," ajak Pangat. Ajakan yang bersambut baik karena Hangipun menyetujui ajakan Pangat. Ternyata lebih enak jadi manusia, makan bisa memilih milih tempat. Kesempatan bagus ini pun tak disia-siakan olehnya. Pangat memang perhatian sekali padanya. Tak ada orang yang sebaik dia. Kalau bertemu dengan dirinya orang lebih takut duluan. Bagimanapun mau menjalin ikatan batin.
__ADS_1
Pangat memilih tempat yang nyaman dan tempatnya agak luas. Meski dia tidak begitu hapal kota ini, asal tempat itu sesuai dengan keinginannya dia akan berhenti. Di kota ini memang banyak pilihan. Dompet Pangat yang cukup tebal membuatnya cukup percaya diri.
"Kita makan di sini saja ya," akhirnya Pangat memutuskan tempat yang dimaksud. Hangi pun setuju.
Pangat memilih tempat paling pojok. Di tempat ini ada kolam ikan yang bisa dinikmati sambil menikmati hidangan. Betul-betul tempat yang romantis untuk pasangan yang tengah terbakar hatinya oleh asmara.
Begitu mereka duduk, ada pelayan muda yang menyodorkan menu.
"Kamu makan apa Han?" tawar Pangat.
"Aku ikut saja."
"Minumnya?'
"Akujuga ikut," seru Hangi.
Pangat segeramenuliskan menu yang dirasakannya asing itu. Tapi dia gengsi untuk bertanya. Di desa dia hanya biasa makan pecel dan nasi beresayur lodeh. Di sini banyak sekali menu yang disediakan.
Terdengar lagu campur sari, layang kangen. Ah, lagu ini mengngatkan dirinya pada Sampyuh di desa. Sedang apa dirinya saat ini? Apakah masih marah padanya? Ah, Pangat hanya ingin mengubur kenanangan itu.
Cukup lama juga menunggu pesanan. Baru datang minuman jeruk hangat. Lumayan untuk menghangatkan badan.
"Diminum dulu Han," Pangat menawarkan.
Ketika mereka tengah menunggu pesanan, datang, mucul pasangan muda-mudi. Mereka langsung duduk di samping lesehan yang masih kosong.
"Lho, kowe Gon?" kata Pangat terperanjat. Begitu pula Gonno. Tak menyangka bertemu bapaknya di tempat ini.
"Kamu jangan boros-boros hidup di kota ini Gon," hardik Pangat.
"Nggak Pak. Kemarin aku baru saja mendapat hadiah 6 juta ketika ikut sayembara uji nyali. Malam ini mau syukuran jelas Gono.
"Mengapa kamu tidak menagajak aku. Kalau begitu kamu harus membayar pesanan bapak juga," kata bapak enteng.
__ADS_1
Gono hanya tersenyum kecut. Acaranya bersama Hana jadi berantakan.