
"Kamu memang licik sekali Gon!" Jemari suster menunjuk nunjuk langit. Amarahnya menggelegar. Menggetarkan jendela kaca.
"Licik gimana Sus?" Gono terlihat bloon.
"Oh masih mau minta bukti? Siapa yang suruh semua hantu kerja bakti. Dari jam 3 sampai menjelang magrib. Sampai kami kecapekan."
"Loh itukan buat lingkungan kita sendiri, biar terlihat rapi dan bersih."
"Tapi ada udang di balik batu kan. Hantu modis mana? Kan tidak ikut kerja bakti."
"Sudah izin aku."
"Minggat kemana?"
"Shooting iklan shampoo untuk hantu yang berambut keriting. Dia kan sudah terikat kontrak," jelasku, masih mencoba mendinginkan hati suster yang terpanggang bara.
"Alasan saja. Setelah kami kecapekan setelah kerja bakti dan tidur pulas. Kamu dan hantu modis mengendap endap ke kuburan kan! Hayo ngaku saja."
Gono hanya bisa menatap bisu. Rasanya aman aman saja tadi malam. Mengapa suster bisa memergokinya. Sesuatu yang menakutkan Gono jadi kenyataan.
"Habis itu kalian makan sate kan," kata suster sangat menohok. Mata indah itu hadi mengerikan sekali. Gono benar benar tersudut.
"Mengapa kamu tidah bergabung sekalian dengan kami?" Gono masih mencoba memadamkan api amarah yang sudah berkobar kobar panas itu. Nyatanya malah makin mbumbung besar dan makin menyala panas.
" Ora sudi. Buat peraturan tidak boleh keluyuran di warung sate, nyatanya malah dilanggar sendiri."
Suster benar benar marah besar. Dia mengeluarkan HP dan menelpon taksi langganannya. Minta dijemput.
"Mau kemana makam malam" tanya Gono heran. Khawatir juga dengan keselamatan suster. Sekarang ini banyak kejahatan asusila.
__ADS_1
"Terserah aku. Mau minggat. Aku hanyalah duri dalam daging di rumah ini. Have a nice day with hantu modis." Ucapnya ketus sekali.
Taksi datang. Hati Gono terasa kosong. Bapak muncul dengan wajah bloon. Sama sekali tidak membantu anak lelakinya
Kamso pemilik rumah kos angker itu merasa heran dengan keberanian Gono. Dia berhitung sudah satu bulanm lewat dan tidak ada tanda tanda Gono segera enyah dari rumah kos itu. Mental anak itu terbuat dari apa?
Dia sendiri sebagai pemilik rumah angker itu, tidak berani tidur di rumah itu. Kapok. Pernah selesai dibangun, dia ingin menikmati jerih payahnya selama ini. Malamnya dia mendengar suara gamelan yang ditabuh. Padahal dia yakin tidak ada gamelanm di rumah ini. Tetangganya kanan kiri juga tidak ada. Selain hanya nisan-nisan yang bertengger.
Siapa yang tidak ngeri kalau melihat kursi yang bergerak sendiri. Maju mundur mendekati tempat tidurnya. Belum lagi lampu yang dibuat hidup dan mati byar pet byar pet. Siapa yang bisa tidur dalam teror ketakutan seperti itu. Dirinya seperti tengah beada di diskotik saja. Bau busuk dan harum bergantian menusuk hidungnya. Dia yang sudah terkantuk-kantuk langsung lenyap kantuknya.
Rasanya dia tidak kuat untuk bertahan lebih lama lagi. Dia yang bekerja keras membangun rumah ini, enak saja hantu-hantu itu menikmati. Kalau angker begini mana laku rumah kosnya ini dipakai para mahasiswa meski dengan tarif yang murah sekalipun.
Gluduk ada kepala besar sekali jatuh di tempat tidur, menggelundung dan berhenti di depan matanya. Matanya besar sekali. Tersenyum penuh persahabatan. Rasanya dia sudah hampiur kehabisan napas. Sebelum dirinya benar-benar pingsan, Kamso segera keluar dari kamar. Menghidupkan motor yang memang kuncinya sengaja tidak dilepasnya. Langsung kabur menjauh. Terdengar suara cekikikan perempuan yang seakan hendak menghinanya. Tapi Kamso sudah tidak peduli lagi. Yang penting dirinya selamat.
Beberapa hari kemudian ada empat lelaki bertubuh tegap. Mengaku sebagai satpam di sebuah bank. Mereka hendak menyewa rumah kosnya. Sengaja Kamo memberi harga di bawah standar dan nampaknya mereka senang sekali dan langsung membayar tiga bulan sekalian. Takut kalau-kalau harga berubah.
"Kami pindah saja dari sini Pak. Daripada tiap malam kami satu per satu dipindah ke kuburan ketika kami tidur. Lama lama kami bisa mati berdiri kalau bertahan lebnih lama," kata salah seorang dari wakil mereka. Wajah mereka yang terlihat sangar itu, tubuh mereka yang kekar, ternyata luluh lantak menghadapi hantu di rumah ini.
"Terus terang kami kurang tidur karena gangguan dari hantu yang kurang ajar itu?" sambung yang lain.
Kalau ada tempat pendidikan hantu, tentu Kamso akan menyekolahkan hantu hantuny agar tahu ajar.
Mereka memang akhirnya benar-benar pindah. entah sudqah berapa kali penghuni baru silih berganti, ada yang mahasiswa, polisi, guru, makelar sampai orang yang tidak jelas pekerjaannya. Tak ada yang mampu bertahan lebih dari seminggu.
Baru sekali ini dia bertemu dengan Gono. Manusia yang sudah putus urat takutnya. Awalnya dia memang gak begitu yakin Gono akan bertahan selama ini dan nampaknya makin kerasan saja. Padahal dia sudah terlanjur berjanji untuk menggratiskan selama setahun kalau dia sanggup bertahan lebih dari satu bulan. Payahnya lagi ada bapaknya yang ikut numpang; sablengnya tidak jauh dari anaknya.
Dia hanya punya pikiran buruk; jangan Gono dan bapaknya bagian dari hantu itu sendiri. Kalau manusia waras pasti ada takut-takutnya sedikit.
Kamso benar-benar mati kutu. Janji seorang laki-laki memang tidak bisa ditarik oleh seribu ekor kuda.
__ADS_1
"Kamu keterlaluan Pangat. Kutunggu tunggu kamu tidak pulang juga. Mau mbagusi lagi. Gaplek pringkilan, tuwek tuwek petakilan," sepagi itu, Sampyuh, mboknya Gono sudah nyap nyap.
Matanya ****** dan buas seperti mau ngremus apa saja yang ada di depannya. Jemari tangannya menggenggam kencang siap meremuk.
"Pangat kalau kau tidak pulang hari ini, akan kuobrak abrik sarang hantu itu. Akan kujemur satu per satu," pekiknya melengking menggetarkan hati yang mendengarnya.
Diangkatnya jarit sedikit dan dia segera nangkring di atas meja dengan satu lompatan. Masa mudanya dulu dia adalah penggemar aktor laga Bruclee dan Jackie Chan.
Dengan sekali tendang kendi yang berisi sepaoh itu langsung melayang dan menghajar kaca jendela dengan bunyi paling heboh di dunia. Seekor anak tikus ketakutan setengah mati dan segera bersembunyi di balik kaleng biskuit kosong.
"Mbok ya nyebut kamu Sampyuh!" Kajak perempuan yang tinggal serumah menenangkan.
Beberapa laki laki yang tengah nongkrong di warung kopi di sebelah rumah Sampyuh segera menghambur berlarian.
" Ada apa? Mengapa mboknya Gono seperti kerasukan setan!" Salah seorang dari mereka bertanya tanya.
Kemudian Mboknya Gono turun dari meja dengan cara bersalto di udara dua kali. Jatih dengan sempurna di lantai. Para lelaki itu dibuat melongo. Ternyata mboknya Gono bukan perempuan sembarangan. Kapan dia berlatih seperti itu.
"Bojomu mbok usir saiki mbok arep arep," kakaknya mengingatkan.
" Aku terlanjur panas. Kaya kaya lelananging jagad dewe," Sampyuh tidak bisa menguasai diri lagi.
Seorang tetangganya mendekat tapi sekali banting dia langsung terkapar. Laki laki itu merasa malu sekali. Bantingan Sampyuh seperti atlet yang profesional saja. Dia meringis kesakitan tapi rasa malu itu lebih membelah hatinya.
"Akan kususul saja kau di tempat kosnya Gono," Sampyuh ambil keputusan yang cenderung nekad.
Sekarang beberapa laki laki terangganya tidak ada yang berani mendekat. Takut nasib mereka tak jauh beda dengan dahabat mereka yang terbanting di tanah.
Dia segera keluar dengan amarah yang membuncah. Berbekal alamat kos Gono, dia akan membalaskan hatinya yang berdarah darah itu
__ADS_1