
Gono sudah siap berangkat kuliah setelah sarapan pecel dengan lauk telur mata sapi yang nyamleng. Tak ada suster masih ada hantu modis yang berbaik hati membuatkan sarapan. Sambal pecel buatan hantu modis sendiri memang menebarkan rasa lain dari yang lain.
Sejak tak ada suster, hantu modis kian bertambah rajin. Dalam hati Gono juga merasa iba dengan kepergian suster dari rumah ini. Ada sakit hati yang tak bisa ditahan. Ada dendam yang mau dilampiaskan. Entah sampai kapan.
Setelah menata buku kuliah dan memasukkan dalam ransel, Gono mengeluarkan sepeda motor dari rumah. Sepeda motor pinjaman dari Pak Ngadi. Tadi malam sepeda motor ini mau hilang. Gara gara ada maling kepepet.
Dia memang tidak pernah mencabut kunci kontak. Inilah yang jadi petaka. Kalau sampai hilang dia tentu akan digampar pak Ngadi. Tapi mungkin tidak. Sejak berhutang budi padanya. Dosen killer itu kian jinak dan bersahabat.
Maling itu dengan sangat percaya diri membawa motor keluar. Rumah yang tidak pernah terkunci makin memuluskan aksinya. Sekali memencet dobel starter, hiduplah motor itu.
Gono yang terlelap segera bangun dan membuka jendela. Siapa yang punya nyali besar mau mencuri motornya. Gono memang hanya melihat pencuri yang berambut gondrong dan berbadan kekar seperti Jhon Rambo itu sudah menarik gas motor.
Dalam hitungan detik, motor itu akan amblas. Tapi Gono melihat keanehan. Maling gondrong itu hanya berputar putar mengelilingi rumah kos ini. Entah berapa puluh putaran. Yang jelas lama sekali. Sampai motor itu kehabisan bahan bakar. Maling itu celingukan dan begitu dia menoleh ke belakang sudah ada pocong yang ada di boncengan. Dia langsung melompat dari motor dan ambil langkah seribu.
Gono langsung memberi tanda jempol. Tapi tak lama karena sepeda motor yang ditinggal begitu saja tanpa memasang standar membuat sepeda motor itu jatuh dan menindih kaki pocong. Gono segera melompat dari jendela dan melepaskan beban berat motor yang menimpa kakinya.
"Sorry Cong, maling itu tak tanggung jawab." Kata Gono.
"Kakimu terkilir"
Pocong mengangguk.
"Besok kita pergi ke tukang urut ya. Tapi habis kuliah lho."
Pocong masih menyeringai kesakitan. Tapi janji Gono cukup membuatnya tenang.
&&&
"Mas Gon, senyum senyum sendiri kenapa," kata hantu modis manja. Sejak kapan dia mengubah panggilan menjadi Mas.
"Teringat kejadian tadi malam. Motor ini hampir diembat maling."
"Maling baru sekali beraksi diingat ingat terus. Aku yang membuatkan teh, kopi dan sarapan kok begitu gampang dilupakan," ucap hantu modis sengit.
"Tentu ingat dong," Gono merasa bersalah.
"Mas, pagi ini aku mau minta yang spesial," pinta hantu modis serius.
"Minta apa, asal jangan yang aneh aneh!"
"Mau ikut kuliah!"
"Hah. Kamu bisa bahasa Inggris?"
"Kok nanya. Belum tahu aku. Pernah kursus bahasa inggris di Intensive English Course selama dua tahun. Sampai level 6. Nilai listening, speaking, reading dan writing semuanya nilai A. Mau nyoba?" Gertaknya.
Pagi ini mata kuliah Pak Ngadi. Dia sudah tahu kelemahan dosen kereng itu.
Gono melihat hantu Modis yang sudah berdandan rapi.
__ADS_1
"Ayo naiiik!"
Mata hantu modis berbinar bahagia.
Edisi Hantu Ramah Lingkungan
Cerbung
Motor belum dihidupkan, hantu modis sudah nangkring di atas sadel motor. Seperti anak kecil yang takut ditilapke. Jemari Gono segera menekan tombol dobel starter. Mesin tidak hidup. Diulang yang kedua. Sama saja. Yang ketiga tidak jauh beda. Apakah motor Pak Ngadi grogi dinaiki perempuan cantik?
"Kamu turun dulu!" Pinta Gono.
"Nggak mau, nanti ditinggal," katanya khawatir.
"Nggak, aku mau pakai yang kick starter. Siapa tahu bisa."
"Tetap nggak mau," katanya ngotot. Gono garuk garuk kepala. Baru kali ini dia bertemu hantu yang manjanya melebihi balita.
Nggak apa apalah mengalah. Hitung hitung sebagai balas budi. Goto pun memasang standar ganda agar dia bisa menggunakan kick starter.
"Satu," hantu modis malah menghitung ketika kaki Gono mulai mancal. Mesin belum juga hidup.
"Dua," Gono mencoba lagi. Mesin tetap mati. Berkali kali mencoba, tetap saja mati. Sampai muka Gono berkeringat. Tanpa dinyana hantu modis menyeka keringat di wajah Gono dengan sapu tangan merah jambu. Dia tersipu malu. Untung suster sudah tidak ada di rumah ini.
"Sampai besok pagi, ya nggak bisa Bos. Bensin habis dipakai maling untuk belajar motor tadi malam," ucap pocong di depan pintu.
Gono langsung tepuk jidat. Benar ucapan pocong.
Hari ini hari yang tidak bersahabat. Kuliah hari ini jelas terlambat datangnya. Penjual bensin eceran jaraknya lumayan jauh.
"Gon temanmu boleh juga," beberapa laki laki penggali kubur lewat ketuka Gono menuntun motor diikuti hantu modis.Mencoba menggoda hantu modis. Kalau tahu hantu, apa mereka masih berani sembrono menggoda.
Mereka orang orang baik. Awal awal dulu kos, mereka kerap mengajaknya makan di tengah kuburan. Jatah makan mereka memang berlebih.
Semoga Pak Ngadi ada maaf atas keterlambatannya. Kalau marah , Gono punya kartu as yang membuat dosen senior itu mati kutu. Mengajak semua koleksi hantunya bertandang malam malam.
Punya sahabat yang jadi pejabat memang ada enaknya. Pangat sungguh beruntung memiliki teman SMP yang sekarang jadi camat. Apalagi Masdi yang dulu teman satu bangku masih mengenalnya dengan baik. Sikapnya teman ramah dan friendly meski lama tidak jumpa.
Betapa nyaman hidup Masdi sekarang. Rumahnya bagus dan besar. Rumah yang setiap kamar ada AC-nya. Kasurnya juga menthul-menthul empuk.
"Ngat nanti kalau makan kamu tinggal ke warung masakan jawa itu di depan itu ya. Bilang saja utusan Pak Camat. Mbak Ning, penjualnya sudah tahu," pesan sahabatnya itu.
Pangat hanya manggut-manggut.
"Ini uang kalau kamu ingin sesuatu," Masdi meyodorkan lembaran merah uang ratusan. Cukup tebal. Pangat memperkirakan uangnya satu juta lebih.
Uangnya memang sudah habis. Hidup dalam pelarian memang menyiksa diri. Kemarin uang yang tersisa 30 ribu sudah habis untuk membayar tukang ojek. Tuhan memang baik hati, dengan mempertemukan dirinya dengan Masdi.
"Aku ngantor dulu Ngat," kata Masdi menuju ke mobilnya. Sudah ada sopir yang siap mengantar ke kantor.
__ADS_1
Tak disangkanya Masdi yang tidak memiliki keturunan terpaksa harus berpisah dengan istrinya. Hidup memang penuh misteri. sulit ditebak arahnya. dari luar Masdi memang terlihat bahagia. Punya jabatan dan hidup sudah mapan, namun siapa nyana dia mempunyai prahara rumah tangga juga.
Pangat jadi ingat dirinya sendiri. Nasibnya tidak lebih bagus dari Masdi. Pagi itu pangat sudah kelaparan. Perutnya minta sarapan. Kalau di desanya, pasti dia sudah lari ke warung kopi sambil menikmati pecel desa yang khas.
Setelah mengunci rumah, dia segera menyeberang jalan yang tidak begitu besar. Warung Mbak NIng sudah sangat ramai. Sepeda motor memenuhi pelataran parkiran begitu juga ada tiga mobil yang parkir di sana.
Warung yang sangat luas. Masih ada tempat untuk diirnya. Hmm... Mbak Ning boleh juga. Kulitnya bersih, bodinya padat dan rambutnya agak basah ; mungkin habis keramas. Warung masakah jawa ini memang enak ataukah karena daya tarik penjualnya yang masih muda dan mencorong kecantikannya.
Pangat segera memesan gudeg, susu jahe dan dua sate rempela ati, tidak lupa mengampil dua empal daging yang besar. Mumpung ada yang menanggung hidupnya.
&&&
"Ngat kamu punya nyali nggak berurusan dengan hantu?" tanya Masdi malam itu. Habis ngopi, mata sulit diajak tidur.
"Ana apa Mas? Ada hantu di hantu di rumah ini?" respon Pangat. Dia senang karena ada kerjaan. Masak di sini hanya makan dan tidur saja.
"Akhir akhir ini di bawah pohon jambu, kalau jam dua malam, ada suara daun yang disapu. Dulu memang sesekali terdengar. Tapi akhir-akhir ini hampir tiap malam," keluih Masdi.
"Serahkan saja urusan ini padaku Mas. Kamu tidur saja di kamar. Aku yang berjaga. Kalau jam dua dia membuat keonaran, biar aku yang maju."
"Serius lho Ngat?"
"Iya. Biniku lebih ganas, trengginas, dan sangar dibandingkan hantu manapun, Apalagi hantu yang hanya menyapu halaman. Kelasnya masih kacangan," kata Pangat mantap.
"Ya sudah aku percaya padamu. Tapi aku tidak usah ikut keluar menemanimu ya," pinta Masdi.
"Pak Camat tidur saja yang nyenyak," Pangat memberi garansi.
Masdi meninggalkan Pangat sendirian di kamar tamu. Ngantuk atau tidak ngantuk, dia harus tidur karena besok dia harus ngantor.
Untung di dunia ini ada hantu. Ketakutan orang pada hantu adalah rezeki untuknya. Kalau semua orang berani pada hantu. Kasihan hantunya.
Pangat melihat foto Masdi yang berfoto dengan bupati. Kalau dirinya hanya bisa berfoto dengan sapi dan kambingnya di rumah.Ah, tidak perlu menyesali nasib.
Pangat melihat jam dinding. Hampir jam dua. Dia segera ke belakang dan mengambil gunting taman. Lewat pintu samping, dia keluar rumah dan langsung dsaimbut dengan suara srek srek srek....suara akhas sapu yang bergesekan dengan tanah.
Pucuk dicinta ulamn pun tiba. Ini dia yang membuat tidur sahabatnya terganggu. Hantu itu ternyata tidak menggunakan sapu untuk menyapu tapi menggunakan rambutnya.
"Berhenti, jangan buat kegaduhan malam-malam," bentak Pangat. Hantu itu dengan cueknya masih menyapu dengan rambutnya yang panjang dan kasar dan tidak menggubris ucapan Pangat. Bapaknya Gono tersinggungh, bnaru sekali ini dia diremehkan hantu.
"Berhenti atau kupotong rambutmu biar gundul," ancam Pangat.
Ancaman yang manjur. Dia menghentikan gerakan menyapunya.
"Maaf Bos," ancaman potong rambut tidak main-main karena Pangat sudah mengeluarkan gunting taman.
"Kamu tidak ini rumah Pak Camat, kamu bisa dipanggilkan satpol PP dan ditangkap malam ini juga karena membuat kegaduhan."
"Ampun Bos. Jangan panggil satpol PP" suaranya gemetaran.
__ADS_1
"Kamu boleh menyapu di sini tapi pagi atau sore. Pakai sapu bukan pakai rambut!" kata Pangat tegas.