
Setelah jauh dari rumah kos, Angga dan pak kos segera berhenti. Napas mereka berhamburan tidak teratur. Namun jelas sekali ketakutan mereka lebih kuat mendominasi. Baru kali mereka bertemu langsung, masih sore hari, jadi jelas sekali terlihat.
Hantu di rumah itu memang sopan, ramah tapi sekaligus juga kurang ajar. Hantu yang tak kenal waktu. Babar blas ora ngerti wayah tenan. Masih mending kalau malam hari. Seperti lazimnya hantu hantu yang lain. Dia sudah menata mental dulu.
Lha, ini sekonyong konyol muncul dari balik gorden. Semula dia mengira Gono agak bagusi karena jarang jarang anak punya pembantu. Malah dua sekaligus.
Namun begitu kain gorden tersingkap, tra la la...sunggih pemandangan paling 'indah' di matanya. Satunya tanpa kepala, satunya perempuan berambut panjang sampai menyentuh lantai dan mukanya itu hih ...penuh darah. Makanya rumahnya yang sudah menghabiskan banyak biaya tidak laku.
Kecuali bocah gemblung yang bernama Gono itu. Siapa yang tidak mengkeret melihat hantu tanpa kepala mempersilakan dirinya minum dam menikmato gorengan hangat dengan kode ibu jari dan punggungnya sedikit membungkuk itu.
Sepertinya rumah kosnya tidak laku selamanya. Kecuali yang tinggal di situ Gono, bapaknya dan ibunya yang sangat nyentrik itu. Selebihnya mereka semua akan lewat.
"Kapok aku ke rumah angker itu," seru Angga yang memang penakut.
"Heran, si Gono makannya apa sampai begitu santai dan nyaman hidup bersama hantu." Pak kos sampai tak bisa bernalar.
"Mbok coba diusir dengan pawang hantu yang terkenal di kota ini."
"Sudah kucoba berkali kali hasilnya nihil. Pergi cuma sehari. Hari kedua kembali. Aku boros di ongkos."
"Coba nanti aku hubungi Ki Badrun. Langganan bosku. Banyak tempat usaha bosku yang berhantu, sekarang sudah steril," Angga berjanji.
" Dicoba ya Le. Siapa tahu sukses."
"Ya, tapi aku juga harus dibantu menekan Gono. Pokoknya bagaimana caranya agar Gono bisa nurut dan bujuk ibunya untuk bergabung."
Pak kos menepuk nepuk pundak keponakannya tanda setuju sekali. Kalau dibiarkan berlama lama, tentu hanya Gono seorang yang berdiam di rumah kosnya. Tak bisa dia balik modal. Padahal tiap bulan dia harus mengangsur bank. Ide keponakannya brilian juga.
Bukannya pocong tidak mau membantu Gono. Kasihan dia yang harus menanggung beban yang berat. Moge itu harus ditemukan agar Gono bisa tersenyum lepas kembali. Pocong merasakan ada persengkongkolan di balik hilangnya moge itu.
Sebuah skenario busuk harus dibongkar. Dia sudah mengadaan survei, kontak dengan sesama hantu antar sektor. Bahwa moge itu telah dibawa masuk ke gudang. Tapi semua itu perlu bukti. Minimal ada foto yang menunjukkan keberadaan moge di gudang itu. Dia sudah berusaha koordinasi dengan hantu tanpa kepala.
__ADS_1
Pak bos yang punya rumah mewah dan ada gudang di belakangnya bukanlah jenis orang bodoh. Dia sudah memagari rumahnya dengan pagar gaib. Jangankan masuk ke gudang untuk mengambil foto moge itu, memasuki rumah itu saja sulitnya bukan kepalang.
Belum selesai misinya melacak keberadaan moge itu, ada ancaman yang lebih nggegirisi lagi. Keberadaan hantu hantu di rumah angker nasibnya makin terpinggirkan karena ada pawang hantu yang akan mengusir keberadaan para hantu itu. Ini juga perlu dilaporkan pada Gono.
Kalau hantu hantu tak ada di sana lagi, Gono bisa juga terusir. Rumah angker akan kehilangan keangkerannya. Akan ramai dengan penghuni baru. Para hantu akan bubar jalan. Memikirkan nasibnya sendiri sendiri.
KI Badrun memang bukan pawang hantu kaleng kaleng. Buktinya untuk menembus pagar gaib itu mereka kesulitan sekali. Tak bisa masuk. Tak seperti pawang pawang hantu tang lain, yang selama ini mereka hadapi. Mereka bisa main main.
Diusir sekali, esok harinya bisa masuk kembali. Tapi Ki Badrun lain, sekali dia membuat pagar gaib, tak akan bisa merek masuk ke dalam rumah itu.
Pocong dan Hantu tanpa kepala pulang dengan galau.
"Bos keberadaan moge sudah ada sedikit titik terang, tapi aku kesulitan memberi bukti. Kami tak bisa masuk," curhat pocong.
"Biasanya kamu enak saja mau masuk kemanapun. Sulitnys dimana?"
" Ada pagar gaibnya Bos," kata pocong jengkel.
Gono mendengar penuh seksama.
"Ada yang lebih menyedihkan lagi Bos," pocong meneruskan.
"Apa itu?"
"Kita bakal terusir dari sini," tandas pocong.
Gono mengangkat alis tak percaya.
Keder juga hati Gono mendengar kedigdayaan Ki Badrun. Semua hantunya terlihat sudah kalah mental terlebih dahulu. Nama besar Ki Badrun sudah sanggup meruntuhkan mental mereka. Melembutkan sampai selembut tepung terigu.
Pocong yang paling matoh sudah merasakan sendiri benturan kekuatan yang membuatnya terjengkang. Makin kuat dia menerabas, makin jauh dia terpental. Begitu juga yang dialami hantu tanpa kepala, tak dinyana pagar gaib itu punya pelontar yang kuat. Gono bingung.
__ADS_1
Moge hilang belum teratasi sudah mencuat masalah baru yang tidak kalah peliknya. Hari minggu pagi, Ki Badrun sudah datang ditemani krunya sebanyak lima orang. Begitu tiba tiba. Lebih cepat dari prediksinya. Terlihat pula Angga dan Pak kos di belakangnya.
Mereka semua mengenakan baju serba hitam. Ikat kepala juga hitam. Kompak sekali. Makin menambah keangkeran mereka. Pak kos merasa sangat lega. Keinginannya dari dulu memang ingin rumahnya steril dari hantu. Rasanya baru bisa kesampaian sekarang.
Gono melihat semua hantunya ngumpet ketakutan.
"Bos Gon, berbuatlah sesuatu agar kami tidak terusir. Jangan sampai mereka membuat pagar gaib," salah satu dari mereka memohon mohon.
Gono sendiri bingung bagaimana dia harus bersikap. Ini bukan rumahnya. Dia hanya menumpang gratis. Kalau pak kos mengusir sudah selayaknya. Tapi bukanlah belum satu tahun.
Satu semester saja belum nyampai. Mengapa begitu tergesa gesa? Ada maksud apa di balik semua ini? Sejak didampingi oleh Angga sang keponakan, pak kos pelan pelan sudah kehilangan rasa kemanusiaannya.
Gono hanya mengawasi dari balik jendela kaca. Biasanya laskar hantunya berulah dan usil menggoda, kali ini seperti kalah sebelum bertanding. Aura kekuatan Ki Badrun yang dibantu krunya begitu luar biasa. Benar benar pawang hantu yang kompeten.
Apakah laskar hantu tersugesti oleh cerita pocong dan hantu tanpa kepala? Om Gendru yang pemberani sekarang mengkeret. Gundul Pringis cuma bisa pringas pringis ketskutan. Biasanya kepala itu akan terbang untuk menebar teror ketakutan.
"Gun, kamu terbang ke sana untuk menakuti nakuti," perintah Gono.
"Mau terbang gimana Bos. Kepalaku jadi pusing hebat. Keseimbangan kepalaku hilang," keluh Si Gun.
"Om Gendru, kamu kan bisa berubah apa saja. Jadi ular naga atau buaya raksasa, untuk menakuti mereka," ganti Gono memberi indtruksi pada Om Gendru.
"Aku sudah dikunci Bos. Tak bisa menyamar siapa siapa," ucap Om Gendru memelas. Jadi mereka semua hanya pasrah. Menunggu nasib baik.
Terlihat Ki Badrun duduk bersila diikuti oleh lima krunya dan mereka membentuk lingkaran di halaman rumah kos yang teduh karena ada pohon sawo yang rindang dan kekar. Mulut mereka komat kamit membaca mantra dan efeknya sungguh luar biasa. Laskar hantu langsung merasa gerah sekali dan akhirnya kepanasan.
Mereka berteriak kesakitan menahan hawa panas. Gono tahu hanya laskar hantunya saja yang diserang. Dia sama sekali tidak tersentuh.
"Panas sekali bos," pekik pocong. Gono membatin, sebentar lagi laskar hantunya akan kabur dari rumah ini dan akan ada pagar gaib yang membuat mereka tidak bisa masuk.
Dalam keheningan tercipta, mendadak terdengar suara yang lembut dan kemudian suara itu berubah jadi parau dan melengking tinggi sekali. Kembali lembut terdengar dan sedetik kemudian melebgking tak beraturan seperti suling yang rusak.
__ADS_1
Konsentrasi Ki Badrun jadi kacau balau Siapakah yang mengganggu semedinya. Rapal mantrabya jadi berantakan. Hmm.. peniup seruling ini bukan orang sembarangan. Ki Badrun jengkel karena ada orang yang usil pada dirinya. Mengganggu pekerjaannya saja. Sepertinya disengaja.