
Pangat sungguh makin kerasan tinggal bersama pak camat, mantan teman sekolahmu dulu. Punya teman yang jadi pejabat, ada enaknya juga. Dia ikut merasakan kemakmuran. 1000 teman memang masih kurang, 1 musuh terasa berlebihan.
" Kamu di sini saja Ngat, menemani aku," bujuk pak camat. Hari hari tuanya yang kesepian memang membutuhkan teman. Dia merasakan Pangat tengah ada konflik dengan keluarganya.
Penawaran yang di lusar dugaan Pangat. Tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
Sebuah kabar gembira namun Pangat berusaha menyembunyikan perasaan itu. Dia belum punya nyali untuk pulang ke desa. Tinggal di rumah ini memang membuatnya betah. Uang makan di jatah. Warung makan juga dekat. Apalagi bakule ayu dan segar untuk cuci mata.
Pak camat juga kerap mengajaknya jalan jalan dengan naik mobilnya yang menthul menthul. Yang ditakuti Pangat hanya satu, jangan sampai di tengah jalan bertemu dengan istrinya yang tengah patroli mencari dirinya. Dia tidak mau dipermalukan istrinya di depan orang yang paling terhormat di kecamatan ini.
"Bagaimana Ngat, kamu kok belum menjawab.
"Untuk sementara nggak papa," Pangat merespon.
"Jangan begitu Ngat. Kalau kamu meninggalkan rumah ini, bagaimana dengan tukang sapu yang kau pekerjakan pagi dan sore itu.
Pak camat yang begitu berwibawa di depan anak buahnya, ternyata luntur wibawanya di depan perempuan yang menyapu halaman rumahnya jam dua dini hari.
"Sudah jinak dia sekarang."
"Jinak bagaimana? Kalau kau tinggalkan aku, terus perempuan jadi liar lagi, terus masuk ke rumah ini, tidak mau keluar keluar, aku bisa apa Ngat." Roba ketakutan tergambar di muka pak camat.
"Kita bikin saja perjanjian hitam di atas putih. Kalau aku pergi, dia juga harus pergi," jawab Pangat enteng enteng saja.
"Tak segampang itu Ngat? Kamu jangan menebarkan ketakutan padaku," pak camat bersungut. Banyak orang takut hantu dan meninggalkan logika berpikirnya. Tidak ada orang mati dipukul hantu. Betapa berat tugas polisi kalau hantu jadi pembunuh.
Pangat jadi tidak enak hati. Bagaimanapun juga pak camat telah memberikan servis terbaik buat dirinya. Masak air susu mau dibalas air tuba.
"Mbok tinggal di sini lima atau enam hari untuk menemaniku agar tidak kesepian," pinta Gono memancing. Simbok memang unik, pendekatannya juga harus lain dari yang lain. Kalau ingin A, harus ngomong B. Dia sudah hapal sekali karakter bapak. Kalau belum mengenal simbok dengan baik memang bingung.
"Kalau aku berlama-lama. Sing ngurusi kebo, sapi, wedhus sapa? Kasihan tetangga kita yang dimintai tolong," jawab simbok.
Gono tersenyum dalam hati. Pancingannya mengena. Simbok belum berubah. Simbok masih konsisten dengan ketidakkonsistenannya.
"Motor gede pinjaman Pak Lurah Jombik juga harus segera dikembalikan," simbok juga tidak enak hati.
__ADS_1
Gono ingin bersorak karena harapannya terkabul. Namun dia pura-pura sedih. di depan simbok memang harus pandai-pandai bermain sandiwara.
"Aku mau sesekali mau mengajak simbok ke kampus naik motor gede ini," goda Gono.
Simbok hanya tersenyum tipis.
Gono tidak ingin berkomentar lagi. Takut kalau Simbok berubah pikiran lagi.
***
Pagi itu Gono merasa lega ketika simbok sudah mandi dan bersiap-siap untuk pulang. Simbok memang sukar ditebak maunya. Pokoknya menggunakan hukum terbalik. Kalau dia meminta simbok untuk segera pulang, malah bisa seminggu tinggal di sini.
Tapi kalau dia meminta agar simbok tinggal agak lama, malah langsung pulang. Seperti yang terjadi saat ini. Menghadapi simbok memang gampang-gampang sulit. Seperti angin yang sukar ditebak arahnya.
Gono melihat simbok yang sudah menaruh pecut di belakang punggungnya yang dibungkus jaket hitam. Senjata andalan simbok itu selalu dibawa kemana pun pergi. Senjata yang biasa dipakai untuk menggiring kerbau itu bisa menjadi senjata berbahaya di tangan simbok. Orang yang tidak pernah melihat simbok memainkan pecut, tentu tidak akan percaya. Akan memandang rendah dan mungkin menghina pecut di punggung simbok.
"Aku mulih sik Le. Semoga aku bisa ketemu bapakmu di tengah perjalanan," kata simbok berpamitan.
Simbok seperti menyimpan kangen yang tak terbendung.
Bukan hanya kamu saja yang bisa tampil cantik dan modis Hamo, aku pun bisa tampil beda. Kau telah menggunakan berbagai cara untuk menggusurku. Kini aku datang kembali dengan membawa segunung rasa sakit sakit yang terlalu kusimpan dan kini menggumpal hebat dalam dada dan emosiku.
Gono harus bisa kurebut kembali. Engkau memang perempuan yang sudah kehilangan rasa malu. Aku pun harus bersikap tegas. Aku kini lebih tampil percaya diri dan siap untuk menggetarkan hati Gono. Sekarang atau tidak pernah lagi kesempatan itu menghampiriku.
Jangan kau kira aku menghilang selama ini, aku takut kepadamu. Tak ada kamus takut di hatiku. Kemenanganmu hanya sementara waktu. Kau jangan besar kepala dan lupa daratan. Sebentar lagi kau akan kecewa. Aku tahu dirimu ketakutan setengah mati kalau berhadapan dengan simboknya Gono. Akan kuambil hati simbok.
Tertutup sudah peluangmu kalau aku sudah mendapatkan hatinya simbok. Kau bisa apa? Kalau simboknya Gono berada di belakangku kau hanya bisa menangis tersedu-sedu dan menyesali mengapa dulu kau pernah menyakiti hatiku.
Suster sekarang bisa tampil meyakinkan. Dia tidak perlu berjalan ngesot. Ngesot hanya jadi perjalanan masa lalunya. Kini orang tak lagi memandangnya dengan perasaan iba dan tak sampai hati. Sudah berganti dengan ucapan decak kagum. Gono pun akan berlaku demikian.
Aha, kini dia sudah berjalan dengan normal lagi. Mau kemana-mana lebih nyaman. Dia juga perlu rajin ke salon agar makin tampil kinyis-kinyis.
"Tunggu kabar dariku Hamo..." dendam suster meledak-ledak membongkar siang yang panas membakar.
Hampir jam 10 malam ketika Gono beserta kelompoknya selesai membuat makalah bareng-bareng. Hampir dua jam pikiran mereka terfokus dan terforsir. Gono sendiri sudah ngantuk berat. Berkali kali menguap sebagai tanda lelah menumpuk. Sampai di rumah ingin segera tidur.
__ADS_1
Laskar hantunya sudah datang ke kos. Mereka gembira karena bisa berkumpul kembali. Kedatangan simbok memang telah mengobrak-abrik ketenangan warga hantu. Simbok memang lebih sangar dari hantu. Itu pula yang dirasakan oleh Gono.
Di matanya simbok terlalu perkasa. Begal yang mencegat di tengah kebun tebu, merasakan kehebatan simbok. Di desanya, simbok memang cukup disegani. Lurah Jombik rumahnya pernah dirampok. Lurah yang punya usaha burung walet itu dalam bahaya besar.
Simbok yang belum tidur langsung bangun. Lima orang perampok sudah berhasil membawa barang barang berharga keluar dari rumah lurah Jombik. Tak ada yang berani menolong karena salah satu ada yang membawa pistol.
Mereka lebih sayang selembar nyawanya dan tidak mau jadi pahlawan kesiangan. Dia tadi sudah menembakkan di udara sebagai shock therapy. Sebagai pembuktian bahwa yang dibawa adalah pistol beneran. Bukan pistol mainan.
Gono yang melihat simbok keluar rumah berusaha mencegahnya.
Rumahnya memang berdekatan dengan rumah lurah Jombik.
"Mau kemana Mbok?" Tanya Gono cemas. Dia tentu saja tak mau Simbok jadi korban keganasan perampok. Simbok memang memiliki senjata pecut yang menjadi andalannya selama ini. Tapi melawan perampok berpistol, pecut simbok bisa apa?
Sebelum simbok mendekat, peluru itu sudah melesat mengancam nyawa simbok. Mungkin kedekatan emosi antara simbok dan pak lurah Jombik, membuat simbok seperti kepotangan budi. Lurah itu sering memberikan bantuan pada keluarganya. Namun apa harus dengan mengorbankan keselamatan diri?
"Kamu di rumah saja, kunci pintu dari dalam!" Pinta simbok.
"Aku ikut Mbok!" Pinta Gono. Khawatir dengan keselamatan simbok.
"Hush... Jangan. Kamu hanya mengganggu konsentrasi saja. Matikan saja semua lampu di luar," pesannya kemudian.
Gono menurut. Simbok keluar rumah dan cepat sekali menghilang dari balik malam. Lho Bu pecut simbok tertinggal di rumah. Simbok mau melawan perampok dengan apa? Mau melawan dengan tangam kosong? Ah, simbok hanya mencari perkara saja. Bapak malam ini tidak ada di rumah. Entah pergi kemana.
Dari lubang dinding papan yang sedikit rapuh, Gono bisa melihat leluasa di luar karena di luar sangat terang benderang. Perampok berjumlah lima. Satu bersenjata pistol yang empat membawa senjata samurai.
"Slamet slamet Mbok," bibir Gono ndremimil dengan doa.
Sedetik kemudian terdengar suara seruling. Simbok memang jago meniup seruling. Tapi kali ini bukan tiupan seruling biasa. Efeknya sangat terasa. Gono merasakan kantuk yang luar biasa. Ngantuk tanpa sebab. Padahal dia habis minum kopi. Dan merasa bugar sekali. Tapi rasa kantuk luar biasa. Dia tak bisa menahannya. Suara seruling itu seperti tepukan lembut tangan ibu pada bayinya. Lima perampok terkulai dipeluk tidur. Gono juga terkena imbasnya.
***
"Gon, aku nanti bonceng kamu ya. Adikku nggak bisa menjemput," pesan Hana.
Gono hanya bisa menggangguk. Tidak enak menolak permintaan teman kuliahnya.
__ADS_1
...