HALUSINASI COWOK KARISMATIK

HALUSINASI COWOK KARISMATIK
Bab 8


__ADS_3

Menyusuri jalanan melelahkan stamina dan pikiran. Sampyuh merasakan hati gundah gulana. Kalau bertemu Pangat suaminya, dia akan langsung mengajaknya pulang. Kota ini bukan habitat hidupnya. Lebih baik pulang ke desa, berkumpul dan berkubang bersama kerbau dan sapi.


Ngarit untuk kambingnya yang jumlahnya sudah 5 ekor. Kebahagiaan itu mencium sengak kencing sapi. Kebahagiaan itu bisa nimpal tletong kerbau. Sampyuh sadar duduk di atas motor gede ini juga bukan tumpahan kebahagiaan. Dia lebih nyaman tinggal di desa dengan menu pecel dan lodeh setiap hari.


"Dimana kamu ngumpet to Ngat? Aku rindu bertemu. Ayo pulang. Maafku sudah tertumpah untukmu," begitu Sampyuh berkata dalam hati.


Dia tadi tidak mampir ke kos Gono anaknya. Paling anaknya juga tengah kuliah. Ini urusan orang tua tak usah melibatkan anak. Biarlah Gono anaknya suntuk dengan kuliahnya. Berputar putar sampai hari menjelang petang, tak juga dia bisa menemukan sosok Pangat. Laki laki yang sudah tidak lagi keluar produknya itu. Suaminya memang anak tunggal. Orang tuanya hanya memasarkan limited edition.


Sampyuh tidak begitu mengenal daerah ini. Tahu tahu dia sudah masuk ke tempat sepi. Sepertinya perkebunan tebu. Sejauh jauh mata memandang, di kanan kiri mata hanya tertumbuk pohon tebu setinggi dua meter lebih.


Sampyuh ingin berbalik. Perasaannya tidak enak.


Benar juga ketika dia memperlambat motor, dua orang lelaki muncul mendadak di depannya dengan mengacungkan clurit. Bau maut menebar. Nyawa Sampyuh terancam. Dia turun dari motor dengan sikap waspada. Dua orang ini jelas bukan orang baik baik. Sampyuh membuka helm yang rapat menutup wajah dan kepalanya.


" Lho perempuan. STW , setengah tuwa, tapi bodi masih boleh juga. Rezeki nomplok bos," laki laki yang wajahnya penuh cacar itu memang terlihat sangar.


"Serahkan motor dan kau boleh pulang jalan kaki tanpa gangguan," kata lelaki satunya. Bijak sekali kalimatnya.


Sampyuh terpojok. Kalau motor ini dirampas, bagaimana pertanggungjawabannya pada lurah desa Jombik. Semua sapi, kerbau dan kambing serta rumah dijual mungkin baru bisa beli motor ini.


"Maaf, motor ini motor pinjaman pak lurah. Izinkan aku lewat tanpa gangguan," pinta Sampyuh.


"Enak saja kau ngomong. Seharian aku menunggu. Dapat mangsa empuk, masak mau dilepas begitu saja," kata lelaki dengan wajah bercacar itu.


"Jadi?" kata Sampyuh minta kejelasan.


"Tidak usah banyak cincong. Kamu bisa tinggalkan tempat ini dengan masih bernapas saja sudah beruntung," kata rekannya.


"Sebentar. Tunggu sebentar.," Ujar Sampyuh.


Dua orang begal itu melihat apa yang dikeluarkan Sampyuh dari balik jaket. Mereka khawatir juga, jangan jangan mereka salah cegat. Jangan jangan polisi yang menyamar. Kalau yang keluar dari balik jaket itu pistol. Sungguh celaka nasib mereka. Korban empuk itu akan jadi petaka.

__ADS_1


Namun tawa mereka berdua pecah begitu tahu yang keluar itu hanya pecut.


"Hahaha kok pecut. Apa dikira kami kerbau?" Ejek mereka habis habisan.


Mereka menyimpan clurit mereka setelah benar benar yakin korbannya hanya perempuan dan hanya memegang pecut.


"Kalian tak lebih seperti dua ekor kerbau di rumahku. Tapi aku tidak akan mencambuk punggung seperti kerbau kerbauku di rumah. Tapi pipi kalian sebagai gantinya."


Taar, begitu pecut itu meledak di udara, pipi kanan mereka panas sekali. Betapa cepat kilatan pecut itu. Taar..belum sempat mereka berpikir jauh ganti pipi mereka terkena ujung pecut. Beginikah rasanya kalau kerbau kena pecut.


"Ini namanya jurus menggiring kerbau," kata Sampyuh memperkenalkan jurus yang baru saja dipamerkan.


"Mau kejutan lagi," tantang Sampyuh mantap.


Dua begal itu sadar, perempuan STW ini bukan perempuan sembarangan.


Gono sudah berusaha mencari jalan tikus untuk mengantarkan Hamo pulang. Dia merasa tidak tenang dengan kehadiran simbok yang wira wiri. Siapa tahu simbok mendadak sidak ke rumah kos. Bisa jadi bahaya besar


Gono kali ini setuju. Tapi ada rasa cemas juga kalau berpapasan dengan simbok. Maka dia menghindari jalan besar atau jalan utama.


Tak dinyana mencari jalan yang lengang malah bertemu simbok.


"Simbokmu dalam bahaya Mas Gon," kata Hamo. Mereka tak jadi melanjutkan perjalanan karena simbok yang yang tengah dihadang dua lelaki begal.


"Tenang. Simbok masih mengatasi sendiri. Percayalah padaku," respon Gono mantap. Apakagi dia melihat simbok sudah mengeluarkan pecut senjata andalannya. Jangankan hanya dua orang, pernah simbok dikeroyok lima orang, masih bisa mengatasinya. Simbok bisa bergerak cepat seperti bayangan dan membuat musuh musuhnya kebingungan.


Gono mau meninggakkan tempat tapu dicegah Hamo.


"Tunggu dulu. Siapa tahu simbok butuh bantuan," Hamo masih meragukan kesaktian Simbok.


Gono mengalah. Suasana makin remang.

__ADS_1


"Coba lihat saja," Gono memberi kesempatan Hamo untuk menyaksikkan kehebatan simbok.


Mereka menyaksikkan simbok yang tengah menghadapi satu begal yang berclurit. Satunya masih sungkan untuk mengeroyok.


Simbok rupanya tidak ingin berlama lama. Begitu laki laki menyerang nembabi buta. Simbok berubah seperti bayangan. Serangan clurit selalu mengenai tempat kosong. Terdengar pecut yang meledak dan menghajar tubuh begal. Bwgal iru meringis kesakitan. Kaos yang dikenakan begal jadi compang camping. Lama lama dia bisa bertelanjang dada.


"Kalau kau masih nekad menyerang, kulit tubuhmu akan kucabuk cabik seperti kaosmu," gertak simbok. Rekannya jadi jerih.


"Ayo kita pergi, sebelum simbok memergoki kita. Apa kau sanggup melawan simbok?" Kata Gono.


"Simbokmu pancen hebat. Wong wedok pilih tanding," Hamo memberi komentar.


Begal yang menonton temannya bertarung mentalnya makin menciut. Kalau dia mengeroyok perempuan tangguh itu, juga tidak banyak membantu. Gerakan perempuan itu seperti setan. Heran, makannya apa dia.


Terlihat temannya makin letih karena tenaga yang dikeluarkan untuk membacok selalu mengenai ruang kosong. Ini jelas memboroskan tenaga. Sementara ledakan pecut makin membuat pakaian temannya compang camping. Perempuan itu seperti tengah menari dengan gemulai.


Kalau perempuan itu hendak membuat temannya celaka atau terluka parah tentu gampang sekali. Serangan pecut itu seperti patukan ular kobra yang tidak pernah luput mengenai tubuh rekannya. Bila mau bisa saja dia menyerang mata dan bisa membuat buta. Apalagi sekarang gelap mulai merayap. Gerakan pecut itu makin sulit dilihat.


"Suitttttt," terdengar suitan panjang. Sebelum rekannya pingsan karena kehabisan tenaga dan terluka makin parah harus segera ambil tindakan. Suitan itu sebagai tanda agar temannya mundur dan menjauh. Begitu juga dengan dirinya yang juga ingin ambil langkah seribu. Tak ada gunanya meneruskan pertarungan kecuali mau bunuh diri. Mereka masih mau makan lontong tahu esok pagi dan segelas es teh sebagai sarapan. Semoga perempuan sakti itu tidak mengejar.


Dua begal itu segera meringsek masuk ke kebun tebu. Mereka ingin menyelamatkan nyawa mereka. Sesekali mereka menoleh ke belakang dan bisa bernapas lega karena tidak dikejar.


"Mengapa kau tidak bantu aku," temannya menyeringai kesakitan.


"Percuma menghadapi perempuan setan itu. Kukira dia hanyalah emak emak yang hanya bisa mewek mewek minta ampun. Ternyata kitalah yang hampir celaka.


"Benar, sekarang kita kena batunya."


Sementara Sampyuh masih berdiri dengan gagah. Napasnya masih teratur berhembus di lubang hidungnya yang besar besar. Dia masih menunggu. Kalau dua begal itu hendak memanggil rekan rekannya yang lain, dia siap melayani. Bertempur dalam cahaya malam lebih menguntungkan dirinya. Cukup lama dia berdiri dan menunggu dan tak sda tanda tanda dua begal itu muncul kembali. Mereka sudah kapok terkena cambukannya.


Sampyuh segera meninggalkan tempat itu. Dia sudah kangen bertemu Pangat suaminya.

__ADS_1


"Kamu bersembunyi di dunia mana tho Ngat. Rinduku sudah tak ada tempat untuk tertumpahkan," kata Sampyuh pada angin yang membawa senja selesai.


__ADS_2