HALUSINASI COWOK KARISMATIK

HALUSINASI COWOK KARISMATIK
Bab 3


__ADS_3

Hampir pukul 9 malam, sehabis bermain futsal di kampus, Gono pulang ke tempat kosnya. Motornya segera dimatikan. Perasaanya tidak enak. Kalau ada barang yang hilang di rumah itu, merupakan tanggung jawabnya juga.


Ketika sampai di depan rumah, darahnya berdesir. Pintu rumahnya setengah terbuka. Siapakah manusia yang masuk rumah kosnya tanpa izin. Dia tentu punya cadangan nyali berlipat lipat.


Rekan rekanya yang datang dan melihat gundul pringis di atas meja sudah lari terbirit birit. Atau ketika tengah asyik berbincang bincang, lewatlah pocong dengan sangat sopan sambil bilang, "permisi numpang lewat," sudah langsung kabur tanpa pamit lagi padanya. Tamu yang tidak diundang ini tentulah bukan jenis manusia sembarangan. Mungkin ilmu ndablegnya lebih tinggi darinya.


Sampai di depan pintu, Gono termangu mangu sesaat. Ragu.


Dia memang tak pernah mengunci rumahnya. Pintu dari kayu jati yang tebal dan sedikit seret tidak mungkin bergeser kalau hanya didorong angin.


Begitu dia melongokkan kepala pada pintu yang setengah terbuka itu, sebuah panggilan yang sungguh akrab di telinganya langsung menerpa.


"Gon, kamu kemana saja? Bapakmu datang dari jauh jauh ke mari, kamu malah pergi," kata bapaknya sambil terkekeh bahagia.


"Kamu memang benar Gon, kamu pintar. Tahu yang bapak mau. Satu jam menunggumu, aku sudah disuguhi dua gelas kopi sama mbak cantik yang berbau harum. Ada suster manis juga menyuguhkan kopi. Kamu sungguh beruntung. Mereka tanpa diminta sudah tahu diri. Kamu memang pintar sudah mendidik mereka dengan baik," kalimat bapak meluncur deras sekali seperti curah hujan di bulan Januari.


Gono hanya melongo pada suhunya itu. Bapak kalau lagi gembira hatinya dan suasana hati yang cuer bisa dilihat dari gaya ngomongnya yang tanpa putus. Tapi kalau lagi pas bad mood atau pas murka, mukanya lebih menyeramkan dibandingkan genderuwo. Bapak seakan mau ngremus. mentah mentah orang yang ada di depannya.


"Bapak sudah makan?" tawar Gono.


"Belum. Tapi sudah makan kerupuk sarmier yang kubawakan untukmu. Tadi aku juga sudah memberi mbak mbak cantik. Tapi mereka malu makan di depanku. Mereka makan di belakang. Betapa sopannya mereka. Aku juga sudah wejangan pada mereka agar vetah tinggal di sini. Daripada kontrak juga harus keluar uang," bapak meneruskan tawa kekehannya yang sempat terpenggal tadi.


"Yuk kita makan bareng Pak," ajak Gono.


"Ingat Gon, kamu harus hidup ngirit. Tadi sudah bapak bawakan 20 kg beras."


"Aku dapat rezeki nomplok dari dosenku. Sesekali memanjakan diri dong Bos," canda Gono.


"Itu motor siapa?"


" Motor dosenku. Motor itu tak pernah dipakai. Aku disuruh pakai sampai bosan.


"Dosen yang kau tolong itu?"


Gono mengangguk.


"Kamu menolong apa tho Le?"


" Hanya memboncengkan mbak Kunti sampai ke rumah ini."


"Oalah uripmu penak temen Le. Bapak ikut kamu saja piye?"


"Yang nggarap sawah siapa?" cegat Gono.


Bapak hanya menjawab dengan tawa khasnya.


Ketika mau meninggalkan rumah.


"Mbak cantik itu tidak diajak salah satu?" Usul bapaknya.


" Motornya nggak muat."


Bapak tidak tahu, kalau sakah satu diajak, yang lain ditinggal, bisa membuat bumi gonjang ganjing langit kelap kelap


Bapak mau makan nasi goreng. Kuajak makan di warung nasi goreng Pak Ndut, nasi goreng paling nyamleng di kota ini. Jam jam segini memang ramai ramainya. Untunglah tempatnya luas. Mau lesehan atau duduk di kursi juga tersedia.


Bapak memilih lesehan yang masih kosong. Mengambil rokok tengwe yang selalu menyertai kemanapun dia pergi. Leyeh leyeh sambil menyandarkan punggungnya.


"Nasi goreng babat dan rempela ati," pesannya sambil menghembuskan asap rokok tengwenya.


"Masih berani dengan jeroan Pak?"


"Tamba teka lara lunga," kata bapak santai sekali.


Aku menuliskan pesanan bapak.


"Minumnya?"


"Es jeyuk saja."

__ADS_1


Cukup lama juga menungga pesanan. Padahal ada tiga wajan besar dan tukang masak. Setelah datang, bapak makan dengan lahap sekali. Bapak seperti tidak makan dua hari saja. Belum selesai aku menyelesaikan porsiku, piring bapak sudah tandas tanpa sisa.


"Aku nambah satu porsi lagi ya," rengek bapak.


Aku hanya tersenyum. Bapak lagi menggunakan aji mumpung. Tahu aku yang membayar, bapak minta nambah. Tapi kalau bapak yang membayar pasti diminta untuk mengencangkan ikat pinggang kuat kuat.


"Bapak masih kuat?" tanyaku.


"Uenak tenan Le nasi goreng di sini," bapak mengelap wajahnya yang penuh peluh dengan ujung lengan kaosnya. Wajah bapak terlihat segar dan bugar.


Pesanan kedua datang. Bapak menyambut dengan suka cita. Baru kulihat muka bapak yang paling bahagia di dunia.


Bapak memang masih jos. Dua porsi nasi goreng masih kuat masuk ke perutnya.


"Le penghuni rumah tidak kamu bungkuskan?"


Aku mengeryitkan dahi namun sama sekali tidak berani menolak bapak. Kalau bapak tersinggung urusannya jadi sangat panjang. Hati bapak harus selalu dibahagiakan.


Wah bapak sekarang jadi orang penuh perhatian, dermawan dan baik hati. Bapak banyak berubah. Biar bapak tidak tersinggung, aku memenuhi permintaan bapak. Saling menolong memang baik.


Tiga hari bapak tinggal di rumah kosku. Naga naganya bapak kerasan sekali dan tidak ingin pulang. Aku bingung. Aku lebih gampang membujuk hantu daripada menundukkan bapak. Aku merasa masih kalah ilmu. Di rumah ini bapak memang sangat dimanja.


"Bapak tidak ingat sawah?" Pancingku.


"Hehehe, sawah tidak hilang Le. Di sini, di rumah ini, bapakmu suka sekali. Baunya harum menyegarkan. Masak bapakmu kau suruh mencium pipis dan eek sapi puluhan tahun lamanya. Paru paru bapakmu bisa bolong to Le!"


"Sini Mbak kopinya bawa ke mari," kopi datang dan bapak benar benar menikmati hidupnya di sini.


Menghadapu satu bapak lebih ruwet dibandingkan puluhan hantu


Telah berdiri warung sate baru. Jaraknya hanya 50 meter dari kosnya. Gono kasihan saja sama penjualnya. Warung yang sangat tidak strategis. Warung yang siap merugi. Karena memang tempatnya lengang dan sangat tidak mendukung.


Bagaimana tidak, depan warung adalah kuburan. Belakang warung juga kuburan. Memang ada jalan yang membelah kuburan itu. Satu atau motor lewat. Tapi sepertinya lewat dengan tergesa- gesa selebihnya lengang menjadi miliknya.


Yang lebih mencemaskan Gono adalah bapak akan lebih lama lagi tinggal di rumah kos. Hmm... Bapak akan makin mbagusi. Prinsip hidup bapak yang hidup sederhana dan ikatkan ikat pinggang sekencang kencangnya akan jadi kenangan belaka.


Bapak yang biasa bergaul dengan eek dan pipis sapi dan kambing, lumpur sawah, sekarang bergaul dengan cewek modis dan harum mewangi. Naga naganya bapak sudah tergelincir. Hari hari belakangan ini kebahagiaan menjadi milik bapak. Mood bapak bagus sekali. Siapa yang berani menghancurkan mood bagus ini?


Bapak kadang tidak memiliki toleran yang bagus. Dikiranya semua orang punya aji ndableg seperti dia. Penjual sate itu bisa bisa ketakutan setengah mati kalau membawa hantu hantu itu ke sana. Aksi bapak juga bisa memecah belah persatuan dan kesatuan hantu di sini. Padahal kos gratis ini harus jadi harga mati.


Ketika bapak sedang nongkrong di warung sate, Gono langsung memberi brifing singkat pada semua hantu di rumah kos.


"Di depan rumah kita ada warung sate baru. Tolong kalau malam jangan keluyuran. Kalau mau sate, bisa pesan lewat aku," kata Gono dengan kalimat yang tegas.


"Jadi ada menu baru sate Bos," hantu modis menyambut riang.


"Ya tapi jangan tiap hari, bisa bangkrut aku," kata Gono.


Jadi bapak memang harus pulang atau dipulangkan. Tetapi bagaimana caranya? Harus dicari win win solution. Pusing memikirkannya.


Tetapi alam memang kadang memberi alternatif tanpa kita sangka sangka. Sesuatu yang semula rumit dan tak terpecahkan, bisa lumer dengan satu kejadian sederhana.


Pagi itu bapak tengah menikmati bubur kacang ijo, bapak mulai aneh aneh permintaannya.


Aku yang ada di sampingnya melihat dengan jelas hp jadul bapak berbunyi.


" Kowe mulih apa ora, sapimu lara, wedusmu gak ana sing ngopeni!"


Suara ibu dari seberang sana sangat galak terdengar. Mereka kalau bicara memang tak pernah pelan.


"Sapiku lara? Yo wes aku bali saiki," kata bapak


Aku tersenyum. Ibu telah menyelamatkanku.


"Le aku bali saiki yo, antar aku ke terminal," pesan bapak dengan gugup.


Pagi indah, pagi yang cerah. Akhirnya bapak terkalahkan juga


Gono bingung. Ada satu hantu yang dua hari dua malam pergi tanpa pamit. Masak harus lapor polisi. Nanti dikira main main. Padahal dirinya betul betul merasa kehilangan. Apakah hantu modis sudah tidak nyaman tinggal di sini lagi?

__ADS_1


Gono berharap ini hanya ketakutannya saja. Kalau satu demi satu hantu di rumah ini pergi, wibawa rumah ini sebagai rumah angker akan ambruk. Kos ini akan ramai dengan mahasiswa. Mungkin pemiliknya juga akan menambah tempat kos yang baru. Bisnis tempat kos memang tidak pernah merugi.


Dia juga sudah mencari ke warung sate, tapi penjual sate mengatakan tak melihat siapapun.


"Sudahlah, lupakan hantu modis. Mengapa mencari yang tidak ada. Mengapa tidak mensyukuri yang sudah ada?" suster berkata sewot.


Ada nasi goreng hangat berkepul di atas piring. Entah dimana dia membelinya. Tadi di dapur dia tidak melihat dan mendengar kegiatan masak memasak. Mungkin dia memakai jasa pesan antar. Karena tadi ada deru sepeda motor masuk kemari. Bisa jadi membawakan nasi goreng ini.


"Uangnya aku ganti ya," aku tak mau merepotkan terus.


"Nggak usah, uangku di ATM masih banyak," serunya agak ketus.


"Es jeruk ini juga untukku?" aku mencoba memecah kebekuan dan kekakuan.


"Siapa lagi kalau bukan untukmu!" Perempuan ternyata sama saja. Mau hantu atau manusia gampang sekali tercabik emosinya.


"Kamu nggak makan?"


"Sudah tadi di belakang."


" "Ah lebih nyamleng kalau kita makan berdua di sini. Sambil melihat nisan nisan yang ditimpa reruntuhan cahaya rembulan."


"Lebih nyamleng lagi kalau hantu modis pindah dari sini."


Aku hampir tertawa tapi kutahan. Sesama bus kota dilarang saling mendahului. Sesama hantu dilarang saling menyakiti. Kumakan nasi goreng terhidang agar suasana tidak makin keruh. Kuteguk es jeruk sebagai penutupnya.


Misteri hilangnya hantu modis belum terpecahkan sampai hari ketiga. Ssmpai suatu pagi aku hendah menyapu halaman depan. Ketika kubuka pintu depan. Aku terkejut seperti terkena sengat listrik tegangan tinggi.


Ada bapak duduk di lantai. Wajahnya memelas. Seperti orang paling menderita di dunia.


"Bar diamuk Mbokmu. Gara gara hantu modis ikut aku sampai ke rumah. Aku dikon minggat Le!"


Bapak yang tegar yang cuek. Kini melempen seperti kerupuk disirsm air


Hantu modis memang membuat segalanya jadi kacau balau. Bapak kembali ke tempat kos ini lagi karena diusir ibunya. Hubungan ibunya dengan bapak juga pasti tengah panas membara. Gono jadi tidak enak hati. Ini semua gara-gara hantu modis yang sukar dididik dan diatur. Kalau anak sekolah tentu dia termasuk anak yang bengal dan jadi langganan guru BK.


Sekarang bapaknya sudah kembali ke tempat kos ini. Tentu dia sangat tidak enak hati untuk menundungnya. Dia tidak mau dicap sebagai Malin Kundang jilid dua.


Hantu modis memang perlu disidang dan diinterogasi agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Sudah diwanti wanti agar tidak mendatangi warung sate pada malam hari, eh malah pergi bersama bapak pulang ke desa.


Maka pada suatu malam, ketika hantu hantu lain sedang tidur terlelap karena tadi sore dia mengerahkan mereka untuk kerja bakti sore itu untuk membersihkan lingkungan sekitar rumah. Sudah kos tidak bayar, paling tidak ini sebagai bukti bahwa dia punya perhatian pada rumah ini. Lumayan juga ada yang membantu. Kalau dia sendirian tentu tenaganya tidak bakal mencukupi.


Dia memang sudah meminta hantu modis untuk tidak tidur dulu.


Gono sengaja mengajak hantu modis untuk keluar rumah saja. Tempat paling nyaman memang di kuburan yang lengang. Tak mungkin ada gangguan. Paling ada hantu di kuburan yang sedang piket dan mereka sama sekali tidak mengganggu. Malah ikut menjaga keamanan dan kenyaman.


"Ada acara apa Bos? Malam-malam kok ngajak keluar rumah?" hantu modis malah terlihat senang karena seakan mau diajak jalan-jalan. Beberapa kalai dia mengajak keluar namun selalu kutolak. Ini dianggapnya seperti mendapat durian runtuh saja.


"Naik motor saja Bos," ajaknya manja sekali. Hmm... ini hantu tidak punya rasa. Mau dimarahi malah bewajah ceria.


"Jalan kaki saja," kataku agak sengak.


"Wah, jangan galak galak," dia masih juga merajuk manja. Kalau tiba tiba suster bangun bisa runyam ini. Segera dia kugandeng keluar rumah dengan tanpa suara gaduh.


Kucium harum yang meruap dari tubuh hantu modis. Siapapun tentu tak akan menyangka dia adalah hantu. Tongkrongannya tak jauh beda dengan selebritis saja.


Kuajak dia masuk kuburan agar sidang berlangsung tanpa gangguan. Kuburan yang tenang dan meneduhkan apalagi pada malam hari seperti ini. Kucari tempat yang aman untuk acara sidang.


"Kamu terlalu sembrono dengan aksimu mengikuti bapak sampai ke desa," aku langsung menusuk ke pangkal persoalan.


Ada wewe gombel nangkaring di pohon randu sambal makan jagung bakar. Dia ingin tahu saja.


"Di sini aku dicueki, lebih baik ikut bapakmu yang lebih ramah," katanya santai.


"Kamu tidak tahu efeknya kan?"


"Ibumu hanya marah-marah. Itu saja. Tidak didengarkan juga tidak apa-apa. Bapakmu saja yang baperan," dia berkata lebih santai lagi.


Gono hampir saja meledak emosinya. Tapi hantu moids tersenyum manis sekali. Hmm... lama-lama wajahnya mirip dengan artis yang berwajah imut dan suka mendendangkan tembang kenangan. Darahku yang panas jadi adem kembali.

__ADS_1


"Yuk kita makan sate, mumpung warungnya masih buka. Biar aku yang traktir. Mahasiswa kan tidak banyak uang."


Gono jadi linglung. Dia bingung bagaimana dia harus bersikap.


__ADS_2