
"Lihatlah sekali lagi," Sampyuh menggiring pandangan mereka. Ketika mereka kembali menatap Sampyuh, jebakannya sudah mengena.
"Lihatlah ular kobra yang kupegang," sentaknya. Dia mulai mensugesti pikiran mereka. Apa yang dia ucapkan akan menjadi senyata nyata dalam pikiran mereka.
Tiga lelaki gagah itu langsung serempak mundur selangkah. Mengapa kunci kontak itu itu bisa berubah menjadi ular kobra. Tapi sebelum semuanya makin kacau, mereka seperti sepakat untuk menyerang perempuan itu. Rezeki yang di depan bisa kabur kalau mengikuti perempuan itu. Biarlah dia jatuh ke jurang bersama ular kobra yang dipegangnya.
Tapi kali ini mereka harus bisa menjaga jarak. Tidak seperti tadi yang bisa menyerang dengan rapat. Patukan ular kobra bisa membuat mereka pindah ke alam lain. Tentu mereka masih sayang dengan selembar nyawa mereka.
"Jangan main main dengan ular!" gertak Sampyuh.
Mereka terkejut karena di tangan mereka bukan lagi ruyung, tapi sudah berubah jadi ular kobra. Bagaimana ini bisa terjadi. Ilmu sulap apa yang dipakai perempuan jagoan itu.
Mereka berusaha memejamkan mata untuk untuk membuang pengaruh ilmu sulap lawan. Namun begitu mereka membuka mata, kepala ular kobra itu malah mau menyambar mata mereka. Bisa bisa mereka kehilangan penglihatan.
Tak mau kejadian buruk itu menimpa mereka. Mereka langsung membuang ular kobra itu dan lari menuju mobil. Lawan mereka kali ini memang perempuan pilih tanding. Mereka takjub sekali mengapa dia bisa mengubah ruyung jadi ular kobra.
"Bos kita kita langsung tinggalkan tempat ini saja. Perempuan setan itu terlalu sakti dilawan," ujar lelaki paling tua.
Bos Agus meminta sopir untuk segera pergi. Hatinya lega. Pilihannya tidak keliru. Meski tak bersenjata, perempuan itu masih punya taji juga.
Angga pun puas dengan uji tadi. Tentu sang bos percaya dengan laporannya sekarang. Sebenarnya kalau Sampyuh pegang pecut, tiga begundal yang disewa bos juga nggak ada apa apanya.
Sementara Sampyuh bersyukur karena masih bisa selamat. Tak rugi Ki Slameto menurunkan ilmu itu padanya. Sampyuh mengambil tiga ruyung itu dan membuangnya ke jurang.
Tak ada angin tak ada hujan, selalu ada gangguan. Dia merasa tak ada urusan dengan tiga lelaki bersenjata ruyung itu. Tapi bisa jadi dia adalah suruhan orang saja untuk membantainya di hutan yang lengang ini.
Sampyuh sangat capek sekali malam ini. Ada pocong bersandar di batang jati yang besar. Hutan jati ini memang angker. Konon dulu tempat pembunuhan massal. Tapi tang paling angker di hati Sampyuh adalah bila dia tak bisa bersanding dengan Pak e Gono lagi.
Malam berayun kelam. Malam melintas tenang.
Malam makin larut menjemput. Kalau tidak ada rembulan yang tengah purnama, Sampyuh tak bisa melihat pocong yang tengah leyeh leyeh santai bersandar di batang pohon jati. Dia terlihat kurang bahagia.
Kasihan, dia terlihat kesepian dan memelas seperti seorang penumpang yang kemalaman dan menunggu angkot jemputan. Tapi siapakah yang peduli dan menaruh simpati padanya. Kebanyakan orang hanya mementingkan ego takutnya saja.
__ADS_1
Rembulan memang tengah elok eloknya memamerkan dirinya uang tengah polos menelentang di langit lembut malam. Sampyuh sudah bersiap siap pulang ke desa Jombik. Masih butuh waktu satu setengah jam lagi. Masih cukup waktu untuk sampai ke sana.
Moge ini besok mau dipakai pak lurah touring bersama rekan rekan pejabat lurah. Mereka juga butuh refreshing. Biar tidak jenuh tiap hari hanya pusing memikirkan masyarakat yang selalu komplain
Sampyuh menghidupkan mogenya.
Lampu moge terang benderang melabrak kegelapan. Dia ingin segera meninggalkan hutan jati yang masih panjang terentang ini.
"Mbok numpang boleh kan?" pinta pocong dengan wajah memelas . Sampyuh tak sampai hati. Siapa yang peduli pada dunia perpocongan kalau bukan dirinya. Daripada pocong sendirian melamun di hutan ini sendirian, bisa bisa kesambet setan.
"Boleh."
"Tapi jangan kenceng kenceng ngegasnya ya," pocong berpesan.
Penumpang istimewa ini memang harus diistemawakan. Daripada dia tak punya teman, lumayan ada pocong yang baik hati menemani.
"Sudah?" Sampyuh memastikan.
"Siap," sambut pocong. Dia memang tidak bisa berpegangan. Jadi harus lebih hati hati. Kalau sampai dia jatuh dan cedera, repot sendiri urusannya.
Angin malam semribit membawa dingin
Pocong sedikit menggigil kedinginan.
"Aku boleh bonceng sampai rumah ya Mbok."
"Oke. Kebetulan aku sendiria. Anakku kuliah dan suamiku hilang entah kemana," jelas Sampyuh.
Sampyuh merasa bersalah. Mengapa dia kelepasan ngomong. Kasihan pocong kalau dia ikut memikirkan nasibnya. Dia saja hantu yang kurang terurus dan kurang bahagia.
Perjalanan malam memang lebih nyaman. Jalanan sepi. Tapi memboncengkan pocong tak berani kencang. Berkali-kali Sampyuh mengingatkan agar pocong tidak tertidur dalam perjalanan itu karena berisiko jatuh. Jalanan beraspal masih keras meski malam hari sekalipun.
Berkali-kali dia mesti menepuk-nepuk kepala pocong untuk sekadar memastikan dia tidak tidur.
__ADS_1
"Tenang Bos, aku masih berjaga kok. Ini menikmati mogemu yang bisa menthul-menthul joknya," ujar pocong memuji.
Meski dia merasakan kantuk yang hebat. Siapa yang tidak ngantuk kalau sejak
Sejak tadi belum juga dia bertemu dengan kendaraan lain. Rawan sekali kejahatan kalau malam hari hari sesepi ini.
Namun akhirnya hutan jati yang panjang sudah lalui. Sampyuh bisa bernpas lega. Meski dia biasa menghadapi orang-orang jahat dan bengis namun malam ini berharap tak ada lagi gangguan yang mencegatnya.
Tiba di pom bensin, Sampyuh merasa perlu buang air kecil Untung pom dekat hutan ini buka 24 jam. Di dekat pom bensin juga ada penjual angkringan yang masih banyak orang-orang yang menikmati wedang jahe atau kopi khotok.
"Cong aku nanti belikan kopi kothok ya, aku agak ngantuk," pesan Sampyuh. Dia biasa ngopi. Pengusir kantuk paling ampuh ya dengan cara ngopi.
"Oke Bos."
"Punya uang nggak?" Sampyuh mengujinya.
"Masih punya. Kemarin baru ambil dari ATM kok," pocong menjelaskan. Dia sudah menumpang, masak membelikan Simbok Sampyuh kopi kothok saja tidak mau.
Sampyuh segera pergi ke toilet untuk perempuan. Penjaganya terkantuk kantuk dengan kaleng yang ising separuhg berisi uang koin. Betapa orang mencarii naskah dengan berbagai cara. Menunggu orang kencing ternyata bisa mendatangkan rezeki juga.
Setelah selali dari toilet, Sampyuh segera menghampiri penjaga itu dan menyerahkan selembar uang dua ribu. Ketika dia berjalan menuju moge yang terparkir, banyak orang berhamburan lari ketakutan. Ada apa ini?
Apakah ada perampokan di pom bensin ini? Malam memang rawan dengan aksi kejahatan. Penjaga pom bensin juga meninggalkan pom dan pilih menyelamatkan diri. Pom bensin sepi, warung angkringan tak ada yang menghuni. Mengapa mereka begitu ketakutan.
Pocong menghampirinya.
"Sori Mbok, aku mau pesan kopi kothok, penjual dan pembeli yang lain malah bubar tercerai beai," lapor pocong.
Sampyuh baru sadar, pocong masih jadai makhluk yang menebar ancaman. Acara ngopi kothok batal.
"Ya, sudah kitatinggalkan saja tempat ini saja."
sampyuh merasa bersalah juga mengapa dia tadi menyuruh pocong untuk membelikan kopi?
__ADS_1
Belum semua orang bisa menerima hantu pocong yang ramah ini.