
Paulette sedang merokok setelah rekaman selesai. Perempuan itu menidurkan kepalanya di papan perekam suara. Tidak dinyana-nyana muncul suara pintu ketokan. Staveren beralih menarik engsel, kedua perempuan dalam pakaian blacu hitam menyerang asisten. Staveren keluarkan puckle gun, menembaki keras-keras kedua penjahat itu, mereka meloloskan diri membopong Paulette. Paul akhirnya hilang entah ke mana. Kontan pencarian langsung terjadi satu hari sudahnya. Dalam perumahan Kenanga Timur sosok perempuan bangun di bawah lukisan kotor. Perempuan itu pening luarbiasa. Paulette rupanya sadar di atas sofa milik orang tidak asing. “Kau harusnya sudah aku tembak.”
“Cecil?”
“Ayoh, tidak usah tolak, kau tinggal taken saja.”
“Aku sudah bukan Phantom! Aku penyanyi!” Paul menangis tersedu-sedu.
“Kasihan juga,” kata Shelly menawarkan makanan.
“Mari kita makan! Wuh!” Cecil membuka piring miliknya, roti anggur dan selai kejunya sedikit basi, “anggap saja fermentasi.” katanya memakan lahap makanan berlendir dan banyak cairan kuning.
Paul muntah-muntah. Shelly memberikan soda minuman. “Kami tidak akan membunuhmu. Kau hanya harus mengikuti perintah.”
Paulette akhirnya menulis dengan tinta kebiruan atas suruhan Cecil. “Tulis saja, dewasa ini Phantom sudah dikuasai servant, kau biarkan begitu-begitu saja, monarkimu akan jatuh ke dalam perabotan rumahtangga. Ingat tujuan pertama Phantom, kita korporasi yang punya wibawa, katakan terimakasih untuk mereka sudah membantu kita tingkatan taraf-taraf dan emansipasi wanita.”
Biduan itu selesai menulis dengan kertas. “Kalian sendiri sudah penjahat.”
“Tidak, kalau benar kami sudah habisi kau sejak umbelmu menetes semalam.”
“Kulitmu bersih sekali. Apa perawatannya?” Paul menjamah tengkuk Shelly. Shelly mengeong dengan mata kuning bersinar-sinar.
“Aku tidak bisa katakan. Cil, kalau sudah, kita harus tindak Amanda Dee secepat mungkin, aku kasihan dengan Sri Ratu.”
__ADS_1
“Kalian mau merevolusi Amanda? Aku ikut!” Paul mengangkat tangan.
“Aku mencium sifat buruk dalam dirimu.” Shelly mengendus tengkuk Paulette. “Kami justru tidak mau Amanda terbunuh.”
“Kupikir kau atau Cecil hendak membunuhnya.”
“Itu tidak benar.” Cecil menggulung perkamen. “Sudah dua hari kau hilang, kami akan kembalikan.”
“Aku merindukanmu.” Paulette memeluk Cecil. Meneteskan airmata. Memandang sudarinya. “Kau harus bisa membangun Phantom kembali. Phantom satu-satunya aset kita.”
“Memang itu tujuannya. O, Paul, kau masih lapar? Aku bisa masak kebab.”
“Jika kau tidak keberatan.”
Paul menyantap makanan dengan lahap. Shelly memancar-mancar mata kuningnya. “Paul, tutup pintu habis ini, kami akan kembali lagi.”
“Pesta besar Madras tidak lain rencana kita. Bahwa Ratu sudah menyepakati modal untuk meneruskan kekuasaannya. Itu berarti dia akan kehilangan kepercayaan rakyat dan hanya kepentingan dirinya sendiri. Kami tidak pernah selama ini mendambakan akan datangnya, pengamalan Madras yang mungkin, semakin menguntungkan kami, perbankan akan ditambah di beberapa kota Inggris, modal besar akan kami dapatkan secepat mungkin.”
Paulette melipat buru-buru kertas itu ke dalam kaus kutang miliknya. Perempuan itu sudah duduk menopang dagu di atas meja. Shelly tahu-tahu masuk bawakan dus pizza dan dus martabak. “Sebelum pulang. Bawalah ini.”
Paul merasa untung berlipat ganda. Rahasia didapatnya. Keuntungan lain digenggamnya.
Telpon rumah berdering dengan keras. Shelly terjompak kaget, mengangkat telpon, mendengarkan dan mengiyakan, meletakan telpon dengan santai.
__ADS_1
“Aku bilang anjing tidak ada enaknya. Ia sendiri memakannya. Cecil keras sekali.”
Paulette batuk-batuk mendengar itu.
Shelly minumkan air putih ke perempuan itu. Cecil datang membawa mobil. Mereka bertiga meneruskan sampai depan apartemen Paul. “Kalian mau mampir?”
“Tidak usah. Ada yang lebih penting.” Cecil mengedip. Melajukan mobil kembali. Paulette berlari memasuki lorong-lorong, reservaris kebingungan melihatnya. Perempuan itu hubungi kantor Phantom. Melissa kebenaran sedang berada di tengah kesibukan pekerja. Mengangkat gagang tilpun. “Ya, bisa langsung kirimkan buktinya, tunggu, kau Paul?”
“Memang, kabarkan aku selamat!”
Sambungan tilpun putus tiba-tiba. Shelly tahu-tahu duduk di depan jendela. “Apa maksudmu? Kau katakan sesuatu?”
“Tidak, tidak.”
“Beruntung kami tidak habisimu. Berikan sesuatu di dalam kutangmu.”
“Aku hanya membela semua sudaraku! Aku tahu kalian rakus! Kalian mau rebut Phantom!”
“Cepat berikan, aku tidak punya nafsu habisimu.” Shelly mencakar-cakar baju Paulette. Mengambil paksa surat-surat keluarga Dvorak. Membacanya dalam sekejap demi sekejap. “Silakan saja adukan. Mereka tidak akan berikanmu veto. Kau pernah seperti kami.”
“Itu dulunya!” bentak Paul memakai kutang miliknya lagi.
“Cecil akan mengambil Ratu kalian.” Shelly menyalakan matanya kemudian menyambar Paul. Paul menghindar ke atas kasur. Tilpun di atas ranjang terbakar kena api.
__ADS_1
Shelly terjun ke bawah lantai kemudian hilang. Paulette menganga memandang lukanya dicermin. “Semoga Sri Ratu dilindungi.” doanya membentuk salib.
Bersambung ....