HALUSINASI COWOK KARISMATIK

HALUSINASI COWOK KARISMATIK
Bab 32


__ADS_3

Mendidih darah Ki Badrun mendengar suara seruling yang terus mengusik kobsentrasinya. Dia biasa menghadapi hantu yang paling ganas sekalipun. Semua berhasil ditundukkan. Tapi menghadapi gangguan suara seruling itu, dia benar benar kehabisan akal.


Kembali dia berkonsentrasi merapal mantra. Bibirnya komat kamit dan bergetar. Kali ini sambil menahan gejolak emosi. Suara suling itu seperti knalpot rusak menusuk dan berpusar pusar di telinganya. Lima kru Ki Badrun juga tak bisa tenang.


Mereka membuka mata dan saling pandang. Gangguan itu tak bisa disepelekan begitu saja. Makin lama gangguan itu makin membuat telinga sakit.


"Ambil senapan," perintah Ki Badrun pada salah satu krunya. Senapan untuk berburu babi hutan itu selalu ada di bagasi mobil. Tanpa menunggu lama, salah satu dari mereka segera beranjak dan berlari ke mobil. Dia kembali dengan senapan di tangan. Ki Badrun tersenyum.


Senapan berburu babi hutan itu menjadi andalannya. Tak pernah melesat dia membidik hewan buruannya. Babi hutan yang berlari kencang bisa terjengkang dan terkapar mati. Apalagi cuma manusia yang bersembunyi di pohon sawo ini. Suasana begitu menegangkan.


Jantung Gono berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia mengkhawatirkan keselamatan simboknya. Apakah dia perlu keluar untuk menolong simbok? Gono jadi ragu dan gamang.


"Kowe ora usah metu Gon. Ben Simbokmu sing mergawe," suara simbok terdengar. Meski tak terlihat orangnya, Gono yakin simbok ada di sekitar sini. Mungkin simbok sudah ada di pohon sawo. Tapi kapan? Simbok memang hebat.


Kalau sudah mengeluarkan ilmunya, seperti ada dimana mana. Kali ini Gono agak sedikit tenang. Meski ada rasa was was yang tersisa. Semoga simbok masih bisa mengatasi Ki Badrun yang sudah sudah mengokang senjatanya. Siap untuk menghabisi lawannya.


Terdengar suara suling yang begitu jelas di pohon sawo yang rindang itu. Ki Badrun tersenyum sinis. Peniup suling hendak mengujinya. Jarak 40 meter saja, tembakannya tak pernah meleset. Apalagi jarak suara suling hanya sekitar 10 meter. Hmm...tunggu sebentar.


Dia masih ingat babi hutan yang beratnya 150 kg pernah menggelepar, sekarat dan mati. Apalagi cuma manusiia yang bersembunyi di balik rerimbunan daun sawo. Ki Badrun mengarahkan moncong senapannya. Dalam satu detik akan ada tubuh berdarah darah terkoyak peluru senapannya.


Jatuh berdebum menimpa tanah. Jemarinya menarik pelatuk. 100 persen tembakannya selalu tepat sasaran. Apalagi mangsanya cuma diam saja.


Gono menahan napas. Mengapa sumbok tidak bereaksi sama sekali? Daun daun sawo tetap tenang tak bergerak.


"Des," jemari Ki Badrun menarik pelatuk. Tinggal menunggu saja peniup suling itu jatuh berdebum menghujam ke bumi. Kemudian ada debu berkepul. Kemudian ada tubuh berkelejotan sebelum nyawanya oncat dari raga.

__ADS_1


"Kurang ajar," umpatnya. Lima anak buahnya juga heran. Masak hanya menembak dalam jarak 10 meter Ki Badrun bisa meleset. Ini jelas mustahil. Biasanya saru peluru satu nyawa.


Ki Badrun penasaran. Kalau peniup suling itu terkena kakinya paling tidak ada darah menetes jatuh. Atau suara erangan kesakitan. Meski dia bertahan dengan memegangi batang yang ada.


Suara suling itu tetap mengalun. Seakan hendak berkabar bahwa tembakannya tidak mengenai sasaran.


Ki Badrun makin geram dan menjadikan kemarahannya memuncak sampai ke ubun ubun. Kali ini dia akan bertindak lebih kejam. Dia akan menembak kakinya dulu. Kemudian lengannya.


Biar merasakan kesakitan teramat sangat terlebih dulu. Sampai darahnya habis terkuras. Dia ingin tahu jenis manusia yang telah berani membuat tantangan terbuka di hadapannya. Manusia yang jelas bosan hidup. Hantu saja terbirit birit bertemu dengan dirinya.


Suara suling itu sekarang pundah ke pohon mangga. Daun mangga yang lebat ikut membantu menyembunyikan. Tentu peniup suling itu bertubuh mungil. Darah Ki Badrun makin membara terbakar. Dia telah dilecehkan sebagai pawang pengusir hantu dan penembak jitu.


Menembak kelereng di atas mulut botol saja dia tidak meleset. Menembak manusia di atas pohon masak tidak bisa. Aneh, dia juga tidak pergerakan daun karena tubuh manusia yang berpindah, tapi mengapa peniup suling itu bisa berpindah ke pohon mangga? Apakah yang dihadapinya sebangsa hantu?


Ah tidak ini sudah pasti jenis manusia. Manusia kurang ajar dan bosan hidup karena kebanyakan hutang. Setelah mengisi peluru dan mengokangnya, Ki Badrun sudah berkonsentrasi lagi.


"Lihat, sebentar kalian akan melihat korban yang mengaduh kesakitan, jatuh dan mohon ampun kepadaku hahaha," Ki Badrun tertawa tawa untuk menguatkan hatinta sendiri. Luma anak buahnya ikut tertawa.


Kali ini K Badrun mengarahkan moncong senjata di pohon mangga, tempat suara suling terdengar.


"Satu..dua..."


Sepersekian detik kemudian, Ki Badrun tidak jadi menarik pelatuk karena suara itu berpindah ke pohon jambu. Dia jadi panas hati. Merasa dipingpong ke sana ke mari. Hebat juga orang itu bisa bergerak secepat kilat. Andai dia menarik pelatuk pasti juga tiada hasil


Lawannya kali ini lebih berat dibandingkan dirinya berhadapan puluhan hantu di rumah atau di tempat paling angker sekalipun. Tembakan yang meleset hanya akan merendahkan dirinya di hadapan anak buahnya sendiri.

__ADS_1


Satu saja meleset, dia sudah malu bukan kepalang. Tapi Ki Badrun tak kekurangan akal untuk bisa menghabisi nyawa peniup sulung itu. Orang ampuh itu harus bisa dipancing untuk turun.


Begitu kakinya menyentuh tanah, dia akan langsung menghajar kakinya dengan pelurunya, kemudian tangannya, tubuh lain yang tidak membahayakan nyawa tapi dia bisa menyiksannya terlebih dulu sampai musuhnya mati sendiri karena kehabisan darah.


Ki Badrun menyeringai penuh kebengisan dan kekejaman. Dia harus bisa memancing peniup suling itu.


"Hai pengecut, kalau berani turun ke bawah. Kita selesaikan oersoalan kita secara ksatria. Bukan seperti tikus curut yang bersembunyi seperti itu."


Suara suling itu masih terdengar dan selalu berpindah pindah tempat. Ki Badrun sampai kewalahan mengikuti arah suara itu.


"Untuk bisa mengalahkanmu aku tidak perlu turun, aku tidak perlu menyentuhmu, aku juga tidak perlu senapan yang bisa membunuh nyawa manusia," suara itu membalas tantangan Ki Badrun.


"Jangan sombong. Buktikkan omonganmu," pekiknya marah.


"Gampang. Tapi ada syaratnya?"


"Kalau kau kalah, jangan sampai kau usik hantu di rumah itu bagaimana?"


Ki Badrun menumbang nimbang.


"Kalau kamu tak sanggup mengalahkan aku" tanyanya penasaran.


"Aku akan turun dan tembaklah aku, aku berjanji tidak melawan. Kalau dalam 5 menit aku tidak bisa membuatmu tidur, bersama lima temanmu, berarti aku yang kalah," ujar suara itu.


"Hahaha bagus... bagus dan dalam menit keenam aku bisa melubangi tubuhmu seenakku," tawa Ki Badrun membahana.

__ADS_1


Warung Kiwa Dalan, pecel lele


__ADS_2