
Bos Agus dan Angga hanya berdiam di dalam mobil. Mereka memang ingin menyaksikkan seberapa Sampyuh. Mereka menyewa tukang profesional yang bersenjatakan ruyung.
Mereka tiga bersaudara dan sangat kompak ketika bermain ruyung. Mereka memang ahlinya. Kalau Sampyuh benar benar perempuan perkasa tentu bisa mengatasinya. Angga merasa jantungnya lebih cepat berdetak dari biasanya.
Dia khawatir kalau tiga orang bersaudara itu sanggup mengalahkan Sampyuh, celaka 13, dirinya dianggap telah memberikan laporan palsu. Bisa jadi Sampyuh akan mendapat lawan yang tidak enteng di tengah hutan jati malam ini. Angga memang pernah melihat permainan ruyung tiga orang tukang kepruk ini. Serangannya benar benar mengurung dan saling melengkapi.
Bisakah Sampyuh menandinginya? Tenaganya sudah terkuras melawan laki laki bertato naga dan anak buahnya. Dengan sisa sisa tenaga masihkah Sampyuh mempunyai kekuatan untuk menghindar dari serangan ganas itu.
Angga menahan napas ketika ketiganya terus menyerang begitu Sampyuh tidak mau menuruti permintaan mereka untuk menyerahkan moge dan pulang dengan jalan kaki. Tentu ini sebuah penghinaan yang besar. Ini memang dimaksudkan untuk memancing Sampyuh. Hanya cari gara gara.
Bos Agus sudah meminta tiga tukang kepruk itu untuk tidak perlu sungkan sungkan. Langsung main keroyok saja. Tiga ruyung yang dimainkan dengan kecepatan tinggi menimbulkan suara menderu deru yang mengerikan sekali. Sekali terkena tulang bisa retak atau patah.
Kali ini Sampyuh merasakan lawan yang dihadapi lumayan berat. Dia merasa tidak muda lagi. Tenaganya juga tidak lagi fresh. Dia memang masih bisa menggunakan sisa sisa tenaga untuk terus menghindar dan menghindar. Hujan ruyung tiada henti dan semakin rapat.
Mereka memang ingin memojokkan dirinya agar terjun ke jurang. Sampyuh meraba punggungnya dan dia spontan tersentak kaget ketika merasakan pecut itu tidak berada di tempatnya. Apakah senjatanya terjatuh ketika dia berlari cepat menuju tempat parkir ini. Sampyuh tidak bisa memikirkan lebih jauh.
Serangan itu seperti hujan deras yang terus memburu dirinya.
Tiga tukang kepruk itu juga heran mengapa perempuan yang naik moge ini memiliki kecepatan biasa. Jauh sekali dari manusia normal. Ucapan bos Agus tidak hanya omong kosong belaka. Tapi mereka merasa sangat yakin kemenangan tinggal menunggu waktu saja. Perempuan itu sudah berada di bibir jurang.
Tinggal satu serangan lagi, perempuan itu akan terkena ruyung dan akan terlempar ke jurang.
"Bagaimana kalau minta ampun pada kami dan terus pulang dengan jalan kaki, persoalan kita selesai," kata salah seorang tukang kepruk bersuara parau. Sampyuh melihat ke bawah. Jurang ini memang dalam sekali. Tubuhnya bisa remuk redam kalau jatuh ke bawah.
"Gimana Ngga, perempuan itu, tak ada apa apanya," kata Bos Agus.
__ADS_1
Angga heran mengapa perempuan perkasa itu tidak mengeluarkan senjata pecut andalannya. Apakah dia mau bunuh diri.
"Jangan bunuh dia Bos," pinta Angga memelas. Sekarang semua tergantung bos Agus. Sekali dia beri perintah menyingkir, tiga orang gagah itu, tak akan melanjutkan serangan maut terakhirnya.
Hidup tidak selalu menang. Sebagaimana roda tidak selalu di atas. Hidup bisa juga berisi kekalahan. Bukankah hidup itu hanya menunda kematian. Sampyuh sadar posisi dirinya yang tidak menguntungkan malam ini. Posisi sangat lemah dan tak berdaya sama sekali.
Tanpa memegang pecut, dirinya hanya bisa menghindar dan terus menghindar. Tanpa ada serangan balik yang bisa merepotkan mereka, kekalahan dirinya hanya masalah waktu. Ini terbukti benar adanya. Andai ada pecut di tangan, dia tak akan kerepotan seperti sekarang ini. Dia seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.
Dia sadar memang sembrono dengan tidak mengecek senjata andalannya. Kalau ada pecut bisa jadi ceritanya akan lain. Paling tidak serangan suara pecut bisa merusak konsentrasi mereka. Di lain kesempatan dia juga bisa merobek gendang telinga mereka. Ah, sudahlah itu sekarang hanya menjadi halusinasinya saja. Dia harus sanggup menerima pil pahit kekalahan ini.
Mengapa hidupnya mesti berakhir tragis di tengah hutan jati seperti ini. Jauh dari anak dan suami. Jauh dari keluarga. Dia juga menyesal karena tak bisa menjaga motor gede pinjaman pak lurah desa Jombik.
"Pangat, Pangat, aku tidak menyesal kalau harus menerima nasib tragis di sini. Ini bukti rasa cintaku padamu yang sama tidak tergerus oleh waktu," sesal Sampyuh dalam hati. Entah kenapa dia jadi teringat kervau dan sapinya di rumah yang mungkin tak ada yang mengurus lagi.
Dalam temaram malam dan sisa sisa reruntuhan cahaya rembulan, Sampuh tersinggung hebat.
Dirinya tak mau dilecehkan dipermalukan seperti. Mereka beruntung sekali, dirinya tidak memegang pecut malam ini.
"Ayo kita teruskan pertarungan ini," ucapnya tegar meski dalam sekali gebrak oleh tiga lelaki gagah bersenjata ruyung itu, nasibnya akan berhenti di jurang sana yang sangat dalam itu.
Tiga lelaki bersaudara itu seperti kompak. Mereka tertawa bergelak bersama sama. Kemenangan sudah 99 persen di tangan dan nyatanya perempuan keras kepala itu memang seperti memilih kehilangan nyawa daripada dipermalukan dan dilecehkan. Mereka pun bersiap untuk melakukan serangan pamungkas.
Mereka juga tidak sudi hanya bisa main gertak belaka. Mereka juga ingin membuktikkan kalau ucapan mereka tidak kosong melompong. Kecuali bos Agus yang membayar mereka memintanya untuk menghentikan serangan. Nyatanya tidak ada perintah untuk itu. Jadi mereka siap mengubur perempuan
perkasa dan keras kepala ke dalam jurang bawah sana.
__ADS_1
Dalam kondisi kepepet seperti saat ini, Sampyuh teringat satu ilmu yang diajarkan gurunya: Ki Slameto. Setahun sebelum meninggal, gurunya mengajarkan ilmu pamungkas. Menundukkan musuh tanpa senjata.
Ternyata di saat genting, ini menjadi pilihan terakhir. Meski demikian Sampyuh juga ragu sendiri karena ilmu ini tak pernah digunakan. Hanya sekali saja digunakan ketika gurunya memintanya melawan begal dari bukit pencu. Waktu itu dia masih belum menikah. Alangkah lamanya peristiwa itu terjadi.
Ilmu yang mempengaruhi pikiran lawan dengan tatapan mata. Tiada salahnya dia mencobanya sekarang. Daripada mati jatuh ke jurang lebih baik melakukan perlawanan yang terakhir. Semut pun kalau diinjak toh juga akan melawan.
Sementara Angga sudah berada di titik puncak kesabarannya.
"Bos, tolong minta ketiganya untuk mundur," pintanya dengan suara hampir meratap. Sang Bos kelihatannya tidak menggubris ucapan Angga. Dia tidak menggubris sama sekali.
Angga tentu jadi tidak sabar. Dia tidak tega melihat Sampyuh yang sudah tidak berdaya dengan berdiri di bibir jurang masih juga mau dihabisi. Pertarungah juga tidak adil. Sama sekali tidak fair. Satu perempuan dikeroyok tiga lelaki sementara sang pengeroyok masih juga bersenjata ruyung. Angga tidak terima.
Kalau terjadi pembunuhan malam ini di hutan jati, dirinya sudah pasti akan terseret urusan polisi. Daripada penyesalan mencegatnya kemudian, lebih baik menegah dulu saja. Tak sabar Angga ingin turun dari mobil, tapi tangannya dipegang sang bos.
"Mau kemana kamu?" tanya bos Agus.
"Turun. Aku tak mau terjadi pembunuhan di depan mataku," ujar Angga dengan nada sangat jengkel.
"Sabar dulu, lihat yang terakhir yang terjadi," cegahnya.
Angga melihat di luar lagi. Sepertinya tak ada perkembangan yang berarti. Sampyuh masih berdiri di pinggir jurang. Masih juga tanpa senjata. Tapi ada sesuatu yang baru. Sampyuh terlihat mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya. Cahaya rembulan yang tengah purnama. Masih ditambah sorot lampu mobil meski dari samping cukup membantu penglihatannya.
"Sebelum aku mati, lihatlah ini," Sampyuh memperlihatkan kunci kontak moge di dekat telinga. Supaya dia bisa bertatap mata dengan ketiga. Spontan tiga lelaki gagah yang sudah siap dengan ruyungnya meligat benda yang ditunjukkan Sampyuh. Mengapa hati perempuan itu jadi lunak? Rupanya dia juga takut mati. Berarti tanda menyerah dengan menyerahkan kunci moge itu. Mereka bertiga gembira. Ada bonus istimewa kalau mereka bisaengalahkan perempuan perkasa ini. Sudah pasti bos Agus menyaksikkan mereka dari balik kaca mobil mewahnya.
Mereka tak perlu mengakhiri hidup lawan kalau Sampyuh sudah menyerah.
__ADS_1