
Alangkah sulit mengubah image tentang hantu. Karena sudah terlalu kuat berakar. Sudah terlalu ngakik. Seperti menegakkan benang basah saja. Kesalahan orang tua dulu juga mengapa selalu-anak anaknya yang rewel dengan hantu yang menyeramkan.
Mata rantai kesalahan itu harus diputus. Dialah yang menjadi orang yang pertama. Sampyuh tidak pernah mendidik Gono anak semata wayangnya dengan teror hantu sebagai sosok menakutkan.
Tak mau mengulang kesalahan yang sama. Sejak kecil dia menanamkan di benak anaknya kalau hantu itu bisa lucu dan ramah. Kadang juga bisa manja dan gabut. Seperti hantu pocong dibawanya. Lagi gabut dengan leyeh leyeh di pohon jati. Kayak kurang kerjaan saja.
Berkat didikan yang benar, sekarang anaknya tinggal di rumah angker juga bukan masalah berarti. Fine fine saja. Bahkan bisa tinggal di sana gratis. Sampyuh tahu Gono bukan anak yang hebat. Dia hanya mengubah persepsi saja.
Kejadian di pom bensin sebagai buktinya. Belum mampu mengubah image yang keliru. Penjual angkringan tidak bisa memperlakukan pembeli dengan baik. Bukankah katanya pembeli itu raja. Mana buktinya? Apa karena pocong nggak boleh beli kopi.
Sampyuh segera meninggalkan pom bensin yang telah berubah lengang kayaknya kuburan itu. Daripada dianggap cari perkara.
"Mbok kalau kamu ngantuk, aku biar gantian yang di depan," pocong menawarkan diri.
"Husshh kamu bisa nyetir moge?"
"Weladalah...bapakku dulu punya punya moge tiga. Moge mainanku sejak kecil."
"Sekarang mogemu dimana?"
"Dijual semua. Bapak kecantol mama muda," jelas pocong.
Sampyuh tertawa bergelak gelak. Kalau dia sendirian mana bisa dia dapat hiburan segar. Tak rugi memboncengkan pocong lucu ini. Moge terus melaju. Sampyuh tak berani menyerahkan moge pada pocong. Dia takut itu hanya bualan si pocong. Tapi lumayan rasa kantuknya sedikit berkurang.
"Cong, mengapa kamu berjoget joget di boncengan," protes Sampyuh. Pocong seperti kegirangan.
"Ada mobil di belakang kita Mbok. Ada yang memvideo kita. Sebentar lagi kita jadi viral Mbok," ucapnya ceria.
Mobil itu setelah puas memvideo langsung memberi kode agar Sampyuh berhenti. Sampyuh menuruti. Di dekat sana ada kantor polisi, tentu mereka tak gegabah untuk berbuat jahat.
"Bu ini pocong asli atau palsu," kata pemuda yang turun dan didampingi perempuan cantik. Mungkin pacarnya mungkin istrinya. Ah tidak penting amat.
"Palsu Mas. Tadi habis main drama horor belum sempat ganti kostum. Keburu malam."
"Boleh kami mengajak rekan ibu untuk selfi?"
__ADS_1
"Boleh, silakan."
Mereka berempat bergaya bebas. Cekrek.
"Namanya siapa Mbak," tanya pemuda ganteng itu.
"Posi, pocong seksi," jawabnya.
"Kostum Mbak bagus banget, mirip aslinya," perempuan cantik memujinya.
"Terima kasih." Jawab Polisi.
Mereka berdua kembali ke mobil setelah memberi tanda jempol.
Hmm ... hanya mengubah image bisa jadi lucu. Coba kalau dia jawab asli. Tentu mereka bakal kabur ketakutan.
Di dalam mobil itu, bos Agus tak habis pikir, dalam keadaan terpojok Sampyuh masih bisa menundukkan tiga orang jagoan yang disewanya. Padahal dia yakin Sampyuh akan bertekuk lutut tak lama lagi.
Heran juga, bagaimana tiga orang gagah ini malah membuang senjata ruyung andalannya. Mereka berlari dan masuk ke mobil dengan wajah pucat dan ketakutan.Padahal kemenangan sudah berada di depan mata.
"Bagaimana ceritanya kalian malah membuang ruyung senjata kalian," tanya bos Agus heran. Tapi diam diam menghapus kehebatan Sampyuh.
"Senjata ruyung telah berubah jadi ular kobra, siapa tidak ngeper," kata lelaki bersaudara paling tua.
"Kalian hanya salah liat," tanyanya lagi.
"Tidak. Berkali kali kami berusaha mematahkan sugesti itu, kobra itu mau mematuk mata," sahut adiknya.
Angga memang benar. Sampyuh memang bukan perempuan sembarangan. Dia akan meminta anak buahnya untuk bisa merebut dan merekut Sampyuh. Memelihara satu macan lebih mantap dibandingkan 10 ekor anjing. Tapi kata Angga tidak gampang mendekati Sampyuh.
Perempuan ampuh itu begitu cuek dan tidak butuh. Padahal bos Agus sekali tenaganya. Sudah lama dia jadi sapi perasan orang orang yang tidak jelas pekerjaannya itu. Dikasih terlalu banyak anggaran yang keluar. Tidak dikasih selalu membuat kekacauan. Bahkan berani mengancam keselamatan. Kalau Sampyuh berada di sampingnya membuatnya merasa tenang.
Mereka tak bakal berani macam macam. Bodiguard tak harus berbadan besar dan kekar. Lemah lembut tapi daya ledaknya nggegirisi. Satu tapi powerful. Betapa lewat pandangan mata sanggup menundukkan musuh musuhnya. Inilah bodiguard yang dicari. Inilah bodiguard idaman.
"Ngga, entah bagaimana caranya, kamu harus bisa merebut hati perempuan pendekar itu. Ada bonus khusus untukmu. Dia minta apa saja turuti. Mau minta moge pun, kasih saja. Supaya dia tidak pinjam pak lurah," pesan bos Agus.
__ADS_1
"Oke bos," ujar Angga mantap. Kalau bos sudah janji, bonusnya mantap sekali. Dulu dia pernah dibelikan mobil.
Angga juga sudah kesal dengan orang orang yang meminta jatah tidak resmi itu. Mereka memang cari enaknya saja. Kerja nggak mau, maunya menikmati hasil tanpa keluar keringat.
Sarangan, 22 Jan 23 (08.29)
Lelah itu sudah pasti datang merajamnya. Setelah semalaman kurang tidur. Baru tidur satu jam harus bangun lagi. Harus membantu bu Lurah Jombik yang jualan bumbon di pasar gabus. Rutinitas harian yang harus dijalani.
Tapi sekarang sungguh beda suasana hatinya. Rumah sudah tak memancarkan kehangatan. Sejak kuliah, belum sekalipun Gono anaknya pulang. Sudah kerasan tinggal di kota bersama hantu hantunya. Pangat suaminya malah hilang tak tentu rimbanya. Apakah Pangat sudah tidak kangen padaku, bisik Sampyuh dalam hati.
Apakah Pangat sudah terlena dengan perempuan yang dipergokinya di rumah makan ikan bakar itu? Kalau tidak ada pocong bernama Posi, mungkin dia bakal kesepian tinggal di rumah sendirian. Alam memang selalu memberi keseimbangan. Tak ada Pangat dan Gono, muncullah Posi, hantu lu
Tubuh masih gembreges. Masih lungkrah. Pasar gabus masih berselumut gelap ketika dirinya dan bu lurah sampai di kios. Beberapa kios sudah ada yang buka tapi ada juga yang masih tutup.
Pasar sudah menggeliat dan bernyawa. Hari ini hari pasaran. Sar pon, ramai ramainya pembeli. Sebentar lagi, pasar akan tumpah v manusia dengan beragam kepentingan. Sampyuh sudah membuka kios meski gelap masih setia menyelimuti.
Kalau dia menerima tawaran Angga, siapakah yang akan membantu bu Lurah? Dia tak mau dianggap kacang lupa akan kulitnya. Sudah 20 tahun dia membantu di sini. Hingga terbangun jembatan emosi yang sangat kuat dengan keluuarga orang nomor datu di desa Jombik itu. Sebenarnya tanpa jualan bumbon pun, hidup bu lurah sudah hidup berkecukupan.
Sawahnya bertebaran dimana mana, bisnis arisan sepeda motor menggurita, masih ditambah rental mobil yang sukses, tentu sangat cukup untuk menyambung hidup. Tapi hidup tak melulu kebutuhan perut, tapi perlu juga hiburan.
Berjualan bumbon di pasar gabus adalah hiburan buat bu lurah.
Ketika baru beres beres itulah, seorang laki laki dengan tas punggung besar nampak mempertahankan tas punggung yang ditarik dua lelaki yang hendak berniat jahat. Tentu saja Sampyuh mengenal dengan baik lelaki yang selalu berpenampilan necis itu.
Dia pemilik dua toko emas di pasar gabus ini. Namanya Om Jek. Kalau dia nekad mempertahankan tas besar itu. Isi tas itu bukanlah barang sembarangan.
"Bu Lurah aku ke toilet sebentar ya," Sampyuh pamitan.
"Baru datang kok sudah ke toilet Pyuh," bu lurah memberi izin setengah hati.
Sampyuh tidak menggubris langsung berlari ke belakang.
Om Jek sekuat tenaga mempertahankan itu. Tapi dia langsung menyerah begitu salah seorang dari mereka mengeluarksn pistol. Dia lebih sayang nyawanya. Dua orang yang memakai tutup kepala itu, segera bergerak cepat menuju mobil yang masih menyala mesinnya. Satu orang sopir menunggu di dalam.
Orang orang hanya bisa melongo. Mereka tak berani mendekat karena pistol selalu diacungkan dan siap menyalak.
__ADS_1
Seorang perempuan bungkuk dan bertopeng buruk, berdiri di depan pintu mobil dengan tongkat menyangga tubuhnya yang bungkuk.