
Ada rasa bersalah menghantui pikiran Pangat. Meninggalkan Sampyuh begitu lama. Tentu dia pontang panting ngurus rumah sendirian. Dia juga kangen pada kerbau, sapi dan kerbaunya di rumah. Rumahnya yang kumuh namun senantiasa mendendangkan kenangan tak gampang dilupakan. Warung kopi di samping rumahnya, masihkah ramai seperti dulu? Di sini di rumah pak camat yang bagus dan bersih, Pangat tak bisa merasakan kenyamanan seperti ketika dia berada di rumahnya sendiri.
Istrinya masih sayang padanya. Kalau tidak sayang, Sampyuh tidak akan berjibaku melawan preman dekat terminal. Istrinya memang perempuan perkasa. Di matanya malah terlalu perkasa. Pangat merasa dia takut dengan bayangannya sendiri. Apalagi ketika dia kepergok makan berdua dengan Hangi, bertemu dengan Gono dan malah tertangkap basah oleh Sampyuh.
Dirinya seperti orang pelarian dengan hati yang selalu tidak tenang. Bagaimana kalau sampyuh istrinya memergoki? Istrinya seperti hantu yang bisa muncul kapan saja, isterinya bisa nongol dimana-mana dengan moge pinjaman pak lurah Jombik. Pergerakannya jadi sangat cepat. Dia tidak tahu kapan Sampyuh belajar naik moge?
Pangat yang ada di kamar tamu sendirian kemudian didatangi pak camat.
"Belum tidur kamu Ngat?" tanya pak lurah yang baru selesai mengerjakan tugas kantor.
"Belum Pak Cama. Aku kok pengin pulang ke rumah," tiba-tiba Pangat mengungkapkan gemuruh hatinya.
"Kamu di sini saja. Kalau kamu pergi siapa yang ngurusi Hangi tukang sapumu itu? Terus terang aku takutkalau kau tinggal sendirian. Bagaimana kalau malam-malam Hangi mendatangiku? Sementara dirimu sudah terlanjur pulang ke desa?"
"Aku homesick sekali," bibir Pangat meletupkan rindu.
"Gini saja, bagaimana kalau istrimu diboyong ke sini saja. Ada tiga kamar yang kosong, kamu tinggal mau pilih yang mana saja mau kau tempati," pak camat menawarkan kebaikan yang tidak pernah terputus.
Pangat sangsi istrinyamau pindah dari desa Jombik. Keterikatan batinnya dengan Jombik tak mungkin bisa pudar. Dia saja merasa tidak gampang melupakan begitu saja. Tapi dia akan mencoba membujuk istrinya.
Pak camat berharap bujukan Pangat berhasil. Yang menggganjal di kepalanya hanya satu. Hangi yang sering menyapu rumah itu kalau tiba tiba menjadi liar dan ganas, dia bisa apa? Pangat ini memang aneh-aneh saja, hantu kok dipekerjakan. Tapi idenya kreatif juga. Beberapa temannya ada yang minta jasa Pangat untuk menjinakkan hantu. Pangat mendapat upah yang lumayan.
Desa Jombik yang tenang jadi gempar. Gono pulang mendadak. Sejak tiga bulan kuliah, belum pernah pulang. Apalagi dia pulang dengan naik moge baru warna hijau. Persis miliknya pak lurah. Tapi jauh lebih kinclong. Motor baru. Warga yang melihatnya banyak yang takjub. Gono meski kuliah sudah jadi orang sukses.
__ADS_1
"Mogene sapa kuwi Gon," Sampyuh langsung mendelik begitu Gono berhenti di depan rumah. Dia paling tidak anak lelakinya terlalu banyak gaya. Ke sana dia untuk kuliah bukan untuk hehakhehek. Apalagi anaknya datang bersama Hana, cewek yang ditemuinya di rumah makan bareng Pangat suaminya juga bersama perempuan cantik. Bapak dan anak satu paket, sama saja. Teringat itu hati Sampyuh jadi meranggas.
"Pak kos. Fasilitas bagi anak kos," kata Gono terus terang. Ternyata kos di rumah angker itu betul betul menyenangkan. Tapi dia juga heran, yang menghuni di kos itu hanya seorang. Berarti dia seorang yang menaiki moge itu. Pak kos memang aneh tapi baik hati. Asal tidak merugikan dirinya, Gono bisa tersenyum penuh kepuasan.
"Uripmu penakmu Gon. Kosmu wes gratis. Masih dapat pinjaman motor baru. Tapi aja mbagusi kaya bapakmu Gon," kata Sampyuh sengit. Sepertinya anak lelakinya semata wayang punya darah mbagusi nurun bapake. Tapi diam diam Sampyuh mengamati dengan seksama, moge baru ini mirip sekali dengan moge yang dibawa Angga tempo hari. Mungkin hanya kebetulan saja. Moge buatan pabrik tentu memproduksi banyak sekali. Warna sama sangat mungkin terjadi.
Nanti Gono pasti akan cerita sendiri. Dia tetap menghargai perasaan anaknya. Tapi kalau moge itu suatu hari ada hubungannya dengan Angga, dia akan bertindak tegas. Ini pasti ada apa apanya.
Hana yang turun dari motor, terkejut melihat rumah Gono yang kurang begitu layak. Simboknya Gono juga terlihat sangar. Baru kali ini dia melihatnya dengan sangat cermat. Malam malam dulu memang pernah bertemu.
Gono tak bisa berkutik diminta Simbok untuk ngarit. Meski ada Hana, simbok tak rikuh menturuh untuk melakukan pekerjaan yang menjadi rutinitasnya dulu. Gono menuruti saja permintaan itu. Namun dia ingin tampil keren. Kalau dulu dia ngarit dengan motor yamaha bobrok tanpa lampu tanpa spion dan sadel dengan kulit yang robek robek. Sekarang dia ingin tampil keren. Pakai moge untuk ngarit.
Anak pak Pangat dan Simbok Sampyuh sekali sekali tampil keren.
"Ngarit?" tanya Hana terlihat bloon. Kosa kata itu terasa asing di telinganya.
"Cari rumput untuk ternak sapi," jelas Gono. Anak kota mana tahu kata itu. Tentu Hana mengiyakan saja. Takut sendirian di rumah ini.
Di samping takut melihat simboknya Gono. Tadi matanya sempat melihat picong yang bersliweran di depan lemari. Mungkin dia tengah cari perhatian. Ada tamu yang akan menghuni rumah ini. Hih... Ngeri sekali. Nanti habis ngarit, dia akan meminta Gono untuk segera pulang saja. Tak berani berlama lama di rumah ini. Serem sekali. Simboknya Gono bisa bisanya nyaman tinggal di sini.
Gono menyerahkan arit dan glangse pada Hana.
Sampyuh tang melihat Gono ngarit dbil menaiki moge, terlihat geleng geleng kepala. Pancen mbagusi tenan bocah itu. Kalau tidak sedang bersama ceweknya, tentu dia akan memarahinya habis habisan. Gono pintar untuk menyelamatkan diri murkanydi a.
__ADS_1
Moge baru itu terlihat meninggalkan pelataran rumah simbok.
Ngaritnya dimana Gon?" tanya Hana di atas boncengan.
"Di padang rumput dekat hutan," jelas Gono.
"Jauhkah dari sini?" tanya Hana lagi.
"Paling 20 menit dari sini," jawab Gono.
Baru dalam sejarah, Gono ngarit ditemani rekan kuliahnya. Biarlah Hana merasakan suasana kas desa. Dia nanti pulang dengan membawa rumput segar. Sekali sekali selfi dengan background seglangse rumput. Ini tentu jadi pemandangan unik.
Tidak butuh lama untuk sampai di sana. Gono langsung memarkir moge barunya. Sejauh jauh mata memandang hanya rumput yang menghijau. Gono mengajak Hana untuk melihat kali sebentar baru merumput. Hanya butuh 15 menit saja untuk ngebaki glangse itu. Dia pengarit yang profesional.
"Kita ke kali sebentar ya, airnya cukup bening dan dingin," ajak Gono. Dia membawa Hana di balik bukit kecil. Moge dibiarkan jauh terparkir. Gono memastikan aman. Tak ada maling di sini.
Hana tak bisa menolak. Daripada meligat pemandangan pocong, lebih mantap menikmati padang rumput dengan kali yang bening seperti yang dijanjikan Gono. Ucapan Gono memang benar. Kali di sini masih bagus. Hana segera melepas sepatu dan menceburkan kakinya di kecipak air sungai. Gono mengajaknya bercanda. Menyiram air itu ke kaosnya.
"Gon aku nggak bawa ganti," protes Hana.
"Nanti beli baru," jawab Gono. Dia lagi banyak uang. Pemilik kos lagi promo menebarkan kebaikan dengan memberi uang bensin satu juta.
Gono teringat masa kecilnya di sini. Dia kerap diajak bapak mancing di kali yang ada pohon bambunya itu.
__ADS_1
Setelah puas keceh di kali, Gono segera kembali ke tempat motor, arit dan glangse diparkir tadi. Jantung Gono mau melompat dari tempatnya. Moge baru itu sudah tidak ada di tempatnya. Wajahnya langsung pucat. Dia terlalu sembrono dengan tidak mencabut kunci kontaknya.