
Prediksi Gono tepat sekali. Simbok mampir ke rumah kos dengan wajah yang kuyu. Ada lelah tertahan. Untung dia sudah mengungsikan Hamo ke rumah kakaknya. Hantu-hantu yang lain juga pualng kampung karena Gono tahiu mood simbok dalam titik terendah. Hamo bisa dihajar babak belur kalau simbok memergoki masih ada di sini.
"Rumah ini kok sekali Gon. Kata bapakmu angker sekali. Kemana hantu-hantu itu?" tanya simbok sambil melepaskan jaket hitamnya.
"Mereka tengah pulang kampung," jawab Gono.
"Hantu cantik juga pulang kampung atau masih ada di sini?" tanya simbok penuh selidik. Mata simbok jadi liar dan penuh gumpalan amarah berkobar-kobar. Ngeri juga Gono melihatnya.
"Dia sudah tidak ada di sini lagi," Gono berdusta.
"Syukurlah kalau dia sudah tidak ada di sini. Mau jadi tepung kalau dia masih nekad mendekam di sini," ucap simbok galak. Gono berharap simbok tidak berlama-lama tinggal di rumah ini. Hantu-hantu yang tidak betah berdiam di sini adalah ancaman bagi dirinya. Rumah kos ini akan jadi berbayar. Simbok mungkin tidak memikirkan efek yang lebih jauh. Perempuan sama saja hanya mengedepankan perasaannya saja.
"Bapakmu lunga neng endi tho Gon Gon, tak goleki, tak ubek ubek, belum ketemu juga," nada kalimat simbok menurun.
"Waktu meninggalkan rumah ini katanya juga mau ke rumah temannya saja. Tapi tidak memberitahu alamat yang pasti," Gono menjelaskan.
"Mengapa tidak kau cegah pergi dari sini?" simbok seperti menyudutkan dirinya.
Gono tidak berkata-kata. Kalau dia keliru menjawab simbok bisa jadi murka lagi. Diam itu memang emas.
Gono pergi ke dapur untuk membuatkan teh buat simbok. Biasanya Hamo yang membuatkan untuknya. Tapi malam ini dia harus mandiri. Rumah yang sepi tanpa hantu ternyata lebih angker di hatinya. Dia mesti berjuang sendiri.
__ADS_1
Gono keluar lagi dengan membawa dua gelas teh. Untuk simbok dan untuk dirinya.
"Kamu tidak berusaha mencari bapakmu Gon?"
"Sudah Mbok. Tapi belum ketemu juga."
"Sudah kamu cari di kantor satpol PP, siapa tahu bapakmu kena garuk karena dikira gelandangan," kali ini mata simbok berkaca-kaca. Ada rasa iba tersimpan di mata itu.
Seumur-umur baru sekali saja melihat mata simbok yang sembab. Simbok yang tegar,kali ini hatinya terkapar. Ternyata simbok masih bisa melankolis. Kegarangan simbok runtuh malam ini. Simbok yang begitu perkasa dan percaya diri menghadapi dua begal berclurit. Simbok yang membuat hantu hantu di rumah ini ngacir ketakutan, ini kali pertahanannya runtuh. Simboknya ternyata masih manusia.
Hamo merasa tercampak ketika Gono memintanya untuk mengungsi dari rumah kos itu. Dia seperti terusir. Padahal dia adalah penghuni pertama yang datang ke rumah itu. Dialah yang babat alas. Baru datang hantu hantu yang lain. Rumah baru itu memang luas dan nyaman. Sesama hantu saling rukun dan kompak. Selalu kompak mengusir orang-orang yang mau kos. Bahkan pemilik rumah ini pun diteror dengan ketakutan dan mentalnya tidak lebh bagus dari orang-orang yang mau kos.
Ternyata bapaknya Gono juga sama saja, hantu hantu di sini malah dianggap teman saja. Suster malah cari muka dengan setia membuatkan kopi, teh atau wedang jahe. Hmm... tentu ada udang di balik batu untuk semua kebaikan itu. Untung duri dalam daging itu sudah pergi dan tidak menampakkan batang hidungnya lagi. Semoga tidak hanya sementara namun selamanmya saja.
Yang paling membuat hati Hamo keder adalah simboknya Gono. Manusia pilih tanding itu memang ngedap-ngedapi sekali. Terakhir dia melihat dengan kepala sendiri menghajar dua begal yang mencegatnya di kebun tebu.
Saran Gono memang tepat, untuk sementara dia harus mengungsi dulu. Menyelamatkan diri dari gempuran simboknya Gono. Namun semua itu hanya memendam rindu. Kalau sampai simboknya Gono menginap di sana mana bisa tahan dia menahan rindu sekioan lama.
Malam-malam seperti dia akan menemani Gono belajar atau mengerjakan tugas kampus. Kadang diselingi makan sate di warung baru itu. Warung yang selalu sepi dan dia suka tempat-tempat yang sepi. Semoga warung sate itu tidak segera gulung tikar. Entahlah bayangan Gono tidak bisa lepas dari pelupuk matanya. Rasanya ingin bertemu dan berdekatan terus. Ini rasa dari apa? Hamo tak mampu menerjemahkannya sendiri.
"Belum tidur kamu?" kakaknya muncul dari belakang. Melihat adiknya yang terlihat gelisah sejak tadi. Seperti ada beban pikiran yang tengah bergelayut. Namun dia enggan bercerita.
__ADS_1
Selama masih ada simboknya Gono, rasanya hanya akan memenggal kebahagiaan yang telah disusunnya dengan rapi itu. Namun dia tidak punya nyali untuk berjumpa dengan simboknya Gono. Aura keperkasaan simbok itu sudah mampu meruntuhkan mentalnya dari jarak jauh.
Malam yang tidak bersahabat, malam menanamkan luka. Tidak berdarah tapi lukanya tembus sampai relung dada. Hamo disiksa gelisah luar biasa. Sedang apakah Gono malam ini? Sedang bercengkerama dengan simboknya? Atau tengah suntuk dengan buku kuliahnya?
Dia predator buku juga. Siapakah yang menemani belajar malam ini? Harusnya diriku, sesal Hamo dalam hati. Mengenang malam malam bersahabat yang selalu menjadi miliknya. Sayang malam ini meninggalkan dirinya tanpa permisi.
Tapi malam ini memang ada monster yang tengah menungguinya. Monster yang sangat ngedap ngedapi. Hantu pun minggir berpapasan dengannya. Dua begal sial juga ketemu batunya. Pecut simboknya memang ganas, mengusap pipi begal itu, alangkah nyerinya.
Rumah itu tentu kini sepi. Hantu hantu disuruh pulkam, pulang kampung. Rumah kos tanpa hantu alangkah tidak asyiknya. Kasihan Gono yang harus menyeduh teh sendiri, membuat kopi sendiri dan tentu harus melayani ibunya. Apakah Gono tidak takut mempunyai ibu yang seseram monster itu?
Kalau ada aku, tentu Gono tak perlu serepot itu. Tinggal duduk tenang sambil mengunyah pisah goreng; menatap rembulan yang menyeringai dari balik dedaunan kemboja. Hamo memang selalu berharap malam indah akan selalu berulang. Hanya untukmu Gono dengan segenap cinta bertaburan di hati yang tengah bungah membuncah buncah dahsyat.
Malam memeras emosi, Hamo tak bisa menahan diri lagi. Kerinduan bertemu Gono menindih rasa takutnya. Dia segera memesan ojek online. Dia harus bertemu Gono malam ini. Semoga ibunya sudah tidur. Bertempur melawan dua begal itu, semoga bisa menguras staminanya habis habisan.
Hanya butuh satu jam untuk sampai ke rumah kos Gono. Hati Hamo meriang hebat. Gono kupertaruhkan ketakutanku untuk bisa menemuimu. Tidakkah kau juga merasakan hal yang sama.
Semoga engkau belum tidur, masih suntuk dengan tugas tugas kuliahmu. Aha, lampu lampu kamar belum mati. Aku masih ada asa. Gono keluarlah sebentar untuk mencari angin segar.
Terdengar suara dehem dehem yang seperti sengaja dikeraskan. Hamo terpaku. Simboknya Gono belum tidur. Apakah aku berani menerabas masuk ke dalam? Terdengar dehem dehem yang kedua kali. Ini kali lebih keras. Hamo terpaku. Suara dehem itu seperti peringatan. Berani masuk kuhajar kau. Nyali Hamo melempem. Teringat begal yang remuk redam dihajar pecut.
Lalala...beginikah rasa jatuh cinta. Ingin selalu bersama. Sayang hanya kecewa yang mencegatnya.
__ADS_1