
Meski tidak punya bukti kuat, namun bu lurah desa Jombik sangat yakin ada benang merah antara Sampyuh dengan hantu pasar Gabus itu. Biarlah Sampyuh tidak mengakui tapi instingnya lebih banyak bicara. Bu lurah tidak mau ketenangannya terampas dengan kepergian Sampyuh. Kalau Sampyuh pergi, kejahatan di pasar itu bisa merebak. Pasar jadi disembarangin orang. Ada ketenangan ketika Sampyuh berada di sampingnya. Bu lurah tak ingin sesuatu yang buruk menimpa pasar yang merupakan ladang pencahariannya itu. Sebisa mungkin dia harus mencegahnya. Paling tidak memperlambat kepergiannya.
"Sampyuh, kepergianmu, kamu berpamitan, tentu ada hubungannya dengan moge yang hilang itu kan,' bu lurah ingin mencari kepastian. Pusaran hidup Sampyuh yang sarat masalah begitu cepat melintas setelah anaknya kuliah dan kemudian disusul kepergian suaminya yang tidak pernah kembali.
"Aku merasa bahwa moge itu adalah pangkal persoalannya," bu lurah menandaskan laghi.
Sampyuh tak bisa berkelit. Dia mengangguk.
"Dengar dengar dirimu juga sudah menawarkan rumahmu untuk dijual. Beserta isinya. Maksudku ternak-ternakmu juga mau kau jual juga," bu lurah berusaha mengorek informasi. Lagi lagi Sampyuh tak lagi bisa mengelak.
Jarum jatuh saja bisa menjadi berita yang tersebar kemana-mana, apalagi moge yang dicuri orang. Orang-orang desa Jombik sudah pasti akan gempar segempar-gemparnya. Ada orang yang prihatin ada orang yang bersorak kegirangan. Di atas penderitaan orang ada yang bersuka ria. Kesedihan bagi orang adalah kebahagiaan bagi orang lain. Sampyuh membatin pak lurah dan bu lurah Jombik tentu sudah mendengar berita heboh ini.
"Biarlah pak Lurah Jombik yang membeli rumah dan semua isinya. Kamu tidak perlu pindah dari desa Jombik, kamu boleh tinggal di rumahmu itu sampai kapan pun. Yang penting kamu tetap menemaniku di jualan bumbon di pasar Gabus ini," akhirnya bu lurah membeberkan rencananya dengan pak lurah baru saja dibicarakan tadi malam.
Dia tidak menyangka kalau Sampyuh akan mengambil keputusan secepat itu.
Sampyuh sudah bertekad bulat. Sulit rasanya untuk bertahan di desa Jombik lebih lama. Tawaran Angga bisa menghapus pikiran-pikiran buruk yang melintas.
Dia sebenarnya kasihan pada bu lurah dan pak lurah yang sudah sangat berbaik hati padanya , pada keluarganya. Pak lurah bahkan berkali-kali direpoti karena berkali kali dia meminjam moge.
Kini malah mau bemurah hati yang lain. Membeli rumahnya tapi dia masih bisa tinggal di sana selamanya tanpa dipungut biaya sewa sama sekali. Soal kebaikan hati pak dan bu lurah Jombik tak ada yang menandingi.
"Ayo kita makan soto yang sudah dingin ini," seru bu lurah.
Pagi yang benar-benar tidak bersahabat. Bu lurah Jombik merasa kehilangan sekali. Bartu pamitan saja sudah sangat kehilangan. Apalagi benar-benar ditinggalkan.
Setelah berbincang bincang dengan istrinya, lurah Jombik malah tidak bisa tidur. Apalagi Sampyuh sudah berencana berpamitan. Hengkangya Sampyuh dari desa ini menjadi sebuah kepastian.
__ADS_1
Ini tidak boleh terjadi. Sepertinya Sampyuh berusaha keras untuk mengganti moge yang hilang itu dengan semua apa yang dimiliki. Tadi istrinya sudah bercerita kalau Sampyuh tetap bersikukuh untuk perghi dari desa ini, katanya hendak mencari penghidupan yang baru. Ini jelas alasan Sampyuh untuk mengganti moge yang dihiulangkan oleh Gono itu.
"Kita bantu Sampyuh saja. Kita beli moge baru untuk mengganti moge yang hilang itu. Rumah Sampyuh tidak usah dijual. Kerbau, sapi dan kambing biar tetap berada di rumah itu. Hanya dengan cara ini kita bisa mengikat Sampyuh agar tidak pergi kemana-mana," kata lurah Jombik memberi keputusan yang berat.
Uang ratusan jutamemang tidak sedikit. Tapi bisnisnya sarang burung walet, arisan motor yang ada dimana-mana, sawahnya bertebaran dan dia juga mempunyai dua POM bensin, masih sanggup untuk mengganti moge yang hilang.
Lurah Jombik masih sangat yakin bahwa perempuan bernama Sampyuh itu tak lain adalah peniup seruling yang bisa menidurkan perampok yang menjarah hartanya itu. Bukan hanya sekali ini saja, dia menemukan keanehan tapi kalau dihitung-hitung hampir lima kali ini. Entah mengapa rumahnya sering disatroni perampok. Kelima aksi jahat itu selalu gagal dan selalu datang pertolongan tepat waktu. Perampokan yang keenam, yang sengaja di seting dan dia meminta pada istrinya untuk memegangi tangan Sampyuh, tempo hari, ternyata perampokan itu berjalan dengan mulus.
Tak ada pertolongan di saat genting itu. Sampyuh tidak bisa bereaksi. Tapi lurah Jombik ini melihat sinar mata perlawanan dari mata Sampyuh. Kalau dia tidak pas berada di rumah ini dan tangannya tidak dipegang oleh istrinya tentu akan terjadi keajaiban lagi dengan hadirnya Sampyuh dalam bentuk lain.
"Sampyuh harus tetap kupertahankan di desa Jombik ini. Dia adalah pagar keamanan yang tidak kentara. Kalau ada orang lain yang memanfaatkan dia, desa Jombik akan jadi desa yang jadi sasaran kejahatan. Rumahnya sudah pasti yang menjadi incaran yang pertama." kata lurah Jombik dalam hati. Istrinya juga terlihat sedih kalau ditinggalkan Sampyuh. Lurah itu tak mau istrinya begitu berduka. Uang masih bisa dicari. Tapi menjaga perasaan istrinya jauh lebih berharga.
Seorang sahabatnya sesama lurah pernah memergoki aksi hebat Sampyuh di kota pada suatu malam. Dia begitu yakin Sampyuh karena moge yang dinaiki sama dengan moge yang dipinjam oleh Sampyuh.
Sudah tiga hari Gono tidak kuliah. Simbok memaksa untuk meninggalkan rumah. Masalah moge yang hilang biar menjadi urusannya. Ah, simbok kok sekarang begitu gagah. Sepertinya begitu siap mengganti moge yang hilang itu. Padahal harga moge itu tidaklah harga kaleng-kaleng. Sungkan dengan simbok memaksa Gono pergi ke tempat kos dengan naik bus.
Dugaan Gono tidaklah melenceng, sore itu, begitu dia datang dan kangen-kangenan dengan hantu yang ada di rumah angker itu, hanya berselang 5 menit pak kos datang dengan seorang laki-laki muda yang terlihat perlente dan gagah.
"Bos,. bos, baru kangen-kangenan sebentar saja sudah datang pak kos. Apa perlu kami mengusirnya?" tanya pocong.
"Jangan, kamu masuk dan bersembunyi dulu saja. Paling mereka ke sini hanya sebentar saja," kata Gono dengan suara gemetar.
"Kok Bos kelihatan berwajah pucat dan ketakutan. Ada apa Bos?'
"Sudah kamu masuk sana saja," perintah Gono yang merasa malu karena ketakutannya terbaca oleh pocong.
Gono langsung mempersilakan masuk pak kos.
__ADS_1
"Langsung saja Gon. Tadi mencegatmu di perempatan sana. Kenapa kamu jalan kaki habis turun dari bus tadi. Kemana mogenyua?" tanya pak kos penuh selidik.
Gono sudah menduga kalau moge yang hilang itu akan berbuntut panjang.
"Hilang Pak Kos ketika kubawa pulang ke desa," ujar Gono.
Mata Pak Kos langsung terbelalak.
"Hilang?" katanya dengan menggeleng-gelengkan kepala.
"Kok bisa?" tanya lagi. Gono tidak menjawab. Karena kalau menjawab pun akan tetap disalahkan. Orang yang kalah bicara apapun tetap salah.
Lelaki muda yang mendampingi pak kos angkat bicara.
"Begini saja, karena motor itu merupakan fasilitas di sini agar penghuni yang kos di sini makin banyak. Namun karena sudah kamu hilangkan, terpaksa kami minta ganti.Kami beri waktu 10 hari, kalau tidak diganti akan kami laporkan pada polisi karena kasus penggelapan," ancam Angga serius.
Dia yakin Angga dan simboknya tak bakal berkutik. Diberi waktu setahun pun tak bakal bisa mengganti moge yang baru. Akhirnya kemenangan berada dalam genggamannya juga.
"Kecuali..."
"Kecuali kalau simboknya mau bekerja sama dengan kami," kata Angga selanjutnya.'Dari balik gorden, hantu dengan muka penuh muka penuh darah membawa tiga teh hangat dan ketela goreng yang masih hangat mengepul. Dia didampingi hantu tanpa kepala.
Tiga gelas itu disajikan di meja. Begitu pula ketela goreng. Hmm baunya membuat perut lapar.
Hantu tanpa kepala karena tak bisa ngomong hanya bisa menggerakkan ibu jari kanannya sebagai pertanda tamu untuk menikmati hidangan yang tersaji.
"Angga, kita pulang saja," ajak pak kos yang segera menarik tangan keponakannya itu. Begitu sampai di luar mereka langsung lari sekencang-kencangnya. Hantu itu memang ramah, tapi mereka tak ingin diramahi seperti itu.
__ADS_1