HALUSINASI COWOK KARISMATIK

HALUSINASI COWOK KARISMATIK
Bab 16


__ADS_3

Sampyuh jadi gemas pada lelaki yang kebal senjata itu. Dia sudah tahu bagaimana dia akan membuat lelaki itu dan menjadi bahan tertawaan temannya yang lain. Kulitnya boleh kebal, namun tidak demikian halnya dengan kaos tanpa lengan yang dikenakannya. Dia sudah pernah dua kali menghadapi musuh yang kebal senjata seperti ini. Jadi hatinya sama sekali tidak gentar.


"Melawan dirimu, aku tidak perlu memakai senjata. Tapi kalau aku memelukmu, aku berhak memabawamu pulang. Meski STW badanmu yang masih cukup bagus. Lumayan untuk menemaniku malam ini," lelaki bertato naga di lengan itu makin pongah dan meremehkan Sampyuh.


Tiga rekan lelaki itu terlihat sumringah mendapat mainan baru. Lebih asyik dibandingkan dengan yang tadi.


"Bisa kita mulai sekarang, aku sudah mulai ngantuk dan ingin segera pulang," kata Sampyuh minta izin.


Tiga lelaki rekan lelaki bertato naga segera mundur. Mereka memberi kesempatan untuk pertempuran satu lawan satu itu. Apa yang bisa diandalkan oleh perempuan memegang pecut itu? Sepertiny kok terlalu berani dan sembrono. Kalau pimpinan mereka sudah marah, perempuan itu akan menyesal seumur hidup. Dia bisa dipermalukan. Bukan sebaliknya.


"Dengar kalian, aku tidak sudi pakai senjata meski perempuan yang membela suaminya ini bersenjata cambuk," lagi-lagi dia pamer kepongahan.


Sampyuh tidak perlu menunggu lebih lama lagi. Dia segera bergerak cepat karena jangan sampai lima menit berlalu dan lelaki itu masih tegak berdiri. Dia sangat dibatasi oleh waktu.


Menit pertama saja, lelaki bertato naga itu sudah merasakan lawannya yang lain dari yang lain. Gerakannya cepat sekali. Berpindah ke samping belakang dan ke depan lagi. Makin lama makin cepat dan perempuan itu telah berubah seperti bayangan. Tapi lelaki itu masih percaya diri bahwa tak mungkin perempuan itu sanggup merobohkannya dengan senjata pecut itu.


Ketika dia dilanda kebingungan, terdengar suara pecut yang keras sekali di telinga kanan. Telinganya terasa sakit sekali dan berdengung hebat. Belum selesai dia merasakan kesakitan dalam sepersekian detik, telinga kirinya gantian yang digedor suara pecut. Kali ini lebih keras. Kepala lelaki bertato naga itu jadi pening dan rasa sakit di telinga itu sangat mengganggu keseimbangannya. Dia baru tahu ilmu kebalnya tak ada gunanya berhadapan dengan macan betina itu.

__ADS_1


Lelaki bertato itu berhitung, belum sampai lima menit pasti dirinya akan roboh. Kemenangan sudah hampir pasti berada di pihak perempuan itu. Tak boleh terjadi. Harga dirinya menjadi taruhan di belakangnya. Kalau sampai dirinya KO, adalah hal yang sangat memalukan. Apalagi di hadapan tiga anak buahnya. Ini adalah pertaruhan gengsi.


Mengahadapi perempuan saja dirinya malah jadi bahan mainan. Kali ini dia tidak hanya ingin memeluk, tapi sudah melancarkan serangan dengan tendangan dan tinju. Semuanya dilakukan dengan sepenuh tenaga dan ingin membuat perempuan itu cedera berat.


Jemari tangannya yang besar-besar paling tidak akan sanggup membuat tulang belulang perempuan itu remuk, dia ingin melihat perempuan itu sempoyongan kalau salah satu pukulannya mengenainya. Sayang semuanya mengenai tempat kosong.


Rasanya macan betina bergerak makin cepat. Menyesal juga dirinya karena terlalu meremehkan macan betina ini. Suasana malam makin menguntungkan perempuan itu. Dia bisa seperti hantu yang ada dimana mana. Apes benar nasibnya malam ini. Dia harus segera mengambil keputusan nekad.


"Lempar senjata ke arahku," kata dia sudah tak peduli dengan omongan dan janjinya sebelum duel tadi. Dia sudah kehilangan rasa malunya. Sudah biasa janji dilanggar sendiri. Sekali tebas dengan celurit perempuan itu pasti akan terkapar berdarah darah. Tak peduli yang dihadapi adalah emak emak. Dia akan menyerang dengan membabi buta. Agar musuhnya tidak memiliki ruang gerak untuk menghindar. Masak tidak ada satupun sabetan cluritnya mengenai.


Sampyuh merasa inilah saatnya di mengakhiri pertarungan. Dalam satu kesempatan, Sampyuh menyelinap di antara sabetan clurit dan ujung pecutnya langsung menghantam lutut kiri lelaki sombong itu. Lelaki seperti mendadak lumpuh. Mengapa serangan pecut itu bisa tembus ilmu kebalnya?


Kakinya tak bisa digerakkan. Sebagai usaha terakhir, dia melempar clurit itu, dia berharap bisa menancap di leher macan betina itu. Dia biasa berlatih melempar clurit. Bidikannya tak pernah meleset. Tapi yang dihadapi kali ini memang emak emak pilih tanding. Lemparan clurit yang mengarah padanya langsung dibelokkan arahnya dengan ujung pecut yang bisa berubah seperti ular kobra yang mematuk. Clurit itu terbang entah kemana.


"Bantu aku," pekik lelaki bertato naga itu.


Sampyuh menoleh ke belakang, Pangat sudah tidak ada di tempat. Dalam kondisi teeluka, masih juga keras kepala.

__ADS_1


Tiga lelaki preman itu beraninya mengeroyok. Tak berani satu lawan satu seperti bos mereka. Sebelum mereka mengepungnya, Sampyuh bergerak mendahului dan dengan lecutan dahsyat dihajarnya punggung tiga preman itu. Kaos mereka robek dan punggung mereka lebam membiru terkena sabetan. Sampyuh memang agak jengkel.Tiga orang itu menggeliat kesakitan luar biasa. Rasa perih akibat sabetan pecut rasanya tembus sampai ke tulang punggung mereka. Rasa sakit itu tidak juga hilang sampai mereka bergulingan di tanah saking tidak tahannya.


Lelaki bertato itu hanya bisa menggeram marah. Tiga anak buah yang diandalkan sama sekali tidak berkutik dalam sekali pukul. Kemana kegagahan dan kegarangan mereka selama ini? Dadap, Noyo, Suto, ketiganya jadi lelaki loyo. Sementara dirinya juga tidak lebih baik. Kaki kirinya tidak bisa digerakkan. Semoga tidak lumpuh selamanya. Perempuan macan betina tidak hanya berkoar tapi bisa membuktikkan bahwa dia bisa menekuk tidak lebih dari lima menit.


Sampyuh tidak mau membuang waktu lagi. Mereka berempat hanya mengganggu langkahnya saja. Mereka berempat yang terkapar dibiarkan begitu saja. Biar jadi pelajaran pahiut buat mereka. Tidak semua orang bisa mereka perlakukan dengan semena-mena. Gara-gara mereka dia telah kehilangan jejak Pangat. Sekarang suaminya sudah menghilang lagi. Repot lagi harus menyusulnya.


Mengapa Pangat masih nekad juga. Dia hanya mengajaknya pulang ke desa Jombik saja. Tidak usah lagi keluyuran di kota. Terlalu banyak musuh yang ditemui. Kalau dia sendiri masih bisa mengatasi cecunguk itu. Bagaimana dengan nasib Pangat yang dikeroyok seperti tadi.


Sampyuh terus memburu ke arah larinya pangat. Untung jalan ini tidak bercabang hingga pencariannya tidak mungkin.


Pangat lelaki keras kepala dan keras hati itu harus dibujuk halus. Kalau dia dikerasi akan lari terus seperti sekarang ini. Dia sendiri yang kerepotan melacak jejaknya.


Di depannya sudah terlihat terminal. Bisa jadi Pangat telah masuk ke terminal besar dan masih kelihatan bernyawa ini. Kali ini Sampyuh dibuat bingung. Dia memang segera masuk terminal. Malam seperti ini masih banyak orang yang berlalu lalang. Kemana dia harus mencari Pangat? Begitu banyak orang. Ratusan bus yang ada terminal ini makin membuat konstrasinya kacau balau.


Pangat, Pangat tidakkah bisa merasakan apa yang ada di hatiku? Kalau bukan karena cinta mana mungkin aku keluyuran malam-malam seperti ini mencarimu? Di desa aku sudah tidur nyenyak di antara bunyi jengkerik.


Ada orang mabuk mencegatnya. Mungkin melihat dia hanya sendirian.Menjadi sasaran empuk. Apalagi dia juga celingukan seperti orang bingung dan tak tahu jalan. Lelaki berbau ciu itu, membuat gerakan jari mau minta uang. Sampyuh tak mau cari perkara. Diberikannya uang 10 ribu. Dia tak mau mencari perkara.

__ADS_1


__ADS_2