HALUSINASI COWOK KARISMATIK

HALUSINASI COWOK KARISMATIK
Bab 35


__ADS_3

Kutunggu di sini dengan rasa rindu yang melingkar-lingkar tak tertahankan. Tampaklah dirimu Pangat ketika hati ini sudah dipenuhi beban rindu bergelombang tak kenal henti. Sudah lama kita tidak bercinta. Apakah rindumu padakui sudah beku? Malam ini hatiku tidak berteman. Seberapa lama lagi kau akan menghilang dari sisi hatiku Pangat?


Aku ingin bertemu denganmu di sini dan kita pulang bersama naik moge. Biarlah aku yang memboncengkanmu. Kita tekuk kemarahan dan kebencian kita malam ini. Dengarkanlah Pangat, nyanyi sunyi seorang perempuan bernama Sampyuh di sini. Kita kembali ke desa Jombik malam ini Semalam apapun aku tidak peduli yang penting kita bersama lagi. Kau tak usah pergi ke kota lagi. Kalau kau kangen sama Gono, kita bisa bersama menemui Gono.


Aku sebagai simboknya juga punya rasa kangen pada anak itu. Pangat di dunia mana dirimu menyembunyikan diri? Sudah kuubek-ubek seluruh penjuru angin kota ini, hasilnya nihil belaka. Membuat hatiku kian terluka dan merana. Kalau aku tidak bisa menemukan dirimu, kuharap engkau yang akan mencari aku. Biar kangen kita meneukan perimbangan.


Kutunggu di sini sampai hampir tengah malam. Tadi di warung nasi goreng Pak Ndut, yang konon paling enak di kota ini, aku juga berharap kamu akan menampakkan diri. Kita bisa makan bersama. Biarlah aku yangmembayar semuanya. Uang saku dari pak lurah Jombik sangat lebih dari cukup untuk sekadar makan nasi goreng berlauk paha ayam dan telur ceplok mata sapi kesukaanmu. Kamu boleh makan dua porsi Pangat, seperti biasanya. Dirimu memang paling kuat makan kalau menunya nasi goreng.


Tapi Pangat... tak juga engkau menampakkan batang hidungmu.


Mataku hampir meredup dan mengantuk dan aklu terkejut ketika kau menampakkan dirimu di balik kamar paling pojok di lantai bawah itu. Akhirnya kau datang juga Pangat. Aku rindu padamu Pangat. Aku sudah tidak perlu lagi menunjukkan rasa kangenku.


Aku berdiri dari kursi. Melambaikan tangan ke arahmu.


"Pangat... Pangat!" aku melonjak kegirangan seperti anak TK yang mendapat bagian gula-gula dari gurunya.


"Tunggu aku, aku akan segera turun. Kulihat Pangat juga melambaikan tangan ke arahku. Kemana dirimu selama ini to Pangat?


Aku segera berlari turun ke lantai satu, menemui Pangat yang tadi melambaikan tangan ke arahku. Cihui ... akhirnya kita bisa ketemu di sini Pangat.


"Pangat..." aku memanggil namanya dengan bibir kelu dan bergetar.


Dua lelaki bertubuh gempal yang sedang duduk dan kudekati.


"Mas, melihat Pangat suamiku di sini tadi?" tanyaku menyimpan nada gembira tak terkira.


"Pangat?" dia mengangkat alis.

__ADS_1


"Oh ada, tadi masuk ke kamar kami," kata lelaki satunya yang segera menarik tangan Sampyuh untuk masuk ke kamar. Dua lelaki dengan mulut berbau minuman keras yang nyegrak itu langsung masuk bersamaan.


"Cekreeekkk ,"pintu terkunci. Aku terdiam di kamar.


"Lumayan dapat gratisan. Bodinya masih oke," kata salah seorang dari mereka.


Dua lelaki gempal itu menyeringai seperti srigala kelaparan dan dari mulutnya menetes netes air liur.


"Ampun Om, jangan ganggu aku Om," Sampyuh menghiba pada mereka.


"Tentu kami lepaskan, setelah main main sama kami," lelaki brewokan itu tersenyum puas. Dia paling senang dan nikmat melihat korbannya yang tidak berkutik dan menghiba penuh kepasrahan.


"Ampun Om, aku orang jauh. Mau cari suami. Biarkan aku keluar dari kamar ini Om," Sampyuh terpojok seperti binatang tersudut. Tak ada ruang untuk melepaskan diri.


"Lupakan suamimu.


Siapa namanya tadi...Pangat...hahaha nama yang sangat ndesani. Nanti main main dan bersenang senang di sini, aku bantu cari suamimu," kata lelaki yang tubuhnya sedikit lebih pendek.


Si brewok rupanya sudah tidak lagi bisa menahan diri. Dia ingin membopong tubuh Sampyuh yang masih ranum itu.


Sekali rengkuh tangannya yang berotot itu tentu akan sanggup melemparkan tubuh Sampyuh terbang ke atas kasur. Dia segera bisa menikmati hidangan gratis. Salah sendiri mengapa masuk ke sarang harimau. Begitu tangan berotot itu hendak menyentuh tubuhnya, Sampyuh dengan cepat berkelit. Lelaki Brewok itu tersenyum.


Mangsanya kali ini cukup lincah dan menggemaskan. Untuk bisa menikmati hidangan gratis ternyata harus mengeluarkan keringat terlebih dulu. Tidak apa apa sekalian pemanasan. Kijang lincah ini boleh juga. Tak disangkanya akan bisa menghindar secepat itu.


"Om jangan," Sampyuh berpindah ke sisi pojok yang lain.


Lelaki yang lebih pendek membantu sahabatnya.

__ADS_1


Dia ingin merangkul Sampyuh, namun lagi lagi mengenai tempat yang kosong. Bagaimana di tempat yang sempit, perempuan ini bisa lincah menghindar. Mereka berdua dengan kompak memburu Sampyuh sampai napas mereka ngos ngosan.


"Kamu bisa diam, atau aku akan menjeratmu dengan sabuk ini," lelaki brewok melepas sabuknya. Pandangannya begitu bengis tanpa menyisakan rasa iba.


"Kasihanilah aku Om, orang desa yang tengah cari suami, tapi kemalaman di sini," Sampyuh terus minta dikasihani. Lelaki brewok dan makin mendekat. Sahabat si brewok tersenyum. Mau dijerat lehernya ternyata bisa pasrah juga. Jemari tangan menekan tombol sakelar. Seketika ruangan gelap gulita.


Siomay Empek Empek


Sampyuh memang sengaja mematikan lampu kamar Dalam gelap dia malah leluasa bergerak. Tangannya merebut sabuk di tangan laki laki Brewok itu. Si Brewok terkejut, dia semula menyangka perempuan gesit hendak mengajaknya main main di tempat gelap.


Mungkin malu di tempat terang benderang.Tak tahunya malah merebut sabuk di tangan. Sabuk dari kulit asli itu menghajar punggungnya tiga kali. Sakitnya bukan kepalang.


Rasanya sampai menembus tulang. Temannya juga mengaduh kesakitan. Terus diam, mungkin pingsan. Si Brewok juga mulai kehilangan kesadaran. Dia malam ini salah memilih korban.


Jemari lentik Sampyuh menekan tombol saklar lagi. Lampu menyala terang benderang. Dia melemparkan sabuk ke arah tubuh si Brewok yang tengkurap di lantai. Terlihat dua lelaki sudah kehilangan kesadaran karena tidak kuat lagi menahan sakit.


Sebenarnya dalam sekali gebrak Sampyuh bisa membuat dua lelaki mabuk itu terjengkang. Dia sengaja mengulur waktu.Ternyata mereka sama sekali tidak memiliki rasa iba. Andai dia perempuan lemah, tentu sudah menjadi mainan mereka berdua.


Sampyuh membuka pintu yang terkunci, ternyata hanya segitunya kemampuan dua lelaki gempal. Sama sekali tidak sebanding tubuh mereka yang besar. Dihajar tiga kali cambukan saja sudah memble.


Sampyuh yakin tadi dia melihat Pangat di sini.


Mengapa dia begitu cepat dia menghilangkan diri. Dia mengitari hotel yang tidak begitu besar. Memang tak menemukan sosok suaminya. Ataukah semua itu hanya bayang bayang kerinduannya yang sudah tidak lagi bisa dicegahnya lagi.


Ah malam ini dia ingin pulang ke desa Jombik saja. Bukannya takut aksi balas dendam dua lelaki yang hendak berbuat kurang ajar padanya. Di kota ini terlalu banyak musuh.


Rencananya yang semula berada di sini dua atau tiga hari. Dipercepat menjadi satu hari. Sampyuh keluar hotel dengan naik moge setelah menyelesaikan administrasi hotel.

__ADS_1


Pikirannya masih berkelebat kelebat. Semoga di tengah perjalanan pulang, Pangat mencegatnya di pinggir jalan dan mereka bisa pulang bersama.


Kebahagiaan terindah yang mampir dalam hidupnya. Cita cita sederhana ingin berkumpul kembali dengan Pangat rasanya menjadi sebuah kemewahan.


__ADS_2