HALUSINASI COWOK KARISMATIK

HALUSINASI COWOK KARISMATIK
bab 2


__ADS_3

Malam melayang tenang, malam sedikit meradang. Aku belum bisa tidur. Malam ini terasa gerah. Tidak seperti biasa. Padahal jendela sudah kubuka. Sepertinya angin malam telah terkunci mati. Manusia memang makhluk pengeluh. Rembulan sepotong semangka menyeringai tak bergairah, tergantung di langit malam.


Aku keluar kamar. Sengaja jendela tak kututup. Tak perlu khawatir ada maling masuk ke rumah ini. Kalau dia nekat masuk , dia pasti sulit keluar. Penghuni lain rumah ini tentu akan beraksi. Mereka suka usil. Tapi berhadapan denganku mereka sudah kapok berbuat usil.


Bwgiru aku keluar, suster ngesot sudah ada di kamar tamu. Dia tampak duduk santai di kursi dari kayu jati. Entah apa yang twngah dilamunkan. Di antara hantu hantu di sini. Dia memang paling perhatian. Kalau malam lagi belajar, hampir bisa dipastikan tersedia kopi atau teh. Tanpa diminta dia menyediakan peneman belajar itu.


"Kok belum tidur?" tanyanya begitu dia mendengar gesekan sandal di lantai.


"Nggak bisa tidur."


"Kangen keluarga ya," tebaknya.


"Nggak juga. Kangen kamu," godaku. Candaanku membuat suster ngesot tersipu malu. Hantu ternyata juga punya rasa malu. Dia jadi tidak bisa berkata kata.


Suasana kamar tamu jadi hening.


"Aku mau keluar sebentar, mau ikut" tawarku.


"Mau, daripada bengong di sini," katanya tidak menolak.


Aku sadar. Tak mungkin suster ini bisa mengikuti langkahku.


"Kamu kugendong belakang saja ya," tawarku.


"Ya, mau-mau," responnya cepat. Kebaikan budi membuatkan kopi selama ini, memang harus diapresiasi


Kami tidak pergi jauh-jauh


"Mau kemana kita?" tanyanya.


"Ikuti sopir saja ya," jelasku.


Aku masuk makam. Aku sudah tak bisa menghitung berapa ribu yang menghuni makam ini. Sejauh jauh orang pergi, alhirnya toh akan menjadi penghuni makam seperti ini. Makam yang besar. Kalau pas siang hari, akan terlihat jumlah nisannya tak terhitung saking banyaknya.


Kami berhenti di pohon kemboja yang rindang. Hawa di sini terasa sejuk. Maka kuanggap pilihanku tidak salah.


"Kukira mau jalan jalan yang jauh, ternyata hanya piknik di sini saja," suster bicara dengan nada kecewa. Aku terkekeh. Apa kata dunia kalau mereka tahu aku menggendong suster. Mereka tentu akan lari terbirit birit ketakutan.


"Di sini saja, kalau jauh jauh aku tidak kuat menggendong," aku memberi alasan.


Kami duduk di atas rumput dan angin berhembus pelit sekali tapi sudah cukup membuat bunga kemboja jatuh menimpa kepala kami


"Malam ini kamu tidak belajar," suster membuka percakapan.


"Besok tidak ada kuliah," kilahku. Suster memang memiliki perhatian besar padaku. Namun pikiranku tidak terlalu jauh mengembara. Mungkin dia hanya butuh teman. Hanya dengan jalan itu, dia mencoba nengakrabkan diri.


Di sini suasana tenang sekali. Aku bisa mendengar desau angin yang halus.

__ADS_1


"Rasanya aku sudah bosan jadi ngesot," entah keberanian apa tang membuatnya berani menumpahkan isi hatinya.


" Lantas kamu ingin menjadi suster yang bagaimana?" tanyaku penasaran.


"Suster yang keren. Bisa menemanimu kuliah atau jalan jalan sore," ucapnya jujur. Aku tidak bisa berkata kata lebih jauh. Rasanya, di bawah pohon kemboja ini sekarang hawanya jadi lebih gerah. Percakapan tengah malam yang melampaui dugaanku


Masalahnya adalah hantu perempuan berambut panjang dan muka berdarah sekarang sudah tampil modis. Sekarang rambutnya dipotong pendek dan muka yang dulu berdarah sekarang tampak bersih dan licin. Hantu hantu di sini akan pangling melihat penampilannya yang terkini.


Ada rasa iri membelit hatinya. Suster tahu, penampilan modis itu adalah duri dalam daging. Perubahan sangat drastis itu tentu saja bukan tanpa sebab. Kehadiran mahasiswa kos yang ndableg itu memang banyak menyita emosinya hari hari belakangan ini.


Dirinya tidak mungkin berubah sedrastis itu. Menyadari kekurangan yang dimilikinya.


Hmm, mengapa waktu begitu cepat berubah? Dia sadar telah terbanting oleh perasaannya sendiri.


Padahal dulu dia begitu benci dengan kedatangannya. Dia telah berusaha mengusirnya. Tapi dasar manusia itu sudah putus urat takutnya. Semua teror ketakutan hanya dianggap angin lalu. Sekarang dia nalah terkena sihirnya. Dia begitu terpukau. Kebencian itu terkubur. Habis benci terbitlah simpati. Dia sudah tidak kuasa lagi untuk selalu berdekatan dengan pemilik ani ndabelg, untuk memanjakan diri.


Aku mencium bahaya ancaman yang tidak main main. Perseteruan hantu modis dengan suster sudah dalam taraf mengkhawatirkan. Bagaimana kalau mereka terus meninggalkan rumah ini. Begitu juga dengan hantu hantu yang lain. Terus rumah ini kehilangan keangkerannya. Penghuni penghuni kos yang baru akan datang dan mereka kerasan tinggal di sini. Terus pemilik rumah lupa akan janjinya. Dia bisa apa?


"Maaf mulai bulan depan, kamu saya tarik bayaran," ujar pemilik rumah.


"Bagaimana dengan janji bapak akan menggratiskan selama setahun tempo hari?" aku menagih janji.


"Gratis. Zaman sekarang mana ada gratis? Kencing di terminal saja bayar 2000," tiba tiba pemilik kos menjadi amnesia seperti tokoh tokoh dalam sinetron Indonesia.


Busyet, aku bisa apa kalau begini. Tidak ada perjanjian hitam di atas putih. Hanya mulut manis di depan dan berakhir dengan pahit di belakang. Padahal aku sudah berjanji pada bapak untuk memamerkan kosku yang gratis dan tempatnya super bagus dan nyaman ini. Aku bisa kena damprat habis habisan. Gidup boleh susah tapi jangan bohong.


"Aku tidak pernah berjanji seperti itu!" tandasnya dengan sangat ketus.


Aku hanya sanggup menghela napas masgul berat.


"Apa karena rumah ini sudah ditinggalkan para hantunya?" ucapku melengking tinggi sekali.


"Bicaramu makin tidak jelas. Sudahlah kalau memang tidak kuat membayar, boleh tinggalkan tempat ini saat ini juga," dia memberi ultimatum yang sudah kuprediksi sebelumnya. Aku menyesal mengapa tidak bisa mengkoordinasi hantu hantu ini dengan baik. Kali ini ajian ndableg warisan bapak sepertinya kehilangan aura kesaktian dan keampuhannya berhadapan manusia amnesia seperti ini.


"Baik, saya akan tinggalkan rumah ini. Saya kecewa dengan janji palsu bapak," ucapku melengking tinggi, menghantam langir langit rumah. Seekor tikus sampai terpental menabrak kaleng biskuit yang sudah kosong. Berlari menjauh dengan raut ketakutan.


Tubuhku terasa ada yang menggoyang goyangkan. Aku tertidur di kursi karena terlalu capek mengerjakan tugas. Susterlah yang membuyarkan mimpi buruk. Sudah ada dua gelas kopi di samping buku kuliahku. Gelas kopi pertama tentu buatan hantu modis. Sudah agak dingin. Gelas kopi kedua masih panas berkepul, tentu baru saja dibuat suster.


Kebaikan dua hantu itulah yang memeras ketakutanku. Suatu saat akan menjadi kenyataan.


"Mimpi apa tadi?" tanya suster.


"Mimpi buruk," jawabku.


Habis selesai mengikuti kuliah Writing 1, aku diminta Pak Ngadi untuk berdiam sebentar di kelas.


"Gon, kamu jangan pulang dulu. Aku mau bicara sebentar," ucapnya sambil menandatangani kartu kehadiran mahasiswa.

__ADS_1


Dosen galak dan bertampang dingin itu seperti tengah melempar teka teki padaku. Semoga tidak mencari cari kesalahan. Menurut kakak senior dia termasuk dosen pendendam. Sekali membuat hatinya terluka dendam abadi akan menjadi ancaman tidak main main.


Aku mencoba merefleksi diri. Adakah tingkah dan ucapanku membuatnya tidak berkenan. Masak baru beberapa kali pertemuan sudah membuat kesalahan tak termaafkan.


Setelah semua mahasiswa keluar kelas, dia memberi kode tangan agar aku mendekat. Kalau hanya berbincang empat mata tentu sifatnya sangat rahasia. Dia tak ingin rahasianya tersebar.


"Gon, nanti malam kau datang ke rumahku ya," dia mengundang.


"Apa yang bisa saya bantu pak?" tanyaku.


"Aku baru saja membangun rumah. Baru satu bulan menempati rumah itu. Namun setiap malam selalu ada gangguan. Dari beberapa mahasiswa yang bercerita, tempat kosmu, konon juga menjadi markas besar hantu. Tolong hantu berambut panjang sampai menyentuh tanah dan berjubah putih bisa kamu usir," pintanya halus. Sama sekali tidak terdengar nada bicaranya yang kereng. Kamu bisa bantu aku kan..."


Aku harus berhati hati. Sekali aku menjawab tidak, nasib mata kuliahku writing 1 bisa terancam.


"Ya Pak. Jam berapa saya harus datang ke sana?"


"Jam 12 malam kamu berani?" katanya seperti menantang nyaliku. Jam berapa pun aku siap. Hanya saja...


" Maaf, aku tidak punya sepeda motor," kilahku. Aku sudah terlanjur berucap. Takut juga kalau dosenku ini menganggap sebagai sebuah penolakan. Bisa kiamat hidupku di kampus ini.


Untunglah ketakutanku tidak terbukti. Dia malah mengambil dari kantong belakangnya. Memberikan uang seratus lima puluh ribu untuk ongkos naik ojek.


"Ini untuk ongkos ke rumahku. Kamu jangan bonceng temanmu. Rahasia tentang hantu di rumahku ini harus tersimpan rapi," rupanya dia ingin tetap menjaga wibawanya sebagai dosen yang disegani.


Pak Ngadi ternyata hanya galak pada mahasiswanya, berhadapan dengan makhluk yang gak jelas, mentalnya langsung ambruk dan ngeper.


Wah lumayan besar. Lebih dari cukup untuk ongkos ojek. Nasib lagi baik memang tak bisa ditebak. Berarti dosenku tang satu ini memang tengah membutuhkan pertolonganku.


Aku sendiri juga heran. Dosenku yang sering membuat nyali mahasiswa mengkeret itu, ternyata tak berdaya berhadapan dengan hantu perempuan berambut panjang. Ternyata galaknya hanya di kampus.


Setelah saya mengucapkan terima kasih dan berjanji kesana nanti malam...


"Saya tunggu di rumahku ya pukul 12 malam ," katanya sekadar mengingatkanku lagi.


Akhirnya dengan naik ojek, aku datang ke tempat dosenku. Rumah yang memang masih baru. Bau catnya saja masih kuat tercium.


"Anak dan istriku saja tidak. Sementara mereka tinggal di rumah lama," katanya lembut. Jauh sekali dengan penampilannya di kampus. Sangat garang. Julukan yang melekat pada dosen ini adalah macan kampus.


"Semoga saya bisa membawa pulang pak," aku sedikit memberi harapan.


Setengah jam lebih kami berbincang bincang, tiba tiba pintu diketuk.


" Nah dia sudah datang. Kamu temui sendiri ya" bibirnya berucap dan suara bergetar menggambarkan ketakutan hebat.


Aku tersenyum melihatnya. Aku baru tahu, aku tak boleh mengajak mahasiwa ternyata ini yang menjadi jawabnya.


Dengan langkah pasti aku mendekati pintu dan kubuka dengan penuh semangat. Memang benar, sudah berdiri perempuan itu. Perempuan berambut panjang sekali dan mukanya tertunduk. Aku menatapbya dengan kasihan. Dia seperti butuh teman.

__ADS_1


"Ayo ikut aku, di sana banyak temanmu. Kujamin kamu bahagia," kugandeng tangannya tanpa perlawanan. Aku meminjam sepeda motor dosenku untuk membawanya pulang


__ADS_2