Hammersmith Servant

Hammersmith Servant
Pemandian Anjing


__ADS_3

Emma tidak mengerti sebenarnya menimpa dirinya. Sadar-sadar dirinya bangun. Seingatnya dia berhadapan dengan perempuan sekarang memicu konflik seluruh Phantom. Shelly pun tidak tahu ke mana sekarang. Nyatanya menekuri mejatulis saja belum puaskan dirinya. Emma menyusun karangan-karangan untuk meluruskan medan ekonomi, ia merasa gatal, pergolakan sudah menyasar-nyasar belum lama harus ia patahkan. Sekarang kesempatannya. Memang tidak mudah menduga-duga


Adakah servant melampaui saham-saham besar sampai kecil Phantom?


Butuhkan perhatian luas dan menyeluruh untuk jernihkan pengaruh Shelly. Sekalinya, ya, sekalinya perempuan itu murni punahkan jejak kakinya bahkan otaknya di benak kawulanya, Emma yakin, perempuan itu sudah biak sesuatu paham bahaya sejak mula kemunculannya. Entah kenapa begitu pikirnya.


Langkah pertamanya, Emma harus kembalikan kas hampir punah ke dasar cawan, caranya? Caranya pulihkan sekolah-sekolah terbengkalai. Pengajaran-pengajaran semula mesti muncul dan diakui kalangan-kalangan pendahulu sampai harini. Mereka hanya butuh sisi-sisi perkembangan baru, sisi-sisi pembaruan, membutuhkan perhatian sendiri memang. Mudahnya saja guru-guru sekarang bukan dulu, Miss. Ellena dipensiunkan sekarang menikmati hari tuanya, membuka perkebunan kina, langsungkan bisnis atas pengawasan sendiri di Kanada. Betapa jauh perempuan itu sekarang. Mustahil Emma menyeret kembali ke dalam perintahnya. Puspita justru gantikan. Perempuan belakang ini lebih menguatirkan, pengaruhnya bisa dengan mudah menembusi golongan mana pun dan mereka tidak berkeberatan. Suatu tantangan tersendiri baginya. Suatu kemustahilan baginya, menguasai tahta tanpa tahu harus berbuat apa.


Emma kelahiran Timur Tengah.


Ibundanya terpelajar angkatan perang kedua. Studinya telah mengangkatnya diakui ethisi penyokong kedamaian dunia. Pengalamannya benar-benar meresap dirinya ke tengah-tengah situasi pecahnya dunia ketika itu. Bukan saja pembantu pemadaman bersenjata di Arab, melainkan mendirikan organisasi terpelajar Tunisia sampai Aljazair.


Ayahanda sendiri terampil biro kecantikan Mesir. Sekolahnya tidak tinggi, hanya tamatan satu tingkat bawah ibunya, mereka kawin dengan pelarian berat semasa serangan di tanah Palestina terus mengancam sipil, putusan berakhir ke pulau sekarang putrinya berada. Hidup mereka tidak berhenti di sana, mereka semakin di segani akibat pemilik modal menyukai orangtuanya. Bukan mengada-ngada, mereka membantu korporet-korporet kenalan untuk kerjasama ke bank nasional sampai global. Sudah terang kenapa putrinya sekarang ada di mana.


Emma sendiri memilih Phantom akibat pengaruh mereka menjanjikan. Ia sendiri buktikan itu. Malah diajak karibnya, Adeline. Adeline satu jurusan antropolog dengannya. Mengajak kerjasama menjanjikan. Mula-mulanya sukar percaya, semakin buktikan saham mereka menyebar luas di mana-mana, meski terbesar samar-samar, tidak dikenal mata telanjang atau berita benderang menerangkan. Emma sudah yakin, kehidupan di Phantom akan jauh lebih baik, demikian jauh dari orangtuanya, mereka terlibat monopoli ekonomi mulai inpor, ekspor belum tentu lunak. Nyatanya tindakan orangtuanya tidak jauh keluarga besar dunia. Apalah bedanya aku dengan mereka? Emma mengangkat tangan.


Kedua Puspita merasa harus dienyahkan. Itu kalau perlu, pasalnya perempuan itu semakin menyukai pelajaran, ia mudahkan murid-murid mengenal Lonesco, Trotsky. Kemurnian hatinya menjamah juga ke pengagumnya, Puspita tidak mudah komitmen, tetapi perasaan peka sebagai guru membuatnya harus lebih membuka dirinya. Akan aku pertahankan posisiku, kalian belajar semudah mungkin. Jangan kuatirkan apa pun. Selama buku kalian bawa ke kamar, bukalah dan duduk, ketahuilah menemukan ilmu tidak sesulit menemukan akhir dunia. Ilmu tidak punya akhir, dia bukan akhir perkembangan. Peradaban ada dalam ilmu, tanpanya manusia makin mati tak kenal kehidupan, tidak tahu letakan kompromi ke mana? Ilmu sudah prinsip-prinsip perkembangan, dan perkembangan mewakili manusia dan kehidupan. Itu katanya.


Komisi berangkat jam sepuluh pagi. Emma menempati kantor eksekutif. Perempuan itu berulangkali melihat jam tangan. Rekan-rekan berombongan datang, mereka meluncur ke stasiun Welterveden, keretapi meludahkan debu lok membelah-belah pedalaman, mereka bicarakan kemungkinan-kemungkinan. Jika Ratu kembali bukan mustahil, langkah kita kalah jauh. Kata seseorang. Emma punya pandangan; bukanlagi kalah, malah kenyataan.


Apa harus baginda lakukan?


Emma merenung-renung, antara sebentar minta kertas dan pinsil, menuliskan sesuatu; tidak bisa lain kudeta punya cara-cara sendiri. Semisal Sri Ratu pulang kita sambut meriah kedatangannya, kita punya syarat-syarat sendiri untuk menyimpan dan gunakan pengaruh, tepat waktunya ranjau itu membakar Phantom.


Semua mengagumi Emma. Bukansaja menyukai sikapnya, perempuan itu tegas, tidak menyukai kompromi dan konsekuensi, Emma lebih superintendent, perempuan itu merespon kecacatan pergerakan Gladys, Cecil sampai Shelly baru-baru ini. Ia tidak mainkan medan untuk melompat lebih tinggi, lebih jauh beresiko, sama halnya meletuskan peluru bunuh diri.


Emma sendiri punya dukungan terbanyak. Majalah miliknya pun punya langganan lima ratus ribu, setiap bulan terus bertambah. Mereka tidak meresikokan bahwa, kembalinya Amanda, perempuan redaktur itu harus lebih menyelam ke dasar lumpur untuk habisi Sri Ratu, semakin dalam dan curam.


Konperensi diam-diam berlangsung ketat. Komite wakil Phantom menerima sogokan, perselingkuhan luarbiasa bawah permukaan;


Ketika di Inggris, aku banyak belajar, tidak kuhitung, pokoknya mereka praktis, tidak butuh kebelit-belitan. Segala apa pun perintah raja, lakukanlah. Segala penentang penguasa, lawanlah. Kedua nilai pembangkangan, begitu merdu nyanyiannya. Tidak ada kepemimpinan mampu goyah. Mereka merosok hanya akibat sarapan terakhir. Sarapan Jesus yang dikenal jamuan terakhir. Semua pimpinan punya babak akhir pengaruhnya, jika kekuatan terbesar kecintaan rakyat, rakyat mesti cakar-cakaran sampai ajalnya, kita adu-adu sampai tangannya putus. Mereka tidak mampu menarik kembali tangan putus. Kita punya uang untuk bicara, uang sudah titik temu dunia, ia adalah pula penyatu dan perampas sekaligus, penyatu bagi kaum modal, perampas bagi manusia lemah dan kecil. Pecahnya bumi dan manusianya, ialah hanya satu perumpamaan kecil, hilangnya penghidupan di tengah perang, begitu kerdil dan sempit.


Ingatlah, Versailles sendiri sekedar sengketa Polandia dan Jerman, mereka saling tarung satu sama lain akibat Prusia Timur. Perjanjian dengan terusan Danzig sebagai kota Internasional, menyulitkan Jerman sebagai pusat dunia. Maret sampai September Polandia tidak menggubris damai, surat pemadam konfrontasi sekedar kaleng belaka, masalahnya jelas Hitler tidak mengambil kekerasan, akan demikian justru pemilik modal melempar mereka ke titik tolak berlawanan, pecahlah perang, pengaruhnya luarbiasa hingga harini.


Suratkabar senjata kita sekarang. Semua bisa dipersatukan atau ditentang, semua bisa merasakan sumber kebohongan sebagai pemicu kehancuran, kita sadar pemurnian dengan agama, politik, ekonomi. Semua saja tidak cukup. Membutuhkan cara-cara sendiri, kebutuhan lebih besar untuk merampas dan merebut keutuhan dunia, secara maksimal dan menyeluruh.


Kita bukanlagi membuka wajah dunia, melainkan membentuk wajah dunia, membentuk dan membuka jelas berlawanan. Jika tangan Jawa saja mampu membuka jembatan dan hutan, mengapa sekarang tidak? Tidak ada selain Jawa menggali tambang, ladang, sawah semua tangan Jawa. Kita mampu mencontohnya. Lihatlah manusia-manusia jaman tengah, seratus tahun lamanya, mereka menyesuaikan sikap, menyelam jauh ke arus kehidupan berpuluh warna dan golongan. Meski seratus tahun sudah, manusia-manusia bintara gugur, mati jauh dari sudara-sudaranya, membela kekuatan tidak mereka akui, Oranje Nassouve, mereka mati tewas tanpa seorang pun tahu dan peduli; Sumatra, Aceh, Minangkabau, Batak, Bugis.


Aku berterima kasih untuk mereka sudah banyak ditinggalkan dan dilupakan, dibuang dan tumpas ke negeri asing, tercecar buyar dari kehidupan keluarganya. Legiun Mangkunegaran, kesaktian prawira Jawa, kepahlawanan Mangkunegaran.


Seberapa besar raksasa-raksasa Eropa menguasai istana Jawa, mereka hanya tahu hukum, hukum sudah kekuatan mematikan peradaban. Kalian tahu? Pemerintah kolonial tidak sepenuhnya kejam, mereka berusaha keras membayar punah hutang-hutangnya, bagaimana caranya? Redistribusi pertanian. Sayangsekali, raja-raja pribumi justru memangsa untuk dirinya sendiri, menjual ke pemilik modal onderneming, menyewakan paksa tanah-tanah petani, konsesi! Hak-hak istimewa yang ditemurunkan, penguasa pribumi gunakan wewenang, bukan seharusnya memakan, malah menyekap untuknya sendiri, exorbitant rechten, kekuatan hukum-hukum punya cara bekerja sendiri.


Mereka gunakan hak luarbiasa untuk merampas apa saja bisa dimakan, rayah, jarah dan koyak kalau perlu sampai musnah ladang dan manusianya. Mintakan lindungan atasan atas keserakahan-keserakahan, membenarkan mental rust en orde, horden politik, penindasan keras dan pemerasan skala besar.


Maria mungkin lebih menguasai hak-hak istimewa, karena dia pun pasti tahu, Van Der Capellen, Rochussen, Van Parra, Charles Ferdinand Pahud, Van Heutsz, Idenburg, Stirum sampai Tjarda. Mungkinkah dia tahu juga? Suatu gagasan baru atas hukum-hukum itu?


Keutuhan Hindia harus stabil dengan kekuasaan Belanda, kekuasaan tidak mampu mereka putus, jika bukan Marshal Plan, mungkin cerutu dan bedil sudah syarat mutlak memasuki manusianya. Seringnya Algemeene Secretarie laksanakan perintah, bukan saja Raad van Justitie mereka bengkokan, polisi-polisi pun baris rampak ke tangan pemiliki kekuasaan tertinggi, gubernur wakil Sri Ratu. Sri Ratu sedang tidak ditempat, kita bisa patahkan veldpolitie, sekaut tanpa tumpahkan darah, kita serang dan belah mereka sejauh mungkin, politie rechtspaark. Komisi khusus, komisi penangan masalah besar sampai kecil, mereka tidak berikan lindungan sebagai halnya enfin, manusia berlapis mustahil mampu menembus.


Sekarang kerjakan perintahku!


Diam-diam rumusan itu mulai menyasar ke kamar-kamar studie, mula-mulanya tidak seorang keberatan, semakin jauh pengaruh rechtspaark, semakin merugi terpelajar sudah habiskan lima bulan belajar. Mereka tidak diupah, hanya diberikan fasilitas kantin, kamar tidur dan penginapan, perabotannya pun buruk sekali. Kata seseorang. Semua semakin siang, Emma, merencanakan pembaruan total. Presiden Phantom itu lebih banyak bikin kerusakan. Semulanya Studie Club, sekarang kaum servant serahkan upeti, biaya perbekalan dengan cicilan enam ratus setahun, meningkat lima puluh persen, sembilan ratus sembilan bulan.


Julianna baru menggarap gracht merasa keberatan. Perempuan itu mohon audiensi, semua dewan wakil menolak, perempuan itu pergi ke restorasi dan melapurkan Maria. Maria geram setengah mati, tetapi tidak bisa lakukan apa pun. Aku tidak punya kuasa setinggi itu, exorbit sudah kempes di tangan Emma.


Mengetahui itu Sarah selaku pengimpor, mendatangi Emma, langsung disambut berondongan atasan—kami sendiri punya hak menolak, begitu pun ibu lebih punya hak kebebasan daripada kami tolak, ibu kembali saja, bekerja takkan habis-habisnya.


Sepulang itu Sarah sadar mereka bukan komite Phantom, perawakan orang-orang itu tinggi dan gelap, mungkin keturunan Yaman dan Timur Asing. Sarah tahu Phantom hampir rubuh dikuasai Emma.


Melissa menutup kantor beritanya. Kita sudah tidak punya saham, mereka merebutnya. Katanya ke seluruh pegawai. Yosi yang sudah merasa puas, sama sekali kosong pendapatan. Lunch Dee seratus persen hampir memasuki mulut kelaparan Emma. Emma semakin rakus dan menjadi-jadi akibat pemerasan, suatu kenikmatan besar tidak pernah ia rasakan. Semula dua ratus juta. Sekarang menurun lima belas juta. Wanita itu tidak terima. Mengapa Emma sampai sebiadab ini? Katanya himpun demonstrasi besar-besaran Sabtu pagi.


Mitrailleur dengan ratusan serdadu mengejar gerombolan, mereka pecah seperti kawanan kambing masuk rawa buaya, Emma menikmati hari-hari besarnya, nyatanya bukan Amanda atau Shelly contoh busuk pimpinan. Justru sosok terpelajar bisa lebih busuk lagi, sekarang duduk saksikan pergulatan hebat rakyatnya.


Maria datang mewakili cabang di konperensi, merasa peraturan Emma terlalu mencekik, bahkan sekarang mengganasi, menjilati.


“Aku mewakili keberatan atas semua saksi-saksi. Tidak ada properti mampu kami gunakan. Semua stereotip kekuasaan semata. Kami orientalis, menolak perkembangan baru. Kami harapkan properti bisa segera pulih seperti semula. Sebagian barang-barang gubal, telah dijual tanpa sepemahaman kami. Sebagian terbesar menyangkut prodak minyak, penukangan kayu, kerajinan tangan dan farmasi, studie, semua tidak ada kesetaraan. Semua habis semata menunjang pimpinan pusat.”


“Cukup,” kata wakil presiden, “kami punya vital sendiri, alat utama untuk semua syarat-syarat bisnis sudah di penuhi selama Amanda. Kalian menyepakati stampel, kontrak sudah tidak bisa putus dari tinta kecuali kalian potong telunjuk sendiri.” Wakil presiden letakan kertas matrai seluruh anggota-anggota korporasi.


Walhasil ruangan konperen riuh, saling jambak, pukul satu sama lain, koyak dan guling-guling, semua selesai ketika Emma muncul sebagai penengah.


“Baik, kalian dengarkan, jangan bodoh, kami tetap punya lembaga resmi. Na, baca kembali politie recthspaark, kami hanya dan bisa gugat kecenderungan dalam, tanpa selisih orang dalam, hukum tetap dinaungi pimpinan pusat, tidak ada jalan penebusan lewat orang luar. Maria sudah orang luar. Bukan pekerja istana negara. Penerima koronasi adalah aku, aku presiden kalian sekarang. Jika menolak siap saja, penebusan lain harus diserahkan, kami siap pedang dan darah, apa pun resikonya pasti peluru bicara lebih dulu.”


Kontan semua sengit, memusuhi luarbiasa Emma, perempuan itu diktator sekarang, pagelaran pesta umumnya diadakan menyambut Pentakosta dan Oktober satan bday, sekarang dilarang, kalian hanya boleh adakan perayaan Kudus resmi. Desember nanti, setiap minggu jangan ada kesenangan, kalian pulang pergi ke gereja St.Paulus, jangan buka pesta atau bikin keributan atau keamanan gelundung ke penjara.

__ADS_1


Semakin dimusuhi.


Presiden baru itu benar-benar kematian rakyatnya, Phantom semakin pucat, warnanya sudah sepenuhnya diambil Emma. Perempuan itu percantik istana, bangun ponten besar dengan patung dirinya, seluruh piaraan anjing dan kucing didandani, dihias pakaian mahal dan naik lemosin. Kontan suratkabar satu-satunya, Pembrita Fajar, menyembur pena sampai meleceti kekuasaan Emma. Presiden kerashati itu blokade semua perabotan, aktivitet mereka sudah beku, lumpuh total kecuali perabotan kekuasaan miliknya; sebidang lapangan konperensi dan sebidang mousoleum besar dan sebidang sekolah favoritnya, sejarah dan arsivaris.


Kemelorotan perusahaan tidak dicium Yakub. Lelaki itu sedang sibuk mengurus Timor Timur. Harusnya Amanda tetapi akibat perempuan itu hilang, sekarang kewajibannya, persis seperti sudah-sudah. Sumbangan amal, peminjaman dan jaminan atas suksesnya gerakan.


***


Marry yang merasa kesepian. Putuskan membangun rumah keluar tanah Phantom. Perempuan itu tidak mampu mengusir kantuknya akibat Amanda entah di mana. Suszie menyarankan, jika merindukan ibunya, sebaiknya kita adakan pemandian anjing untuk kenang Amanda, Amanda begitu menyukai anjing.


Idenya itu Marry setujui. Seminggu mereka kembali ke Palais de Leuven, Marry sudah banyak dikenal kawanan busana, kecantikan dan prodak pakaian, mengadakan pemandian anjing. Terbentang kain dengan huruf-huruf besar, mengenang kepergian Ratu kita, mencintainya sama dengan mencintai anjing sendiri.


Sebagian pecinta anjing datang. Mereka menyewakan pelayanan anjing terbaik. Marry sediakan lima belas pelayan. Mereka pun menceburkan anjing ke bak mandi, menyemprot sabun wangi, mencukur bulu-bulu pomerania sampai cihuahua, dalmatian. Terhitung banyak tidak terhingga peminat hari itu. Merasa kasihan akibat memorial Amanda dibuka dengan pemandian anjing, pendatang meletakan uang sebesar lima puluh sampai seratus dollar satu orang. Marry seketika sumringah. Ia pun banyak terbantu, tujuan mulanya bukan amal. Entah kenapa semesta seakan merestui, kedekatan dengan Amanda seperti satu kesatuan dunia dan dirinya, Marry semakin merindukan sudarinya, sekarang sudah dia anggap ibunya. Suszie sering menitik airmata diam-diam, perempuan cilik itu mengagumi Amanda sebagai Mama berhati besar, bukan seperti Sarah yang tidak pernah memberinya *****, justru menabok keras pantatnya.


Marry semakin mengundang keramaian. Semula pengunjung seratus orang, sekarang lima ratus orang. Emma yang kebetulan sedang melawat, perempuan gemuk itu meraung-raung turun andong, memaki-maki Marry di tengah kerumunan. Marry menangis dan mendorong Emma ke bak mandi kotor.


Semua menertawakan Emma.


Emma memberang luarbiasa, perempuan itu menyeret Marry ke kantor komisaris. Marry terancam dihabisi. Suszie berusaha membakar Emma. Emma tidak mempan akibat ia kuasai ilmu hitam. Emma sendiri juru tenung paling handal, diam-diam Emma mantan satanic konperen. Hanya jiwa bersih mampu habisinya. Jiwa tidak terkorup kekuasaan dan nafsu-nafsunya.


Marry pun tiba ke hari eksekusi, Emma yang menyaksikan matinya Marry merasa bangga. Maria meremas tangannya, ia sendiri tidak pernah punya niat sekejam itu. Apalagi habisi Marry. Marry sendiri sudah perawan tanpa mahkota. Amanda menganggap perempuan lincah itu seperti anaknya, Marry demikian menganggap Amanda ibunya.


Sinar matari kemalu-maluan untuk muncul. Awan mendung meluruhi antariksa tanah Phantom. Semua muncul hari itu, Arnita, Puspita, Sashie, Surti, Meisya, Sarah, Yosi, Melissa, Adeline kecuali Lydia dan Shenna (mereka berada jauh di Cern).


Algojo sudah menarik kapak tinggi-tinggi. Marry menangis, menangis hanya akibat kesalahan tidak dikenalnya. Sebelum itu mereka bertemu, Emma sempat bicara dengannya, hanya mereka berdua sering tidak temukan pangkal. Malahan saling serang, Marry mengaku hanya mendorong akibat dipermalukan. Emma sendiri penjarakan Marry  cuma karena bau bak hampir mendekati tahi anjing. Memang setelah disidiki bak itu bekas buang air anjing Suszie. Semua menahan ketawa. Tetapi tidak dengan Emma.


Sekarang Marry akan bertemu sang gurubesar, mamanya sudah pergi sejak pesawat miliknya meledak. Amanda hampir menyerupai ibunya, sekarang mungkin tersenyum di surga dengan mamanya. Marry sekali lagi menangis. Apalah kata, ia tidak pandai bicara, ia hanya pandai merancang pakaian dan menjualnya. Marry memejamkan mata, sampai sana kapak mengayun semakin dekat mengikuti perintah Emma, semakin dekat sampai kapak menyentuh sepotong leher putih.


Seketika semua terlempar ke titik tolak, semua saling mundur dengan peristiwa-peristiwa di mana Marry saling tertawa dengan Suszie. Marry tersedak memegang lehernya, muntahkan ludah kosong, dirinya seperti mengalami mimpi. Marry menatap sekelilingnya. Kepalanya mengingat baru saja akan pancung. Suszie berlarian sampai melepaskan anjing ke bak mandi. Marry memandang jam tangan. Satu siang sepuluh menit.


Perempuan itu melihat ke seluruh penjuru, pengunjung baru lima puluh orang. Ia langsung mencari sesuatu, tidak ada lapangan dan algojo, sayup-sayup Maria menatap kesal kearahnya.


Marry putuskan hentikan pemandian anjing. Perempuan itu mendatangi kantor Maria. Maria semakin suntuk meladeninya. “Apa aku akan dihukum mati Presiden?”


“Apa maksudmu? Katakan jelas. Aku tidak punya waktu.”


“Aku benar-benar akan dipotong Emma. Ke mana kalian barusan? Aku hampir saja.”


“Kau baik-baik saja, mau aku ajari menyusui?”


“Maksudmu, semacam teori Einstein? Hentikan saja jika kau tidak kuat. Aku tahu gajimu kurang, jika ada waktu kita belanja.”


“Ada orang sudah selamatkanku.”


“Senang bertemu, semoga kau betah ke sini.” Maria menuntun Marry keluar kantornya.


Marry tidak mengerti, tidak mungkin dia mimpi, ia sadar waktu seperti bengkok dan dilempar ke ruang saling berlawanan, betulkah Cern effect sudah lazim dan ia saksi majunya umat manusia? Marry senang tidak jadi dihabisi Emma.


Perempuan periang itu melompat jauh ke Waddesdon Dee. Emma membiarkan Marry masuk tetapi tidak boleh tinggal, mungkin akibat hilangnya Amanda. Marry menjemput Suszie, Jeanette, mereka berhunjaman ke pelabuhan untuk menetap entah sampai kapan di Linnaeusstaat.


“Kita akan ke mana Ma?” tanya Jean.


Marry mencubit penuh sayang bayinya. “Tidak ke mana-mana hanya keluar negeri.”


“Itu jauh.” Suszie memakan corong es krim. Sesekali melirik ibunya. “Ma, popok Jeanette habis, aku tidak mau ceboki terus-terusan.”


“Kalau tidak mau. Silakan mandiri. Mandi sendiri.”


Ancaman itu terbukti. Suszie tidak mau mandiri, ia tidak bisa mandi tanpa ibunya, Marry ketertaluan mengancamnya, harusnya Marry sering menyuapi dan memberinya makan sekelas dunkin, pizza, taco dan nasih padang bintang lima.


“Ibu, mukamu tidak pernah tua, itu kata Amanda.” Suszie menidurkan kepala ke pundak Marry.


“Ah, sayangku, sayang. Memang ibumu sudah lupa umur berapa sekarang. Pastinya, 1985 kemarin ibu tujuh belas tahun, sekarang ibu mengasuh kalian mungkin dua puluh tujuh tahun.”


“Bagaimana ibu tahu?”


“Biasanya, remaja selepas tujuh belas pasti dua puluh, dan begitu seterusnya.”


“Oh, berarti sekarang umurku boleh langsung tujuh belas?”


“Tentu sayang. Apa yang tidak boleh? Tidak ada salahnya manusia mau umur berapa. Kau pun boleh berumur delapan puluh meski umurmu delapan tahun sekali pun.”


Suszie girang menari-nari disaksikan penguntab. Marry menggotong Suszie ke atas pundak. Jeanette tertawa-tawa. Entah di mana salahnya keluarga ini? Amanda benar-benar mencintai mereka.

__ADS_1


Kapal dengan kabin panjang dan luas itu, menampung dua ratus lima puluh kamar, semua ruangan sudah mahal dengan biaya lumayan rendah, satu juta saja untuk tujuh bulan pelayaran. Semua sudah ditanggung mulai makanan, tempat tidur dan fasilitas olahraga, gym dan lyc, kamar belajar khusus, kamar rekreasi, kamar mandi pisah ranjang dan taman bermain, terakhir balai dansa dan tempat paling deluxe dan luas; cafetaria Belleuve.


Marry menganga senang melihat bangunan mewah dengan kristal-kristal penghias perabotan-perabotan mahal belaka, banyak hiasan pot-pot colougne dan hiasan tempayan, cawan, karabin dan perabotan-perabotan renaisan Henry VIII.


Suszie memesan jus jambu. Jeanette sudah ketiduran di pangkuan Marry. Marry masuk ke dalam dek, menyelimuti bayinya. Menyuruh satu asisten menjaga anaknya. Suszie mendatangi balai dansa-dansi, perempuan itu menikmati lantunan jazz. Marry minum bolsh akibat Amanda entah ke mana. Sebuah tangan menepis, kau jangan minum, ada anakmu. Sontak mukanya berpaling ke sumber suara. Sudah duduk hadap dirinya Chintami, perempuan itu kenakan syal dan sweater katun. Marry tidak menyangka relasinya akan satu kapal dengannya.


“Marry, kau tidak pernah naik kapal, ada proyek? Prospek baru?”


“Oh, tidak ada, kami mau liburan, sudah sumbek terus kerja, lagipula kami suka liburan dan plesiran, yuhu.” katanya menjunjung satu gelas rhum. Meneguknya satu kali.


“Tidak biasanya kau ke Belanda. Ada apa? Katakan saja. Aku usahakan.”


“Aku tidak tahu harus bagaimana.” Marry mengusap pipinya, menitik airmata.


Chintami begitu iba melihat sahabatnya. “Kau wanita hebat, jangan begitu, aku setia bersamamu, kalau kau punya kesulitan, aku bisa bantu. Keuangan? Hutang? Katakan saja.”


“Seseorang mencoba habisiku.”


Chintami terkejut mendengar itu. “Siapa? Kurang ajar!”


“Aku hampir dihukum mati. Aku tidak, aku tidak tahu bagaimana jelaskan? Semula Emma marah aku ceburkan ke bak mandi anjing. Emma lalu membawaku ke penjara. Ia putuskan penggal kepalaku.”


“Biadab. Kau sekarang selamat?”


“Ada orang selamatkanku. Aku tidak mengerti, mungkin semacam de javu saja, mungkin memang relativitas itu ada.”


Chintami mengerti. Diam-diam saham Phantom punya rahasia; seseorang masuk untuk sterilkan kerusuhan dan kekacauan perintah, manusia itu seakan mengenal bahasa mekanika-mekanika dan mampu menguasai keadaan bahkan peristiwa. Siapakah sudah gunakan partikel bahaya Cern? Bukan hanya mereka simpan subatomik ruang dan waktu? Adakah satu orang sengaja mencurinya?


“Siapa Emma?” Chintami pesan satu porsi kepiting rebus besar untuk mereka berdua.


“Perempuan itu, perempuan itu sementara gantikan Amanda, memang tidak lebih buruk dari Shelly, mereka benar-benar penguasa penyuka kejahatan. Kami tidak betah di sana. Emma sudah merampas hak-hak kami.”


“Kasihan sekali. Kau dengarkan, aku bisa bantu kau untuk lepas monarki keji, asal kau bisa jamin bantuanku.”


“Betulkah itu?”


“Ya, kau tinggal tanda tangan, bubuhkan saja telunjukmu.”


“Setahuku, Tami, ia punya rechtspaark.”


Chintami batuk-batuk sesaat. Marry minumkan segelas wine miliknya. Chintami semakin batuk-batuk. Perempuan itu menatap kesal Marry. Marry meringis menyerahkan air putih.


“Semua akibat Amanda hilang. Emma benar-benar keji. Kita pasti bisa menumpasnya, sayang.”


“Kau gentar barusan.”


“Siapa bilang? Apa tidak bisa Dvorak lakukan.” katanya menepuk pelan seragam miliknya.


“Sebentar, siapa aslimu Chintami?”


“Ibuku Gina Haubertus, ia masih keturunan Dvorak, kami pindah ke Australia karena katanya, kami akan panen banyak di negeri itu empat puluh tahun ke depan.”


“Itu berarti mereka akan banyak tanam gandum?”


“Bukan itu saja. Akan banyak darah di sana.” katanya dalam bahasa Prancis.


“Entahlah, kau bicara bahasa alam lain, aku tak mengerti.”


Chintami menyeringai.


“Mau ke mana kau sudah ini?”


“Keluarga ibuku ada di Amsterdam, kami satu kota di Tropen, hampir setiap minggu sewaktu kecil kami sering ke musium itu, ibuku petugas di sana, dan aku senang berada didekatnya.”


“Kau tidak usah murung. Anggap aku ibumu. Chintami adalah juga ibu yang baik untukmu.”


Mereka saling pelukan dan tertawa sesaat. Chintami ijin pergi sementara. Memasuki dek kamar, perempuan itu hubungi biro pajak miliknya, kirimkan tilgram Phantom sekarang juga!


Malamnya satu dini hari Chintami membaca-baca lapuran, banyak perubahan besar-besaran selama Amanda hilang, semua industri-industri seperti servant terancam punah, mereka tidak mampu produksi bahan bagus dan layak, semua anggaran rumahtangga sepenuhnya dikuasai Emma. Chintami tersenyum getir.


Rupanya wanita Lebanon itu licik pula, kupikir bukan dia, Shelly tidak ada apa-apanya, Emma bisa aku coba untuk tikus dan buaya, aku baru belajar tata susun niaga dan perbankan. Bagaimana semisal Emma obyek hidup, bisa aku coreng moreng pengaruhnya, rakyatnya benci padanya, pasti akan banyak api tumpah ke permukaan. Marry akan aku tolong, tetapi Emma dan mahkotanya harus jaminan semua itu.


Chintami keluar kamar berdiri ke balkon kapal. Merentang kedua tangan. Sesaat kemudian menghisap rokok daun kaung, harus bisa aku seret Emma ke api revolusi, pasti dia senang bahkan menikmatinya ....

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2