
Sampyuh terlihat lunglai di terminal malam itu. Matanya memelototi setiap bus yang keluar. Tak mungkin dirinya masuk ke dalam bus dan memeriksa penumpang satu demi satu. Apakah Pangat sudah keluar dari terminal ini dengan naik salah satu bus itu? Bisa jadi. Sepertinya Pangat sudah tidak lagi bisa diajak kompromi. Tapi Sampyuh masih berusaha untuk bersabar diri. Cukup lama dia duduk di terminal yang beroperasi 24 jam itu. Orang kota jam segini masih juga kegiatan.
Malam ini rasanya mustahil bisa menemukan Pangat. Kalau saja Pangat tidak sering keluyuran di kota, kejadiannya mungkin tidak akan serumit ini. Awal Gono kuliah di sini, segalanya begitu cepat berubah. Dia harus pulang ke desa Jombik malam ini karena besok moge mau dipakai untuk touring pak lurah.
Ketika Sampyuh hendak mengangkat tubuhnya. Sebuah tepukan di pundak membuatnya menoleh. Dia berharap bukan lagi teman pemabuk yang ganti minta uang padanya. Bukan dia tidak berani menghadapinya, tapi malas untuk berurusan dengan orang yang tidak jelas pekerjaannya.
Uang sakunya minim, kalau harus banyak berbagi. Malam ini saja dia belum sempat makan malam. Rencanaya, dia akan makan sega kucing di angkringan yang banyak tersebar di kota ini. Semalam apapun di kota ini, selalu ada tempat untuk mengganjal perut yang kosong.
"Ibu Sampyuh," sapa lelaki muda yang memanggil namanya. Namanya adalah nama yang unik dan tiada duanya. Jarang sekali ada orang yang mengenal dirinya. Apalagi menyebut namanya. Pikiran buruk Sampyuh sudah berkeliaran, menebak nebak maksud anak muda ini. Kalau melihat penampilannya, tentu dia bukan teman orang yang mabuk ciu tadi.
"Saya Angga, wakil dari Pak Agus, pemilik beberapa showrroom dan rumah makan di kota ini," ujarnya.
"Ada urusan apa kamu menemuiku?" tanya Sampyuh penuh selidik. Beberapa laki-laki yang ditemuinya selalu lelaki jahat.
"Bisakah ibu besok datang ke rumah makan yang ibu masuki tadi. Pimpinan kami ingin mengajak kerjasama," tuturnya halus.
Sampyuh menghela napas. Kerjasama apa? Dirinya hanya bisa angon sapi dan kerbau di desa Jombik.
"Kalau belum ada waktu, ibu bisa ganti hari yang lain. Tidak selalu besok," kata lelaki itu dengan hati hati.
"Bisa dibantu nomor HP ibu?" pintanya kemudian.
"Saya tidak punya HP," jawab Sampyuh ketus.
__ADS_1
"Aku mau pulang dulu," ucap Sampyuh sama sekali tidak merespon.
"Biar saya antar ambil moge ibu di rumah makan itu" tawar Angga masih dengan keramahan yang menggumpal.
"Nggak perlu aku masih punya kaki," jawab Sampyuh sekenanya.
Angga ingin tersenyum mendengar jawaban yang seenaknya sendiri itu. Jawaban yang konyol.Tapi segera ditahannya. Takut menyinggung perasaan perempuan super ini. Kalau dia tidak memegang pecut sama sekali tidak terlihat kehebatannya. Sama seperti umumnya perempuan kebanyakan.
Namun siapa sangka, empat preman yang sering minta jatah di rumah makan itu, begitu gampang dirobohkan. Tidak perlu menunggu waktu berjam jam. Kalau tidak melihat sendiri, tentu dia tak mungkin percaya.
Empat satpam di rumah makan itu saja tak punya nyali. Mereka sudah keder mendengar lelaki bertato naga di lengan yang konon kebal senjata itu.
Angga menyaksikkan sendiri bagaimana lelaki itu dibacok clurit dan sama sekali tidak mempan. Tapi atraksi hebat tidak meruntuhkan keberanian Sampyuh. Tidak dengan senjata tajam, tapi hanya dengan senjata pecut, lelaki kebal itu dibuat keok dan tidak berkutik. Ledakan pecut itu, Angga merasakan begitu kuat masuk ke gendang telibganya. Lelaki kebal senjata itu mungkin sudah tuli sekarang. Baru tahu, suara bisa menjadi serangan tak kalah bahayanya.
Andai dia bisa menarik perempuan sakti itu, tak ada satu pun preman yang berani macam macam. Ada tiga kelompok preman yang sering menyambangi.
Tanya tetangga kanan kirinya. Perempuan bernama Sampyuh itu rumahnya dekat pak lurah Jombik. Kalau pagi membantu bu lurah jualan bumbon di pasar. Tak ada yang istimewa. Seperti perempuan kebanyakan. Tapi kalau sudah naik moge dan menyembunyikan senjata pecut di balik punggungnya yang berjaket, jangan coba coba mengganggunya. Apalagi meremehkannya. Bisa rusak gendang telinga dihajar suara cambuk itu.
Angga masih punya cadangan rencana, kalau sampai gagal membujuk perempuan super cuek itu. Dia akan mendekati anak lelakinya yang kuliah. Tentu saja dengan iming iming yang menggiurkan. Bergabung dengan bos Agus, akan lebih terjamin hidupnya dan juga keluarganya. Tidak perlu membantu bu lurah jualan bumbon dan kalau sore angon wedus. Sudah ada ruangan ber ac menunggunya. Tidak perlu setiap hari bergelut dengan matahari.
Segera Angga ingin membuntuti Sampyuh. Dia menuju ke tempat parkir dan membawa motornya melewati jalan yang tadi.
Heran, dia tidak melihat perempuan itu lagi. Apakah perempuan itu mempunyai ilmu lari cepat yang sering dia baca di cerita cerita silat?
__ADS_1
Setelah naik di atas bus, hati Pangat jadi merasa tenang. Sampyuh pasti kebingungan mencarinya. Masalah motor yang ditinggal di parkiran bisa diurus nanti. Semoga Hangi juga selamat. Yang diburu Sampyuh bukan dia. Jadi dia menyuruh Hangi untuk menyelinap di balik kegelapan dan rerimbunan pohon. Setelah isterinya mengejar dirinya, Hangi bisa pergi menjauh.
Tak dinyana sama sekali isterinya bisa muncul sangat mendadak. Nekad juga dia mencari dan melacaknya. Pak lurah desa Jombik masih juga mau meminjamkan mogenya. Pangat beruntung namun juga bersedih.
Dompetnya yang berisi uang lumayan banyak tak jadi dirampas para begundal itu. Meski untuk mempertahankan dompetnya dirinya harus babak bundas dan berdarah-darah. Dalam beberapa hari luka ini pasti juga sembuh sendiri yang penting uang pembeian pak camat masih utuh.
Kencan jalan-jalan dan makan-makan sama Hangi bisa diulang kapan-kapan. Namun harus lebih waspada lagi. Kemunculan Sampyuh istrinya bisa seperti hantu yang bisa muncul sewaktu-waktu.
Pangat merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Bibirnya juga berdarah dan rasanya perih sekali. Sapu tangan yang dibawanya juga sudah penuh darah dan disimpan di saku celana.
Tentu pak camat akan heboh melihat dirinya sekarang ini. Dengan badan penuh luka ini, dia harus bisa mengarang cerita kalau habis jatuh dari motor. Ketika kondektur menyebut satu tempat, Pangat segera berdiri untuk turun dan diserahkan ongkos bus. Dia menerima pengembalian dari kondektur tanpa menghitungnya.
Untung rumah pak camat di pinggir jalan besar dan dilewati rute bus ini, jadi dia tidak terlalu capek berjalan. Orang-orang kota juga orang-orang yang sibuk dengan dirinya sendiri jadi tidak menggubris apa yang terjadi pada orang lain.
Kalau ini terjadi di desa tentu akan menjadi berita heboh dan dia harus menjawab pertanyaan di sana-sini. digesernya pintu gerbang yang tidak terkunci. Sampai di depan pintu pak camat, jemari tangan Pangat memencet bel.
Pak camat yuang belum tidur segera keluar dari kamar dan melihat Pangat dengan pertanyaan besar. Ada apa dengan sahabatnya ini? Dia juga tidak melihat motor yang dinaikinya waktu berangkat tadi.
"Aku jatuh dari motor," ucap Pangat berdusta.
"Kubawa ke rumah sakit ya," ajak pak camat.
"Nggak usah, besok juga sembuh sendiri," kata Panmgat menolak.
__ADS_1
"lukamu cukup serius," kata pak camat khawatir sekali.
Pangat lagi-lagi menolak. Dia segera membersihkan diri di kamar mandi. Ingin istirahat malam ini dengan tenang.