HALUSINASI COWOK KARISMATIK

HALUSINASI COWOK KARISMATIK
Bab 33


__ADS_3

Peniup suling itu betul betul gemblung. Mempertaruhkan nyawa. Tapi siapa peduli. Yang penting peniup suling itu sudah janji dan sungguh menguntungkan dirinya. Menidurkan dirinya dan lima krunya dalam lima menit?


Dalam kondisi tubuh masih segar bugar dan bahkan tadi sempat ngopi dulu. Mustahil sekali. Mau cari sensasi tapi taruhannya terlalu mahal. Paling suara suling seperti suara radio bobrok. Memang bisa bikin emosi.


Tapi masak menahan emosi dalam lima menit tidak sanggup? Ki Badrun langsung membuka HP. Lihat stopwatch. Lima menit lebih satu detik saja, dia akan berteriak penuh kemenangan.


"Mulailah!" tantangnya gagah sekali.


Pak kos yang agak jauh arena merasa takjub. Ki Badrun yang diceritakan Angga keponakannya sebagai sosok yang hebat ternyata kwalahan menghadapi peniup suling.


Suling yang biasa ditiup oleh bocah angon wedhus, ternyata bisa menandingi Ki Badrun yang bersenjata senapan. Bagaimana suara suling itu bisa berpindah pindah tempat tanpa ada pergerakan dari peniupnya. Lebih gila lagi, peniup suling malah memberikan tantangan di luar nalar sehat. Betapa beraninya dia.


Pak kos penasaran sekali apa yang akan dilakukan orang yang tak menampakkan batang hidungnya itu.


Suara suling mengalun lembut sekali. Menyisir udara pagi dengan usapan halus. Seperti belaian seorang ibu paling ibunda yang meninabobokkan bayinya yang rewel. Diayun ayun penuh kelembutan. Ditepuk penuh kasih sayang.


Terus meresap dan meresap. Menit pertama Ki Badrun merasakan matanya yang berat sekali. Sepertinya dia tidsk tidur selama dua hari dua malam. Mulutnya terbuka dan berkali kali menguap. Lima anak buahnya juga mengalami hal yang sama.


"Uedan tenan," Ki Badrun menyumpah nyumpah.

__ADS_1


Dia harus bertahan tidak tidur. Dia harus menyuruh ansk buahnya untuk berlari lari kecil, melawan kantuk yang super hebat. Semakin didengarkan, suara itu makin menekan kesadarannya.


" Ayo bangkit, bangun, ayo kari lari kelilingi pekarangan ini 4 menit saja," perintah Ki Badrun sambil terus menguap. Sekarang suara suling itu tidak berada di satu tempat. Tapi ada dimana mana. Dia melihat dua anak buahnya sudah terjengkang ketika mau berdiri. Terlentang dan ngorok lelap sekali. Ki Badrun ambil senapannya lagi.


Kalau tak dihentikan, bisa bisa dia menyusul dua anak buahnya itu. Matanya makin bertambah berat. Pandangannya juga kabur. Suara suling menyebar kemana mana. Hebatnya peniup suling itu. Ki Badrun masih sempat melihat Angga dan pak kos masih bugar dan baik baik saja. Jadi orang gemblung itu memang bisa memfokuskan serangan pada orang yang dituju saja.


Angga yang menyaksikkan semua itu tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Betapa gampang peniup suling menundukkan orang nomor satu yang menjadi tangan kanan Bos Agus. Hanya dengan bunyi suling dan tak butuh waktu yang lama, bisa membuat lawan terkulai.


Dia melihat Ki Badrun dan temannya yang tersisa seperti menunggu waktu saja untuk ambruk. Andai dia bisa merekrut peniup suling itu untuk bergabung, alangkah makin wibawanya Bos Agus. Makin disegani kawan dan lawannya.. Dia tidak perlu Sampyuh untuk merayunya. Sampai sekarang masih menjadi misteri dan kesulitan untuk mendekatinya.


Ki Badrun sudah tidak kuat lagi mengangkat senapan karena mendadak tubuhnya limbung dan tergeletak tanpa bisa menguasai diri lagi. Tergeletak di rerumputan seperti daun luruh yang tertiup angin.


Gono makin kagum dengan kehebatan simboknya.


"Gon, simbok tak bisa menemuimu. Ada Angga. Enam orang itu baru bangun tidur menjelang sore. Simbok pergi dulu," suara simbok menelusur lewat udara. Tidak nampak orangnya. Tapi seakan simbok tengah berada di dekatnya saja. Ilmu simbok yang bisa berpindah pindah dengan cepat baru sekali ini Gono menyaksikkannya.


Ah, mengapa simbok tidak mau mengajarkan ilmu itu padaku, sesal Gono dalam hati.


Pak Kos dan Angga yang berada di pinggir halaman segera mendekati keenam orang yang berbaju hitam itu. Peniup suling itu tidak menampakkan diri. Entah pergi entah masih berada di situ. Kalau peniup suling itu makhluk yang jahat betapa mudah menghabisi enam orang sudah terkulai tidak berdaya ini. Tapi dia tidak mau melakukannya.

__ADS_1


Dibantu oleh Gono, Angga dan Pak Kos menggotong enam orang yang tertidur begitu pulas. Dibangunkan pun sulit sekali. Seperti orang yang mati saja. Betapa lemahnya orang yang sehebat apapun terkulai tidur seperti ini. Ki Badrun yang hebat, tak lebih daun kering yang lemah tak berdaya.


Begitu enam musuhnya terkapar tak berdaya, Sampyuh langsung meninggalkan tempat itu. Sebenarnya tidak sengaja dia datang ke tempat kos Gono anaknya. Hanya ingin mampir sebentar saja. Tapi dia batal masuk karena ada banyak orang asing yang sepertinya hendak berniat jahat.


Mereka hendak melakukan pengusiran hantu. Melihat penampilannya Kalau tidak dibantu kasihan para laskar hantu itu. Kasihan juga anaknya yang harus pindah kos. Pagi ini dia tidak membantu bu lurah jualan bumbon di pasar Gabus. Dia sudah izin sama Bu Lurah Jombik untuk menengok anaknya, padahal kangen sama Pangat. Kangen yang rasanya sulit terbendung.


Bu lurah tidak keberatan, asalkan tidak libur untuk selamanya. Kalau hanya beberapa hari tak masalah. Biarlah Sampyuh menikmati kemerdekaannya. Melegakanhatinya yang sedang runyam. Semoga pulang dalam keadaan fresh. Apalagi masalah moge yang hilang itu sudah ada solusi. Suaminya sudah siap mengganti. Tinggal menunggu pemiliknya saja, kapan harus diganti. Asal ada uang barang mudah dicari. Yang penting Sampyuh tetap berada di desa Jombik.


Dengan naik moge, Sampyuh mengukur jalanan lagi. Pak lurah sedang sangat baik hati. Bensin sudah diisi full tank. Masih juga dia diberi uang saku 2 juta. Semoga saja bu lurah Jombik tidak berprasangka yang bukan-bukan. Jarang sekali orang sebaik itu ditemui.


Dari pengalaman yang sudah dialami, Sampyuh meninggalkan Jombik dengan membawa cambuk yang diletakkan di punggung dan juga suling kecil yang masuk dalam tas; bercampur dengan baju ganti. Ternyata suling yang dibawanya tidak sia sia, paling tidak bisa menidurkan orang-orang yang berbaju hitam dan salah satunya malah membawa senapan berburu.


Kota ini tidak terlalu luas, mengapa sampai saat ini belum juga bisa menemukan Pangat suaminya. Sampai sore tiba, belum juga dia bisa melacak keberadaan lelaki yang pernah menggetarkan hatinya itu.


Sampyuh berencana mencari losmen atau hgotel kelas melati untuk menginap. Kos Gono paling juga tengah dipakai enam orang yang terkapar itu. Lebih baik dia tidak usah bertemu Angga dulu. Dia tidak mau mengecewakan Pak Lurah Jombik yang sudah bersedia mengeluarkan uang ratusan juta untuk mengganti moge yang dihilangkan Gono.


Ketika hari mulai gelap, Sampyuh masuk ke sebuah hotel melati. Hotel yang ramai karena banyak mobil yang terparkir. Sepertinya hotel ini menjadi incaran para sales. Di badan mobil banyak melekat gambar gambar produk makanan ringan ataupun minuman.


Hotel yang murah. Hanya 100 ribu per malam. Sudah ada AC-nya. Sesekali memang harus menikmati hidup. Sampyuh membayangkan bisa bertemu dengan Pangat suaminya di tempat ini. Melepaskan rindu di tempat ini. Tanpa bau kencing sapi dan kotoran kerbau. Tapi apakah mungkin suaminya sanggup membayar uang kamar 100 ribu? Pangat, Pangat datanglah ke mari aku menunggumu, seru Sampyuh dalam hati berbisik.

__ADS_1


Ternyata dia tetap merupakan perempuan yang lemah. Berhadapan dengan para begundal yang ganas, dia masih bisa mengatasi dengan baik dan sama sekali tidak gentar. Tapi hatinya benar-benar klepek-klepek dilipat oleh lelaki dari desa Pengkol itu? Cinta pertamanya yang sulit terhapus dalam ganggang ingatannya; dalam memori hidupnya.


__ADS_2