
"Kok seperti setengah hati," Hana memprotes Gono yang sepertinya ogah ogahan. Tersenyum dengan terpaksa dan tersenyum ikhlas tentu lain di hati.
"Jangan begitu Han. Aku sepenuh hati kok," Gono menegaskan. Hmm.. hati Hana amat peka. Bisa menangkap sesuatu yang tersembunyi. Harus hati hati dan waspada.
"Kalau kamu nggak mau, aku jalan kaki saja," Hana nekad. Wah keras hati mirip simboknya. Kalau punya kemauan sulit ditekuk. Wajah yang lembut, hati yang keras. Kontradiktif sekali.
"Ayo Han," bujuk Gono.
Hana naik ke boncengan dengan hembusan napas kesal. Tapi Gono tak berani berkomentar. Takut jadi mengganggu suasana saja.
Motor pinjaman Pak Ngadi ini memang banyak jasanya. Semoga tidak segera diminta kembali. Kemarin waktu dia dipanggil kantor dosen, sudah punya firasat nggak enak. Hanya jangan jangan terus bertebaran di hatinya. Tak tahunya dia malah dikasih uang untuk pajak motor. Dipinjami KTP juga.
Jalanan sudah terlihat lengang. Malam hari memang jam istirahat.
"Gon, di dekatku ada sayembara," Hana bercerita.
"Sayembara apa?
"Uji nyali. Hadiahnya dua juta. Hanya mendiami rumah mewah yang angker. Hanya empat jam. Dari jam dua belas sampai jam empat."
"Sudah ada yang memenangkan sayembara?" Tanya Gono penasaran.
"Kok menang. Banyak yang stres. Nglengeng. Panitia tak bertanggung jawab atas risiko yang timbul. Padahal baru 15 menit masuk. Kamu jangan ikut Gon. Hantunya jahat jahat. Kasihan orang tuamu. Kamu ke sini untuk kuliah, bukan untuk ikut sayembara uji nyali," kata Hana khawatir. Simbok kalau tahu ada sayembara ini, pasti ikut. Tak usah diberitahu. Mending dia sendiri saja yang ikut.
Sambil menikmati sore yang tenang dan bersahabat, menyeruput kopi yang hangat-hangat panas kiriman bakul ayu warung sebelah yang bakulnya selalu basah rambutnya setiap pagi dan sore dan senyum memikat bagai besi sembrani paling lengket di dunia. Pangat memandang sore tanpa henti. Menyaksikkan Hangi (HAntu muNGIi) yang tengah menyapu pelataran rumah pak camata dengan daster warna merah motif daun jati yang dia beli di pasar Klewer kemarin. Sore ini Hangi langsung mengenakkannya. Dia tampil makin cantik dengan daster barunya itu.
"Habis menyapu, ke sinilah Hangi, kita menunggu sore yang akan berganti dengan senja," kata Pangat.
Hangi mengerling ke arah Pangat. Perempuan itu memang berwajah lembut dan selalu berkata santun.
"Aku sudah menyiapkan teh hangat kesukaanmu juga," tawar Pangat penuh keakraban.
Hangi selesai menyapu dan mengumpulkan daun daun kering itu ke bak sampah yang bak sampah yang ada di bawah pohon jambu.
Hangi tersenyum kepadanya. Senyum yang mengingatkan dirinya pada senyum Sampyuh istrinya di masa muda lagi,. Sekarang senyum Sampyuh tidak lagi bisa dinikmatinya. Tinggal senyum garang dan galak yang tersisa.
Hangi mendekat dan hatti Pangat seperti mau melompat. Pak camat belum pulang. Katanya ada rapat sampai malam. Hmm. dia seperti jadi tuan rumah yang sebenarnya.
Angin sore datang diam diam menelusup di antara daun-daun jambu. Mengirim semilir. Menyejukkan hati yang tengah gersang dan meradang. Mengabarkan hati Pangat yang tengah bergelora dan berdenyut denyut dibebani aneka rasa.
Dia seperti dilemparkan ke masa muda yang telah hilang 20 tahun lamanya. Dia telah menemukan kembali dunia yang terbenam dan menelungkup itu. Tak mau dirinya ditinggalkan dengan bilur bilur luka kecewa yang berdarah-darah.
__ADS_1
"Duduklah di dekatku Hangi, jangan langsung pergi," Pangat menatap penuh harap. Takut harapannya yang sudah melambung tinggi, akan terbanting. Dia lebih suka perempuan yang lembut dibandingkan perempuan perkasa. Di hadapan perempuan perkasa seperti simboknya Gono, dia telah berubah menjadi lelaki lembut.
Hangi yang mengenakan daster merah bermotif daun jati nampak anggun dalam balutan sore yang meneduhkan hati. Lelaki penolong yang mengentaskan dari penderitaan. Dia sekarang mempunyai pekerjaan tetap menyapu di rumah pak camat; pagi dan sore. Jam kerjanya lebih nyaman. Dibandingkan dulu, yang harus menyapu jam dua dini hari. Kadang mata masih ngantuk. Namun atas nama tugas negara hantu, tugas itu mesti diembannya.
Laki laki bernama Pangat ini memang baik hati dan dermawan. Dia telah dibelikan tiga daster baru dan dua botol shampoo. Sekarang rambutnya jadi harus tercium. Rambutnya memang masih panjang. Pangat memang melarang dia untuk memotong rambut panjangnya. Katanya biar seperti perempuan Jawa tempo kerajaan dulu.Mungkin itulah maksud dia membelikan dua botol shampoo yang besar.
Hangi duduk duduk mendekat dan bau harum sungguh meruap dari rambutnya. Pangat sulit sekali menggambarkan hatinya yang mobat mabit tak karuan itu.
"Kubuatkan teh hangat kesukaanmu," Pangat menyodorkan teh buatannya. Teh istimewa untuk perempuan ysng istimewa juga. Dia telah mencampur tiga merk teh yang terkenal hingga ada aroma wangi, sepet, dan kental jadi satu.
"Terima kasih, kamu baik banget sama aku. Kebaikan yang tertumpah ruwah," ucap Hangi.
"Jangan begitu, sesama makhluk mesti saling take and give," Pangat teringat pelajaran bahasa Inggris SMP nya dulu.
Rasanya dia bukan termasuk jenis murid yang bodoh bodoh amat.
Hangi meneguk pelan teh buatannya. Tak henti Pangat memperhatikan. Dipandang dari dekat, kecantikan itu makin memancar kuat.
"Teh buatanmu mantap sekali," puji Hangi.
Hidung Pangat kembang kempis menyeruakkan rasa bangga.
Mobil pak camat datang. Ah, mengganggu saja.
Hana menyesal mengapa memberitahu adanya sayembara Uji Nyali pada Gono. Risikonya terlalu berat. Orang-orang yang pernah ikut, meski sudah keluar dari rumah super angker itu, ketakutan masih memburu-burunya setiap hari. Hantu hantu itu seakan mengikutinya kemanapun pergi, apalagi kalau malam hari. Hana tak mau sesuatu yang buruk menimpa Gono.
Mana ada hantu yang bisa diatur?
"Gon, batalkan saja keinginanmu," bujuk Hana.
"Ini tantangan paling mengasyikkan," sergah Gono.
"Kamu nanti akan menyesal kalau kamu gagal dan hantu-hantu setriap malam menerormu terus.
Panitia tak ada yang bertanggung jawab. kamu juga tidak bakal bisa menuntut menuntut panitia karena sebelum masuk ke rumah super angker itu kamu sudah menandatangani surat pernyataan tidak ada penuntutan," Hana mulai menakut nakuti Gono.
Gono tersenyum. Motor berhenti di tempat kerumanan. Ada spanduk besar bertuliskan dengan huruf besar besar,"SAYEMBARA UJI NYALI. HADIAH 2 JUTA".
Lumayan hadiahnya. Dua juta bisa untuk hidup selama satu setengah bulan. Tidak usah minta kiriman bapak dan simboknya yang makin lama makin seret kirimannya. Apalagi sekarang bapak juga tidak diketemukan rimbanya.
Simbok juga sedang kebingungan mencari sosok bapak. Mereka sibuk dengan msalahnya sendiri-sendiri. Lupa kalau punya anak yang masih kuliah dan butuh biaya untuk hidup.
__ADS_1
Hidup di kota kok enak sekali. Hanya masuk rumah super angker dan berdiam di sana selama 4 jam . Kok dapat hadiah 2 juta. Bapak yang mencangkul sawah saja. dari jam 8nsampai jam tiga hanya dapat uang 100 ribu.
Hana kok ya lucu, rezeki di depan mata, masak maui dilepas begitu saja. Belum tahu kalau dunia hantu itu juga mengasyikkan. Dia tak tahu kalau hantu bisa lucu juga. Tak selamanya menyeramkan. Kalau mereka gagal menakut nakuti, mereka juga salah tingkah sendiri.
Hana menyerah, rasanya sulit sekali membujuk Gono untuk mengurungkan niatnya. Ternyata dia berkepala batu juga. Tak mudah menekuk hatinya. NIatnya sudah terlampau bulat. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Gono. Meski gagal, tidak ada hantu yang selalu membuntutinya.
"Mau daftar Mas," kata Gono di depan panita yang di depannya ada meja dan formuliur pendaftaran.
Hana yang berdiri di belakang sudah habis mentalnya. Rasa kantuk yang menyerati tadi medadak hilang. Bibirnya ndremimil mengucap doa, semoga Gono bisa melampaui semua itu dan keluar dalam keadaan baik-baik saja dan tidak diganggu hantu hantu yang bengal itu.
"Yakin mau daftar?" tanya panitia.
Gono mengangguk.
Panitia itu sepertinya meragukan Gono. Tidak ada potongan orang yang pemberani. Dia tidak mau menerima peserta yang abal-abal. Baru sepuluh menit masuk sudah teriak teriak ketakutan tanda menyerah.
Panitia mengamati Gono dengan seksama.
"Tanda tangani surat pernyataan tidak menuntut pada panitia kalau terjadi sesuatru yang buruk pada saudara," dia meyodorkan selembar kertas dan pulpen.
Gono membaca sekilas. Langsung menandatangani surat itu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Orang-orang melihat dirinya dengan senyum sinis. Batin mereka miungkin berkata, akan ada korban berikutnya. Orang yang ketakutan kadang bisa dijadikan hiburan.
Tapi kali ini mereka akan kecele.
Panitia kemudian menjelaskan aturan mainnya.
"Hanya empat jam saja?" tanya Gono.
"Ya betul."
"Boleh tidur di dalam?"
"Boleh kalau kamu bisa tidur nyenyak. Tapi sudah puluhan yang gagal. Jangankan tidur, mereka malah terkencing kencing ketakutan," panitia itu menjelaskan.
"Kalau kamu tidak kuat kau bisa teriak minta tolong. Tim kami akan menjemput Saudara," katanya.
"Gon, batalkan saja," bisik Hana.
"Tenang Han, ini rezeki kita. Besok kan ulang tahunmu. Aku sudah terlanjur janji pada dirimu untuk makan ikan bakar di waduk tempuran," ucap Gono mencoba memberi ketenangan.
Hana heran mengapa dirinya sekarang begitu mengkhawatirkan Gono. Padahal dia biasanya sangat cuek. Apalagi ketika Gono dibawa dua orang yangmembawa senter untuk masuk ke rumah super angker yang bertingkat dan sangat besar itu. Gono seakan mau dieksekusi mati. Perasaan Hana jadi hancur berantakan. Kalau tidak malu rasanya dia ingin berteriak untuk meminta Gono kembali saja.
__ADS_1
...