HALUSINASI COWOK KARISMATIK

HALUSINASI COWOK KARISMATIK
Bab 24


__ADS_3

Posi (pocong seksi) merasakan kejenuhan luar biasa tinggal di rumah Mbok Sampyuh. Masak hanya diminta tinggal dalam rumah tiap. Lama-lama kan jadi bete dan gabut. Dia semula mengira perempuan yang ditumpanginya itu jenis perempuan yang demokratis, maksudnya dia boleh pergi dia suka. Ternyata ekpektasinya melenceng jah sekali.


Ternyata Mbok Sampyuh sama saja. Kaku. Kalau begini caranya masih enak menggelandang di hutan jati saja. Tempatnya luas. Bisa lihat mobil-mobil yang bersliweran di jalan. Bisa dilakukan sambil leyeh-leyeh.


Mumpung Mbok Sampyuh sudah ke pasar jualan bumbon. Kesempatan yang bagus untuk membuang kejenuhan. Enak Mbok Sampyuh masih bisa keman-mana dengan bebasnya. Apa dia lupa kalau dia sekarang mempunyai sahabat Posi yang juga butuh hiburan.


Kebetulan di rumah pak lurah ada acara senam bersama seluruh pejabat lurah dan isterinya. Suasana gayeng sekali. Suara musik keras membahana. Posi juga mencium bau sate yang masuk ke rumah Mbok Sampyuh. Asapnya saja mampu membuat perut lapar apalagi satenya. Tapi kalau ada bu lurah yang baik menawarinya, dia juga mau kok.


Habis senam tentu mereka akan makan sate kambing., Hmm.. harumnya. Dia tidak usah ikut makan sate kambing karena dia bukan bu lurah. Ah, mau ikut senam saja kata Posi yang merasa memperoleh kemerdekaannya. Dia sudah tidak sabar lagi.


Membuka pintu dan melompat-lompat menuju rumah pak lurah Jombik yang hanya puluhan meter saja jauhnya. Musik yang keras langsung menerpa telinga ketika Posi keluar dari rumah itu. Seperti burung yang keluar dari sangkar setelah dikurung bertahun tahun lamanya.


Betul dugaan Posi banyak sekali peserta yang ikut senam. Pakaian mereka seragam semua. Semua memakai training warna merah. Mereka semua kompak melakukan gerakan yang sama.


Terdengar suara penyanyi dangdut Ike Nurjanah..."masih terngiang di telingaku, bisik cintaku ..."


Posi tak kuat untuk ikut bergoyang. Asyik juga pagi pagi menggoyangkan tubuh yang kaku-kaku seperti ini. Musiknya juga pas dinikmati. Indah sekali dilihat. Sarapan nasi berlauk tempe hangat, pagi-pagi sudah berkeringat.


Posi menyenggol salah satu bu lurah yang ada di barisan paling belakang. Senamnya semangat sekali. Bu lurah terlihat seksi dengan topi merah yang tak kalah elegannya. Enaknya jadi bu lurah.


"Mau numpang ikut senam boleh kan bu lurah," Posi meminta izin biar dianggap sebagai mahkluk yang sopan dan beradab. Bu lurah yang sedang semangat-semangatnya senam, menoleh sebentar dan langsung menganga mulutnya. Gerakan senamnya spontan terhenti seketika.


"Pocongggggg..." teriaknya keras sekali mengalahkan suara loud speaker yang terpsang di pohong jambu. . Semua langsung menoleh ke belakang dan ibu ibu dan bapak bapak lurah yang senam langsung bubar. Mereka berhamburan menyelamatkan diri masuk ke dalam rumah pak lurah desa Jombik. Mereka juga heran mengapa pagi pagi masih ada pocong berkeliaran.


Karena sudah tidak ada peserta yang senam. Terpaksa Posi senam sendiri. Sebisanya, yang penting goyang dan berkeringat. satu..dua ..tiga, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.


Sebagai tuan rumah, lurah Jombik tak enak hati dengan tamu tamunya yang berlarian ketakutan. Pocong sekarang cenderung nekad. Tak kenal waktu dan tempat. Zaman kecilnya dulu pocong hanya muncul di malam hari atau di tempat yang gelap dan kumuh.


Sekarang di tempat yang terang, bersih dan bahkan malah ikut senam. Mengapa dia tidak mengundang instruktur senam sendiri saja. Malah ngrusuhi acaranya. Bingung juga bagaimana mengusir pocong iseng seperti itu. Lurah lurah yang berbadan kekar dan berkumis tebal melintang, tak punya nyali untuk mengusir Posi.

__ADS_1


"Kamu saja lurah Jombik. Kau kan tuan rumah. Pocong itu pasti mengenalmu," usual dalah seorang lurah.


"Jangan saya ah. Kan ada lurah Surti yang pernah menjinakkan hantu," lurah jombik memberi usulan.


Lurah Surti yang jadi andalan sekarang. Dia memberanikan diri, karena pernah mengusir hantu yang ngendon di kantor kelurahan. Tapi itu terjadi setahun yang lalu. Lurah Surti segera keluar dari rumah Lurah Jombik. Dia mengendap endap menemui Posi.


"Ayo bu lurah, kita senam bareng," Posi mendekat manja. Merasa ada teman dan ini membuatnya bahagia.


"Hei pocong usil, segera enyah dari sini," bu lurah Surti komat kamit membaca mantra peninggalan kakeknya yang sudah almarhum.


Posi malah tersenyum senyum.


Ternyata ketika membuka mata, Posi masih ada dan makin mendekat.


"Kita senam bareng saja bu lurah. Tidak ada usir mengusir. Aku juga ingin sehat kok," ujar Posi.


Lurah lurah yang mengintip dari balik kaca terlihat kecewa. Sahabat mereka tak berkutik. Kembali dengan tanpa hampa.


"Aku menyerah," serunya.


Mereka khawatir juga kalau pocong itu menyerbu ke rumah ini. Tentu bakal terjadi kegemparan lagi. Rumah lurah Jombik sudah full dengan manusia. Tapi untunglah hanya kekwatiran mereka. Pocong itu masih asyik berjoget seorang diri.


"Kamu jemput Sampyuh di pssar Gabus, mungkin dia mengatasi."


"Temanku yang pakar hantu saja gagal. Apalagi Sampyuh. Sampyuh bisa apa?" Lurah Jombik meragukan.


"Tak ada salahnya dicoba," saran istrinya. Tiga hari lalu rumahnya digerayangi 5 perampok, Sampyuh juga nggak bisa apa apa.Mana perempuan sakti berbadan bungkus dengan tongkat di tangan itu? Istrinya malah mencurigai Sampyuh sebagai pelakunya.


Wah, ya jauh sekali. Seperti bumi dan langit saja. Setahunya Sampyuh hanya bisa jaga kios bumbon, ngarit dan nimpal telek sapi. Masak mau disuruh mengusir hantu.Yang benar saja. Tapi lurah Jombik lebih memilih mengalah. Daripada istrinya ngomel terus. Ada rekan rekannya sesama lurah. Malu kalau harus ribut. Diam diam pak lurah ambil motor yang dibelakang. Lewat pintu belakang pula dia mau menjemput Sampyuh.

__ADS_1


Sampyuh terkejut ketika Lurah Jombik datang ke pasar Gabus. Ada apa gerangan datang sendirian. Katanya ada acara senam bersama, mengapa malah datang ke mari? Batin Sampyuh. Jarang sekali pak lurah datang ke pasar ini. Apalagi sendirian. Jam segini mestinya senam belum selesai. Kalau sudah selesai, masih ada acara makan-makan.


Kemarin sudah pesan sate kambing TEGAR yang ada di Todanan. Sate kambing itu memang benar-benar maknyus. Sampyuh berharap pak lurah menyusulnya karena ingin mengajaknya bergabung makan sate kambing bersama sama para lurah meski nanti makannya belakangan. Nggak apa-apa, yang penting masih bisa menikmati.


Tapi sampyuh menangkap gejala lain dari wajah pak lurah yang terlihat kemrungsung itu.


"Pyuh, ada pocong yang ikut senam pagi, dan sangat mengganggu, kamu bisa mengusirnya kan?" masih mengenakan helm dan tak mematikan mesin motor, pak lurah berkabar.


Sampyuh bingung bagaimana harus menjawab. Kalau dia menjawab bisa, nanti dikira sombong meski dalam hati dia tahu pasti ini ulah Posi yang telah melanggar janji. Sudah diwanti wanti untuk tidak keluar rumah... ehh malah cari sensasi dengan ikut senam pagi bersama para lurah dan istrinya.


"Bisa ya," pak lurah setengah memaksa.


"Saya coba dulu ya pak lurah," jawab Sampyuh sekenanya.


"Ayo cepat naik," perintahnya.


"Kios tidak ditutup dulu?'


"Tidak usah. Titipkan saja pada bu Sukro kios sebelah," kata pak lurah Jombik tidak sabar lagi.


Pak Lurah kalau ada maunya memang begitu. Tapi dia memang terkenal baik hati dan dermawan. Heran Sampyuh, masak hanya kemunculan pocong saja bisa menggegerkan seluruh peserta senam. Paling Posi juga sekadar mau numpang senam. Bisa jadi dia jenuh dikurung di dalam rumah.


Dibiarkan saja ikut pasti juga tak akan mengganggu. Hanya orang orang saja yang punya pikiran buruk.


Begitu Sampyuh menaruh tubuh di boncengan motor, pak lurah Jombik langsung menarik gas kencang kencang. Hampir saja dia terjengkang kalau tidak berpegangan pada pundak pak lurah Jombik.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke desa Jombik. Apalagi pak lurah mengendarai motor seperti dikejar setan.


Dalam hati lurah Jombik tersimpan rasa pesimis. Kalau Sampyuh gagal mengusir hantu, betapa malu istrinya karena begitu yakin Sampyuh bisa mengatasi semua ini.

__ADS_1


__ADS_2