HALUSINASI COWOK KARISMATIK

HALUSINASI COWOK KARISMATIK
Bab 25


__ADS_3

Lurah-lurah dan istrinya yang bersembunyi di rumah lurah Jombik, memandang lurah Jombik yang datang memboncengkan Sampyuh. Kalau datang lewat pintu belakang, waktu kembali muncul dari depan. Posi masih asyik berjoget dengan riangnya. Meski dia senam mandiri.


Para lurah itu memang keterlaluan. Baru jadi lurah saja saja sudah berlagu. Tidak mau dikumpuli bangsa pocong. Padahal dia sama sekali tidak membuat keributan, mengapa mereka semua malah menyingkir. Jangan jangan waktu mereka menyantapo sate kambing juga menyingkir lagi.


Apa dia harus menikmati sate kambing itu sendirian. Ah, dia mau mencobanya waktu mereka tengah istirahat dan makan sate kambing.


Lurah Jombik langsung menarik gas motornya untuk mencari selamat begitu Sampyuh turun dari boncengan. Dia akan kembali berkumpul dengan teman-temanya sesama lurah. Pagi masih menyisakan sisa embun yang menetes di daun-daun, pocong itu ternyata masih juga belum beranjak.


Orang-orang yang di dalam memandang dengan tatapan meremehkan.


Apalagi bu lurah Surti melihat kalau Sampyuh tidak memiliki potongan yang meyakinkan sebagai sosok perempuan yang pemberani. Lurah Jombik keliru dalam memilih orang. Tapi dia juga terbersit rasa penasaran dengan perempuan pilihan lurah Jombik itu. Kalau tidak salah perempuan itu sering membantu lurah Jombik termasuk membantu bu lurah berjualan bumbon di pasar Gabus.


Dia memiliki kelebihan apa?


Posi jadi malu ketika dilihatnya sudah ada Sampyuh yang baru saja turun dari boncengan motor. Pak lurah langsung ngac ir begitu saja. Pagi pagi kok sudah pulang baisanya sampai siang., Apakah dagangan bumbonya di pasar Gabus sudah habis diborong pembeli. Wah lumayan bisa mengajak Mbok Sampyuh berjoget berdua.


Kalau dia masih mau diajak untuk bersenam bersama tanpa dibarengi rasa takut. Andai semua manusia memiliki sifat yang baik seperti Mbok Sampyuh betapa damai bumi ini.


"Ayo Mbok senam bareng," ajak Posi begitu percaya diri.


"Habis senam ada acara makan sate kambing bareng lho Mbok," kata Posi lagi dengan penuh semangat.


Sampyuh hanya diam. sama sekali tidak merespon. Wajahnya begitu dingin. Tak seperti biasanya. Yang begitu bersahabat dan ramah.


"Ada apa dengan Mbok Sampyuh?' Posi bertanya-tanya dalam hati.


Wah serem sekali Mbok Sampyuh kalau menampilkan wajkah serem begitu. Posi jadi tahu diri. Pasti ada yang tidak berkenan di hatinya.


"Maaf Mbok," kata Posi berpamitan. Dia langsung melompat lompat kembali pulang. Mbok Sampyuh bukan perempuan sembarangan. Melawan tiga orang bersenjata ruyung saja dia sanggup menadingi, apalagi kalau hanya menghajar pocong seperti dirinya.


Posi tak mau membuat Mbok Sampyuh murka. Lurah-lurah dan para istrinya melihat dengan heran. Bagaimana mungkin tanpa perlu berkata-kata. Tanpa perlu membaca mantra. Pocong itu ketakutan sendiri dan kembali masuk rumah tanpa perlu banyak tingkah. Bu lurah Jombik tersenyum puas. Pilihannya tidak salah.


Suatu pagi, pak kos datang naik moge baru, ingin menemui Gono. Gono yang habis sarapan nasi kuning di depan bank swasta terkejut dengan kemunculan pak kos. Biasanya tak pernah sidak. Biasanya tak pernah sidak.

__ADS_1


Ada apa gerangan. Keren juga datang naik moge kinyis kinyis warna hijau, mirip moge pak lurah Jombik yang kerap dipinjam simbok. Tapi jelas lebih bagus yang ini, namanya barang baru. Semoga pak kos tidak melakukan pengusiran saja. Di sini terlanjur nyaman dan gratis.


Tapi hati orang siapa tahu. Siapa tahu pak kos lagi butuh duit, terus ngusir begitu saja. Dirasa kos ini sudah aman dari teror hantu. Pikiran buruk terus saja berhamburan dari benak Gono. Tidak ada perjanjian hitam di atas putih membuat posisinya teramat lemah. Tapi dia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya itu.


"Janur gunung pak kos, kadingaren jenguk ke mari," sapa Gono, bangkit dari kursi untuk menyambut pak kos yang baik hati ini. Tanpa dipersilakan duduk, pak kos langsung mengambil posisi duduk sendiri di beranda.


"Gon, kamu lihat moge baru itu?"


"Ya jelas lihat dong pak. Keren sekali," puji Gono.


Pak kos manggut manggut.


"Sesekali boleh kan pinjam pak kos, buat ngapel," kata Gono bernada guyon.


"Tidak usah pinjam. Moge ini mau kutaruh di sini. Kamu bisa pakai sesukamu," kata pak kos serius.


"Jangan bercanda begitu dong pak," Gono jadi rikuh sendiri. Guyonan telah dianggap serius.


"Aku tidak main main Gon. Mulai sekarang kamu kembalikan saja motor pinjaman dari dosenmu itu. Motor kuno, sudah nggak zamannya lagi," seloroh pak kos.


"Terserah, yang penting selain kuliah, kamu harus pakai ini moge," ancam pak kos.


Gono heran mimpi apa dia semalam. Pak kos menyediakan moge dinas di kos ini. Ini tempat kos paling hebat layanannya di dunia.


"Ssssttt.. jangan bilang siapa, ini ada uang satu juta bust keperluan beli bensin," pak kos menyodorkan uang warna merah.Gono menata hatinya agar tidak pingsan di depan pak kos. Pagi ini pak kos benar benar berhati malaikat.


"Sudah terima saja moge ini. Ini kuncinya. Aku mau pulang dulu," pamit pak kos.


"Saya antar pulang pak," tawar Gono.


"Nggak usah, aku mau sekalian joging," serunya. Pak kos memang terlihat memakai training hijau dan sepatu olah raga.


Cihui... Gono tak bisa menyembunyikan hatinya yang melonjak bahagia. Apakah dia perlu berkabar pada Simbok akan berita bahagia ini?

__ADS_1


Bulan sepotong semangka, menggantung di atas genting kaca. Mata nanar Sampyuh menatap bulan yang pucat pasi. Hatinya kroak teringat Pangat suaminya yang kini tak diketahui dimana rimbanya.


Pocong yang lagi gabut main sama sapi di kandang. Hanya sapi yang tidak takut sama pocong. Kalau dia keluar malam-malam desa Jombik pasti gempar lagi.


Pada bulan sepotong semangka, Sampyuh teringat kenangan bersama Pangat. Ketika masih sama-sama single. Masa indah sebelum menikah dulu. Pangat masa mudanya begitu manis dan romantis.


"Aku tak ingin cinta kita seperti bulan sepotong semangka," kata Pangat seusai menonton ketoprak di desa Pengkol. Malam dalam puncak keheningan yang sempurna. Hampir tengah malam ketika mereka pulang. Desa Yang bersebelahan dengan desa Jombik.


"Kalau begitu seperti apa?" tanya Sampyuh malu-malu. Mereka berdua berjalan kaki melewati pematang sawah yang licin karena gerimis baru saja terhenti ketika senja pelan-pelan turun dari langit tadi.


"Aku ingin seperti rembulan yang tengah purnama, yang membagikan seutuhnya, sepenuhnya. Bukan cinta yang setengah-setengah," ucap Pangat sambil menggandeng tangan Sampyuh.


Hati Sampyuh melambung bahagia bersama laki-laki yang paling dicintainya itu. Malam ini Pangat terlihat sangat gagah. Pasti Pangat tengah dirasuki tokoh Mahesa Jenar yang sedang kasmaran dengan Rara Wilis. Mahesa Jenar yang mati-matian bertarung melawan Lawa Ijo agar bisa menyelamatkan perempuan cantik itu dari penculikan Lawa Ijo. Cucu dari Ki Pengging Alas itu memang manis dengan senyum yang ciamik. Apakah dirinya bisa seperti tokoh Rara Wilis yang ada dalam tokoh ketoprak itu.


"Kamu cantik sekali malam ini," puji Pangat ketika mereka masih berhenti di tengah pematang sawah ketika Pangat membalikkan badan.


Sampyuh jadi tersipu malu.


Untung rembulan sepotong semangka menyembunyikan wajahnya yang kemerah-merahan itu.


Rembulan sepotong semangka, Pangat juga tidak bisa tidur. Rasa kangennya pada Sampyuh sulit sekali terbendung. Pada bulan sepotong semangka dia tiba-tiba teringat perjalanan pulang dari menonton ketoprak.


Mengapa masa itu hanya keindahan dan kebahagiaan yang selalu menjadi miliknya. Tak disangkanya, malam ini dia harus menjalani kehidupan seorang diri di sini di rumah pak camat sahabatnya.


"Aku merindukanmu pangat," batin Sampyuh.


"Aku ingin menonton ketoprak bersamamu lagi," bisik Pangat pada malam yang meremas rasa rindunya habis-habisan.


HP Sampyuh bergetar, ada telepon dari Gono.


"Ada apa Gon?" tanya Sampyuh yang tercabik rasa rindunya.


"Maaf Mbok salah sambunbg," kata Gono yang membatalkan niatnya untuk bercerita tentang moge baru itu. Dia terlihat makin gagah dengan moge itu.

__ADS_1


"Ah anak ini mengganggu kenanganku saja," kata Sampyuh kecewa.


__ADS_2