Hammersmith Servant

Hammersmith Servant
Makan besar di restoran


__ADS_3

Suszie yang kelaparan sendirinya datang ke restoran Yosi. Pelayan menyambutnya dengan buku pesanan. Suszie yang kesulitan membaca menunjuk gambar-gambar, menurutnya bagus dan menarik. Makanan datang di atas nampan, semuanya lima buah pizza isian daging sapi, sebuahnya lima minuman karamel coklat dan krim tebal. Suszie kegirangan menyantapnya, pelanggan sekitarnya menatap meremang bocah itu. Suszie dengan rakus mengkunyah-kunyah pizza demi pizza sampai benar-benar habis! Habis! Penonton melarikan diri. Sedangkan Suszie beranjak lari. Pelayan kepayahan menemukan bocah itu, Yosi yang tidak bisa dihubungi, kejadian besar siang itu melompat ke meja Amanda. Amanda menyuruh Melissa mencari putri Sarah, perempuan setia majikan itu menolak, Amanda naik darah, mau tidak mau perempuan gila hormat itu mengikutinya. Asalkan, ya asalkan namanya tetap satu-satunya di sanubari Amanda.


Melissa menemukan Suszie sedang naik kuda-kudaan di taman Palais de Leuven, taman yang baru dibangun di tanah Phantom. Suszie merengek hebat di mana Melissa menyeret keras-keras bocah itu. Suszie marah menyembur api keluar mulut kecilnya. Melissa penuh belang bonteng mukanya, seragam sampai rambut pirangnya, perempuan itu tidak sabar menggendong Suszie ke kantor Amanda.


Amanda tertawa-tawa mendapatkan ajudan miliknya plontang-plonteng. Melissa menyerahkan Suszie. Wanita itu kesal berapi-api sampai mana semua ditebus kantong Amanda. “Sus, kau belum sama sekali bayar, sudah makan kau harus berikan imbalan, mengerti sayang? Mereka juga butuh makan sepertimu.”


“Tapi di hutan tidak perlu bayar, Manda.” katanya melipat tangan.


“Tidak bisa begitu, kalau kau makan di kedai atau warung, angkringan, restoran, kau mesti berikan modal mereka.”


“Tidak! Aku tetap tidak mau! Tidak mau!” katanya menangis kejer.


Amanda menimang putri Sarah. Suszie dengan tiba-tiba meminta *****. “Maafkan aku. Aku tidak pernah berikan asih.”


Suszie semakin merengek menjadi-jadi.


Amanda yang merasa iba akhirnya menyumbat Suszie dengan buah dadanya.


Maria tahu-tahu membuka pintu kekagetan melihat itu. “Ke mana Sarah? Kenapa harus kau? Dasar tidak punya wibawa. Kau ratu kami Amanda. Tidak boleh pimpinan begini sikapnya.”


“Ya, tetapi Suszie kehausan.”


“Sudah, sini kemarikan.” Maria menggendong Suszie gantikan menetekinya. Suszie buru-buru menutup mulutnya. “Bukannya kau minta tadi?”


“Susumu kecut, aku tidak mau, tidak!”


Maria kobar mendengar itu kemudian menjewer kuping peranakan kalong itu. Suszie memohon-mohon minta Amanda hentikan.


“Maria! Bukan begitu asuh anak yang benar!”


“Aku sudah dengar, kau kerepotan setengah mati mengasuh kalong ini, apalagi dia tidak bayar kan?”


“Tapi Suszie sudah aku anggap adikku.”

__ADS_1


“Terserah, aku punya dokumen baru harus Ratu pelajari.”


“Mungkin nanti, aku tidurkan Suszie dulu, baru kau beritakan lagi.”


Maria senewen meninggalkan ruangan. Amanda mengkidang dan menina bobok Suszie. Gadis menyerupai Marry itu akhirnya lelap juga. “Aku rindu sudariku. Aku rindu Tina.”


Suszie mendengkur dengan cepat. Amanda meletakan Suszie di sofa samping mejakantornya. Sarah tahu-tahu membuka pintu membopong anaknya. “Manda, anakku memang nakal sekali, ibu tidak punya niat susahkanmu, nah, soal makanan biar ibumu bayarkan.”


“Memang ibu tidak tahu?”


“Berapa semuanya?” Sarah mendekati kertas berisi nota diterima sejam lamanya.


“Lunch Dee minta 75 ribu saja.”


Sarah menjadi gamang mendengar itu. Ia ragu-ragu melirik sekali-kali putrinya. Sekali lagi Suszie kemudian Amanda. Betapa memalukan! Malu! “Ibu kebetulan tidak punya sebanyak itu, sayang.”


“Aku tahu ibu sayang padaku jika butuh saja.”


“Suszie sangat boros, kurasa dia satu golongan Marry, Bu.”


“Aku tidak punya urusan dengan perempuan tidak jelas itu. Terimakasih sayang, mungkin kita bisa makan bareng lagi, terserah kalau kau mau.”


“Sementara belum bisa, mungkin nanti saja.”


Sarah mengundurkan diri mencium kening Amanda. Amanda memandang ibunya yang masih sangat menggairahkan. “Dia tidak pernah tua, di kota besar mungkin saja kompetisi kecantikan.” Amanda bicara padamu malu-malu.


Arnita memasuki ruangan membawa kertas gulungan. “Sri Ratu, ada kepentingan,”


“Silakan, duduk di situ.”


Arnita mendudukan diri. Memandang sementara Amanda yang senyum manis. Menggelar kertas ke atas meja kemudian menindih dengan botol tinta. “Ini salinan uji coba, Shenna baru merancang, semalam kami sudah bicarakan, katanya, belakang sudah banyak pesawat beroperasi, negara-negara besar atau kecil sudah biasa. Aku mau Ratu menyetujui sarana penerbangan, kita belum punya sebuahnya, sementara salinan asli masih di kantor Galileo, mungkin Yang Mulia suka melihatnya?”


“Galin baru saja tidak ada. Apakah Shenna sudah bikin perijinan?”

__ADS_1


“Kebenaran belum, Yang Mulia.”


“Bikin dulu, tidak bisa melewati ketentuan, nah kau jelaskan, kenapa dan bagaimana tujuan program baru itu.”


“Setelah motometik kami tutup dan tidak ada kegiatan lagi. Kami mau membangun bandara penelitian. Mungkin Sri Ratu mengerti, biaya sudah kendala, hanya akibat tidak adanya dukungan.”


“Nah, aku mengerti sekarang, siapkan saja proposal ijin, nanti kami usahakan biaya untuk perakitan kerangka.”


“Pesawat ini harus kuat masuk angkasa, tetapi hancur sebelum ke sana.”


“Aku mengagumi arsiteknya, Shenna memang pandai, kau tidak mau makan siang dulu?”


“Tidak terimakasih. Ke mana Yosi?”


“Perempuan itu? Aku sendiri menyuruhnya masuk acara sitkom.”


“Amanda, tidak baik kau begitu, usaha miliknya sudah jadi haknya, kau tidak pantas pinjam saham perempuan itu.”


“Tapi kontrak sudah kemauannya, bukan aku.”


“Biar begitu, Yang Mulia, harus bisa membuatnya nyaman.”


“Hanya begini kita bisa bertahan, Arnita, bukan kemauanku tetapi sudah ketentuan keluarga dunia. Mereka bahkan punya seratus atau lebih cabang makanan, dan tidak ada yang tahu, nama-nama besar bukan pengaruh manusia itu, tetapi kami membantu membesarkannya seperti anak sendiri.”


“Kalau begitu keputusannya, tidak bisa diubah, aku setuju saja asalkan Sri Ratu selalu adil bukan miring ke undang-undang mereka.”


“Aku tidak peduli! Mustahil kalian aku perintah kalau tidak begini! Aku tidak peduli! Kau mau keluar? Aku bisa bikin surat mutasi.”


“Baik, kurasa kita sudah cukup Yang Mulia, tidak boleh puas, aku juga begitu.” Arnita menggulung kertas arsitek pesawat. Hindar dari kantor dengan airmata menitik.


Amanda menenggelamkan wajah ke dalam pangkuan. Mengangkat mukanya ke depan. “Maafkan aku Arnita, manusia memang harus keras hadapi keadaan, keadaan yang membuat kami harus begitu hadapinya. Mereka yang dikasihi pun belum tentu tulus. Apalagi bermurah tanpa balasan pantas?”


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2