Hammersmith Servant

Hammersmith Servant
Serangan kucing buas


__ADS_3

“Sekarang ke mana kita?”


“Sebaiknya makan dulu.”


“Kenapa tidak sekalian!” Shelly melotot dengan mata menyala kuning.


“Lunch Dee sudah milik kaum kami.” Mereka duduk-duduk di rel mati.


“Aku suka harum nasih panggang.”


“Jangan bicarakan makanan itu. Kau buduk tolol idiot!”


“Tidak usah begitu. Kebenaran satu bulan kita belum makan. Bagaimana bisa?”


“Itulah enaknya bukan manusia.”


“Jawabanmu benar. Mungkin manusia harus tahu, mereka mendidik lembut tidak bisa, mendidik keras lebih tidak mungkin lagi, keduanya hanya kekerasan yang saling tarung, perebutkan siapa paling unggul satu dengan lainnya.”


“Nasih goreng bagaimana?” Shelly mengeluarkan dompet. “Uangku lima ratus saja.”


“Kau perempuan tidak pernah gila hormat.”


“Aku butuh uang hanya untuk nama. Tidak ada yang lebih penting dari nama.”


“Tidak aku kira kau lebih busuk dari Paul atau Norah bahkan Lusiana tidak ada apa pun, kau penjahat Shelly, tahu kau? Uji cobamu mengancam umat manusia, wabah itu kau gunakan semata nafsumu belaka.”


“Tidak usah banyak omong buduk. Kau sudah mengikutiku satu bulan.”


“Apa tujuanmu?”


“Dunia tidak akan hancur kalau bukan manusia itu sendiri membawa kemajuan. Kemajuan sekarang seperti mata pedang, membabat siapa saja, tidak peduli mereka yang sendiri di Afrika atau mereka yang mati di Teluk, kemajuan sudah kehancuran manusia itu sendiri.”


“Aku mengerti. Bagaimana Amanda?”


“Lihatlah, hidupnya tercukupi, adakah dia bahagia? Kau tahu sendiri.”


“Amanda baik hati dan sangat gegabah. Tidak bisa kendalikan ambisinya. Mungkin uang sudah memakan hatinya sekarang.”


“Harusnya kita ke sana, mencintainya, Amanda hanya butuh itu.”


“Freddie keliru, banyak cinta tidak membunuhmu, sebaliknya uang membunuhmu lebih cepat daripada cinta.”


“Banyak orang memilih modal karena mati pun modal tetap dibutuhkan. Kecuali perang pecah sebentar lagi. Tidak ada lagi manusia memilih sebuahnya, mereka hanya mau nyawa dan keselamatan.”


“Perang tidak. Perang?” Cecil menganga menghitung telunjuk. “Kemungkinan kecil tidak.”


“Kebon Kawung satu kilometer lagi. Kita teruskan saja. Sekarang masih sebelas malam.”


Mereka berdiri saling dampingan. “Kau cerdas. Kenapa begini?”

__ADS_1


“Tidak ada pilihan. Tidak ada. Amanda sudah buatku begini.”


Benar saja pedagang nasih goreng sudah pasang tenda, lampu minyak menerangi kedainya, taman-taman sudah sepi dan koran-koran bekas bungkus kacang geletak hampa. Hampir-hampir diendus kucing, makhluk itu tiduran di atas dus makanan China. Kaleng kempes semakin kempes ditindas sepatu perempuan. Shelly mengelus-elus perutnya. Cecil membopong kucing. “Sapa sudaramu Shelly, manis sekali sepertimu! Manis!” kucing itu tahu-tahu bangun mencakar Cecil bertubi. Perempuan itu meraung melempar binatang itu ke belukar. Shelly merangsang tertawa-tawa.


“Nasi dua mang!” Shelly meletakan seratus ribu dua.


“Tidak ada kembalian ning.”


“Kalau begitu ambil saja.” Cecil menyilakan.


Shelly tidak keberatan.


“Aku suka harum asin itu, beruntung Marry tidak di sini, kalau benar dia harus aku santap.”


“Tidak baik kau benci dia.”


“Marry tidak pernah menangis. Ia menangis akibat orang benci ketololannya.”


“Kau sebuahnya.” Cecil menggigit plastik membuka krupuk. Memakannya. Nasi dengan piring bersih dilahap mereka dengan cepat dan rakus seperti sepasang bahasa nasib manusia yang termakan habis dunianya, kekuasaan dan kedudukan, saling tarung habisi satu sama lain seperti gelimang kecap, nasih, minyak ***** hancur musnah buyar ke kerongkongan besar dan luas manusia-manusia kelaparan itu.


Shelly terbatuk-batuk meneguk satu teko susu panas. Pewarung melirik diam-diam sambil menggigil hebat. Shelly meletakan teko ke samping deretan pisang goreng dan kacang goreng.


“Terimakasih mang!”


“Aku ambil satu bungkus kacang gorengnya! Berapa?”


Shelly merasa sesuatu tidak beres. Perempuan itu berjalan tenang ke dalam warung. “Mang, berapa gajimu?”


“Lima puluh sehari kalau ramai ning!”


“Sekarang ramai?”


“Ramai non!”


“Mang gugup?”


“Panas non!”


“Besok dagangan mang laris. Tapi mang harus tatap mataku!”


Shelly menyilaukan matanya ke tengah-tengah muka lelaki itu. “Bagus mang?”


“Eh-eh! Cantik!” lelaki itu gelumpruk ketiban waskom panas.


Shelly memandang angkuh dirinya di cermin. Wanita itu meraba-raba dadanya, belahan dadanya menyembul keluar, “Sialan!”


Cecil tertawa-tawa habisi cemilan kacang. Shelly menindih sepatu sepupunya. Cecil menggerung pesakitan.


“Banyak buaya kelaparan di mana-mana.”

__ADS_1


“Kau benar. Kita ke gedung balai K. Banyak bisa kita sadap. Itulah kekuasaan mereka.”


“Di sana banyak pada mabok.”


“Yang benar saja? Kau sosialita dulunya.”


“Memang tapi tidak pernah begitu.”


“Kau juga! Phantomon Tower kau kuasai.”


“Amanda terlalu peduli rakyatnya, ia sudah keluar ketentuan, dulunya, dulunya perempuan itu sudah teler revolusi.”


“Aku tidak yakin revolusi benar-benar ada. Kaumku yang mengatur pecahnya revolusi. Revolusi tidak lain prodak kaum kami. Tidak ada kelahiran bayi revolusi selain kami sendirinya hancurkan negeri dengan kemajuan.”


“Beruntung aku bukan kau.” Shelly melirik mesam-mesem.


“Kita harus lewati lapangan kasti untuk ke sana.”


“Mudah saja, sekarang tangkap tanganku.” Cecil tidak mengerti. Tidak dinyana-nyana Shelly membawa sepupunya lebih cepat sampai. Mereka muncul ke dalam kamar mandi kayu di tengah-tengah kebon tebu.


“Lompati tembok saja.”


“Kirik aku tidak sudi!” Cecil mengeluarkan sayap kelelawar. Shelly naik ke punggung perempuan itu.


Mereka melayang menembus pohon-pohon besar, keduanya turun ke tanah tandus, sayap Cecil melebar-lebar kemudian hilang. Shelly berjalan ke bawah penerangan lampu gas. Memasuki tiang-tiang belokan jalan muncul kelima anak muda. Mereka baru latihan bola kasti. “Kalian siapa!”


Shelly berhenti memanjat gerbang carang. Ia memutar leher kesal. Melompat turun. “Tidak ada urusan!”


“Gedung itu sudah lama mati. Tidak ada berani ke dalam.”


“Sudah jangan urusi kami!” Cecil gemas melipat tangan ke dada.


“Mungkin mereka pelaku wabah!” seseorang menertawakan.


Semakin menertawakan. “Kami pasti membantu pemakamanmu.”


“Kami akan membiayainya!”


Shelly tergelitik hebat, saking lucunya, saking gemasnya ia maju ke depan. “Maksudmu begini?” Shelly menunjuk hidungnya. Kedua tangannya menarik-narik wajahnya. Kedua belah mukanya robek keping sekejap! Giginya menganga menyeramkan. Mulutnya membuka membesar dengan gusi-gusi runcing dan tajam. Mukanya pecah mengeluarkan auman geraman. Matanya berkilau-kilau. Tidak mengesankan. Justru menyala-nyala menantang membara.


Ketiga pemuda melarikan diri lintang pukang. Seseorang memukul kepalanya keras-keras. Shelly melompat menggaruk habis badan lelaki itu, keadaan mencekam, mencekam dengan koyak pecah jeroan ditarik keluar bangkai. Shelly memakan habis-habisan leher lelaki itu.


Cecil kedinginan hebat menyaksikan itu, betapa tidak perempuan banyak dikagumi itu berubah kejam tak kenal ampun, betapa tidak nasihat hebatnya sudah dia yakini dan percaya. Sekarang, sekarang Shelly begitu buas dan kelaparan, pemuda itu melarikan badan tetapi satu tarikan tangan putuskan kepalanya. Kepalanya gelimpang jatuh. Shelly membabi buta memangsa lelaki satunya. Beberapa menit perempuan itu mengecil semakin kecil.


“Malam liar tidak pernah lebih liar daripada bercinta sampai pagi.” katanya mengambil bungkus kacang goreng di saku Cecil. Memakannya dengan duduk di atas tanah.


Cecil mendudukan diri tercenung-cenung.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2