
Sampyuh memang dibuat limbung. Hilangnya moge baru itu benar benar menguras emosi dan pikiran. Anak polah simbok kepradah. Haruskah dia pindah dari desa Jombik ini?
Menjual semua aset yang dipunyainya untuk mengganti moge yang hilang itu? Kalau masih kurang bagaimana? Pangat, Pangat, kamu pulang sebentar biar aku bisa berbagi beban berat ini. Rasanya berat memanggulnya sendirian.
Sejak Gono kuliah, masalah datang silih berganti. Suaminya yang kecantol cewek. Gono yang tak pulang ke desa ini. Sekali pulang dan mbagusi malah menghilangkan motor. Motor baru pinjaman pak kos itu, mengapa dibawa kemari? Biasanya naik bus saja kok kamu dadi semugih Gon, Gon. Sesal tak banyak berguna, hanya menambah beban pikiran saja.
Melihat Gono terlihat linglung, sebagai ibu tak sampai hati. Hana sudah dipulangkan lebih dulu naik travel. Heran, anak itu masuk rumah saja tidak mau. Apakah rumahnya memang kurang layak? Dengan bau pesing sapi dan tletong yang menyengat. Atau si picong lagi caper, bisa jadi, itu adalah penyebanya. Tiga sekaligus.
Anaknya yang tak mau kembali ke kos, bukanlah penyelesaian yang bijak. Pak kos akan mencari cari. Apalagi Gono bawa motor baru tak pulang pulang. Hanya menebar kecurigaan saja rasanya. Begitu takutnya Gono, bisa bisa kuliahnya jadi taruhan. Dia bisa berhenti kuliah.
Wah, moge yang hilang itu bisa menyeret Gono kemana mana. Bisa bisa jadi urusan polisi. Anaknya bisa dituduh melakukan aksi penggelapan. Sampyuh melepaskan hembusan yang berat. Lebih baik dia menghadapi lima preman bersenjata clurit, daripada harus berbenturan dengan masalah pelik ini.
Andai dia tahu aksi pencurian moge, tentu dia akan membuat si pencuri lumpuh dua kakinya. Sampyuh didera kemarahan yang memuncak. Duam diam, Sampyuh bercuriga atas kebaikan pemilik kos. Baru terjadi sekali ini di dunia, anak kos diberi fasilitas motor bagus dan sekaligus uang bensin. Kebaikan yang berlebihan bukan.
Kamu kok nggak mikir begitu Gon. Kau terlalu gembira hingga menghilangkan kewaspadaanmu. Alternatif terakhir, apakah dia perlu menerima tawaran Angga dulu? Kalau hanya jualan bumbon membantu bu lurah, sulit rasanya mengganti moge yang hilang. Hati Sampyuh jadi limbung. Dia sebenarnya sudah enggan memainkan jurus jurus ampuh pemberian gurunya. Rasanya ilmu itu mau dibawa mati saja.
Sampyuh menyesal mengapa dia tidak menerima tawaran Angga bekerja di tempat ini. DIa memiliki ruangan sendiri yang bersih dan harum dan tentu saja ber-AC. Kursinya empuk dan menthul-menthul. Jauh sekali dengan rumahnya yang reot di desa Jombik yang reot.
Penampilannya sekarang juga jauh berbeda. Tidak lagi kumuh kas petani desa yang sering bertarung dengan panas matahari. Dia lebih sering pergi salon. Bos Agung, pimpinannya Angga memang memang memiliki banyak bisnis.
Salon kecantikan adalah salah satunya. Pengunjungnya luar biasa banyak. Kalau masih ada perempuan ingin tampil cantik dan menawan, bisnis salon kecantikan agar selalu mendapat tempat dan menuai rezeki yang berlebih. Ke salon milik bos Agung, dia tidakperlu membayar karena ni bagian dari fasilitas untuknya.
__ADS_1
Pangat, kamu mungkin akan kangen padaku sekarang. Kau tak lagi menemukan Sampyuh perempuan desa Jombik yang ngarit dan jualan bumbon di pasar Gabus. Aku sekarang kayak selebritis yang berbau harum. Tidak seperti dulu yang berbau apek, Sampyuh merasa harga dirinya pelan-pelan terangkat naik.
Apalagi Angga tak mempermasalahkan moge yang hilang itu. Ternyata dia begitu baik hati. Tidak seperti dugaannya selama ini. Dia tidak perlu menggantinya. Alangkah bersyukurnya Sampyuh.
Setelah kesulitan yang mengadang dan memporakporandakan kehidupannya, sekarang dia bisa menikmati hidup yang paling nyaman yang pernah dirasakan. Sekali-sekali dia berkeliling di mengecek bisnis Bos Agung. Tentu saja dengan naik mobil yang bagus. Hmm... hidup begitu cepat sekali berubah.
Belum pernah dia bertarung dengan preman-preman yang katanya sering datang dan mengompas. Mereka seperti tahu dan jerih berhadapan dengan Sampyuh. Nama besar Sampyuh telah menggetarkan hati mereka untuk tidak macam-macam mengganggu bisnis Bos Agung.
Di sini dia begitu dihormati. Padahal di desa Jombik dia hanyalah perempuan suruhan yang dimintai bantuan ke sana- ke mari. Desa Jombik tinggal kenangan. Dia tak mau kembali lagi ke sana. Hidungnya mungkin sudah tidak kuat lagi mencium bau pesing kencing sapi dan bau sengak tlethong kerbau.
"Mbok sudah ditunggu bu lurah di depan," Gono anaknya menggoyang goyangkan tubuhnya.
Setelah semua siap, Sampyuh membonceng bu lurah pergi ke pasar Gabus. Sebelumnya dia berpesan pada Gono untuk ngopeni sapi dan kambing. Dia kembali ke habitat lamanya. Dia prihatin dengan anak lelakinya. Apakah gara-gara tak berani kembali ke kos, berarti tamat sudah kuliahnya.
Kalau demi Gono, mungkin saja dia akan mengubah niatnya. Kerjasama dengan Angga akan dilakoni juga. Mengandalkan upah dari membantu bu lurah jualan bumbon jelas tak cukup. Untuk mengirimi biaya kuliah saja, dia sering berhutang pada bu lurah. Memang tak pernah ditagih itu hutang. Tapi lama-lama dia sungkan juga.
Kalau tidak salah sudah tiga kali dia berhutang. Mungkin ini hari terakhir dia menemani bu lurah di pasar Gabus. Mulai besok dia akan menemui Angga. Tawaran itu memang sekarang harus dituruti. Kalau bukan karena Gono, dia mungkin tidak akan senekad.
Desa Jombik yang puluhan tahun memberikan ketenagan pada dirinya harus ditinggalkan. Sekalian dia akan lebih leluasa mencari Pangat suaminya. Mimpi semalam begitu indah dan dia ingin hidup yang lebih layak lagi.
"Bu Lurah, mungkin ini terakhir kali saya bisa menemani bu lurah jualan bumbon di pasar," kata Sampyuh di tengah perjalanan.
__ADS_1
"Maksudmu apa Pyuh?" tanya bu lurah heran.
Dia langsung memelankan sepeda motor dan meminggirkan di tempat yang nyaman.
Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba Sampyuh ingin pamitan. Bu lurah memang mengamati Sampyuh sejak kehilangan suami sering galau dan kurang nyaman hatinya.
Turun dari sepeda motor, bu lurah menatap Sampyuh, yang juga segera turun dari boncengan. Tak rela perempuan yang setia menemani bertahun-tahun tiba tiba saja mengeluarkan keputusan yang mengejutkan.
"Kamu mau pergi kemana? Mau kerja apa?" Tanya bu lurah dengan penuh selidik. Banyak sarjana nganggur di kota. Sampyuh cuma tamatan SMP mau jadi apa dia? Bu lurah malah merasa prihatin. Apakah karena Gono telah menghilangkan moge baru, sehingga membuat Sampyuh jadi teramat nekad.
"Mau cari kerja apa saja di kota?" tanya bu lurah lagi.
"Kerja apa saja," jawab Sampyuh pendek.Dada bu lurah terasa sesak. Dia jadi tidak bersemangat pergi ke pasar.
Dia malah meminta Sampyuh lagi naik ke boncengan. Dia ingin mengajak Sampyuh makan di soto Pak Galo saja. Membuang kepenatan dan kesedihan hati yang tiba-tiba mendadak mampir.
"Jangan gegabah mengambil keputusan," bu lurah mengingatkan. Dua soto pesanan segera datang dengan asap yang mengepul panas. Begitu pula dua gelas teh hangat yang menyusul kemudian.
"Sudah saya pikir matang-matang," jawab Sampyuh. Soto Pak Galo yang biasanya sangat mengundang selera itu, sekarang tak lagi bisa menggelitik rasa lapar.
Makan tak hanya masalah lapar. Hati yang sebentar lagi kehilangan sahabat ternyata bisa menutup rasa lapar. Warung soto ini ternyata tak bisa mengubah suasana hatinya. Kalau Sampyuh pergi sulit sekali mencari pengganti yang begitu jujur dan rajin. Sampyuh pergi, apakah sudah tidak ada lagi hantu pasar Gabus berwujud perempuan bungkuk bertongkat dan bertopeng itu?
__ADS_1