Hammersmith Servant

Hammersmith Servant
Kunjungan di istana


__ADS_3

Dilain itu Puspita yang sudah mengajar setengah minggu merasa kesulitan, ia belum mampu mengimbangi adiknya, biasanya memanggang ayam dan hidangkan nasih ke piring. Sekarang kerjanya membimbing murid-murid persis mendiang ibunya. Puspita lebih banyak mengajarkan gambar atau menambah jam istirahat, mengajak peserta didiknya ke balai membaca Amandas Boekhandel untuk memecah kebingungan bersama. Termasuk dirinya.


Puspita keluar sementara dirinya penasaran dengan bangunan besar, Waddesdon Dee. Perempuan itu sudah ditolak lima kali akibat tidak menulis surat ijin atau permintaan audiensi. Kedua asisten Meisya itu melarang keras Puspita. Dengan terpaksa Puspita menangis keras-keras depan orang-orang, kedua kunti itu ketakutan, mereka masuk ke lorong melapurkan pada Meisya. Meisya jengkel. Mendatangi Puspita. “Aku tahu kau guru yang baru itu, sebaiknya tunggu Sri Ratu mengenalmu, tidak pantas perempuan tua menangis keras begini.”


“Aku masih muda bahkan lebih muda darimu setan!” Puspita meneruskan tangisan kerasnya.


Meisya tidak tahan kemudian menghubungi Melissa. Melissa kebetulan sedang berada di samping Amanda. Amanda malah mendengar percakapan itu. Dan Puspita dibiarkan untuk berlenggang naik ke istana miliknya. Meisya terbakar cemburu. Begitu pun Melissa. Entah mengapa Ratu kita selalu saja menyukai perempuan periang seperti mereka. Keluh Melissa mengajak Meisya masuk kantor pengawas.


“Kau bukankah sudara Cecil?”


“Benar, kau Sri Ratu Amanda? Betapa bagus rambutmu, bajumu apalagi sepatumu, sayang sekali aku tidak bisa sepertimu.”


“Jangan begitu. Kau tidak kalah hebat, Cecil banyak ceritakan hidup kalian, wajahmu sangat rupawan, sudah kau makan? Jika belum mari kita bersantap dulu.”


“Kebetulan belum Yang Mulia.”


“Ah, buang Yang Mulia itu, aku sama sepertimu, kita hidup didunia hanya saling membutuhkan, tidak lebih dari itu, yang berbeda hanya saling memperlakukan dan bagaimana sikapmu, ayo!”


“Masih belum mengerti.” Puspita tertawa diam-diam memandang Amanda, yang sering tersenyum malu-malu.


Selesai makan di ruangan belakang, mereka melanjutkan duduk-duduk mengitari meja keramik luas dan panjang, dari lorong Marry muncul dengan seseorang, pria berjas tutup dengan monokel gantung itu masuk, mengenalkan diri. “Dari Kattenburg Nyonya, kami sedang mengenalkan busana-busana perempuan, kebenaran Nona Marry membawaku ke mari, keperluanku ingin mengenalkan karikatur hasil sudari untuk lebih dikenal pesisir-pesisir besar Eropa.”


“Baguslah. Memang Tuan yakin, sudaraku tidak punya komitmen sungguh-sungguh, berarti datangmu sudah bertanggung jawab padanya, aku tidak berkeberatan, hanya Tuan harus sabar mengajarkan sudariku ini.”


Marry kegirangan menyetampel jempol di atas kertas kontrak.


“Gaji kami sesuaikan sebulan untuk pemula.”

__ADS_1


Selepas itu Amanda mendengarkan Marry dan Puspita bergonta-ganti obrolan, mereka saling tertawa satu dengan lain, sampai kedatangan tamu kembali terjadi:


“Kami mewakili Petit & Fritsen untuk menagih keterlambatan angsuran.”


“Siapa yang mengutang?” Amanda kebingungan.


Marry tertunduk memainkan tangan gelisah.


“Arloji dengan permata belum nona bayar, katanya lima bulan lagi, maafkan kami begini karena punya nota.”


Amanda menanyakan seberapa harus dibayar?


“Sepuluh juta lima ratus saja.”


Puspita tercengo-cengo mendapati tagihan besar itu. Amanda tetap tenang menarik kartu prabayar. “Sudah aku tarik semua kantongku.”


“Kau boros sekali Marry, aku tidak tega mengusirmu, kalau kau pergi mana mungkin aku tertawa? Terimakasih atas kemauanmu jadi sudaraku.”


“Aku berniat mengganti margaku.”


“Jangan Marry, jangan, sudah baik namamu indah begitu, mungkin menurutmu tidak, tetapi bagiku berkesan.”


“Tidak masalah dengan nama, lagi pula aku lebih sulit mengejanya, pernah dulunya pelajari Symtologi, sayangnya aku tidak lulus, kekasihku sering mengajakku dengannya.” Puspita mengatakannya dengan kepala tunduk.


“Tidak masalah. Mungkin kalian memang sudah cocok, aku tidak membenarkan kau hamburkan uangmu lagi, tetapi tidak masalah, kan kau yang butuh jam tangan itu? Aku bersenang hati membantumu.”


“Terimakasih Manda!” Marry memeluk Amanda.

__ADS_1


Puspita melihat Maria sudah berdiri di samping lemari kaca. “Hai Puspita!”


Puspita gemetaran dipandang Maria sangat dekat. Dari pinggul sampai tatapan tajam perempuan peranakan itu, boleh jadi kebaikannya hanya kepura-puraan, sebulan Puspita membantu Cecil mengajar. Ia sendirinya paham watak sebenar-benarnya perempuan ini, boleh jadi ia punya maksud lain-lain itu. “Maafkan jam mengajarku sudah mulai.”


Maria masih tersenyum bahkan menawarkan Puspita untuk bermalam di mannor. Tetapi perempuan Eropa tulen itu menolak dengan alasan: anjingku tidak bisa tidur tanpaku.


Maria merasa tersinggung, ia mendekati Amanda, perempuan itu sedang bercanda dengan Marry. Marry akhirnya pergi dengan dua sekertaris butiknya. “Ada apa Maria!” Amanda setengah kesal.


“Aku sadar kau tidak bisa diganggu, ada yang harus aku katakan,”


Mereka berjalan melewati ruangan perabotan khusus Tionghoa. Maria duduk ke feauteuil sementara Amanda memakan coklat.


“Ratuku, adakah dirimu mengingat sesuatu? Paulette?”


Amanda memandang Maria. Kemudian mengangguk.


“Ia sebenarnya sudah memilih keluar. Semua disebabkan Cecil.”


“Benarkah? Paulette tidak pernah datang padaku. Mengapa tiba-tiba keluar? Baguslah. Aku tidak pernah menyukainya. Ia tidak pernah mendengarku.”


“Tetapi Cecil menghabisinya.” Maria mendekatkan bibirnya ke kuping Amanda.


“Jika benar begitu, semua ada keterkaitan dengan revolusi diam-diam itu, maksudku; bisa saja Cecil merencanakan rumusan baru terkait pimpinan pusat.”


“Justru di sana bahayanya! Aku terangkan, jika Yang Mulia disuruh perempuan itu laksanakan kebijakan, jangan pernah mau apalagi dengarkan, semata demi kepentingan monarki.”


Amanda hanya tersenyum dan menepuk bahu Maria dengan tertawa. Amanda menyuruh kedua ajudan membawakan semua koran harini. Amanda memangku koran-koran itu. Membacanya satu demi satu. Sebuahnya mengatakan; Perhimpunan Tahunan Terpatuhi dengan Vasal anti liberalisme. “Kita terapkan nilai ini sementara waktu, lihat bagaimana reaksi golongan-golongan non koperatif.”

__ADS_1


Maria tertawa sambil melirik Amanda. Mengambil biskuit memakannya. Maria terbahak mendengarkan perintah itu. Amanda memutuskan untuk mengumpulkan kembali dokumen-dokumen hilang itu. Maria tidak menyesal sudah mengenal perempuan peranakan itu. Ia lebih bisa diandalkan daripada aku sekarang. Katanya keluar dari bangunan. Puspita muncul dibalik gerbang, meremas tangannya. “Adikku sudah banyak berkurban untuk kalian. Harusnya kalian jangan mainkan dia sehina begini.”


__ADS_2