
Gono terduduk lesu di padang rumput itu. Pagi sudah pelan pelan menanjak ke siang. Hana tidak tega melihatnya. Arit yang telungkup dan glangse yang belum terisi sama sekali nglemprak begitu saja di rerumputan.
Dia menyesal mengapa begitu sembrono. Sekarang penyesalan tak banyak membantu. Hanya kian memberatkan hatinya. Dia bingung bagaimana harus mempertanggungjawabkan moge baru yang harganya ratusan juta itu.
Hewan ternak simbok dijual semua belum menutup harga moge itu. Simbok juga belum tentu setuju. Apalagi kalau sampai menjual rumah. Simbok tentu menolak mentah mentah. Mau tinggal dimana? Kolong jembatan? Di desa Jombik tidak ada kolong jembatan. Benar benar mimpi buruk yang sulit dilupakan seumur hidupnya.
"Kita pulang jalan kaki saja ya Han?" ajak Gono. Jangan jangan mogenya dibawa sbok pulang. Kalau ini benar terjadi, hatinya bisa terasa lega. Tapi simbok tidak pernah guyon sejauh itu. Meneror anaknya sendiri dengan teror ketakutan.
Tapi Gono dangat berharap simbok memang tengah iseng menggodanya. Ini merupakan harapan terakhir paling aman.
Hana yang tak biasa berjalan ke jauh sudah terlihat makin berat langkah kakinya. Apalagi sinar matahari makin garang menyengat. Gono bisa merasakan napas Hana yang memburu buru itu.
Gono sedikit memperlambat langkahnya.Pikirannya memang lagi kacau berantakan. Namun bukan berarti dia terus memaksa Hana mengikuti langkahnya yang serba cepat. Hanya akan menyiksa cewek manis rekan sekampusnya saja. Apakah simbok ingin menghukumnya agar dia tidak lagi mbagusi dengan memamerkan moge pinjaman itu.
Kalau simbok boleh pinjam moge pak lurah Jombik, masak dirinya tak boleh meminjam moge pak kos. Kalsu moge itu tidak raib tentu tidak menjadi masalah yang berarti. Fasilitas moge di tempat kosnya ternyata mslah menjeratnya dalam kesulitan besar. Gono yang masuk desa Jombik dengan gagah kini nampak lungkrah tak berdaya.
Rumah Makan Indah Karangpandan
Begitu sampai rumah dan tidak menemukan moge di pekarangan rumah, tulang Gono serasa dilolosi. Apalagi masih ditambah simbok yang malah bertanya karena dia pulang dari ngarit dengan jalaan kaki dengan glangse yangmasih kosong dengan wajah penuh kesenduan dan rasa bersalah.
"Kok jalan kaki, mogenya mana?' tanya Sampyuh penuh selidik.
"Hilang, dicuri," jawab Gono singkat.
sampyuh hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Gono.
__ADS_1
"Apa mogenya tidak engkau kunci?" tanya simbok lagi.
"Sudah, tapi maling sekarang lebih pintar, baru 15 menit kutinggal sudah diembat maling moge baru itu," ungkap Gono berdusta. Padahal kunci kontak belum dicabut. Masih berada di tempatnya. Tapi kalau dia jujur reaksi simbok tentu akan lebih hebat dan dahsyat lagi.
"Kamu mau mengganti moge yang hilang itu dengan apa? Kalau kamu tadi ngarit dengan motor bobrok kan jauh lebih aman? Sekarang kamu baru menyesal. Kalau kamu tidak mbagusi kayak bapakmu piye to Gon Gon," ungkap Sampyuh yang masih berusaha menahan getaran emosinya.
Kalau dulu dia menerima moge warna hijau yang ditawarkan oleh Angga mungkin tidak begini jadinya. Naga-naganya moge itu memang diperuntukkan buat dirinya. Namun sekarang semuanya sudah terlambat. Kesempatan emas itu tidak datang untuk kedua kalinya.
Tak mungkin dia membebankan penggantian biaya moge itu pada Gono anaknya. Sementara dia sendiri juga bingung bagaimana cara mengganti moge yang hilang itu? Kalau ada Pangat suaminya tentu ada yang bisa diajak bertukar pikiran. Kini dia harus seorang diri memikikarkan semua ini.
Gono sendiri tak berani mengangkat mukanya. Betul betul di luar prediksinya kalau moge itu kini betul-betul raib. Dia hanya berharap ini hanya bagian dari mimpinya yang terpenggal.
Nyatanya ini adalah kenyataan pahit yang harus diterimanya. Harga kegagahan memang tidak murah. Untuk tampil keren ternyata risikonya sangat berat. Mau pulang ke tempat kos sekarang, sungguh sangat berat tanpa membawa moge baru pinjaman itu.
Sebenarnya Gendon agar ragu menerima tawaran Angga untuk mengambil moge baru yang dinaiki anaknya Sampyuh itu. Dia merasa jerih dengan kedigdayaan perempuan yang kelihatan klemak-kelemek itu. Temannya ada yang sudah jadi korban dengan telinga yang budeg karena ledakan cambuk yang seperti ledakan bom menggelegar itu. Karena dekat sekali dengan gendang telinga. Tapi karena kepepet oleh kebutuhan saja, dia berani nekad beraksi. Apalagi upah yang dijanjikan Angga teramat besar. Sebanding sekali dengan risiko yang bakal diterimanya. Dia adalah spesialis pencuri sepeda motor.
Sepeda motor yang terkunci stang saja amblas tidak lebih dari satuy menit. Apalagi Gono anaknya Sampyuh termasuk sembrono karena meniggalkan kunci kontak di tempatnya. Operasi pencurian itu jauh lebih mulus.
Sudah berhatri-hari ini dia selalu menguntit keberadaan Gono kemanapun pergi. Dia ingin mencari kelengahan anaknya Sampyuh itu. Masuk ke desa Jombik ini, sebenarnya paling menyeramkan dibandingkan tertangkap polisi. Apalagi dari jarakjauh dia melihat penampakan Sampyuh. Rasanya jangan sampai dia bertemu kembali dengannya.
Untunglah keberuntungan berpihak padanya. Ketelodoran Gono telah banyak sekali membantunya. Moge itu digondol tanpa ada perlawanan sama sekali. Eh... apakah Gono juga seperti simboknya yang memiliki kemampuan yang ngedap-edapi. Jangan-jangan buah tidak jatuh dari pohonnya?
Dua motor itu melaju tenang agar tidak memancing kecurigaan warga desa Jombik.
Sekalipun demikian, kalau mereka belum keluar dari desa Jombik ini, mereka seakan belum merasa aman. Gendon takut kalau-kalau Sampyuh tahu tahu mengadang di depan dengan pecut di tangan kanan. Sudah jelas mereka berdua bukan lawan yang sepadan.
__ADS_1
"Kamu kok takut sekali kenapa sih Ndon?" tanya Jabrik yang merasa aneh. Dia melihat dari belakang Gendon yang kerap sekali menengok belakang. Wajahnya gelisan dan takut. Jelas sekali tidak ada yang mengejar kok begitu ketakutan. Aman dia menjamin.
"Nggak apa-apa kok Brik, hanya berjaga-jaga saja," jelas Gendon.
Dia memang mengajak Jabrik karena sahabatnya ini tak pernah berhadapapan dengan Sampyuh jadi dia malah terlihat tenang. Seandainya pernah berhadapan dan merasakan lecutan pecut Sampyuh, pasti ada trauma berkepanjangan. Munngkin menolak tawaran ini.
Baru kali ini, Angga bisa bernapas lega. Kemenangan sudah pasti berada dalam genggamannya. Dia keluar uang 15 juta untuk dua orang begundal itu tidak masalah. Mereka memang spesialis pencuri motor. Sekarang moge baru warna hijau itu disimpan di gudang paling dalam.
" Terima kasih lho Bos," kata Gendon setelah menerima upah itu. Lumayan dia dapat 10 juta dan Jabrik temannya, karena dia cuma mengawasi.
Risikonya jauh lebih besar dirinya. Kalau kepergok ketika tengah beraksi Jabrik bisa melarikan diri tanpa memikirkan dirinya. Yang penting dia selamat. Kalau dikeroyok massa, apes sudah nasibnya. Tapi masih mending dimassa dibandingkan kepergok Sampyuh.
Dimassa dia masih bisa berlindung di balik mantra. Digebuki sekeras apa pun, kalau dia masih menyentuh tanah, tidak akan terasa. Tapi dia akan bersandiwara dengan mengaduh aduh agar dikasihani.
Tapi kalau kepergok Sampyuh bisa budeg ini telinga. Atau dengkulnya akan hancur dilecuti cambuk. Ilmu kebalnya masih ditembus. Diia pernah melihat bos preman yang tak berdaya.
Gendon segera memberi 5 juta pada Jabrik. Jabrik tersenyum senyum. Gaji ringan bayaran gede.
"Bos, kalau ada order jangan sungkan sungkan untuk hubungi aku lagi lho," pesan Gendon sambil ngeloyor pergi, membonceng Jabrik. Dia sudah kangen ingin bertemu Suminten di alun alun. Dia sudah terlanjur janji belikan hp baru.
Angga hanya manggut manggut mengiyakan. Barangkali ini adalah terakhir kaki memakai jasa mereka. Kalau sudah ada Sampyuh di sini, tenaga mereka tak lagi dibutuhkan. Satu tenaga Sampyuh sudah mrantasi semuanya. Sekarang tenaga keamanan terlalu banyak tapi tidak efektif
Angga sekarang berada di atas angin.
Menekan Gono lebih gampang. Dia dan simboknya tak akan mampu mengganti moge baru yang harga barunya ratusan juta itu. Ternak dan rumah tanah dijual tak bakal menutup. Angga akan meminta Pak Dhe nya untuk menejan Gono. Minta ganti motor baru. Biar dia stress dan minta bantuan simboknya. Kalau tidak dengan cara seperti ini, Sampyuh sulit ditundukkan. Dia terlalu sakti kalau dilawan pakai otot. Garus menggiring lewat otak
__ADS_1